
"Ayah aku lulus" teriak Keisya di halaman depan rumah.
Tuan Wibowo yang sedang membersihkan ilalang di halaman samping rumah terkejut mendengar teriakan anak bungsunya.
Beruntung kedua cucunya sedang keluar bersama orang tuanya di kecamatan, jadi teriakan Keisya tak akan mengganggu mereka.
"Kenapa teriak-teriak? nggak enak sama tetangga nak" ucap tuan Wibowo seraya menaruh peralatan bertani di tempatnya
"Ayah aku sama Rini lulus, dua hari lagi kita berangkat mau urus registrasi dan lainnya" ucap Keisya gembira memeluk sang ayah.
"Non Keisya kayaknya seneng tuh, mbok denger tadi teriak-teriak" sahut mbok Yem dari arah samping rumahnya.
"Hahaha Alhamdulillah mbok anak saya lulus di terima kuliah di di kota Y" balas tuan Wibowo tersenyum
"Waah... Alhamdulillah akhirnya lulus, bakalan pergi jauh lagi dong" seru mbon Yem
"Iya mbok, jangan kangen sama aku ya, nanti kalau kangen nelpon aja, minta apa tak kirimin dari sana" sahut Keisya
"Tenane? waah seneng aku, kalau mau berangkat kapan? nanti tak bikinkan bekal nduk"
"Hehe bener mbok? dua hari lagi aku berangkat"
"Oke bos, nanti tak masakin bekal biar jadi obat kangen kalau disana"
"Hahahaha" mereka bertiga akhirnya tertawa bersama. beberapa warga yang melintas pun menunduk hormat pada tuan Wibowo yang mereka kenal sangat dermawan di desa itu.
****
"Nak Keisya tumben belanja banyak sekali?" tanya umi Tin saat melihat Keisya memasukkan belanjaan ke dalam keranjang.
"Eh ibu" ucap Keisya meraih tangan umi Tin dan menciumnya takzim
"Sehat nduk?"
"Alhamdulillah sehat umi, sendiri umi?"
"Iya sendiri, Abah pergi ngajar, kamu belanja banyak sekali mau ada acara dirumah?"
"Enggak umi, ini mau di bawa ke kota Y, besok sore saya berangkat"
"Oh sama Arini ya?"
"Iya betul umi, saya sama Rini kuliah di tempat yang sama cuma beda fakultas, Rini lulus fakultas kedokteran saya desainer"
"Oh semoga berkah ilmunya ya nduk, salam buat bapak dirumah"
"Iya umi, insha Allah saya sampaikan"
Umi Tin berlalu meninggalkan Keisya setelah mendengar jawaban Keisya yang membuatnya sedikit tak suka.
"Jadi desainer apa bagusnya, Hanan aneh-aneh, masih banyak perempuan lain yang lebih bagus kualitasnya malah pilih perempuan yang jadi model" batin umi Tin kesal.
Keisya masih sibuk memilih barang yang akan di belinya, tanpa menghiraukan lagi sikap umi Tin yang seolah hanya mencari muka saja di depannya.
"Semoga saja kamu tidak bertahan dengan keyakinan kamu mas Hanan, biar bagaimanapun aku tahu dari Arini soal masa lalu rumah tangga mas Hanif karena Ego orang tua mu"batin Keisya
Sampai dirumah Keisya terkejut melihat Hanan sudah berada di sana, padahal terakhir kali bertemu, Hanan izin KKN dan sekaligus menyelesaikan tugas terakhir sebagi mahasiswa.
"Kapan sampai mas?" tanya Keisya basa-basi
"Setengah jam lalu kei, darimana?"
"Dari tokonya Bu Sabar, belanja, bukannya mas izin nyelesaiin proposal skripsi?"
"Iya tapi tadi malam tuan minta tolong buat ngantar kamu sampai ke kota Y besok, jadi mau tidak mau saya harus izin"
"Deh, kan aku sudah bilang mau kesana sama Arini dan mas Bagus karena mas Bagus mau sekalian ambil barang" protes Keisya
"Ya jangan marah ke saya, kan saya cuma jalankan tugas, itu saja" ucap Hanan membela diri.
Hanan langsung pulang kerumahnya begitu mendengar suara Keisya yang cempreng protes ke ayah dan kakaknya.
