KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 84



POV Reno


Aku tengah bersiap-siap saat pintu kamarku di ketuk beberapa kali oleh Angel anak bungsu Tante Meri.


"Kenapa dek?" tanya ku pada gadis kecil itu yang membawa ponsel milik ku yang tadi tergeletak di atas meja makan.


"Ada telpon dari polisi" jawab gadis kecil di depanku.


Aku meraih ponsel dan berbicara dengan orang di seberang ternyata betul dari pihak kepolisian.


"Saya Reno pak, ada apa ya?" tanya ku


",Maaf pak Reno saudara anda bernama Andin mengalami kecelakaan di kilometer 9 saat pulang dari pasar, dan pasien sekarang di rawat di rumah sakit umum" ucap seorang polisi dari seberang telepon


"Astaghfirullah, baik pak terima kasih informasinya, saya akan segera kesana sekarang" ucapku menutup sambungan telepon.


Gagal sudah rencana ku untuk pulang ke kampung menjenguk ibu. kondisi Andin lebih memprihatinkan. sudah tak punya siapa pun, hanya Puput yang dia miliki disini, sedangkan kondisi Puput belum benar-benar pulih.


Aku bergegas mengambil tas kecil yang biasa ku bawa saat bepergian, beruntung Tante Meri masih ada di rumah. gegas aku pamitan dan Tante Meri juga ikut kerumah sakit melihat kondisi Andin.


Kami bertiga pergi memakai mobil pribadi ku yang baru beberapa bulan ku beli. om Danu sudah pergi ke proyek sejak pagi, Gito sedang sibuk dengan pekerjaannya dan Arzan belum kembali dari liburannya bersama om Martin dan Tante Rosa.


Tiga jam perjalanan akhirnya aku sampai di rumah sakit tempat Andin di rawat. kami bertemu dengan polisi yang tadi menghubungi ku dan menceritakan kronologi kecelakaan yang di alami Andin.


"Pasien masih belum siuman, beruntung tidak mengalami cedera di bagian kepala, hanya kedua kakinya yang tadi terjepit saat motor terguling, seta kedua tangannya yang mengalami patah di bagian siku," terang pria berseragam coklat itu.


"Si penabrak bagaimana nasibnya pak?" tanya Tante Meri


"Meninggal di tempat Bu, dan kami sedang menghubungi keluarganya, pelaku ini sepertinya dalam kondisi mabuk saat berkendara" jawab pak polisi


Setelah melihat kondisi Andin, aku memutuskan untuk membatalkan penerbangan dan langsung menghubungi Dimas.


Aku hanya menjelaskan jika ada salah satu teman club' basket yang mengalami kecelakaan dan harus di rawat tidak mungkin jika aku mengatakan Andin yang di rawat sudah pasti pertanyaan Dimas akan lari kemana-mana dan aku bingung harus menjawab apa.


Tante Meri pulang saat malam hari setelah om Danu datang menjemput di rumah sakit. sedangkan pak RT datang setelah om Danu pulang.


Dari pak RT aku mendengar semua keadaan Puput yang mulai pulih secara perlahan berkat dokter Fritz yang selalu datang setiap tiga atau empat kali dalam seminggu.


Karena pak RT dan Bu RT tidak memiliki anak perempuan, mereka memutuskan untuk mengangkat Puput sebagai anak meskipun aku menjelaskan jika Puput masih punya orang tua dan saudara kandung yang hidup serba kesusahan di kampung halamannya.


"Ya sudah kalau begitu kita tunggu saja Puput benar-benar sembuh pak"ucapku.


"Tapi nak Reno, ada yang ingin bapak tanyakan, tolong di jawab ya?" tanya pak RT dengan wajah serius.


"Apa itu pak?" tanya ku balik


",Apa nak Reno ini sudah menikah dengan Andin?" tanya pak RT nampak ragu.


