KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
60 Kekesalan yang Hakiki



"Do apa ada yang gue lewatin ya?" tanya ku tiba-tiba entah kenapa rasa penasaran ini sejak tadi menggangguku.


"Apaan?" tanyanya


"Kalian ada nyimpen sesuatu dari gue yang nggak pernah gue tahu?" tanya ku menyelidik. sejenak kulihat mimik wajah Aldo berubah namun ia berhasil menetralkan suasana.


"Nggak ada, lo aja lagi baperan" ucapnya


"Ck, lo sama aja sama mereka, menyebalkan" ucapku seraya melangkah meninggalkannya setelah minieraih satu bungkus nasi uduk yang tersisa.


"Wooi tanggung jawab lo belom selesai sembeb" teriaknya


"BODO AMAT" jawabku tak kalah keras.


Aku meneruskan langkahku menuju ke bangsal anak yang sempat tertunda sejak tadi. Karna ada Kak Sean yang bersama Azka jadi aku bisa menghilang sejenak.


Bruk


"Ah maaf pak, maaf saya nggak sengaja" ucapku menunduk meminta maaf pada orang yang tanpa sengaja ku tabrak.


"Ah, nggak papa dek, maaf saya buru-buru" ucap pria itu sambil berlalu meneruskan langkah, sejenak kulihat sosoknya yang berlari menjauh.


Tiba di bangsal anak tanpa sengaja aku bertemu dengan kak Edwin (guru bahasa inggris pengganti ibu Triana alias mahasiswa ppl, putra sulung bu dokter Hanum yang ku temui tadi).


"Assalamualaikum anak-anak" sapaku


"Waalaikum salam ummah" mereka memang memanggilku ummah, bangsal anak ini memang ruangan khusus untuk para penderita kanker. semenjak menikah aku memang sangat jarang mengunjungi mereka dan sudah pasti mereka sangat antusias melihat kedatanganku.


"Ummah, ini papa balu kita" ucap Khanza salah satu penderita leukimia memperkenalkan Kak Edwin padaku. ah perasaanku jadi nggak enak gini melihat sikap kak Edwin yang seolah-olah.... ah ya sudahlah.


"Oh iya siapa namanya om?" tanyaku pura-pura


"Kenalin saya papa Edwin" ucapnya mengerlingkan sebelah mata padaku. Iiih gedek banget deh! batinku.


Rasanya terlalu lama di dalam sini nantinya malah bikin aku semakin gerah dengan sikap kak Edwin yang di buat-buat.


Aku berbincang-bincang dengan mereka satu persatu, mendengar keluh kesah mereka selama aku tak pernah datang berkunjung. euforia mereka saat bercerita membuatku sedikit merasa bersalah telah melewati sedemikian banyak perkembangan mereka terutama pengobatan mereka selama ini.


Setelah merasa puas aku memutuskan untuk pergi. Aku tahu mereka masih ingin menahanku disini, terlebih lagi rayuan kak Edwin di hadapan anak-anak seolah-olah...ah menyebalkan sungguh kekesalan yang hakiki untuk ku hari ini.


Aku tak menolak jika harus berlama-lama dengan mereka, hanya saja kehadiran serta sikap kak Edwin membuat mood boosterku remuk redam.


Pada akhirnya dering ponsel menyelamatkanku dari pria gatel ini. ya mulai hari ini julukan pria gatel aku sematkan padanya.


"Assalamualaikum pa"


"Oh aku di bangsal anak"


"Iya aku kesitu sekarang pa, assalamualaikum"


Setelah menjawan telepon dari papa mertua, aku pamit pada mereka dan kak Edwin.


"Ra, bareng ya aku juga mau pamit" ucapnya lagi-lagi dengan gaya shhoook..


"Maaf kak aku buru-buru, soalnya papa udah nunggu aku di parkiran maaf ya" aku memutuskan menjawab cepat sebelum dia banyak bicara lagi, aku keluar dari bangsal dan berlari sekencang mungkin ke ruangan Azka.


hossh hossh ssoohh


Nafasku tersengal begitu aku sampai di depan pintu lift, aku memencet tombol angka 5 tempat ruang VVIP berada. memang ruangan khusus keluarga pemilik rumah sakit hehe.


Lift terbuka aku segera masuk dan...


Blaam aku terkejut rupanya di dalam lift sudah ada seseorang yang tanpa sengaja aku tabrak tadi. aku menunduk malu lalu masuk ke dalam lift. Ah rupanya dia juga mau ke lantai 5 batinku.


