
"Baru pulang Ren?" tanya Tante Meri saat membuka pintu setelah sholat subuh dan melihat Reno tengah melipat sajadahnya.
"Iya Tan, adiknya Jaka tadi malam sakit panas, suhu tubuhnya tinggi sekali, jadi aku yang bantu kerjain skripsi nya" jawab Reno
"Kamu nggak keluar kan hari ini?"
"Nggak, kan hari Minggu libur, Tante mau kemana?"
"Ke bjm yok, temani Tante belanja bulanan"
"Boleh, kita berangkat pagian aja ya Tan"
"Selesai sarapan, dah siapin dulu mobilnya sana"
"Okelah"
"Eh Ren, ibu kamu tadi malam nelpon kapan kamu mau pulang? katanya kamu mau melamar Andin?"
"Ibu tahu soal Andin? Tante cerita?"
"Gito yang cerita tadi malam detailnya, sebenarnya Tante denger kamu ngobrolin soal itu sama Gito malam itu tapi Tante diam, besoknya ibu kamu nelpon katanya semalam mimpi kamu bawa perempuan kerumah, ya Tante cerita apa yang Tante dengerin malam itu hehehe" kata Tante Meri dengan rasa bersalah
"Astaghfirullah Tante...kenapa harus ngomong ke ibu sih??" tanya Reno kesal
"Ya maaf, trus sekarang kelanjutan kamu sama Andin gimana?"tanya Tante Meri
"Andin masih marah, dan nggak mau ngomong sampai sekarang, makanya aku nggak berani mau jengukin Puput" ucap Reno
"Ya udah nanti kita sekalian jengukin Puput, nggak apa-apa kan?" rayu Tante Meri
",Terserah Tante lah" putus Reno sedikit kesal karena Tante Meri mencampuri urusan pribadi nya.
Reno masuk ke dalam kamar dan mengambil handuk serta pakaian ganti. berhubung Gito sudah pergi ke rumah sakit sejak pukul empat subuh, alhasil Reno yang membersihkan kamar mereka.
Kamar seluas itu mereka tempati bertiga bersama Arzan, sebenarnya sejak awal kamar itu merupakan dua bilik yang berdampingan, tapi karena setelah Gito wisuda dan kembali ke kampung halaman dan mendapat tugas magang di rumah sakit kota, maka dua kamar yang terpisah itu mereka bongkar dan di jadikan satu kamar yang terlihat luas dengan segala jenis barang pribadi milik mereka bertiga.
Alasan yang cukup klasik untuk Gito karena tidak perlu teriak-teriak memanggil Arzan untuk mengambil sesuatu atau meminta sang adik mengerjakan sesuatu. meski kadang mereka berdua harus bertengkar terlebih dulu dan Reno yang harus melerai keduanya.
"Ren, Arzan beneran nginap di kosan kamu katanya Tante Rosa, astaga itu anak nggak ada kapoknya" teriak Tante Meri dari arah dapur yang berlarian kecil ke kamar Reno.
"Astaghfirullah, ada aja sih masalah" gumam Reno kesal lalu keluar melihat Tante Meri yang melakukan video call dengan Tante Rosa.
"Kenapa lagi sih Tan?" tanya Reno seraya melihat ke arah ponsel Tante Meri.
"Ini kos-kosan kamu semewah ini Ren? budget berapa juta perbulan kalau ngekos di sini?" tanya Tante Rosa di seberang telepon. Reno hanya memutar bola mata jengah.
"800ribu perbulan belum air sama listrik, bayar ke admin kosan, kenapa Tan?" tanya Reno tanpa menatap ponsel yang di arahkan ke pada nya.
"Semurah itu, tapi semewah ini fasilitas nya? busyet anak orang kaya beneran kamu Ren" seru Tante Rosa kegirangan melihat-lihat kondisi kos-kosan milik Reno.
"Biasa aja Tan, itu punya ibu bukan punya aku" ucapnya ,lalu berbisik pada Tante Meri, "aku kebelet Tan" ujar nya membuat Tante Meri cepat melambaikam tangan agar ia segera pergi.
"Kei, ayah pulang besok, karena dapat telpon dari Gus Rohid katanya mau datang melamar" kata Kinara saat mereka tengah duduk berdua di balkon belakang rumah
"Iya, papa pulang nggak?" Keisya menanyakan kepulangan tuna Anderson pada Kinara.