"Emm, bagaimana saya menjelaskan ya pak, ceritanya panjang" kataku ragu


"Bisa cerita? saya siap jadi pendengar" ucap pak RT dengan wajah penasaran. aku akhirnya mengangguk dan mengajak pak RT keluar dari ruangan Andin agar perbincangan kamu tidak mengganggu istirahat Andin.


Aku menceritakan segalanya dari awal hingga akhir tanpa ada yang kurang. dan pak RT manggut-manggut saja mendengar ceritaku.


"Kalau saran saya mas Reno, maaf ya kalau sekiranya lancang, lebih baik mas nikahin Andin, meskipun tanpa perasaan apapun, kalau Tuhan meridhoi insha Allah akan ada rasa cinta itu hadir seiring waktu. kasihan mbak Andin itu yatim piatu, disini juga nggak punya siapa-siapa, apalagi mas Reno sudah terlanjur bilang kalau Andin itu istri di depan dokter Fritz, kalau ketahuan bohong, kan berabe mas" nasihat pak RT.


"Saya dan Andin sudah memutuskan untuk berteman pak, dan saya pulang kampung juga karena dia yang meminta saya menyelesaikan masalah yang saya tinggalkan di masa lalu, saya memang harus bertanggungjawab atas kesalahan saya pak RT" ucapku yakin dan sebenarnya menolak saran dari pak RT.


"Ya ya ya, bagaimana kalau adik perempuan saya saja yang merawat Andin di sini, dia perawat juga di rumah sakit ini, nanti saya akan minta tolong sama dia buat ngerawat Andin, kalau memang mas Reno tetap mau pulang kampung" saran pak RT.


"Terlanjur saya batalkan pak tiket nya, mungkin lusa saya akan pulang kalau Andin sudah siuman" ucapku.


"Oh iya nda papa, nanti saya sama ibu juga akan sering datang kesini, beruntung anak-anak saya dirumah nggak ada rewel waktu Puput datang, justru mereka malah senang dan biasa ngajakin Puput bermain" ucap pak RT.


"Baguslah pak, kalau ada banyak dukungan moril dan kasih sayang dari orang sekitarnya insha Allah Puput akan cepat pulih" ucapku.


Lewat tengah malam pak RT izin pulang karena sudah mendapatkan telepon dari Bu RT di rumah. aku tidur di sofa yang ada di kamar rawat Andin. kata perawat yang menjaganya, Andin tadi siuman tapi tertidur kembali setelah makan dan minum obat. efek obat yang ia minum membuatnya langsung terlelap dan tidak merasakan sakit di kedua kaki dan tangannya yang di gips.


Sejenak aku memandang wajah Andin yang tenang, ada banyak luka yang Ia pendam sendiri, itulah kenapa ia selalu bersikap kasar jika ada laki-laki yang menjahilinya saat sedang berjualan.


Makanya pelanggan Andin rata-rata ibu-ibu, anak-anak dan remaja perempuan atau mahasiswi yang datang ke stand jualannya. pemandangan langka jika ada laki-laki atau bapak-bapak yang makan di stand nya. meski begitu Andin tetaplah ramah dengan semua pelanggan.


Andin gadis yang manis dengan gigi gingsul nya, meski memiliki wajah yang pas-pasan. sikap tegasnya pada setiap laki-laki dan tekad mandiri nya membuat Andin tumbuh menjadi wanita yang kuat dan tahan banting meskipun banyak luka yang sudah ia alami.


Meski ada niatan di hati untuk tetap menikahinya tapi logika dan perasaanku tak sejalan. aku tak ingin menambah luka hatinya jika tetap bertekad menjadikannya istri. meski aku tahu tidak mungkin juga untuk ku bisa kembali dengan Keisya.


Kalaupun suatu saat salah satu atau tidak keduanya menjadi jodohku. semoga saja Tuhan mempertemukan aku dengan wanita yang benar-benar bisa tulus dan ikhlas menerimaku.