Tin


Kami sampai di lantai lima, saat lift terbuka aku bersitatap dengan kak Sean di depan pintu lift. Ia melihatku dengan pandangan aneh, namun tersenyum bahagia saat melihat seseorang yang berdiri di sampingku.


"Hai sepupu jauh, apa kabar!" sapa kak Sean begitu kami keluar dari lift.


Oh jadi ini keluarga Azka, kok aku baru tahu. batinku. ku lihat sejenak mereka saling bertukar sapa melepas rindu. aku memutuskan meneruskan langkah ku tapi terhenti saat kak Sean menyebut namaku.


"Ini Kinara adik iparku" ucapnya pada pria bule itu, sontak aku menoleh ke arah kak Sean dengan bingung.


"Ra kenalin ini Kak Fritz, kakak sepupu aku dari Jerman" ucap kak Sean memperkenalkan ku, ku sambut dengan senyuman pada pria bule itu, kulihat ia mengulurkan tangan padaku. aku menyalaminya kami berkenalan saling menyebit nama masing-masing.


"Kakak mau pulang?" tanya ku pada kak Sean


"Iya, si kembar lagi demam jadi nggak bisa kemana-mana, bik Susi lagi pulang kampung ada hajatan di rumah saudaranya," ucapnya


"Kenapa nggak manggil mbak Reni aja, kan dia nganggur tuh kalau minggu nggak ada jam kuliah" ucapku memberi usulan


"Mau di omelin mama?"Tukasnya berkacak pinggang "nggak mau ah resiko, mama ceriwis banget kalau aku minta asistennya bawa kerumah" lanjutnya lagi


"Ya udah, nanti deh aku mampir kerumah kalau pulang" ucapku


"No. lo jaga aja tuh laki lembek lo" ucapnya padaku


"Haaiissh kan yang punya adik situ.."


"Yang jadi istrinya kan situ juga heeii.."


"Ya elaaah kak, itung2 tombo kangen sama duo Az"


"No, sekali No ya tetap No!"


"Hiish pelit amat, awas aja gue culik tuh anak lo!"


"Wlee wlee kalau bisa....palingan di balikin lagi"


"Etdah...sono pulang bikin gerah lama-lama disini" sergah ku menggerakkan tangan tanda mengusirnya.


Kak Sean berlalu memasuki lift. sebelum masuk masih sempat ku dengar ucapannya yang mengejek "dasar ipar jahannam".


"Nggak cuma nyanyi, Kak Fritz jagain adik ipar gue yah, jaga juga mata lo" teriak nya dari dalam lift yang hampir tertutup.


"Ck, ada aja tingkahnya" ocehku sembari berjalan menuju ke ruangan Azka.


"Sean memang sejak dulu seperti itu" ucap pria bule itu di sampingku. ah ya aku lupakan sejenak pria ini karna obrolan unfaedahku tadi dengan kak Sean.


"Ehehe iya sih kak, kalau dirumah juga jarang banget akur sama Azka, ada aja yang mereka debatin" sahutku


"Ya itulah cara mereka menjaga kekompakan, terkadang aku juga iri dengan mereka, bisa saling support dalam keadaan apapun" ucap Kak Fritz.


"Hahaha setiap orang sudah punya porsinya dan semua kembali pada pribadi masing-masing aja. emang kakak nggak punya adik?"


"Ada, hanya saja mereka sibuk dengan keluarga masing-masing"


"Ooh.." aku hanya mengangguk tanda mengerti mau bertanya lebih takut jika ia merasa aku terlalu ikut campur. akhirnya kami sampai di depan pintu kamar Azka. aku mempersilakan kak Fritz lebih dulu masuk.


"Assalamualaikum hai bro.." sapanya saat masuk dan di sambut tatapan aneh oleh Azka.


"What did you look at me like that?" ucapnya merasa aneh dengan tatapan Azka.


"Are you moslem?" tanya Azka dengan pandangan menelisik


"Hehe, alhamdulillah I am a moslem now!"


"Whats?? are you kidding me?" tanya Azka


"No, seoriusly I am a moslem now!"


"Oh, alhamdulillah, so what did you do last night at my home when my friends and me go to the mosque for maghrib prayer?"


"Gue sholat di mushola samping ruang tamu" ucap kak Fritz tanpa rasa bersalah.


"Kenapa nggak ikut aja sekalian sableng.. gue kira lo masih yang dulu, lagian sok-sok an gak mau bilang kalau mau ikut ke masjid"


"Kalau gue ikut siapa yang jagain rumah lo anjir!"


