
"Apa ayah tahu siapa ayah biologis ku??" tanya Revan
Deg deg deg.....
Tuan Wibowo bungkam seketika mendengar ucapan Revan.
"Ayah...apa ayah tahu?"
"Mak..maksud kamu apa Van?" tanya tuan Wibowo gugup.
Sudah Revan duga akan seperti ini, pasti ayah dan keluarga nya akan sulit untuk mengatakan kebenaran nya, meski ia tahu siapa sebenarnya ayah biologis nya, hanya saja Revan ingin mendengar itu dari ayah dan keluarga lainnya.
"Ayah jujurlah, aku ingin tahu siapa ayah biologis ku"
"Kenapa kau menanyakan hal itu nak?" ucap tuan Wibowo cemas
"Apa itu salah?"
"Tidak, kau tidak salah"
"Lalu kenapa ayah tidak mau mengatakan nya?"
"Apa jika ayah mengatakan nya kau akan menerima dengan lapang dada? apa kau tidak akan membencinya?"
"Ah entahlah kenapa ayah menanyakan hal yang sulit ku jawab?"
"Ayah ingin tahu apa kau bisa menerima kenyataan jika tahu siapa yah biologis mu sebenarnya"
"Apapun itu aku sudah siap ayah, sebelum aku menikah aku harus tahu, ini hal tersulit karena permintaan Vivi"
"Benarkah? kau yakin akan menerima kenyataan?"
"Ya"
Tuan Wibowo menarik nafas panjang sebelum akhirnya mengatakan kebenaran yang selama ini menjadi beban tersendiri dalam hatinya.
"Dia Anthony"
"Anthony ayah biologis mu, bahkan ia tak pernah tahu jika telah menghamili ibumu, Ratih. karena saat itu Anthony tengah dalam kondisi mabuk berat"
"APA??"
"Kau tahu kan? ayah sebenarnya sudah tahu sejak lama kau mengincar Anthony dan sudah sejak lama juga kau melakukan tes DNA untuk mengetahui kebenaran nya"
Deg
Kini hati Revan yang kembang kempis mendengar ucapan ayahnya. "bahkan ayah tahu sedetail itu apa yang aku lakukan selama ini, lalu kenapa tidak pernah marah dan mencegah ku?" batin Revan
"Ke..kenapa ayah ngomong gitu, ayah sudah tahu semua yang ku lakukan selama ini?"
"Ya, ayah tahu semua hal yang kau coba sembunyikan dari ayah"
"Maafkan aku ayah aku sudah lancang"
"Tidak apa-apa, itu sudah hak mu, aku tak pernah merasa takut apapun, jika kau mau menerima dan memaafkan Anthony, ayah juga senang, dia sudah cukup menyesali kesalahannya Van, cobalah untuk membuka hatimu"
"Tidak semudah itu ayah"
"Ayah tahu semua butuh waktu, hanya saran ayah maafkanlah karena itu bisa saja meringankan kepergiannya nanti"
"Apa yang ayah bicarakan?" tanya Revan heran mencoba mencerna omongan ayahnya.
"Dia sudah kena serangan jantung, kondisinya semakin parah dua bulan terakhir ini, dan....." tuan Wibowo menjeda ucapannya sejenak.
"Dan apa yah?"
"Dan dia sedang di rawat di rumah sakit ini, dia juga yang mendapatkan donor darah darimu"
Deg.
Sudut hati Revan terasa pedih entah mengapa mendengar bahwa ayah biologisnya sakit parah , kebencian mendalam dalam hatinya tiba-tiba menguar begitu saja.
Tanpa bicara air mata itu luruh juga, Revan menangis dalam diamnya, kepalanya tertunduk menandakan hatinya tak baik-baik saja. tuan Wibowo merangkul pundak anak angkatnya dengan penuh sayang. ia tahu sebenci apapun Revan pada Anthony ia tetaplah seorang anak meski Anthony tidak pernah mengetahui nya.
"Menangis lah agar hatimu tenang, jika kau sudah siap ayah akan mengantarkan mu padanya, sapa lah dia, saat ini dia sendiri nak, tidak punya siapapun selain kamu sebagai anak yang tidak pernah ia ketahui."
"Aku belum siap ayah" hati Revan berperang antara ingin menemuinya dan rasa benci yang masih tersisa.
Tanpa mereka sadari seseorang tengah menguping pembicaraan mereka di balik pintu yang tertutup tidak terlalu rapat.