"Kan aku udah bilang yah, jangan repotin siapapun termasuk Hanan, aku besok berangkat bareng mas Bagus,berapa kali aku bilang?" protes Keisya dengan marah
Kinara melirik ayahnya yang terlihat merasa bersalah dan sesekali menarik nafas panjang
"Kei, jangan salahkan ayah, wajar kalau ayah khawatir, ini demi kamu, besok Hanan juga ikut bantu nyupirin sampai kesana, kamu pikir tiket pesawat murah? makanya ayah minta Hanan buat bantu mas Bagus nyetir mobil, ini perjalanan panjang Kei, kalau mas Bagus capek nyetir trus siapa yang mau bawa mobilnya?" ucap Kinara
"Terserah lah, aku udah bilang jangan lagi nyusahin orang lain buat ngurusin aku" kita Keisya meninggalkan rumah semua yang terbengong melihat tingkahnya.
"Kenapa lagi adik kamu?" tanya Azka kaget melihat Keisya menutup pintu dengan keras.
"biasa lah, lagi badmood, ntar baik lagi" kata Kinara.
Azka langsung memeluk erat tubuh mertuanya dari samping dengan sayang. ia tahu betul bagaimana perasaan orang tua itu.
Kinara kembali ke dapur untuk melanjutkan rutinitas nya memasak. beruntung anak-anaknya akur dengan mbok Yem dan mereka sedang bermain di rumah mbok Yem dan Kinara juga baru tahu kalau Lina si biang rusuh di kampus adalah cucu dari mbok Yem tetangga samping rumah ayahnya di desa ini.
Baru satu Minggu tinggal di desa Kinara sudah akrab dengan beberapa tetangga ayahnya, itupun karena warga desa tahu kalau Kinara adalah orang yang turut andil dalam proses pembebasan tanah milik mereka yang terkena dampak pembuatan jalan tol.
"Sayang, apa nggak sebaiknya kita ikut nganter, atau aku aja yang nganter bantu mas Bagus nyetir, daripada Keisya tambah badmood" kata Azka pada Kinara. Azka sengaja menemui Kinara di dapur.
"Kamu aja yang ngomong sama ayah ya, aku nggak enak mau ngomong, tahu sendiri Keisya bagaimana, ini yang kadang aku takutkan kalau dia marah" kata kinara menoleh ke arah suaminya.
"Iya deh, tapi gimana ngomong nya sama Hanan?" tanya Azka
"Biar nanti aku yang urus soal Hanan, lagian dia udah minta cuti buat ngurusin skripsi nya, ayah juga nggak ngomong dulu kalau minta Hanan buat nganter Keisya besok" jawab Kinara
"Ya udah, kalau gitu aku kerumah Bulik Sri aja dulu, sekalian ngomongin ini."
"Iya"
Sorenya Kinara menemui Keisya di kamar. anak itu memang sejak pulang dari toko dan marah-marah ke ayah dan kakaknya tidak pernah keluar kamar.
"Kei, kamu ngapain?" tanya Kinara begitu masuk kedalam kamar
"Lagi ngegambar, kenapa mbak?"
"Makan dulu, dari siang kamu nggak makan loh, nanti sakit"
"Iya nanti lah aku makan"
"Kei, kamu udah beres-beres?"
"Udah tuh cuma sekoper sama tas gede aja"
"Besok mas Azka ikut nganterin kamu, mbak nggak bisa ikut karena harus ngurusin proyek, dan mbak sudah minta Hanan buat bantu mbak nyelesaiin administrasi pembebasan tanah warga yang kena dampak."
"Oh ya? baguslah kalau dia nggak ikut, biar emaknya nggak repot ngomel" kata Keisya
"emangnya kamu di omelin umi Tin?"
"Enggak sih, cuma sikapnya aja emang beda sama aku mbak, kayak nggak suka gitu, tadi aja ketemu di tokonya Bu Sabar sok baik, tapi pas aku bilang aku kuliah jurusan desainer langsung melengos, siapa yang nggak kesel mbak?" cerita Keisya
"Nggak usah kamu ambil hati, yang penting Hanan nggak pernah nyakitin kamu"
"Anaknya sopan mbak tapi emaknya naudzubillah bikin hati panas"
"Tiap orang beda-beda kei, maklumi saja setiap perilaku orang lain ke kamu, selama mereka nggak melontarkan kalimat tidak pantas lebih baik kamu diam"
"Aku juga denger dari Arini mbak soal masa lalu rumah tangga kakaknya Hanan yang hancur karena Ego nya umi Tin"
"Masa sih? kamu nggak usah cerita ke mbak, itu aib mereka, biar itu jadi urusan mereka saja kei, doakan saja semoga suatu saat umi Tin terbuka hatinya"
"Iya mbak"