KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 130



Semilir angin menerpa dedaunan membuat mereka bergoyang-goyang mengikuti arah angin.


Lorong-lorong rumah sakit terasa sepi menjelang maghrib, pembesuk sudah mulai pulang kerumah masing-masing hanya tinggal satu orang pihak keluarga yang menjaga pasien. Rumah sakit ini memang ketat memberlakukan peraturan mereka.


Seorang perawat tengah menimang seorang bayi lucu berumur tiga bulan di ruangan VVIP. Sejam yang lalu ia mendapat amanat untuk menjaga bayi itu karena sang ibu di nyatakan meninggal dunia setelah berjuang melahirkan bayi cantik itu ke dunia.


Sesaat setelah bayi itu lahir sang ibu di nyatakan koma karena pendarahan hebat pasca operasi pengangkatan rahim karena kanker ganas dan berhasil melahirkan bayi cantik yang sudah ia nantikan selama tiga tahun pernikahannya dengan sang suami.


Suasana suram menyelimuti wajah laki-laki berusia tiga puluhan. tangannya menggenggam erat jari jemari sang istri yang sudah kaku di atas brankar.


Ia tak percaya takdir telah memisahkan mereka, di saat ia benar-benar mulai jatuh hati pada wanita yang sudah ia nikahi selama tiga tahun itu.


Penantian panjangnya akan kehadiran seorang bayi dalam pernikahan mereka sudah terwujud tapi sekaligus menjadi momen menyakitkan saat sang istri harus berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan bayi mungil nan cantik idamannya selama ini.


Wanita paruh baya yang masih nampak segar itu datang menghampiri sang anak yang duduk terpekur di samping brankar sang istri.


Dua orang perawat pria dan wanita bahkan sudah merayu dan membujuk nya untuk pindah agar proses memindahkan jenazah bisa mereka lakukan tapi nihil pria itu bersikeras kalau sang istri masih hidup dan hanya tertidur.


"Ren, bangun nak, biarkan perawat yang mengurus jenazah Andin, ayo antar ibu melihat cucu" ucap wanita paruh baya yang tak lain adalah Bu Fitri.


Reno terdiam dan menunduk lalu berdiri. Ia berjalan mendahului ibunya. Bu Fitri memberikan kode pada dua perawat untuk segera melakukan tugasnya hingga sampai ke rumah duka di negara asal Bu Fitri.


Reno berjalan dengan tatapan kosong melewati lorong-lorong rumah sakit hingga sampai ke ruangan VVIP tempat bayinya berada.


Bu Fitri tak henti menghapus air matanya yang terus mengalir. Inikah buah dari kesalahan-kesalahan anaknya di masa lalu?


Di saat sang anak sudah bisa membuka hati dan menerima sang istri justru takdir memisahkan mereka meski meninggalkan sebuah anugerah terindah untuk penerus keluarganya.


Bu Fitri menatap sang anak yang menggendong bayinya dengan bantuan seorang perawat. Ada haru menyeruak di sudut hatinya bersamaan dengan kesedihan mendalam yang ia rasakan.


Langkahnya yang tegap meski di usia senja, menuntun untuk meraih sang cucu dari gendongan sang ayah.


"Bu, apa harus aku ganti saja namanya?" tanya Reno pada ibunya


"Untuk apa?" tanya sang ibu


"Karena nama itu membuat aku kehilangan Andin untuk selamanya" jawab Reno mengusap wajahnya


"Nak, jangan risau kan sebuah nama menjadi momok, kasihan anak kamu, dia lahir tak tahu apapun yang terjadi pada kedua orangtuanya, bukan salah sebuah nama bukan juga salah anak ini yang sudah lahir, tapi semua ini sudah menjadi ketentuan sang pemilik hidup, kamu pikir hanya kamu yang sedih kehilangan wanita sebaik Andin? ibu juga sedih, anak kamu pun sedih harus hidup tanpa cinta seorang ibu" terang Bu Andin.


"Tapi kenapa Andin harus memberi nya nama Keisya? Apa dia ingin menghina ku karena terlambat mencintai nya?" ucap Reno putus asa.


