KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 10



Entah yang ke berapa kalinya, anak buah Reno datang kerumah kos-kosan milik Reno hanya untuk mencari informasi tentang Reno. bahkan rumah sakit sejak terakhir kali mereka kesana rupanya pasien atas nama Bu Fitri juga sudah pulang, mereka mencari kerumah Bu Fitri tapi keadaan sudah kosong bahkan satu orang tetangga mereka saja tidak ada yang tahu apalagi bertemu dengan Bu Fitri dan ketiga anaknya.


"Beni, ini udah kesekian kalinya kita datang, tapi tetap saja nggak menemukan petunjuk, trus katanya kos-kosan itu sudah di beli sama orang otomatis bukan lagi milik Reno, kita harus kemana lagi Ben?" tanya salah satu teman Beni yang ikut mencari Reno selama empat hari kepergian pria itu.


"Pusing gue Dam, satupun petunjuk kita nggak dapat" sahut beni.


"Eh, ya gue inget kenapa kita nggak ke kampusnya Reno aja, cari info di sana" usul Idam


"Bener juga Lo Dam, gue malah nggak kepikiran sampai kesana"


"Yuk cuss kita pergi"


Kedua orang itu lalu pergi meninggalkan lokasi kos-kosan milik Reno yang sampai hari ini belum berpindah kepemilikan seperti informasi yang mereka dapatkan.


"Mereka udah pergi bang Andra?" tanya Dimas di telepon pada satpam penjaga kos-kosan


"Udah den, baru saja, kebetulan bang Somat keluar jadi saya nggak bisa ngasih alasan siapa pemilik baru kos-kosan"


"Oh iya nggak papa, itu urusan nanti kalau mereka datang kembali, kalau mereka nyari ke kampus sekalipun nggak akan pernah nemu"


"Oh gitu, iya udah den, nanti saya kabari lagi kalau ada apa-apa"


"Ok terimakasih bang, jaga kosan ya, mulai sekarang yang masak buat anak kos tiga kali seminggu istri Abang sama istri bang Somat, jadi hidup yang akur disana"


"Oke terimakasih den assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Dimas menutup sambungan teleponnya lalu menyimpan ponselnya di atas nakas. baru kemarin mereka sampai di kampung halaman neneknya dari pihak ibu yang berada di pelosok, perjalanan memakan waktu dua hari dua malam dan sejak terakhir kali Dimas mengantar Reno pergi malam itu, mereka tidak pernah lagi mendapatkan kabar darinya.


"Semua gara-gara dia, nggak mungkin kita terdampar di pelosok kayak gini kalau bukan karena dia" gerutu Arkan memasuki kamar.


Dimas mengerutkan keningnya mendengar Arkan misuh-misuh tak karuan mengatai Reno dengan berbagai macam umpatan.


"Ar, tidur aja daripada Lo misuh-misuh nggak karuan kayak gitu" tegur Dimas yang juga kesal


"Bilang aja Lo bela anak nggak tahu diri itu" umpat Arkan kesal


"Stop, salah apa sih mas Reno sama Lo Ar? selama ini dia banyak ngalah sama kita, demi Lo dia rela cuma tinggal di kosan nggak dirumah, tiap bulan juga uang selalu di transfer ke rekening Lo, apapun Lo minta selalu di turutin, Lo mau ini mau itu dia yang selalu berkorban, apa nggak bisa sih Lo lihat dikit aja pengorbanan mas Reno sama kita selama ini huh?" ucap Dimas pelan namun tegas dengan sorot mata tajam menatap Arkan saudara kembar nya.


Brak


Dimas menutup pintu keras saat keluar kamar, membiarkan Arkan terus diam karena merasa kalah dengan ucapannya.


"Gue nggak begini kalau gue nggak tahu dia bukan saudara kandung gue, bapak terlalu pilih kasih. dan Lo memang benar selama ini dia lebih banyak berkorban bahkan saat bapak sakit dan meninggal dia satu-satunya yang di andalkan" batin Arkan kesal tapi tetap saja membenarkan ucapan saudara kembarnya.


