KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 110



Anak kecil berumur sekitar 2 tahunan sedang berlarian di taman bersama dua orang teman seusianya.


Tawa mereka memenuhi taman bermain anak-anak yang setiap sore nya selalu ramai. para orang tua mereka duduk bersantai di kursi taman sambil bercengkrama dengan orang tua lain sembari mengawasi anak-anak mereka.


"Ama...kaki adek sakit" ucap salah satu anak dengan rambut berkepang dua.


"Udah jatuh? sini Ama lihat" ucap wanita berbaju syar'i itu dengan wajah lembut nya.


Dengan cekatan wanita berusia sekitar 27 tahunan itu mengusap luka kecil di lutut sang anak dengan ujung bajunya.


"Bismillah huft huft huft cepat sembuh" ucapnya meniup lutut sang anak lalu mengusap kepalanya.


"Terimakasih Ama, adek boleh main lagi?"tanya nya dengan wajah melucu


"boleh tapi hati-hati ya, main nya sama kakak Faras ya itu disana" tunjuknya pada sang anak sulung yang asik duduk di gazebo dengan buku cerita di tangannya.


"Nda mau, akak uek, nda mau main cama adek" ucap anak kecil itu polos


Wanita berbalut baju syar'i itu hanya mengelus dada mendengar celotehan anak bungsunya.


Anak laki-laki pertamanya memang pendiam dan cenderung menutup diri, tidak suka keramaian dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan buku meski belum bisa membaca.


Jauh berbeda dengan anak bungsunya yang super aktif dan banyak bertanya, serta peka terhadap lingkungan sekitarnya. anak pertamanya cuek bebek meskipun banyak anak-anak lain seusianya yang ingin bermain dengannya.


"Ya udah kalau nggak mau, main sama temennya aja tapi jangan lari-lari ya, nanti jatoh sakit lagi" ucapnya memberi nasihat sang anak


"Iya ama, dah aku main dulu ya" ucapnya senang berlarian menuju ke tempat teman-teman yang lain bermain.


Sang ibu hanya mengawasinya berlarian dengan senyum mengembang.


"Kei, itu si Faras kalau aku lihat-lihat kok mirip Reno sih? apa jangan-jangan waktu hamil Lo masih ngarepin Reno?" ucap wanita berbalut gamis batik dan kerudung senada.


"Ck, apaan sih, kalau dengar mas Hanan bisa di amuk Lo mbak " ucap wanita yang tak lain adalah Keisya. lawan bicaranya hanya tersenyum jahil.


"Lagian baru umur segitu penampilan sok dewasa banget heran deh" cibirnya.


"Keseringan di tinggal papa nya kerja pulang larut, dari kecil dia kan paling dekat sama papanya di banding aku" ucap Keisya menatap sedih pada anak sulungnya.


"Hem, tapi sama kamu nurut tuh gue lihat" ucap wanita bertubuh mungil yang tak lain adalah Cici.


"Iya kalau sama aku dia hormat banget, tapi nggak pernah mau bicara kalau nggak di ajak ngobrol duluan" kata Keisya


"Masa sih? ada trauma mungkin? coba deh kamu tanya ajak bicara ajak main, anak segitu kalau sikapnya begitu aneh aja loh Kei" ucap Cici berpendapat


"Tapi kalau sama mbak Kinar dia welcome banget loh mbak, kalau sama aku diem, kalau udah sama papanya juga banyak ngomong nya" kata Keisya.


"Masa sih? coba deh tanya suami kamu selama ini dia sering cerita apa kalau pas lagi sama papanya"


"Udah mbak, mungkin karena aku pernah sakit setahun setelah dia lahir makanya dia masih butuh banyak waktu buat ngenal aku, secara aku koma hampir setahun dan sejak lahir dia di urus sama papanya dan mbak Kinar, wajarlah kalau mungkin dia nganggap mbak Kinar itu ibunya" cerita Keisya sedih.


"Udah ya, sabar, deketin terus anak kamu, mungkin memang masih butuh waktu, bisa jadi memang itu karakter dia yang udah terbentuk dari lahir" kata Cici memberi semangat pada Keisya untuk tak pantang menyerah pada anak sulungnya.


"Ibu ayok pulang, sudah sore, papa pasti nyariin aku" ucap Faras yang tiba-tiba sudah ada di depan mereka berdua.


Cici menatap Keisya sedih, sang anak hanya memikirkan papa nya. siapa yang patut di salahkan? tidak ada!.


"Sebentar ya ibu panggil adek dulu" ucap Keisya tersenyum lembut mengusap pipi gembul anaknya.


Keisya memanggil sang anak bungsunya untuk di ajak pulang, beruntung anak itu menurut saja dan berpamitan pada dua temannya.


"Ama mau pulang? besok adek kesini lagi ya? boleh?" tanya gadis kecil itu


"Boleh kalau udah weekend ya, besok Ama sibuk mau kerja, adek ikut kan? kita main sama teman-teman Ama, main Barbie" ucap Keisya merayu sang anak.


"Emm boleh lah, kita ajak kakak Faras ya Ama?"