"Mbak Andin tidak ingin apapun selain perasaan yang sudah mas ungkapkan sesaat sebelum ia masuk ke ruang operasi, hanya itu mas" sahut Dimas di depan pintu.


Reno beranjak mengikuti langkah tegap kedua adiknya. Sedangkan sang ibu dan seorang perawat masih menata keperluan bayi mungil itu.


"Bu, tugas saya selesai sampai ibu dan keluarga lepas landas di bandara, maaf kalau selama tiga tahun ini saya banyak kekurangan dalam mengemban tugas" ucap sang perawat santun


"Nona, tugasmu sungguh mulia, saya yang harus berterimakasih pada mu sudah mau merawat anak dan cucu serta almarhumah menantu saya. Tidak ada pengorbanan yang sia-sia, nona sudah mengorbankan banyak waktu dan hal baik demi menjaga dan merawat anak-anak dan cucu saya. Kalau nona berkenan, apa nona ingin pulang ke kampung halaman?" tanya Bu Fitri menatap sang perawat itu lekat-lekat


"Pulang kampung?" tanya perawat itu tak percaya


"Ya, pulang kampung menemui orang tua dan merawat mereka, menggantikan anak buah saya yang sudah merawat mereka selama nona disini bekerja untuk keluarga saya" ucapbu Fitri meyakinkan


"apa? Me... merawat orang tua saya? bolehkah saya pulang kampung halaman?" tanyanya lagi


"Itu bonus, karena pengorbanan nona selama tiga tahun ini, kemasi barang-barang nona kita pulang bersama meskipun berbeda tanah air." kata Bu Fitri menepuk pundak sang perawat berwajah campuran Asia itu.


"Saya pulang ke Timor Leste?" tanyanya masih tak percaya


"Iya, pulang kesana"jawab Bu Fitri


"Terimakasih nyonya, terima kasih banyak sudah bantu saya bertemu orang tua di kampung halaman, terima kasih saya sayang ibu dan keluarga, saya juga punya keluarga di Jawa tapi tak pernah tahu karena nenek saya sudah meninggal, terimakasih nyonya" ucap perawat itu menangis haru.


"Sama-sama, ayo berkemas,semua tiket dan kebutuhan mu sudah kami siapkan, kamu bisa bekerja di salah satu rumah sakit di negara mu, dengan gelar mu yang baru. Saya tahu kamu berjuang meraih cita-cita mu di negri orang dan mengabdi pada satu perusahaan yang menyediakan jasa pekerja paruh waktu milik keluarga saya. Dan saya senang bisa bertemu nona" ucap Bu Fitri mengusap sudut matanya yang berair.


Mereka saling berpelukan dengan bayi tetap dalam gendongan sang nenek.


Reno mengikuti langkah kaki kedua adiknya menuju pelataran rumah sakit, mobil ambulans yang akan membawa jenazah sudah bersiap untuk berangkat ke bandara.


Dimas meminta dua orang bodyguard untuk mendampingi ibunya juga perawat dan bayi mungil Reno pulang ke tanah air.


Sementara ia, Reno dan Arkan pulang lebih dulu bersama jenazah Andin yang sudah berangkat ke bandara dengan mobil ambulans.


Reno masuk ke dalam mobil ambulans dan duduk di sisi kanan sang istri, dua orang perawat duduk di bagian kiri.


Mobil Dimas mengikuti dari belakang. Mereka juga tak kuasa menahan air mata saat mobil di depan mereka melaju ke tempat tujuan.


Ada pertemuan sudah pasti ada perpisahan. Akankah sentilan Azka pada Reno beberapa tahun silam akan terjadi?


"Kalau sebaliknya? Lo sama Keisya bisa menyatu di hari tua gimana?" tanya Azka


"Aneh-aneh aja Lo, ya nggak lah" tolak Reno


"Rejeki, jodoh, hidup dan mati siapa yang ngatur? Elo?" seru Azka membuat Reno kesal dan memukul pundak sahabat nya itu.