"Hahahaha lo udah pinter bahasa kita disini sekarang ya..cepet amat lo belajar anjir" tawa Azka pecah seketika mendengar ucapan sepupunya.


"Istri gue asli pribumi Indonesia, ya harus bisa lah gue"


"Huuu tosh dulu kita" ucap Azka mengepalkan tangannya dan disambut kepalan juga oleh kak Fritz.


"Ehhm" aku berdehem untuk memecah keramaian karna tawa mereka berdua.


"Eh sayang, dari tadi? kenalin ini....."


Aku menyahut cepat sebelum ia melanjutkan ucapannya. "Udah kenalan tadi di lift, kita barengan kok kesininya." ucapku cepat menaruh bungkusan nasi uduk di atas nakas.


"Kamu bawa apa?" tanyanya


"Nasi uduk dari Aldo buat kamu" ucapku


"Kok?" tanya nya heran, aku tahu dia pasti bingung.


"Semalem dia jagain kamu disini sama temen2, pas subuh mereka pulang trus Aldo jemput aku dirumah disuruh papa, dia kelaperan makanya beli dua buat kamu"


"Oh gitu" ucapnya pelan dengan raut wajah yang tak biasa, ada apa dengan mereka semalam? batinku.


"Buat kamu aja, kamu pasti belum sarapan" tawarnya.


"Udah kenyang tadi dari kantin kok" tolak ku, masih bisa ku dengar helaan nafas beratnya. melihat gelagat dan sikap Aldo tadi serta sikap Azka saat ini, membuatku semakin yakin jika ada yang mereka sembunyikan dari ku.


"Mas kalian baik-baik aja kan di rumah baru, aku baru tahu dari Aldo kalau kalian tinggal serumah sekarang"


"Ba..baik kok emang kenapa?"ucapnya seperti terkejut


"Ya syukurlah kalau kalian baik-baik aja, mau makan?" tawarku.


"Nggak dulu nanti aja tunggu mama dateng" tolaknya halus


"Mama nggak kesini kayaknya, karna si kembar lagi demam,mungkin malem baru bisa kesini" ucapku berkesimpulan, aku tahu mama tak akan mungkin mau kesini untuk beberapa waktu karna setahuku dari bik Surti jika mama pernah punya trauma masa lalu yang menyakitkan perihal Azka. yah aku memang sempat berbincang di room chat pagi tadi dengan bik Surti saat perjalanan kerumah sakit.


"Si odong-odong nggak ada ngomong tuh kalau anaknya sakit" sergah Azka.


plak


Kulihat kak Fritz memukul dahi Azka sedikit keras.


"Paan sih om tua?" omel Azka tak terima


"Bisa jaga tuh mulut nggak nyebutin nama orang dengan sebutan buruk?"


"Biasa aja kellleeess" aku memutar bola mata jengah mendengar ucapan Azka.


"Lagian bentar lagi dokternya mau dateng jadi sekalian aja nanti sudah di periksa." ucapnya


Aku heran dengan Azka semalam ia nekat bunuh diri hingga kritis sampai pagi menjelang, dan sekarang udah ceria lagi kayak nggak terjadi apa-apa. nih anak punya seribu nyawa kali ya pikirku melihat tingkah Azka yang terlihat di ambang normal. Di sela obrolan kami dokter Hanum dan seorang perawat masuk untuk memeriksa Azka.


"Loh ini ibu yang ketemu di kafe itu kan ya?" ucap Azka tiba-tiba


"Iya tuan saya dokter Hanum yang merawat anda."


"O..oh" jawab Azka dengan pelan, kulihat wajahnya seperti menyimpan sesuatu tapi entahlah ada apa dengannya. kenapa hari ini semua orang terlihat aneh, papa mama, Aldo bahkan Azka sendiri pun terlihat aneh. ah kenyataan apa lagi yang mereka sembunyikan dariku, tidak cukupkah fakta kematian ibu yang baru ku ketahui dan sekarang apa lagi?


Aku melihat begitu banyak gurat kesedihan, kekecewaan bahkan mungkin trauma yang begitu menyakitkan dalam sorot mata Azka. Selama pernikahan hubungan kami datar-datar saja meski sering di warnai pertengkaran.


Sementara dokter memeriksa aku memilih untuk duduk menyender di sofa, ku pejamkan mata ini membuang nafas perlahan kiranya perasaan aneh yang mengganggu fikiranku sejak subuh bisa hilang walau sejenak. hari ini benar-benar membuat adrenalinku ada di ambang kekesalan yang hakiki. kadang aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan.


Pov Kinara End ya disini.