KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
90 Pulang



Sesuai kesepakatan semalam, pagi ini mereka akan pulang. bahkan tetua adat pun ikut pulang ke desa tempat tinggal Nana demi memenuhi wasiat dari mendiang bapaknya.


kepala desa melepas kepergian mereka pagi ini di perbatasan masuk desa, ada gurat sedih di hati sang pemimpin desa setelah mendengar keputusan tuan Keenan untuk kembali ke negaranya dan menyerahkan tampuk pimpinan untuk semua usaha nya pada salah satu anaknya. ia tahu betul bahwa tuan Keenan yang ia kenal selama ini begitu banyak memberikan sumbangsih pada masyarakat desanya, dahulu desa ini hanya mampu di lalui roda dua kini sudah bisa di lalui kendaraan roda empat.


Masyarakat yang dulu hanya mengandalkan hasil panen bumi mereka untuk di jual di pasar kota, kini mereka bisa menjual hasil bumi mereka bahkan sampai ke beberapa kabupaten tetangga, meskipun desa mereka di kenal cukup jauh dan memiliki sebutan angker bahkan sejak jaman nenek moyang, Kini sudah banyak mengalami perubahan berkat tangan dingin tuan Keenan pada kesejahteraan masyarakat desanya.


"Terimakasih banyak atas jasa pak Keenan selama ini pada desa kami, sungguh kami merasa bersyukur dan punya hutang Budi pada pak Keenan, jika ada waktu dan kesempatan datanglah kemari pak, kami pasti akan merindukan sosok pak Keenan yang begitu merakyat" ucap sendu kepala desa sebelum kepergian rombongan


"Jangan berlebihan pak, saya hanya manusia biasa, sudah tugas saya membantu sesama, terimakasih sudah menerima kami sejak 30 tahun lalu hingga kini, mohon maaf bila banyak salah"


"Sama-sama pak, ini yang kami sukai dari pak Keenan terlalu rendah hati, terima kasih banyak atas jasanya pak terimakasih"


"Sudah pak, saya pamit dulu, kasihan anak-anak kalau harus menunggu, seminggu sekali anak saya akan datang kesini untuk mengecek kondisi lahan pertanian dan perkebunan desa kita, setiap bulan jika ada waktu anak saya Fritz juga akan datang kesini untuk memberikan penyuluhan kesehatan jika di perlukan, selain untuk mengunjungi rumah saya tentunya."


"Baik pak Keenan, terimakasih banyak, hati-hati di jalan pak, doa kami akan menyertai."


Setelah berpamitan mobil rombongan melaju membelah jalanan yang ramai dengan kendaraan warga desa yang keluar masuk dari arah kota.


Sesekali tuan Keenan membunyikan klakson saat berpapasan dengan warga yang melintas.


"Wah om terkenal ya disini?" kelakar Beno


"Biasa saja, karena kami teman di sawah" ucap tuan Keenan.


"Kita mau mampir ke rumah om bule dulu om?" tanya Beno


"Iya, sudah lama om nggak silaturahmi ke rumah besan dan ke pesantren, kalau kalian mau lanjut silakan saja, karena om mungkin akan lama di sana apalagi mau ikut mengantar teman kalian ke desanya."


"Ngikut mobil di depan aja deh om, kalau Beno mah yang penting bisa makan" sahut Fikar


"Hahahaha kalian ini bisa saja bercandanya"


Sepanjang perjalanan mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan sedang sembari menikmati perjalanan dan sesekali mereka berhenti untuk sekedar makan dan sholat. hingga sore mereka akhirnya tiba di rumah Abah Ramli, mertua dokter Fritz.


"Bagaimana tuan Keenan sehat?" sapa Abah Ramli saat mereka tiba.


