KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
11 Insiden Kecil



"Nah tuh koper kayaknya muat deh" Ide Kinara.lalu beranjak mengambil kursi di samping lemari. Ia tak menyadari jika kursi itu sudah lapuk. Kinara langsung naik ke atas kursi untuk meraih koper yang ada di atas lemari.


"Mas Azka tolongin dong.." ucap Kinara sembari memegang sebelah koper yang sudah ia raih. Kriet krieeett..(suara kaki kursi yang goyang) "Waduh.."batin Kinara.


Azka menoleh dan melihat kursi yang di naiki Kinara sudah hampir patah.


"Raaa... awaaaass.." Azka berteriak


Namun terlambat Kinara sudah jatuh lebih dulu dan Koper yang ia raih jatuh menimpa tubuh Kinara.


Kriieeeet gedubraaaakk.. Bruuukk ...


"Awwhh sakit mas.." Cicit Kinara


"Kamu sih gak ati-ati, kenapa gak bilang kalo mau ambil koper? Mana tinggi lagi.." Omel Azka sembari memindahkan koper berukuran besar yang menindih Kinara.


"Kan udah minta tolong tadi..."


"Telat..kamunya udah naik di kursi baru ngomong.."


"Astaghfirullah sakit...." rintih Nara memegang kakinya yang keseleo


"Bisa berdiri gak?"tanya Azka khawatir


"Bisa bantuin...Bismillah..awhhh.." Kinara mencoba berdiri memegang lengan Azka


Tanpa aba-aba Azka langsung meraih Kinara dalam gendongannya dan merebahkan Kinara di atas kingsize.


"Badan lu berat juga.." keluh Azka


"Aku gak minta di gendong.." Nara melengos menatap Azka.


"Ya udah turun lagi tapi jalan sendiri ya..."


"Ishh" Kinara mendesis


"Sini aja aku panggil Mbok Jum dulu."


"Hmm..."


Beberapa menit kemudian Azka kembali bersama Mbok Jum yang membawa minyak urut. Nara meringis menahan sakit saat kakinya di pegang Mbok Jum


"Aw..aa.. Udah Mbok aku gak tahan sakit.."


"Tahan dulu nduk cah ayu urat nya biar lemes sek..."


"Udah Mbok gak betah..."


"Tahan sek ya ini sakit.."


Kletuk.. (suara kaki Kinara yang di pijit)


"La illahaillallah... Sakit Mbok hiks hiks.." Rintihnya terisak


Azka duduk di sofa sembari memasukkan pakaian Kinara kedalam koper dan sesekali melihat Kinara merintih kesakitan. "Manja juga ternyata...๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†" batinnya.


"Udah nduk..coba di goyangin dulu.." Mbok Jum memberi aba-aba


Kinara menggoyangkan jari kaki dan pergelangan kakinya pelan sambil menahan sakit yang masih terasa.


"Masih sakit sekali?" tanya Mbok Jum


"Ini udah agak mendingan Mbok, makasih yah.."


"Istirahat dulu, saya bikinin parem buat di oles nanti.."


"Iya Mbok sekalian bawain obat penahan nyeri ya..."


"Ok sip Non." ucap Mbok Jum berlalu.


Azka selesai memasukkan pakaian Kinara dan beberapa perlengkapan sekolah ke dalam koper. Ia beranjak menghampiri Kinara.


"Kalo masih sakit kita tunda besok aja ya kerumah mama.." pinta Azka


"Aku gak papa kok, besok juga sembuh"


"Yakin?"


"Liat nih gak papa kan?" ujar Kinara menggoyangkan kakinya.


"Ya udah kalo gitu." ujar Azka sembari menjawab panggilan telpon.


"Waalaikumsalam"


".............."


"Sip dah". Tuut tuut Azka menutup panggilan dan meletakkan ponselnya di nakas. Lalu beralih mengambil kursi belajar dan mendudukan diri di samping ranjang. Sejenak ia menatap Kinara yang masih sibuk menatap layar ponselnya sembari terkikik sendiri.


"Ekhhemm " Azka berdehem berharap gadis itu menyadari keberadaannya.