Arkan merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis yang sudah usang, satu-satunya kasur peninggalan mendiang nenek yang sudah pergi setahun lalu. sedangkan ibu dan Dimas mengalah hanya tidur menggunakan tikar di atas dipan panjang di ruang tamu yang sekaligus merangkap ruang keluarga. Dimas tidur di lantai sedangkan ibunya diatas ranjang kecil dekat kursi tamu. Egois. ya Arkan memang egois karena rasa cemburunya yang terlalu berlebih-lebihan di masa kecil yang ia bawa hingga sekarang.


"Kamu kenapa lagi Dim?" tanya Bu Fitri melihat anaknya membanting pintu usang itu dengan keras dan wajah kusut


"Huh nggak tahu harus gimana lagi aku bicara sama Arkan Bu, dia selalu saja nyalahin mas Reno, nggak pernah nyadar kalau kesalahan ada sama dia sendiri" ucap Dimas kesal. dia berjalan ke arah dapur dan mengambil air minum. Bu Fitri hanya mendesah pelan sembari mengusap sudut matanya yang berair.


"Lembut kanlah hati anak ku ya Allah atas ridho Mu, dengan cara Mu" batin Bu Fitri menatap pintu kamar yang tertutup kemudian berlalu keluar menemui seseorang yang sudah membuat janji dengan nya setahun lalu saat ibunya meninggal.


"Bu mau kemana?" tanya Dimas melihat ibunya berjalan melewati teras.


"Kerumah Bu Sukaesih, masih ingat ibu-ibu yang diantar Bu RT datang kerumah saat nenek meninggal?"


"Oh iya ingat, mau di antar Bu?"


"Nggak usah, rumahnya deket kok tuh di ujung lorong, kamu jaga rumah saja ya, ibu sudah masak kalau kamu lapar"


"Oh iya, ibu bawa hape kan?"


"Bawa kok ini, ya udah jaga rumah dulu assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Arkan menatap kepergian ibunya dengan pandangan pilu, di usianya yang sudah masuk senja Bu Fitri memang masih terlihat cantik dan muda dari usianya karena memang rajin merawat diri dan tidak jarang para tetangga mengira ketiga anaknya adalah adik-adiknya.


Dimas meraih ponselnya di atas meja yang berkedip menampilkan sebuah pesan.


📩 +628............


"Assalamualaikum maaf dim, baru ngasih kabar, mas udah sampai tiga hari lalu, cuma baru sempet pegang hape karena baru keluar dari puskesmas, hehehe gue mabuk laut sehari semalam di atas kapal, pas sampai untung Arzan udah nunggu di pelabuhan, dan gue langsung di bawa ke puskesmas. maap ya, salam buat ibu dan Arkan.🤦🤫🤭 Reno.


Dimas tersenyum membaca pesan masuk dari Reno. berarti saat ia berangkat malam itu Reno sudah sampai tujuan. ini sudah satu Minggu sejak kejadian itu. entah apa yang terjadi dengan Keisya, Dimas juga menunggu kabar dari Lutfiah istri Revan yang sudah rela membantu kepergian Reno dengan sembunyi-sembunyi serta mengurus kepindahan Reno tanpa di ketahui siapapun termasuk sahabat-sahabatnya.


***


"Waalaikumsalam ya Allah, ini Fitri kan? jadi beneran kamu datang kata orang-orang" ucap seorang wanita berjilbab besar yang membuka pintu lebar-lebar.


"Maaf Sih, baru sempet kesini, sudah sampai dua hari sih, masih capek bersih-bersih jadi baru sempat datang"


"Alah iya, aku juga baru semalam pulang dari rumah mertua di kecamatan sebelah semingguan disana, tadi pagi beli sayur di Bu Rohimah di bilangin kalau kamu datang dan menetap di sini"


"Oh ya? kemarin memang sempat papasan sama Bu Rohimah pulang dari rumah Bu RT"


"Kirain kamu lupa sampai nggak pernah ada kabar lagi fit, suamiku sampai ngomel mulu kerjanya, mana si Fitri katanya mau datang, ini nggak pernah ada kabar, mau sampai kapan kita nyimpan amanah nggak di tunaikan," ucap Bu Sukaesih meniru gaya bicara suaminya.


