
"Umi makasih banyak ya, seneng banget aku di sini kayak berasa punya ibu lagi, sehat terus ya umi" ucap Kinara yang berpamitan pada umi Aisyah
"Umi bakalan kangen lagi, kesepian lagi deh, Safira dan Rizal ke pondok, Sofia ikut uminya, Abah ke Empang, umi di rumah cuma sama Fitri dan Aan doang jagain apotek" ucap umi Aisyah sedih
"Nanti kalau balik aku singgah lagi d h, mau makan gulai gurame buatan umi hihihi"
"Boleh banget nanti umi ajarin juga caranya buat"
"Beneran umi, yey dapet resep baru lagi, ya udah ah aku pamit, nggak bakalan berangkat kalau ngobrol terus" ucap Kinara malu-malu
"Ya udah hati-hati di jalan nak, salam buat besan umi disana"
"Asiap umi, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh" ucap umi, Abi, Safira dan Rizal bersamaan melepas kepergian mereka.
Perlahan mobil yang mereka kendarai keluar dari area perumahan dan menghilang di balik pagar rumah yang terbuat dari besi. Mobil melaju ke arah perbatasan kabupaten hanya sekitar lima saja dari jarak kediaman Abah Ramli.
Melewati tugu perbatasan, mereka di sajikan pemandangan luar biasa di balik perbukitan nun hijau dan rumah penduduk yang berjarak lumayan jauh dari satu rumah ke rumah lain.
hamparan perkebunan teh manyapu pemandangan sepanjang jalan mereka yang mereka lewati. Kinara tak henti-hentinya bersorak girang saat berpapasan dengan petani teh yang lewat.
"Om ini masih jauh?"
"Tidur aja lagi, perjalanan masih panjang ini juga baru seperempat nya saja Ra"
"Ya udah deh, tidur aja dulu ah," ucapnya seraya menaruh kepalanya di paha sang suami.
Sepanjang perjalanan Kinara lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur, sedangkan Azka dan dokter Fritz sesekali terlibat percakapan serius.
"Gimana Ka, udah di tes?"
"Nggak tahu gue hasilnya kayak tadi pagi sih udah tapi gue nggak berani nanya soalnya moodnya kadang naik turun bikin gue jadi ilfil"
"Ya udah sabar aja, semoga aja yang jadi harapan Lo terkabul meski bukan hari ini"
"Iya sih, semoga aja lah"
"Sean udah balik ke Jerman ya?"
"Balik sementara doang di tugasin papa buat ngontrol perusahaan yang didirikan di sana, udah hampir setahun nggak di cek, makanya papa minta kak Sean buat kesana sekalian ngajakin anak istrinya buat liburan dan silaturahmi sama keluarga di sana, emang Lo belom punya rencana balik lagi ke negara asal Lo?"
"Nggak tahu lah, gue masih bingung, perusahaan yang nenek wariskan ke gue, terpaksa gue kasih Tante Alana sementara buat ngelola, di satu sisi gue juga kasian sama papa siapa yang bakalan ngerawat, di satu sisi lagi hubungan gue sama adik-adik juga nggak baik sejak awal bahkan sejak ibu meninggal mereka seakan menjauh dari gue"
"Ternyata rumit banget idup Lo, apa selama ini Lo nggak pernah berusaha buat deketin mereka?"
"Udah gue coba, tapi ya begitulah mereka seperti memusuhi gue, kadang gue juga nggak ngerti dimana letak salah gue sama mereka"
"yang gue denger Lo satu-satunya anak paling di sayang sama om Keenan dan Tante Ratih ya"
"Ahh nggak juga, siapa yang ngomong gitu"
"gue denger doang sih dari mama, apa sejak kecil Lo udah di ambil sama nenek jadi mereka seolah membenci Lo?"
"Entahlah, gue cuma berharap suatu saat mereka bakalan bisa baik sama gue bisa Nerima gue disini"
"Apa selama ini Lo nggak di terima?"
"Bukan nggak di terima, cuma mereka seolah menjaga jarak dari gue, selama lima tahun gue bolak-balik Indonesia-Belanda semenjak ibu mulai sakit-sakitan, trus pas gue nikah tiga tahun lalu sebulan setelah itu ibu nggak ada, hubungan gue sama mereka semakin berjarak banget"
"Istri Lo cantik juga ya, hafidzah pula pinter Lo cari istri"
"Haha, Safira emang sejak dulu jadi rebutan, dia satu tingkat sama adik gue yang laki-laki, dari dia gue kenal Safira sejak pandangan pertama waktu gue berkunjung ke rumah pak kyai Hasyim"
"Katanya Lo musuhan sama adek Lo kok ngomong nya dari dia Lo kenal Mbak Safira?"
