
"Ini lokasi keberadaan Anthony sekarang, tapi sepertinya ada seseorang yang lebih dulu tahu tentangnya" ucap nyonya Amira menyerahkan amplop coklat di atas meja.
"Maksud mu Mira?" tanya tuan Denias
"Ada seseorang diantara kita yang lebih dulu tahu keberadaannya, entah dengan tujuan apa. tapi dari hasil penyelidikan anak buahku, Anthony sekarang sedang kalang kabut karna beberapa sahamnya lenyap sudah berpindah kepemilikan, entah itu perbuatan siapa, anak buahku masih memantaunya"
"Beb..bbenarkah?" tuan Denias terkejut.
"Aku tidak berbohong mas, coba mas buka amplop itu lihatlah semua aset saham milik Anthony sudah berpindah kepemilikan"
Gegas tuan Denias membuka amplop berwarna coklat. matanya terbelalak terkejut membaca tiap deretan angka yang tertera pada lembar kertas yang ia baca.
"Jadi dia bangkrut?" tanya tuan Denias tak percaya.
"Iya semua aset yang di milikinya sudah berpindah ke pemilik yang baru tanpa sepengetahuannya" jelas nyonya Amira
"Bagaimana bisa?" tuan Denias tak percaya
"Bisa saja jika orang yang mengambil alih asetnya punya kelemahan dan orang dalam yang sengaja ia masukkan untuk menyatroni Anthony secara diam-diam"
"Tapi untuk apa. setahu ku Anthony tidak punya musuh lain selain kita"
"Bukankah mas sudah memasukkan musuh dalam selimut pada Anthony?"
"Tapi kurasa bukan anak buahku Mira!"
"Benar memang bukan anak buah mas, tapi orang terdekat mas selama ini yang punya dendam pribadi pada Anthony" ucap Nyonya Amira berapi
"Kau tahu?" tuan Denias balik bertanya.
"Mas belum menyadari nya?" nyonya Amira menantang. "Adakah rahasia kelam Anthony yang kalian sembunyikan selama ini.?" lanjutnya lagi
"K..kau tahu apa Amira?" tuan Denias semakin tersudut
"Katakan saja mas, atau aku yang akan bertanya langsung pada keponakan laki-lakimu"
Prang
Gelas kopi yang di pegang tuan Denias jatuh seketika.
"Kau..kau tahu Mira?"tuan Denias terkejut
"Iya aku tahu tepatnya sebelum aku memutuskan untuk kembali ke negara ini aku sudah menyelidiki keponakan mu itu"
"Bagaimana bisa Mira?"
"Ternyata mas kalah cepat dengan keponakan sendiri. dia lebih cerdik dari yang aku kira, selama ini dia banyak berkorban untuk kalian dan ini salah satu cara dia membalas semua kasih sayang kalian padanya tanpa kalian sadari. dia hanya ingin membalas budi mba Amina dan suaminya juga keluarga kalian."
"Aku tidak percaya jika Revan melakukan semua ini"
"Dia merahasiakan dari kalian karena ingin menjaga perasaan mas Wibowo yang dia anggap ayah kandungnya selama ini, dia tahu dan sangat tahu kalian menyimpan rahasia besar ini darinya karena kalian tak ingin membuatnya terluka jika ia tahu posisinya dalam keluarga kalian. aku bisa memahami itu. sudah sejak lama ia tahu kebenaran yang kalian sembunyikan tapi dia berusaha ikhlas meski belum sepenuhnya menerima takdir tentang ayah biologisnya."
"Revan, aku tidak menyangka dia berbuat nekat tanpa sepengetahuan kami, dari mana dia tahu tentang statusnya?" tuan Denias merasa bimbang
"Entahlah tapi aku yakin dia tahu segalanya dari kalian. aku sedang membantunya mencari ibu kandungnya yang selama ini hilang"
"Kau tahu tentang Ratih?" tanya tuan Denias penasaran
"Ya aku tahu semuanya, hanya tempat dimana dia berada saat ini aku belum menemukannya saja."