"Hahaha Ilham masih suka marah-marah gitu daridulu ya"


"Kamu tahu kan dia gimana dari kecil, untung almarhum ibu kamu sabar banget di omelin mulu sama mas Ilham mentang-mentang anak angkat kesayangan"


"Maaf baru sempat datang kesini, dan sekarang aku sama anak-anak menetap di sini"


"Syukurlah akhirnya kamu kembali kesini, oh iya lupa ambilin minum"


"Nggak usah repot-repot, kayak sama siapa aja"


"Bentar tungguin saya ambilin minum dulu, sekalian kita nunggu mas Ilham dari rumah pak Sigit"


Beberapa saat menunggu akhirnya ornag yang mereka nanti datang membawa sekantong gorengan karena memang Bu Sukaesih mengubungi suaminya saat membuat minuman di dapur.


"Jadi sekarang sudah mantap menetap disini kan mbak?" tanya pak Ilham pada Bu Fitri


"Iya, anak-anak juga sudah di urus surat pindahnya sekolah disini"


"Si kembar kelas berapa memangnya?"


"Kelas dua SMP"


"Bu ambilin amplop di leci meja kamar" titah pak Ilham pada istrinya.


"Sebenarnya ada apa to Ham, kok kayaknya penting sekali"


"Jelas penting mbak, ini amanah almarhum ibu ya amanah saya untuk menunaikan, mbak sih nomornya ganti mulu di hubungi susah"


"Iya maaf"


"Ini mas" Bu Sukaesih menyerahkan sebuah amplop coklat ber stempel sebuah kantor pertanahan dan sebuah amplop putih.


"Ini mbak, sampean buka saja sendiri, amanah ibu sudah saya tunaikan, jadi tanggung jawab saya sudah selesai, ini hak sampean mbak sebagai anak kandung satu-satunya."


"Ini beneran untuk saya semua? kayaknya di awal kalian nggak ada ngomong"


"Memang nggak ada mbak, karena almarhum bilang kalau sudah lewat seratus harinya, baru bilang sama sampean mbak, lewat seratus hari sampean di telpon nggak aktif, saya nelpon istrinya Somat katanya sampean sibuk di toko, saya telpon lagi sampean cuma bilang sama Surti kalau bakalan datang kesini"


"Hehehe maap, saya juga lupa, baru ingat pas sebelum pindah kesini, itupun Surti yang ingatin"


"Ya udah, silakan di buka mbak"


Bu Fitri membuka amplop coklat berukuran besar, rupanya sertifikat kepemilikan tanah yang berpindah atas namanya, setelah itu membuka amplop putih yang berisi sebuah surat dan buku rekening milik almarhum ibunya. Bu Fitri membaca surat dengan tangisan yang tidak dapat ia tahan.


"Jadi ibu nggak pernah pakai uang yang aku kirim selama ini Ham? hanya di pakai buat ngurusin sertifikat tanah ini saja?" tanya Bu Fitri pada adik angkatnya


"Iya mbak, saya yang nganter ibu ngurus sertifikat ini di kantor pertanahan empat bulan sebelum ibu meninggal, dan memang selama ini uang yang sampean transfer selalu di print di bank tiap bulan sama Kesih" jawab pak Ilham


"Malah saya selalu di marahin ibu tiap mau pergi ke bank, jangan sekali-kali kamu tarik uang yang di transfer sama Fitri, tak doakan kualat. hape aja di periksa dulu ada SMS banking nggak selain bukti transfer dari sampean mbak." ucap Bu Sukaesih menirukan gaya bicara almarhum mertua angkat nya.


"Oh ya? saya minta maaf atas nama ibuk kalau gitu, uang sebanyak ini mau saya apakan Ham, ini lebih dari setengah milyar, kalau pakai perbaiki rumah nggak sampe habis segitu juga,"


"Pake buka modal usaha aja mbak, disini"


"Nggaklah, di sana masih di pegang anak buah ku, sesekali aku ke kota lagi nanti, sampai istrinya Randi bisa menghandle toko"


"Loh katanya sampean bangkrut disana mbak makanya pindah kesini" sahut Bu Sukaesih


"Siapa yang bilang? dua toko ku masih operasi, kos-kosan masih jalan malah di tambah lagi, siapa yang bilang aku bangkrut?" tanya Bu Fitri heran.


"Ya maklumlah mulut tetangga, hidup di desa ya gini mbak, kayak nggak hapal aja"


"Hahaha"