"Maksudnya waktu pertama kali gue lihat Safira di rumah kyai Hasyim pas gue di panggil buat ngontrol kesehatan beliau, gue sempet nanya sama adik gue dari situ gue tahu kalau Safira masih ponakannya kyai Hasyim"
"Jangan-jangan adek Lo cemburu gara-gara Lo ambil gebetannya hehehe"
"Ahh mana mungkin, dari awal mereka juga nggak dekat kok cuma kebetulan aja mereka sama-sama santri kesayangan pak kyai"
"Hati orang siapa yang tau lah bro.."
"Iya sih, Safira emang dari dulu jadi primadona, bahkan waktu gue dateng melamar aja banyak banget santri yang patah hati, gue denger sih dari Rizal"
"Tapi Lo yang di terima akhirnya,"
"Yang Nerima gue Abah nya, awalnya Safira nggak mau sama gue"
"Wah orang ganteng gini di tolak?"
"Ya karena yang Safira tahu kalau gue kan beda agama sama dia, sebenarnya gue udah lama kenal Islam dari sejak gue SD ibu asuh gue bahkan manggilin guru khusus buat belajar ngaji, padahal orang tua asuh gue orang Kristen dan gue juga kadang ikut mereka ke gereja sih, tapi sejak gue lulus SMA gue lebih tertarik sama Islam"
"Berarti Lo udah bisa ngaji dari kecil meskipun Lo bukan Islam?"
"Iya, karena ibu asuh gue, bahkan beliau manggilin gue guru privat buat ngajarin sholat, puasa"
"Wah, hebat banget tuh padahal beliau orang Kristen ya,"
"Karena mama Emy tahu kalau ibu dan papa emang orang Islam, papa dulu muallaf, sejak bertemu ibu beliau belajar Islam dan akhirnya mutusin buat masuk Islam"
"Oh gitu, eh ngomong-ngomong ini masih jauh lagi kita sampai ke gunung?"
"Hehe, masih ada satu jam-an lah, baru aja kita masuk pusat kota kabupaten, abis ini baru ke arah sana, kita singgah dulu buat ngisi perut soalnya perjalanan jauh"
"Hadeuh badan gue belom apa-apa udah remuk semua bang" keluh Azka
"Baru segitu udah ngeluh, lihat tuhh petani di sawah dari jam empat subuh sampe sore nggak capek tuh kerja seharian tiap hari lagi"
"Hehe yan kan gue bukan petani,"
"Tapi Lo makan beras kan dari usaha petani"
"Iya juga sih hehe, udah ah buruan nyari warung makan"
"Dah sampai, bangunin istri Lo"
"Udah jangan banyak omong, ayo masuk dulu"
"Selamat siang tuan"
"Siang Jupri, semua sehat kan ya?"
"Alhamdulillah sehat tuan"
Melihat Dokter Fritz berbicara pada seorang satpam Azka hanya terbengong-bengong saja. agak heran dengan peran bule yang satu itu dimana-dimana banyak banget kenalannya.
"Ini rumah siapa sih?"tanya Azka heran. Kinara berjalan di sisinya masih dengan wajah bantal nya
"Rumah gue lah" jawab Dokter Fritz
"Ini rumah Lo? gede banget"
"Udah ayo masuk, kita makan siang dulu trus sholat baru lanjut lagi"
"Hebat bener Lo, dimana-mana ada persinggahan hihihi"
"Ah biasa aja"
Azka, Kinara dan dokter Fritz istirahat sejenak, baru setelah itu melanjutkan lagi perjalanan mereka ke tempat tujuan.
"Indah banget tapi ini hutan semua ya?" tanya Kinara melihat pemandangan dari balik jendela mobil
"ini rimba bukan hutan"
"Ini masuk cagar budaya pastinya ya" sahut Azka
"Iya, tapi angker asal kalian tahu"
"What?" pekik Kinara dan Azka
"aihh jangan ngaco Lo siang-siang"
"Beneran deh gue nggak bohong, nggak ada warga yang berani keluar atau masuk ke area ini menjelang malam"
"Kenapa gitu?"
