
"Bagaimana ini bisa terjadi? kita hampir saja mengalami kerugian sangat besar" ucap pak Denias
"Ini salahku yang kurang teliti menerima karyawan, awalnya aku merasa sangat bersimpati dengan anak itu, sebab itu aku memberinya pekerjaan agar ia bisa menyenangkan orang tuanya!"
" Sudahlah semua sudah terjadi, mungkin memang ini sudah jalan yang tuhan gariskan untuk kita bertindak mengembalikan semua ke tempat semula. Yakin Tuhan sudah tunjukkan kita satu jalan untuk membuka jalan yang lain."
"Kamu benar Den, kita harus siap menghadapi ini bersama........"
"Permisi Tuan...."sapa seorang asisten Denias
"Ada apa Rena?"tanya pak Denias
"Tamunya sudah datang pak dan sudah saya minta untuk menunggu"
"Baik saya temui sekarang."
"Siapa Den? Wibowo?" tanya pak Anderson
"Bukan, Wibowo baru akan tiba besok ini orang yang sangat penting, akan ku perkenalkan padamu, mari" ajak pak Denis. Pak Anderson hanya menurut saja, namun saat mereka sampai di ruang tamu Pak Anderson dibuat terkejut.
"Ahmad? kamu Ahmad?"tanya pak Anderson terkejut.
"Ba...bapak? apa kabar pak?" tanya Ahmad
"Kalian saling mengenal? tanya Pak Denias tak kalah terkejut.
"Sudah jelas aku sangat mengenalnya Den, dia salah satu kandidat yang pernah berhasil mendapat beasiswa dari perusahaanku di Jerman 6 tahun lalu dan dia pernah menjadi salah satu staff ahli disana. meskipun usianya muda dan dari keluarga sederhana tapi kemampuan dan kecerdasannya gak bisa di ragukan lagi."
"Ini keponakan dari Almarhumah mertuaku, dan almarhumah ibunya anak bungsu dari 7 bersaudara. sejak kecil memang dia tinggal di pesantren milik Kakek dari Almarhum abahnya dan tidak pernah pulang jadi kami juga jarang mendengar kabar tentangnya karna kurangnya alat komunikasi yang di gunakan disana" papar Pak Denias
"Ternyata dunia sempit ya hahaha" tambah pak Anderson.
Akhirnya mereka berbincang hingga larut. sedangkan di salah satu ruangan sebuah Cafe,
Praanng.....Kluntaaang....
"Auuuhh tanganku....." Azka meringis melihat darah mengalir dari lengannya.
"Firasat apa ini?"batin Azka
"Astagfirullah Azka.....Lo kenapa?? Tangan lo.... darah? Aduh Risma...ambilin kotak P3K..." Rio panik melihat darah mengucur deras dari lengan Azka.
"Apaan sih teri........Azka berdarah..aduh kotak mana kotak? Rio...Lo nyimpen kotak P3K dimana?" Risma berlari mencari kotak penolong
Rio merobek salah satu kain bersih yang tergeletak diatas meja dan mengikatkan ke lengan Azka untuk menghentikan pendarahan sembari menunggu Risma datang membawa si kotak penolong.
"Ada apa ini ribut-ri......... Astagfirullah Kenapa dapurnya banyak darah? kalian kenapa? itu piring gelas ampe pecah begitu...?" Istri dari pemilik kafe datang menghampiri mereka.
"Maaf Nyonya Azka terkena pisau di lengannya " Ujar Rio
"Maafkan saya Ibu...saya tadi tidak sengaja menjatuhkan piring dan gelas dan saya tidak tahu kalau ada pisau di piring itu. saat piring nya jatuh, pisau itu terlempar dan posisi tangan saya sedang memegang nampan. maafkan kecerobohan saya bu"
"Ya sudah tidak apa-apa, Rio kamu bersihkan dapur, Azka kamu ikut ke ruangan saya."
