
"Kapan kamu berencana mau pulang Ren?" tanya Tante Meri sore itu. mereka bertiga sedang menikmati pisang goreng dengan teh hangat cocok dengan cuacanya yang sedang gerimis.
"Minggu depan Tan, aku mau nyelesaiin kerjaan ku dulu di sekolah, dan rencananya aku mau ngajar juga di daerah pemekaran" kata Reno
"Oh ya? emang kamu nggak capek bolak-balik? jauh loh Ren" ujar Tante Meri
"Bisa di atur, aku udah bicara sama kepala sekolah, dan Jaka juga rencananya bakalan nyariin rumah sementara disana, tinggal om Danu setuju atau nggak" terang Reno.
"Kalau Tante sih terserah kamu aja, karena kamu yang menjalani, tapi maaf Ren, kalau Tante lancang, kemarin Tante nggak sengaja dengerin pertengkaran kalian di rumah pak RT" ucap Tante Meri
Reno menoleh sekilas dengan wajah memelas lalu menunduk.
"Aku harus gimana Tan?" tanya Reno
"Jangan menyakiti wanita, karena kamu juga lahir dari rahim seorang wanita yang bernama ibu Ren, dari awal kamu sudah salah, seharusnya kamu langsung ngasih penjelasan ke Andin waktu itu, jangan langsung tiba-tiba diam trus mutusin buat nikahin anak orang, apalagi ini yatim-piatu Ren"nasihat Tante Meri
"Aku udah minta maaf ke Andin, tapi dia tetap nggak mau maafin Tan"
"Wanita mana yang nggak sakit hati Ren, kalau perasaannya tak terbalas, di tambah sikap kamu yang selalu kasih perhatian ke dia, wanita mana yang nggak akan jatuh hati kalau seperti itu, wanita butuh kejelasan dan kamu udah jujur kalau masih mencintai Keisya, itu menyakitkan Ren, kalau Tante di posisi Andin pasti juga melakukan hal yang sama" jelas Tante Meri
"Trus aku harus bagaimana Tan?"
"Minta maaf, dan nggak usah lagi kamu bahas soal pernikahan di depan Andin, kalau memang dia jodoh mu suatu saat pasti ada jalan kok, jangan lagi memberikan dia harapan yang nggak akan pernah bisa kamu penuhi, kasih penjelasan ke dia baik-baik, kalau dia meminta kamu bercerita tentang masa lalu kamu, cerita aja nggak apa-apa, kalian harus saling terbuka" Tante Meri memberi pengertian
"Aku nggak bisa lihat wanita menangis Tan, tapi aku sendiri bingung harus mulai dari mana?"
"Ren, jadi laki-laki harus tegas, kamu harus tegas dengan perasaan kamu sendiri, kalau salah ya minta maaf, udah itu aja"
"Aku bingung Tan, harus bagaimana, kalau aku jelasin semuanya, aku takut Andin akan semakin terluka"
"Itu lebih baik, daripada dia tahu dari orang lain, dan itu lebih menyakitkan Ren"
"Gitu ya?"
"Bener-bener kamu ini, harus di kursusin dulu"
"Habis aku nggak pernah pacaran Tan, nggak tahu gimana ngadepin sikap perempuan hehe"
"Belajar dari kesalahan kamu sebelumnya, jangan sekali-kali menyakiti wanita apalagi dengan memberikan mereka harapan"
"Iya Tan"
"Jadi, kalau ibu kamu nanti nanya soal ini, bilang aja kamu di tolak, biar ibu mu nggak banyak pikiran"
"Iya Tan, lagian ibu juga udah nggak nanyain macem-macem katanya Dimas"
"Dimas nelpon kamu?"