"Kakak Faras sekolah, nggak bisa ikut nak"


"Hem ya udah deh"


Keisya berjalan menghampiri Faras dan Cici yang sedang membersihkan pipi anaknya yang celemotan karena makan coklat. Kaila tetap berada di gendongan nya.


"Kamu duluan lah, Deket juga kan rumah mu, aku masih mau belanja dulu pesenan papinya Faira buat makan malam nanti" jawab Cici menolak ajakan Keisya.


"Oh ya udah aku duluan ya, daaah Faira Tante sama kakak pulang dulu ya" ucap Keisya pada( gadis kecil berumur belum genap setahun itu.


Keisya menggandeng tangan Faras sedangkan sebelah tangan nya tetap menggendong Kaila.


Meski jalan masih sedikit kesusahan karena kakinya belum benar-benar sembuh setelah kecelakaan itu, Keisya tetap berusaha berjalan santai meski dalam hati mengaduh karena tak tahan dengan rasa sakit yang menjalar di kaki kanannya.


Kaila tetap berceloteh dengan caranya sendiri, sedangkan Faras beberapa kali menatap pada ibunya yang terlihat kesusahan jalan. perlahan Faras melepas genggaman tangan Keisya padanya dan ia lebih memilih berjalan lebih dulu di depan Keisya.


Rumah mereka masih berjarak dua rumah lagi, tapi Keisya tetap memanggil Faras yang berlari kencang ke arah rumah mereka.


"Mbak itu anaknya kenaoa lari sambil nangis?" tanya salah satu tetangganya yang berpapasan.


"Siapa nangis Bu?"


"Lah itu si Faras lari kenceng sambil nangis, mbak nggak lihat?" tanya seseibu itu


"Loh anak saya tadi saya gandeng baik-baik aja Bu, ya udah buk makasih ya, palingan kebelet tadi tapi nggak ngomong" ucap Keisya melanjutkan langkahnya


Sampai di rumah Keisya terkejut mendengar anaknya menangis keras di bahu papanya. Hanan hanya diam sambil mengelus punggung anak sulungnya.


Keisya yang tak tahu apapun langsung menyerahkan Kaila pada mbak nya untuk di bawa ke kamar. Keisya menghampiri suaminya.


"Dia kenapa mas?" tanya Keisya hati-hati takut kalau Faras akan semakin kencang menangis.


"Nggak tahu dek, pulang-pulang langsung meluk aku trus nangis kejer, emang tadi di taman dia ngapain?" tanya Hanan lembut


"Dia diem di gazebo sambil baca buku cerita, nggak ada main sama temennya" jawab Keisya jujur.


"Ya udah kamu masuk ke kamar dulu, nanti mas bawakan kompres buat kaki nya, biar Faras tenang dulu" ucap Hanan mengusap kepala istrinya.


"Ya udah aku ke atas mas" ucap Keisya berlalu sambil memegang kakinya yang terasa kram.


"Nyonya sini saya antar naik, ayok" tawar asisten rumah tangga menggamit lengannya dan menuntunnya menaiki tangga.


"Makasih mbak, sampean sudah makan?"


"Udah nyonya, air panasnya masih di masak bibik di belakang, nanti saya siapin" ucap mbak Retno asisten rumah tangganya yang sudah ikut dengannya sejak baru menikah.


"Anak-anak mbak Retno nggak ada yang nelpon seharian?" tanya Keisya


"Udah nyonya, yang gede tadi udah nelpon, yang kecil lagi demam, besok saya harus pulang, karena bapak nggak bisa mondar mandir ke rumah sakit."


"Ya udah pulang aja mbak, sampean kan lama nggak liburan, pulang dulu demi anak, nanti kalau udah puas baru kesini lagi" ucap Keisya.


"Terimakasih nyonya, saya ke bawah dulu"


"iya, makasih ya mbak"


"Sama-sama"


*****


Reno berjalan menyeret kopernya menuju ke pintu keluar. hari ini tepat kepulangan nya ke Kalimantan dari Mesir. ia berhasil meraih gelar cumlaude dan sebuah penghargaan bergengsi karena peran dan pengaruh nya pada mereka yang menyandang disabilitas untuk terus maju di tengah keterbatasan yang mereka miliki.


Reno tersenyum kala melihat wanita yang sudah mantap berhijab sejak kepergiannya pertama kali ke Mesir empat setengah tahun lalu.


Andin kini berubah menjadi sosok yang religius, Reno sudah membawa banyak perubahan pada hidupnya yang dulu tak tentu arah.


Kepulangan Reno juga bukan hanya sekedar temu kangen dengan keluarga, melainkan akan melangsungkan pernikahan dengan wanita yang kini tengah berdiri di hadapannya.


Reno benar-benar menepati janjinya untuk menikahi Andin setelah ia wisuda S2. meskipun usia mereka terbilang sudah cukup matang, tapi tak menjadi penghalang mereka merajut rumah tangga yang selama ini mereka impikan.


"Makasih udah rela jemput, di Anter anak-anak atau nyetir sendiri?" tanya Reno pada Andin.


"Tuh anak buah udah nunggu... dah ayok kita langsung pulang kerumah om Martin dulu" ucap Andin


"Oke"