""Seperti yang Anda lihat pak kyai, Alhamdulillah selalu sehat, oh ya kenalkan ini tetua adat kami di desa sana, hendak silaturahmi juga disini" ucap tuna Keenan memperkenalkan


Abah Ramli memandang sesaat pada sang tetua adat sebelum menyalaminya, entah apa yang Abah Ramli rasakan saat tangan mereka berjabat Abah Ramli tiba-tiba terdiam membuat sang tetua adat menjadi salah tingkah dan merasa salah namun ia hanya milih diam saja.


Setelah berbasa-basi sejenak, Abah Ramli pamit untuk pergi ke Empang karena harus melihat ikan-ikan peliharaan nya.


"Maaf tuan pak Keenan, ada apa ya dengan pak kyai tadi? kenapa seolah tidak senang melihat kedatangan saya" tanya tetua adat berbisik


"Maaf pak, kalau itu saya benar-benar tidak tahu apapun" jawab tuan Keenan.


"Saya hanya merasa risih saat beliau menatap saya pak, takut saya punya salah"


"Bapak tidak salah kok, tenang saja, beliau orang baik kok"


"Yah semoga saja saya tidak bersalah kali ini"


"Hehe bapak ini aneh, orang nggak kenapa-kenapa kok gelisah sendiri.?"


"Hehe maklum saya agak sungkan saja pak karena ilmu agama saya sedikit"


"Saya pun sama pak, apalagi saya ini muallaf"


"Ya, kita sama-sama masih harus belajar pak meskipun sudah tua hihi"


"Hehe betul itu pak"


Sore hari pukul 5.00 Safira dan Sofia baru saja tiba di rumah sepulang dari pesantren bersama Rizal. ia begitu terkejut melihat mertuanya ada dirumah, segera ia menyalami dan berbincang sedikit setelah itu masuk kembali ke dalam rumah untuk membantu umi Aisyah memasak untuk makan malam.


"Wah keyaknya enak tuh, sini aku cobain"


"Hem ini enak, malah lebih enak dari buatan umi hehehe"


"Masak sih mbak?? wihii senengnya akhirnya aku bisa masak gulai" ucap Kinara kegirangan.


"Eh kok muka kamu pucet banget sih Ra? sakit ya?"


"Ahh nggak tuh mbak, aku baik-baik aja kok"


"Beneran? tapi kamu keliatan pucet banget loh"


"Masak sih mbak?"


"Apa jangan-jangan kamu hamil?" tanya Safira spontanitas


"Ahh mbak ngaco, mana mungkin hamil secepat ini, dulu waktu ibu ku menikah juga lama baru bisa hamil"


"Ehh jangan nyepelein Ra, sapatau kamu beneran hamil gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana juga sih mbak, kan aku hamil punya suami hehehe"


"iiih bisa aja bercandanya ini anak"


"Hehehe"


"Kenapa lagi itu Abah kamu itu Fira?" tanya umi yang masuk ke dapur dengan wajah di tekuk


"Emang Abah kenapa umi?"


"Umi nggak tahu, tapi umi lihat seperti ada beban berat yang dia simpan padahal tadi baik-baik saja"


"Jangan suudzon dulu umi, semoga saja nggak ada apa-apa"


"Sudahlah nanti biar umi yang bicara, siapkan saja semua makanan untuk tamu kita makan malam"


"Sisa nata doang umi, nggak usah ikutan murung gitu lah, senyum dong"


"Umi cobain gurame nya dulu" ucap Kinara


"Emang sudah masak?"


"Sudah umi"


"Sini umi cobain"


"Wah ini mah lebih enak dari buatan umi Ra, kamu pinter masak juga ternyata"


"hehe makasih umi"


"Panggil semua temen kamu buat siap-siap kita sholat jamaah dulu di mushola trus makan malam, ini udah hampir jam 6, sebentar lagi tarhim" titah umi


"baik umi"


"Ra coba kamu tespect besok subuh sapatau kamu hamil beneran" ucap Safira sebelum berlaku meninggalkan dapur


"Hem nanti deh mbak, masih takut hehe"


" jangan sampai menyesal loh nanti kalau ada apa-apa gimana?"


"Siap komandan"