KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 75



"Baru pulang mengajar mas?" tanya Andin saat membuka pintu rawat inap Puput.


"Iya langsung kesini, kamu sendiri?"


"Iya Bu RT pulang dulu ngurusin anak-anaknya nanti malam baru kesini lagi katanya"


"Oh, masih belum siuman?"


"Belum mas, dokter juga baru visit"


"udah hampir seminggu ini, kasihan Puput, apa mantan calon mertuanya datang tadi pagi?"


"Iya datang sama polisi juga mas, katanya udah dari seminggu yang lalu Rizki kabur"


"Iya, polisi tadi malam juga cerita, orang tuanya Rizki juga baru nyadar"


"Kasihan kamu put, kalau emaknya di desanya sana tahu dia disini kayak gini, gimana reaksinya?"


"Emang emaknya masih ada?"


"Masih tapi udah nggak bisa ngapa-ngapain, sudah tua, cuma tinggal sama kakaknya aja, hidupnya juga susah"


"Ya disini jadi tanggung jawab kamu, kalian sama-sama perantau disini kan"


"iya mas"


Keadaan hening sejenak, Reno sibuk bermain ponselnya berbalas pesan dengan teman-temannya.


Andin sesekali menoleh kearah Reno dan ingin menanyakan sesuatu tapi merasa ragu.


"Ndin"


"Mas"


ucapan mereka bersamaan. keduanya sama-sama tersenyum malu dan tertawa pelan.


"Kamu duluan mas" kata Andin


"Kamu aja, mau ngomong apa?" tolak Reno.


"Emm... itu.... waktu di tanyain dokter kenapa mas bilang aku istrinya mas?" tanya Andin malu-malu


Reno tertegun sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Itu...maaf keceplosan ndin, maaf ya" kata Reno merasa bersalah


"Boleh tahu alasannya? maaf kalau aku lancang mas" tanya Andin lagi


"Maaf ndin, kayaknya aku nggak bisa bicara disini, lain kali aja aku cerita ya" tolak Reno lagi


"Oh gitu, ya udah nggak papa" kata Andin kecewa


"Em ndin, maaf untuk waktu itu yang melarang kamu datang kerumah, kamu nggak marah kan?" ucap reno


"Oh ...nggak papa mas, aku memang yang salah kok"balasan Andin


"Ndin, aku mau pulang ke kampung dalam beberapa bulan lagi, nggak tahu aku bisa kembali kesini lagi atau nggak, karena aku juga mau ngurus beasiswa ke luar negeri" ucap Reno


"Mas mau pulang kampung?"


"Iya, ibu ku sakit, dan aku harus pulang karena udah setahun lebih aku nggak pernah pulang"


"Oh gitu, ya udah nggak papa"


"Kamu baik-baik disini ya, jagain Puput, kalian saudara harus saling membantu, untuk usaha kamu nanti aku transfer kalau misal kamu ada kekurangan, kamu bisa ngomong ke Arzan, karena dia asisten ku"


"kenapa mas Reno repot-repot, aku masih ada modal simpanan kok"


"Nggak papa, kamu udah makan?"


"Belum"


"Kita keluar cari makan dulu, panggil perawat untuk jagain Puput"


"Tapi,....."


"Udah nggak apa-apa ayo" ajak Reno sedikit memaksa. Andin mengikuti langkah panjang Reno, beruntung semenjak ia keluar dari tempat hiburan malam, Reno perlahan-lahan mengajari nya memakai baju tertutup dan jilbab.


setelah pamit pada suster yang bertugas, Andin dan Reno keluar menuju ke warung makan tak jauh dari rumah sakit.


"I...iya mas"


Andin dan Reno memilih duduk lesehan di tempat yang sudah tersedia. setelah memesan makanan Reno kembali fokus pada layar ponselnya. sedangkan Andin tampak tak nyaman karena tiba-tiba saja sikap Reno juga berubah dalam beberapa menit.


Berulang kali Andin mencoba menetralkan detak jantungnya tapi tetap saja membuatnya merasa tidak nyaman berhadapan dengan Reno.


"Silahkan mas mbak"


"Terimakasih Bu".


Mereka makan dalam diam,hanya suara dentingan sendok yang saling beradu di atas piring.


"Ndin, ikut aku sebentar bisa kan?" tanya Reno setelah selesai makan


"Kemana? kita nggak bisa lama-lama nanti kalau Puput ada apa-apa gimana?" kata Andin meragu


"Tadi aku udah minta nomor telepon suster yang piket kok"


"Tapi janji jangan lama-lama ya"


"Iya deh iya,"


Selesai makan Andin mengikuti Reno yang mengajak nya tanpa memberitahu kemana mereka akan pergi.