Kinara menoleh dengan senyum khasnya lalu menatap kembali layar ponselnya. Azka tertegun sejenak saat Kinara menoleh dan tersenyum padanya dengan lesung pipit yang tercetak indah di pipi kanan serta gigi putihnya yang tertata rapi berhasil membuat jantung Azka seakan berhenti berdetak beberapa detik. Sudah barang tentu siapa yang tidak terpesona dengan sang pemilik senyum..


"Napa?" tanya Nara menoleh kembali setelah membalas chat dari sahabatnya. Ia menyadari Azka sejak tadi duduk di sampingnya namun ia lebih memilih untuk merespon grup chat sahabatnya. "Hei" panggilnya sembari menyenggol tangan Azka. Yang di tanya malah gugup.


"Eh ya apa??" tanya Azka memasang wajah canggung.


"Ada apa?"


"Besok final basket antar sekolah, Kamu mau ikut?"


"Boleh deh yang penting mereka berempat juga ikut ok deal??"


"Deal, ya udah yuk siap-siap kasian mama udah nunggu"


Di rumah keluarga besar Anderson


"Ma aku mau antar Rania cek kandungan ke klinik Dokter Rahma" Ucap Sean saat tiba di dapur untuk mengambil air minum.


"Emang udah bikin janji sebelumnya? Tanya balik Mama


"Udah Ma..beliau yang nyuruh datang cepat ke klinik karna beliau ada jadwal operasi siang ini." balas Sean.


"Rencana kamu balik ke Jerman bisa di undurin dulu lah kasian Rania usia kandungannya trimester tiga. Takutnya pas lahiran kamu enggak ada." papar sang Mama


"Aku pertimbangin dulu ma nanti Sean akan bicara sama Papa dulu. Aku juga enggak bisa ninggalin Rania sendiri." Ucap Sean


"Oh ya manten baru jadi dateng hari ini kan ma?" tanya balik Sean


"Jadi mungkin agak sorean mereka kemari.. Oh ya tadi ada undangan syukuran tetangga baru kita loh." ucap Mama


"Owh rumah yang di ujung kompleks itu..Mama mau kesana sekarang?" tanya Sean


"Iyalah kan undangannya sekarang. Pengajian majlis ta'lim aja kok." jawab Mama


"Oh ya tadi pagi Revan nelfon katanya hari ini jadwal operasi Om Wibowo minta doa semoga di lancarkan semuanya." ucap Sean.


"Amiiin ya robbal alamin semoga operasinya lancar cepet sembuh dan cepat kembali ke tanah air." balas sang mama.


"Oh ya denger-denger kamu sama Revan mau ngadain Reuni Alumni angkatan kalian?"


"Iya ma baru rencana mungkin nanti setelah keadaan Om Wibowo membaik kita mau susun agendanya." papar Sean.


"Ya udah Mama berangkat kondangan dulu. Kamu hati-hati bawa mobil jangan ngebut-ngebut jaga baik-baik istrimu dan calon cucuku." pesan sang mama berpamitan dan segera berlalu.


Sean segera menyusul istrinya ke kamar dan bersiap-siap untuk pergi ke klinik.


"Udah siap sayang..?" tanya Sean pada istrinya.


"Hemm.."jawab Rania mengangguk. Karna ia belum terlalu lancar berbahasa Indonesia.


"Yuk berangkat.." ajak Sean menggandeng tangan istrinya.


๐Ÿ˜ฒ๐Ÿ˜ฒ Punya Bodyguard juga?! wah holang kaya mah gitu๐Ÿค”๐Ÿค” auto mikir nih si author๐Ÿ˜‚.


...***...


"Pak Asep barang bawaan nya udah di masukin semua di mobil kan?" tanya Kinara saat sampai di halaman depan.


"Sementara Non..mau star sekarang ya?" tanya balik Pak Asep.


"Iya Pak lagi nunggu Mas Azka siap-siap." jawab Kinara


"Lah Non kenapa jalannya kok pincang gitu?" tanya pak Asep menyelidik


"Hehe abis latihan taekwondo tadi Pak.." Canda Nara


"Ah Non mah bisa aja,palingan jatuh keseleo, iya kan?"