"Iya, kemarin nelpon nanyain soal rencana aku mau nikah, tapi aku bilang belum ada kejelasan dari pihak perempuan, makanya aku minta Dimas buat nenangin ibu biar nggak banyak pikiran"
"Baguslah kalau begitu, jadi Tante nggak capek mikir jawaban kalau ibu kamu nanyain"
"Pada ngumpul disini kalian, ma Minggu depan aku mau ujian profesi, minta doa dan dukungan ta nah" kata Gito yang baru saja datang dan ikut bergabung
"Abang, janjinya mana? iPhone 14" cecar Angel yang sedang asik bermain boneka
"Biar kayak mamanya temen-temen aku bang"
"Lo liat mama pake iPhone 14? nggak kan? jadi nggak usah ngiri, pamali tahu nggak"
"Abang tukang bohong, pelit,"
"Gue nggak pernah janjiin Lo iPhone 14 ya, Lo aja yang minta karena ngiri sama orang lain, anak kecil lebih baik diem" gertak Gito hingga Angel menangis.
"Kamu ini selalu gitu, makanya kalau nggak bisa jangan janjiin macem-macem Gito" Tante Meri memarahi Gito
"Aku nggak pernah janjiin apa-apa ma, dianya aja yang selalu ngiri sama temen sekolahnya, anak masih TK udah berani minta iPhone 14, emak Lo yang udah tua aja nggak mikirin iPhone yang penting anaknya bisa makan bisa sekolah" omel Gito yang kesal dengan sikap manja adik bungsunya itu.
Gito mendelik memandang Angel dengan sorot mata tajam saking kesalnya. hingga anak kecil itu menangis tergugu.
"Emang siapa sih temen kamu yang punya iPhone 14 nak?" tanya Tante Meri pada Angel
"Ratu yang kalau ke sekolah selalu pakai mobil ma, dia udah punya iPhone 14, dan selalu di pamerin ke temen-temen di sekolah" kata Angel.
"Tuh dengerin ma, anak mama aja yang manjanya kebangetan" cecar Gito.
"Mas udah, namanya juga anak kecil, maklumi lah" tegur Reno pada Gito
"Harus sejak dini dibiasakan biar nggak kerjanya minta Mulu nggak mau tahu capeknya orang tua apalagi saudara" kata Gito. sedangkan Reno hanya menggeleng samar.
****
"Kei, ayah minta maaf kalau nanya ini ke kamu, ini cukup yang terakhir kalinya, sekiranya ayah salah berucap, ayah minta maaf" kata tuan Wibowo pada anak bungsunya yang sedang asyik menggambar desain baju untuk pelanggan.
,
Keisya menghentikan aktivitasnya sejenak, menyimpan peralatan tempurnya, dan berbalik menatap ke arah sang ayah.
"Ayah mau nanya apa?" tanya Keisya
"Apa kamu sudah siap menikah? apa kamu yakin Hanan benar-benar jadi pilihan kamu kali ini?" tanya tuan Wibowo
Keisya mengatur nafasnya berkali-kali, pertanyaan yang memang sudah sejak lama ia tunggu-tunggu dari sang ayah. Meksipun berat ia harus bisa memberi keputusan atas hidupnya di masa depan.
"Ayah, aku pasrah, kalau memang mas Hanan jodoh yang Tuhan kirimkan untuk ku, meskipun saat ini aku masih mengharapkan orang lain, insha Allah aku akan ikhlas menerima mas Hanan dan melupakan masa laluku" jawab Keisya dengan sorot mata tegas.
"apa kamu yakin? ayah nggak mau kamu semakin terluka nak, ayah nggak mau kesalahan ini terulang kesekian kalinya, kalau memang kamu mengharapkan Reno, ayah bisa meminta Reno untuk kembali dan dan menyatukan kalian" ujar tuan Wibowo membuat Keisya terkejut.
"A..apa? jadi maksud ayah, ayah tahu soal mas Reno?" tanya Keisya terkejut.
"Maafkan ayah nak"
"Jawab ayah, apa ayah tahu soal mas Reno?" tanya Keisya dengan perasaan tak menentu
"Maafkan ayah nak, Reno sudah pernah datang kerumah kita di desa waktu dua setengah tahun lalu" kata tuan Wibowo menunduk dengan perasaan bersalah.
Keisya berdiri lalu mundur beberapa langkah dan pergi ke kamar dengan linangan air mata.