Hingga sampai di sebuah toko emas yang menjadi langganan Tante Meri, Reno berhenti dan menggandeng tangan Andin seolah mereka adalah pasangan.


"Mas Reno, tumben bawa cewek, ini calonnya?" sapa salah satu pegawai emas yang memang sudah mengenalnya.


"Em, mana bunda El?" tanya Reno pada pegawai tanpa merespon candaannya


"Bunda di dalam, bentar ya" jawab anak muda bernama El


"Mas kenapa ngajak aku kesini?" tanya Andin tak enak.


"Nggak papa, kita milih cincin dulu, nanti baru kita obrolin" jawab Reno santai


Andin lagi-lagi hanya mendesah berat, di saat seperti ini seharusnya ia hidup dengan baik-baik saja bersama Puput, justru Tuhan memberinya ujian begitu berat, Puput kehilangan calon suaminya dan gagal menikah tapi beruntung calon mertuanya sangat baik dan menganggap Puput dan Andin sebagai anak sendiri. bahkan biaya rumah sakit pun calon mertua Puput yang membiayai semuanya.


Reno bukannya tak tahu apa yang tengah di rasakan Andin, tapi sejak semalam ia sudah memutuskan satu hal dalam hidupnya, meskipun ia tak tahu apakah ini benar atau salah. apakah ia mampu atau tidak menjalani keputusan ini. dan bagaimana dengan Andin yang tak tahu apapun harus ikut terseret karena kesalahannya? adilkah untuk Andin atau justru suatu saat akan menjadi Boomerang bagi dirinya dan Andin?


"Gua tahu dia cinta sama Lo Ren" ucapan Gito semalam berhasil membuat Reno jungkir balik.


"Nikahin aja, urusan Lo cinta atau nggak, jalani aja, dia tetap jadi istri Lo kalau kalian menikah, mau sampai kapan Lo nunggu Keisya yang jelas-jelas udah nggak ngarepin lo? kalau emang Lo cinta harusnya sejak dulu Lo perjuangin, tapi kenyataannya Lo malah yang mutusin dan Lo pergi tanpa kabar sampai sekarang kan?" serobot Gito sebelum Reno sempat menjawab


"Jadi gue harus nikahin Andin? sama halnya gue nyakitin dia kan to?" sahut reno


"Trus mau sampai kapan lo ngarepin Keisya? kan aneh aja kalau sampai berita Lo udah nikah di denger Keisya dan keluarganya, apa Lo nggak malu kalau harus perjuangin Keisya? nah sampai sekarang aja Lo kabur tanpa kejelasan" timpal Gito.


"Gue nggak mau nyakitin Andin, dia terlalu baik buat di sakitin, dia yatim piatu to, gue nggak cocok sama dia" sanggah reno


"Nggak cocok karena Lo nggak cinta dan ngarepin Keisya atau nggak cocok karena alasan lain heh?"seru Gito membuat Reno akhirnya diam dan merasa kalah beradu mulut dengan Gito.


"Gue bakal ngerasa bersalah kalau sampai ngasih dia harapan palsu to?" kekeh Reno


",Kan udah gue bilang kamvret, urusan Lo cinta atau nggak sekarang itu urusan nanti, yang penting Lo nikahin dulu anak orang, urusan cinta suatu saat kalau kalian ada anak pasti Lo bakalan cinta tanpa Lo sadari, makin lama makin kesel gue sama Lo Ren" oceh Gito kesal.


"Mas...mas .... mas renoo" panggil El melihat Reno hanya melamun di kursi.


"Eh...I... astaghfirullah iya kenapa El?" tanya Reno terkejut.


"Haduh nih anak ya," desah El kesal.


"Bunda mana?" tanya Reno


"masih sholat ashar, kamu udah belum? sholat dulu sana di mushola, lewat samping"


"Iya, pilihin cincin yang cocok buat dia El" titah Reno membuat Andin langsung menoleh padanya dengan sorot mata terkejut


"Mas... maksudnya apa?" kata Andin setengah berbisik.


"Udah tenang aja, biar di pilihin dulu sama El, aku ke mushola dulu ya" pamit Reno.


"Tapi mas..."


"Udah mbak, biar mas Reno sholat dulu, silakan Di pilih cincinnya, ini koleksi kami yang termahal dan terbaru" ucap El menyodorkan beberapa kotak cincin di hadapan Andin.