Wanita paruh baya yang tak lain adalah Nyonya Amira itu kini tengah menangis, rasa bersalah itu semakin membuatnya tertekan melihat begitu banyaknya dampak yang ia berikan pada keluarga nya karena kesalahannya itu.
"Maafkan aku mas, maafkan aku mba Amina, aku telah membuat kekacauan dalam keluarga kita" batinnya menangis.
"Nyonya, Tuan Anthony sudah sadar" ucap Sobri yang tengah berlari kearahnya dengan nafas ngos-ngosan.
Kedua pasutri itu saling pandang lalu tersenyum. " Kita kesana sekarang Sobri" ucap Nyonya Amira.
"Ayo tuan, nyonya"
Mereka bertiga berjalan menuju ruang dimana Anthony mendapatkan perawatan intensif.
"Dia selalu menyebut nama Keisya tuan" ucap Roby saat Tuan Andrew dan nyonya Amira datang menghampiri bersama Sobri.
"Tuan Denis dan Tuan Anderson sudah kalian hubungi?"
"Mereka sedang perjalanan kemari tuan, itu mereka" ucap Sobri menunjuk ke arah dua lelaki paruh baya yang berjalan beriringan.
"Bagiamana kondisinya Roby?" tanya tuan Denias begitu sampai di depan ruang rawat.
"Masih di periksa dokter di dalam" ucap Roby.
"Revan bagaimana, aku sampai lupa gara-gara si bungsu tadi minta di antar ke kampus." ucap tuan Denias
"Dia masih istirahat seperti nya, tadi Wibowo sudah menjenguk nya" ucap tuan Anderson.
Tak lama keluar dokter Djafri dengan seorang perawat laki-laki. Dokter Djafri, menatap semua yang ada di depannya dengan sorot mata tak biasa.
"Bisa aku bicara dengan salah satu dari kalian?" tanya pria berseragam putih itu.
"Mari pak, kita bicara di ruangan anda" sahut tuan Denias. dokter Djafri mengangguk lalu segera berjalan ke arah ruang kerjanya.
"Bagaimana kondisinya Djaf?"tanya tuan Denias begitu mereka sampai di ruang kerja dokter seumuran tuan Denias yang masih terlihat bugar itu.
"Sebelum aku menjawab boleh aku bertanya terlebih dahulu?" tanya dokter Djafri
"Silakan saja"
"Apa dia Anthony yang sama? suami dari almarhumah Sintya?"
Tuan Denias terkejut mendengar pertanyaan sahabat lamanya itu.
"Kau mengenal Sintya?"
"Ya dia sepupu jauh dari almarhum ibuku. ku pikir Anthony gila dan berakhir tragis ternyata dia masih hidup"
"Dia memang gila, bahkan nekat menculik keponakanku, anak Amina"
"Apa??" justru dokter Djafri terkejut mendengar ucapan tuan Denias.
"Jadi apa jawabanmu atas pertanyaan ku tadi?"
"Ini masih stadium awal belum terlalu parah, hanya saja mungkin ada beban yang selama ini ia simpan itu yang membuat kondisinya drop. seperti nya dia tertekan. Keisya apa itu nama anaknya bersama Sintya?"
"Dia keponakan ku anak Amina" lagi-lagi dokter Djafri terkejut.
"Maksudmu?"
"Sudah ku katakan Anthony itu memang gila, dia psikopat, dia yang menculik anak Amina"
"Astaghfirullah, ku pikir setelah Sintya dan anak mereka tiada dia gila dan berakhir tragis, rupanya dia masih berulah ckck"
"Jadi apa yang bisa ku lakukan untuk nya?" tanya tuan Denias.
"Kenapa kau begitu peduli padanya setelah dia berhasil menculik keponakan mu?"
"Kami saudara tiri"
"Apa??" dokter Djafri semakin terkejut.
"panjang ceritanya Jaf, udah deh lain waktu aja kita ngobrol, sekarang apa yang harus kami lakukan untuknya?"
Dokter Djafri mendesah sebelum menjawab tampak nya ini memang rumit tapi ia tidak mau ikut campur terlalu dalam soal kehidupan pribadi orang lain.
"Pertemukan dia dengan Keisya, karena hanya nama itu yang selalu terucap selama ia dalam kondisi seperti ini"
",Tidak ada cara lain?"
"Dari segi psikologis hanya itu saja, kalau dari segi medis sudah kami lakukan yang terbaik. tenanglah, percayalah, tapi ingat dokter hanya perantara saja keputusan terbaik hanya Tuhan yang pegang oke"
"Baiklah akan ku bicarakan dengan yang dengan yang lain. terimakasih atas kerja kerasmu"
"Sama-sama"