"Nyusul katanya, kamu udah yakin Nerima Hanan kei?" tanya Kinara memastikan
"Yakinin aja mbak, kalau memang dia sudah di takdir kan jodohku, kenapa lagi aku mau mengeluh?" ujarnya terlihat pasrah.
"Kamu pasrah? Apa masih berat untuk melupakan Reno?" tanya Kinara
"Ya emang aku harus gimana lagi mbak, waktu dulu mbak di jodohin juga cuma bisa pasrah kan sama kemauan ayah? apa bedanya aku sekarang?" ujarnya
"Tapi kan kamu nggak cinta sama Hanan kei, itu juga nggak akan adil buat Hanan," kata Kinara mencoba menyelami isi hati Keisya yang sesungguhnya.
"Soal cinta urusan belakangan mbak, kalau emang Tuhan sudah takdir kan Hanan jodoh ku, kenapa aku harus mengeluh?" ucap Keisya
"Ya udah, mbak cuma nggak mau kamu menyesal kei, mencintai tanpa di cintai memang menyakitkan, tapi sekali lagi harus kita ingat kalau Allah swt yang maha membolak-balikkan hati manusia" nasihat Kinara
"Aku sebenarnya belum siap untuk menikah mbak, tapi karena mas Hanan dan kegigihannya itu yang membuat aku akhirnya menerimanya, jujur aja ngelupain mas Reno itu hal tersulit mbak, waktu lihat Bu Fitri di stasiun aja rasanya sesak, andai saja ibu masih hidup mbak.. hik hiks" kata Keisya akhirnya.
Sejak kepulangan nya kerumah Kinara, Keisya memang diam-diam sering menangis saat di kamar teringat Bu Fitri dan anak-anaknya terutama Reno.
Kinara berangsur dan langsung memeluk sang adik kembarnya yang sejak kecil kehilangan kasih sayang seorang ibu.
"Aku belum bisa ngelupain mas Reno, tapi aku akan ikhlas kalau memang mas Hanan jodohku mbak hiks hiks" Isak Keisya dalam pelukan Kinara.
"Udah, mbak ngerti yang kamu rasakan, memang berat melupakan seseorang yang pernah singgah di hidup kita, tapi percayalah Allah tahu apa yang tidak kita tahu, hanya Dia pemilik skenario terbaik untuk hambanya" ujar Kinara mengusap punggung Keisya dengan penuh kasih.
Di sudut ruangan yang berbatasan dengan balkon belakang, seseorang mendengar semua percakapan dua kakak beradik itu dengan hati perih.
Niat hati ingin menjemput nyonya rumah karena harus menghadiri rapat direksi perusahaan, justru ia di kejutkan dengan kenyataan menyakitkan hatinya hari ini.
Gadis yang selama ini ia cintai, mencintai pria lain, haruskah ia memaksakan kehendak untuk tetap berjuang mendapatkan hatinya? adilkah untuk nya dan juga wanita yang di cintai nya jika mereka harus menikah nantinya?
Kenyataan hari ini menimbulkan sedikit keraguan di hatinya akan kesungguhannya untuk mendapatkan gadis idamannya. opsi terakhir hanyalah satu kata yakni pasrah dengan segala ketentuan yang maha mengatur hidup.
Hanan melenggang pergi meninggalkan ruangan dan keluar lalu duduk di dalam mobil sembari menghapus jejak air mata yang entah sejak kapan mengalir begitu saja.
Ia memang mencintai Keisya meski ia tahu gadis itu mencintai Reno. tapi mendengar langsung kenyataan itu dari bibir Keisya membuat pertahanannya akhirnya runtuh juga.
Haruskah ia membatalkan niatan untuk melamar Keisya? atau kah ia harus tetap maju dan berusaha meyakinkan gadis itu?
Meski kedua orang tua mereka pada akhirnya sepakat dan menyetujui, tapi apakah Keisya akan bisa lebih legowo? tenyata mencintai semenyakit kan ini.
Dan jika di masa depan Reno datang kembali, apakah ia sanggup melihat wanita yang ia cintai bersama orang lain?
Hanan menangis dalam diam. berusaha memaknai perjuangan hatinya yang kini luluh lantah.