"Karena dari jaman nenek moyang emang di kenal angker, selain itu juga dulu jalanan yang kita lewatin ini dulu hanya bebatuan terjal kayak jalan setapak, cuma kendaraan roda dua aja yang bisa lewat"
"Selain itu warga di sini punya pamali, nggak boleh keluar rumah lewat jam delapan malam, apalagi sampai turun gunung di atas jam yang sudah di tentukan kecuali kondisi darurat seperti harus di rujuk ke rumah sakit kota bagi warga yang sakit itupun mereka harus bawa sesaji sebelum berangkat"
"Iiiih kok serem amat sih, mending pulang aja yuk, ah nggak mau gue kesini"keluh Kinara
"Nggak usah takut selama kita punya keyakinan mereka nggak akan ganggu kita"
"Nah tuh keliatan plang masuk desa kita udah sampai"
"Kok cepet katanya sejam"
"Lah ini sudah lewat sejam anjir, dari tadi kita ngobrol makanya nggak kerasa di perjalanan"
"Rumah om Keenan mana?"
"Kita muter dulu baru sampai ke rumah papa"
"Rumah disini udah pada bagus-bagus ya!"
"Iya, orang di sini nggak ada yang nggak bagus rumahnya"
"ciu songong Lo dokter" cibir Azka
"Emang beneran, kapan gue boong, nah tuh yang banyak mobil parkir itu rumah papa, kita sampai"
"Kok gue kayak kenal tuh mobil??"
"Iya ya, itu kayak mobil papa, mobil Reno juga itu disana"
"udah buruan keluar nggak usah banyak asumsi"
Azka dan Kinara akhirnya keluar dari mobil dengan wajah bingung karena mengenali siapa pemilik mobil yang terparkir di depan rumah om Keenan
"Woi Lo di sini juga njir?" tanya Azka yang terkejut melihat Aldo dan beberapa sahabatnya ternyata ada dirumah orang tua dokter Fritz.
"Taraaaaa kejutaaaaaaann......" suara cempreng milik Cici rupanya muncul di balik punggung Reno yang tinggi tegap di susul Ririn, Riska dan Nana
"Ka...kaliaaan?? aaaaaaaaaa" teriak Kinara berlari menghambur ke pelukan ke empat sahabatnya.
"Lo,Lo dan Lo ...jadi kalian belom pada berangkat semua?" tanya Azka heran pada keempat sahabatnya.
"Heheheh, masa iya temen hepi-hepi kita cuma bisa ngiri iya nggak guys???" timpal Beno.
"Iyalah mumpung kita semua belum benar-benar pergi nggak ada salahnya kan kita juga ikut honeymoon, iya nggak iya nggak??" sahut Fikar.
"Cieeeee yang lagi honeymoon" sorak Cici, Nana, Riska dan Ririn.
"Kalian apaan sih..." ucap Kinara malu-malu
"Gimana ceritanya sih kalian bisa duluan nyusul kesini?" cecar Azka pada Aldo yang sedari tadi hanya mesem-mesem.
"Tanya tuh pak dokter gue mah ngikut aja hehe" jawab Aldo cengengesan
Azka melirik pada Sepupu jauhnya yang terlihat sedang mengobrol dengan seseorang berpakaian serba putih.
"Ishh Lo mah pada nggak asik.. harus nya ngomong dong dari awal" ucap Azka kesal
" Kalau ngomong namanya bukan kejutan dong pak CEO Eins Corp yang T-E-R-H-O-R-M-A-T" Sahut Cici
"hahahaha" tawa menggelegar memenuhi pelataran rumah tuan Keenan Emmanuel. membuat si pemilik rumah ikut tersenyum bahagia melihat keceriaan keponakan jauhnya itu bersama para sahabat-sahabatnya.
Sudah sejak lama ia merindukan suasana haru membahagiakan seperti ini. mungkin sudah puluhan tahun berlalu. kisah masa muda nya tidak seperti mereka saat ini jika ia mengingat kenangan masa lalunya dahulu. tapi ia masih bersyukur di karuniai anak-anak yang sangat sayang padanya meskipun mereka tak selalu ada di sampingnya. berharap kebahagiaan dan Rahmat serta berkah dari Allah SWT selalu mengiringi setiap langkah anak cucunya.
Ke sepuluh sahabat itu asyik bercengkrama sembari duduk lesehan menikmati udara siang menjelang sore. menikmati waktu menunggu senja tiba di ufuk barat. berbagi cerita tentang kegiatan mereka selama tidak bertemu beberapa waktu.