"Hehe tuh tau pak.." Kinara menoleh melihat Mbok Jum membawa koper besar


"Aku panggil mas Azka dulu ya. Jangan sampai ada yabg ketinggalan Mbok, Pak"


"Wokeehh ๐Ÿ‘Œ๐Ÿ‘Œ" Jawab keduanya serentak.


Cekleek knop pintu terbuka.


Kinara masuk dan melihat Azka masih sibuk mencari sesuatu di bawah sofa.


"Mas kenapa ngintipin sofa?" tanya Kinara.


"Liat kertas lipatan kecil enggak tadi?" tanya Azka


"Enggak! Emang kertas apa sih? Tanya balik Kinara sembari berjalan menghampiri suaminya.


"Itu kertas catatan penting dari tempat pencucian mobil yang aku datangi tadi pagi." Ucap Azka semakin gelisah.


"Kamu naruhnya dimana tadi?" tanya Kinara sembari ikut mencari.


"Lupa " Jawab Azka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Saat tengah sibuk mencari benda tersebut, mata Kinara tiba-tiba tertuju pada kertas lipatan putih diatas nakas yang tertindih ponsel milik Azka.


"Bukan itu mas? Tanya Kinara menunjuk kearah Nakas.


"Astaghfirullahaladzim.. Ternyata disitu..kok aku bisa lupa begini sih?" gerutunya sembari mengambil benda tersebut dan menyimpannya kedalam laci.


"Terima kasih." ucap Azka sembari membelai kepala Kinara yang tetutup jilbab secara spontan.


"Heh gak pake pegang kepala juga kali ya..." batin Kinara lalu menyusul Azka Turun ke bawah. "Awhh sakitnya! kok tambah bengkak sih?" batinnya menahan sakit di kaki kanannya.


Kinara berjalan pelan sembari memegangi sebelah pahanya.


"Udah siap semua Pak Asep?" tanya Azka sembari memeriksa isi bagasi memastikan tidak ada yang tertinggal.


"Sip beres semua Den." jawab Pak Asep sigap.


"Kita pergi ya Mbok, Pak Asep. Nitip rumah ya. Kalo ada apa-apa langsung telpon Assalamualaikum." pamit Kinara


"Waalaikumsalam Non hati-hati" Jawab Pak Asep.


Azka segera menstater mobilnya dan melaju keluar dari rumah besar mertuanya itu.


.


.


"Loh kita mau kemana, ini kan bukan arah ke perumahan Villa Citra Indah?" tanya Kinara


"Udah diem dulu nih dah sampe turun gih" titah Azka


Sebelum turun Kinara memastikan sekeliling takut jika Azka membawanya ke tempat yang aneh. Kinara mendongak melihat plang bertuliskan Rumah Sehat Dokter Arif. "Mau ngapain ke klinik dokter Arif? Kamu gak sakit kan?" tanya Kinara pada Azka.


"Cepet turun, dah di tungguin didalem" titah Azka sekali lagi. Kinara mencebik kesal "jangan bilang mau periksa kaki aku" batinnya sembari menutup pintu mobil.


Mereka masuk ke dalam rumah dokter Arif dan di sambut baik oleh sang empunya rumah. Setelah berbincang sebentar Dokter Arif kemudian memeriksa kaki Kinara.


"Jadi gimana dok?" tanya Azka


"Alhamdulillah hasil pindai scannya menunjukkan gak ada kerusakan pada tulang kaki dan lainnya. Ini hanya keseleo dan untung tadi cepat di tangani. Kamu gak usah kuatir Azka" jelas Dr.Arif


"Alhamdulillah kalo gitu dok. Tapi bengkak di kakinya gimana?" tanya Azka


"Jangan di paksakan bergerak kalo masih sakit. Saya kasi resep obatnya saja ya nanti bisa di tebus di apotik" ucap dokter menyarankan sembari menulis beberapa resep obat.


"Baik dok."


"Nah ini resepnya, semoga lekas sembuh ya Nak Kinar. Senang akhirnya bisa kenal kamu. Saya kenal baik dengan alm. Nyonya Aminah ibu kamu."