"Baik bu" jawab Rio dan Azka.
"Loh, mah Azka kenapa?"Tanya pak Sindu
"Lengan nya teriris pisau tajam, biasa lah pa!" jawab Bu Faiz seraya mengambil kotak P3K.
"Kamu ada masalah Azka? sepertinya beberapa hari terakhir saya lihat kamu banyak melamun, kerja juga kadang gak konsen!"
"Saya baik-baik saja pak, cuma sedikit pusing saja karna sebentar lagi Ujian Akhir dan sebenarnya saya ingin minta cuti sebulan sebelum ujian sampe selesai." ucap Azka dengan alibi nya agar sang bos tidak banyak bertanya.
"Tahan bentar ya nak saya bersihkan lukanya" ucap bu Faiz
"Bi...biar saya saja bu,!"
"Azka biarkan ibu yang melakukan diamlah!" pinta Pak Sindu seraya mengatupkan kedua matanya memberi kode.
Bukan tanpa alasan kenapa Pak Sindu membiarkan sang istri mengobati luka Azka, semua itu karna mereka belum di karuniai anak lagi setelah 15 tahun. 3 tahun setelah pernikahan mereka, Bu Faiz dinyatakan hamil namun saat usia kehamilan 7 bulan Tuhan sudah memanggilnya sebelum buah hati mereka melihat dunia.
Begitu besar harapan mereka untuk memperoleh keturunan lagi dan sudah banyak cara mereka lakukan namun hingga saat ini belum berhasil. untuk itu pak Sindu membuka kafe ini sebagai pengobat gelisah hati sang istri. bahkan semua karyawan kafe sudah mereka anggap seperti anak kandung. terkadang sang istri sendiri selalu turun tangan melayani pelanggan jika kafe sangat ramai pengunjung.
"Sudah selesai, lain kali kamu harus hati-hati ya jangan sampai terulang lagi, kamu boleh istirahat sampe lukanya sembuh, soal cuti jangan kamu pikirin kapanpun kamu mau datang, datanglah tanpa harus meminta izin ku. kamu dan yang lainnya sudah seperti anakku sendiri jadi jangan sungkan."
"Baik ibu terimakasih".
Sementara itu di rumah sakit, setelah melihat kondisi Aldo,mama Hanna sengaja menjauh ke taman belakang rumah sakit untuk menghubungi bos pemilik kafe tempat Azka bekerja, karna sejak tadi ia menghubungi ponsel Azka selalu tidak di jawab.
"Assalamualaikum hallo dengan pak Sindu?"
"Iya saya sendiri, dengan siapa saya berbicara?"
"Saya Mama nya Azka karyawan bapak, begini pak sejak tadi saya hubungi ponselnya tidak pernah di jawab, bisa minta tolong bapak sampaikan pada nya bahwa saya sekarang ada di rumah sakit bakti pertiwi, saudaranya Aldo dan Kinara mengalami kecelakaan."
"Oh iya ibu bisa bicara sendiri dengannya ya bu" ucap pak Sindu seraya memberikan ponselnya pada Azka.
"Mama kamu mau bicara Azka"
"Assalamualaikum ma ada apa?"
"I...iya ma Azka kesana sekarang. kalo martabaknya biar Beno aja nanti yang bawain oke Assalamualaikum tut!" Azka langsung memutus sambungan sepihak dan menyerahkan ponsel pada pemiliknya.
"Maafkan mama saya pak, saya boleh izin sekarang harus ke rumah sakit"
"Silakan saja Azka..mama kamu tadi udah ngomong kok!"
"Baiklah pak bu, terimakasih banyak saya permisi Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Pak Sindu dan Bu Faiz memperhatikan hingga punggung Azka hilang di balik pintu.
"Kok ada ya pah anak orang kaya tapi mau kerja banting tulang seperti itu, mamah makin dibuat salut dengan kegigihannya, seandainya kita..." ucap bu Faiz sendu
"Udahlah mah....kita harus banyak bersyukur sampai hari ini Allah masih memberi kita banyak nikmat. Azka dan yang lainnya juga anak kita meski bukan darah daging kita mah. yang sabar ya.."