"Hehe gitu ya dok terimakasih juga sudah berkenan mendengar keluhan sakit saya dok."


"Ahh kamu terlalu formal nak Kinar, jangan sungkan-sungkan lah datang kemari anggap saja udah klinik sendiri."


"Dokter bisa aja ya udah kami pamit ya dok, terimakasih banyak" ucap Kinara berpamitan seraya menyalami dokter Arif.


"Hati-hati Azka jangan di paksain kalo sakit hehe" ucap dokter Aruf sedikit berbisik di telinga Azka namun masih dapat di dengar oleh Kinara.


"Ih Pak Dokter apaan sih?? Azka tersipu malu mendengar celotehan dokter Arif, tak ayal itu juga membuat pipi Kinara seketika merona.


Ku tersipu malu๐Ÿ˜…โ˜บโ˜บโ˜บ


"Kamu tunggu disini ya aku tebus obatnya dulu"ucap Azka setelah tiba di depan salah satu apotik.


"Beliin Kiranti juga bisa gak??" ucap Kinara pelan, ia sedikit menggeser posisinya ke samping Azka.


"Hah? Obat apaan?" tanya Azka


"Adduhh bilang aja Kiranti mereka tau kok"


"Iya tapi itu obat apa? Kan gak ada di resep Kinar.!"


"Idiih tinggal ngomong aje ape susahnye sih? Mereka tau kok"


"Iya tapi kan gak ada di resep!"


"Hiih susah amat sih tinggal ngomong aja" Kinara menghela napas berat, ada rasa malu untuk menjelaskan tapi sang lawan bicara tetep juga tidak mengerti. Sejak pagi ia memang sudah merasakan mulas di perutnya di tambah pinggangnya terasa ngilu dan itu selalu ia rasakan tiap bulan sehari atau dua hari sebelum tamu bulanan datang.


"Hei jelasin dulu obat apaan?" paksa Azka.


"Obat Haid ato menstruasi!" ucap Kinara spontan sembari menunduk malu. "Ishh malu-maluiiiin omaigat" batinnya.


"Ohh ngomong donk daritadi, susah amat malu ya...?? Ucap Azka menggoda melirik Kinara yang masih menunduk malu sontak membuat Azka tak bisa menahan tawanya.


"Ahhaaaahaa ya udah deh tunggu disni jangan kemana mana ok!"


"Iya udah sana buruan" Kinaraย  mendorong Azka keluar dari mobil.


"Aishh..aarggh...sumpah malu.." Kinara terpekik sendiri sembari menutup wajahnya dengan telapak tangan.


Sesaat kemudian Azka membuka pintu mobil dan menyodorkan sebotol kiranti di depan Kinara.


"Yang ini kan?"tanyanya mengangkat sebelah alisnya. Kinara hanya mengangguk dan berdehem mengiyakan, terlalu malu baginya untuk sekedar bersuara. Andai kakinya tidak cedera ia akan pergi sendiri untuk sekedar ke apotik. Apalah daya kondisi kakinya yang tidak memungkinkannya untuk berjalan. "Hei berapa botol?" Azka balik bertanya dan Kinara hanya mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya dan di sambut anggukan oleh Azka.


Setelah selesai menebus obat, Azka segera masuk ke dalam mobil dan menyerahkan 2 kantong hitam. kepada Kinara. Satu kantong hitam kecil berisi beberapa obat dan kantong berukuran tanggung berisi 10 botol Kiranti.


"Hah?!! Sebanyak ini..?? Kinara menoleh menatap Azka.


"Ya...emm..eh...anu..itu.." ucap Azka terbata sembari memegang tengkuknya. Kinara menyadari gelagat Azka yang tampak bingung"Ya udah gak apa, bisa aku simpan makasih ya". Ucapnya menimpali. Terlihat raut wajah Azka kembali tenang. Ia segera menstater mobil dan melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman orang tuanya.


To be continue......โœŒโœŒ


Agak bertele-tele maapin ya. Lagi gabut gak ada ideeee.๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™