Azka pergi ke pantri untuk berpamitan pada teman-teman nya.
"Gue duluan mau ke rumah sakit saudara gue kecelakaan sore tadi." pamitnya
"Ok bro...rumah sakit mana sapatau besok kita bisa jengukin bareng," tanya Rio
"Rumah sakit bakti pertiwi"
"Ok besok gue kabarin" ujar Rio
"Ok" balas Azka seraya melangkah pergi
Saat tiba di depan pelataran kafe rupanya ojol yang ia pesan baru tiba.
"Assalamualaikum.." ucap Azka
"Waalaikumsalam mas.." Jawab Kinara
"Maaf ak...aku baru datang soalnya kafe lagi rame" ucapnya kikuk
"Gak papa aku ngerti., tangan kamu kenapa mas?"
"Oh ini gak papa cuma kecelakaan kecil aja tadi di pantri, gimana kalian bisa kecelakaan?"
"Aku ngajak Aldo ke pantai. pas pulang kita diikutin dari belakang, Aldo jadi gak konsen nyetir"
"Jadi mereka juga diikutin dedemitnya Anthony? ini udah gak bisa di biarin aku harus bicarain ini sama papa dan om Denias"batin Azka
"Ra..."(Menggenggam erat tangan Kinara) "Maaafin aku karna udah bikin kamu marah waktu itu dan maaf soal wanita yang bersama ku waktu di kafe dan apartemen, aku mau jelasin sebenarnya........... " ucapannya terpotong karna mama Hanna masuk dan langsung menyuguhi Azka dengan rentetan pertanyaan.
"Kamu datangnya kapan?"
"Martabak mama mana?"
"Loh tangan kamu kenapa nak?"
"Ini kok bisa gini sih?"
"Hei di tanya orang tua malah bengong gimana sih?" ๐คจ๐คจ
"Ma, bisa gak sih kalau nanya satu-satu? ya kali orang nanya kayak kereta listrik wing wing wing wuuuusshh."๐๐๐
"๐ ๐ ๐ ๐ hahaha masih aja kamu bisa ngeles!" seloroh mama
"Martabak nya Beno yang bawain orangnya lagi otewe, kalau lengan aku kena pisau, tadi enggak sengaja jatuhin piring sama gelas dan nggak taunya ada pisau diatas piring terlempar kena lengan aku." jelas Azka
"Makanya lain kali jangan ceroboh, understand?" ujar mama seraya menjewer telinga Azka
"Understand Madam...lepasin ahh kalau telinga aku copot emang mama bisa ganti yang baru?"๐
"Assalamualaikum tante...ini martabaknya" Beno,Fikar dan Reno datang.
"Waalaikumsalam wuuuiiihh kenapa gak sekalian kamu borong sama penjualnya pisan atuh Ben?"tanya Mama
"Yang ini punya tante, (memberikan bungkusan berisi martabak) kalau yang ini punya si Aldo, yang ini punya Nona muda, yang ini ini ini dan ini punya kami berempat xixixi๐๐ " ucap Beno.
"Resek...bilang aja mau lo abisin semua ogeb!" Fikar menoyor pundak Beno
"Ahh mau makan aja ribut mulu siniin.." timpal Reno mengambil semua martabak dan membukanya.
"Renooo....." ucap Azka,Beno,Fikar bersamaan
"Hehehe sekali-kali lah ya anggap aja gue lagi amnesia "๐
"Enggak!!" jawab mereka bertiga
"Oke deh gue makan bagian gue sendiri....nasib nasib punya alergi protein hewani mau makan aja susah!" gerutu Reno.
๐๐๐ Kasian babang Reno!!
Jan lupa dukungannya man teman ๐ฅฐ๐ฅฐ