"Aku semakin merasa bersalah padanya, semua yang ku lakukan rupanya tak ada apa-apanya dibandingkan dengan baktinya pada keluarga kita meski bukan darah dagingku ataupun darah daging Amina." tuan Denias menunduk, ada rasa bersalah mengetahui kenyataan tentang Revan selama ini.
"Sudahlah yang terpenting sekarang bantu dia dengan cara kalian agar ia tak merasa sia-sia dengan semua perjuangannya selama ini"
"Dan akulah faktor utama yang membuat Anthony seperti itu, aku juga patut untuk di salahkan" nyonya Amira mendadak sesak mengingat bagaimana masa remaja nya yang tega menorehkan luka untuk keluarganya terutama ibu dan kakak kembarnya.
"Sudah takdir, aku sudah memaafkan mu"
"Tapi aku masih sulit untuk memaafkan diriku sendiri mas"
"sudahlah. sekarang yang harus kita pikirkan bagaimana cara menjebak Anthony agar keluar dari persembunyiannya."
"Aku sudah memikirkan caranya, dan anak buahku sedang bekerja mulai malam ini, dan soal istri tuan Bagas, aku turut berduka cita, wanita itu depresi dan akhirnya bunuh diri karna ulah Anthony, mayatnya di buang di sungai oleh anak buah Anhtony dan sekarang polisi sedang menyelidikinya"
"APA?"
"Bukti forensik baru keluar setelah beberapa minggu dilakukan autopsi dan olah tkp dengan warga setempat yang menemukan mayatnya. juga hasil autopsi menyatakan jika dia bunuh diri karna depresi, di temukan banyaknya memar di tubuh jenazah juga luka pada ***********, bisa jadi Anthony melakukan kekerasan seksual padanya dalam kurun waktu beberapa bulan ini sejak ia menghilang"
"Bedebah, bangsat kau Anthony" semua umpatan keluar begitu saja dari mulut tuan Denias
"Jenazah baru akan tiba sore ini di rumah duka kediaman tuan Bagas." tambah nyonya Amira
"Aargh... kita harus kesana sekarang!ucap tuan Denias
"Will hubungi semua bos dan liburkan semua karyawan di pusat maupun di cabang kita harus ke rumah duka tuan Bagas Rahardian sekarang juga" titahnya pada sang asisten di balik telpon genggamnya.
"Apa mas yakin akan meliburkan semua karyawan? jangan gegabah mas!"
"Hanya untuk hari ini saja!"
"Sama halnya kau berikan jagung secara gratis pada ayam milik musuhmu, bukankah itu mudah baginya untuk menghancurkan mu?" tukas nyonya Amira tak setuju dengan usulan kakaknya.
"Lalu aku harus bagaimana Mira?"
"Aku yang akan memanggil semua anak buahku untuk menggantikan karyawanmu di pusat dan cabang"
"Hah, bagaimana mungkin"
"Tidak ada yang tidak mungkin untuk Mr.Andrew dan Nyonya Amira" ucapan telak nyonya Amira membuat nyali tuan Denias menciut.
"Baiklah lakukan dengan caramu saja. aku harus datang ke pemakaman. tidak mungkin aku meninggalkan sahabatku begitu saja dalam kondisi berduka"
"Baiklah, aku juga berencana menemui Kinara dan Keisya malam ini jika mas tidak keberatan."
"Datanglah kerumah besanku jika ingin menemui Kinara, dan kerumah lama milik Amina jika kau ingin menemui Keisya sopir ku yang akan mengantarmu nanti"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri, aku sudah tahu alamat mereka tinggal"
"Hufft terserahlah, lakukan sesukamu istri mafia yang terhormat!"
"Baiklah terimakasih atas izinmu"
"Aku lupa hari ini aku janji akan berkunjung ke sana, tapi aku lupa menghubungi Rena, sampaikan saja salamku pada Keisya jika kalian bertemu malam ini"
"Baiklah, aku permisi, harus menemui asisten pribadi Revan"
"Untuk apa?"
"Sudah ku jelaskan aku akan membantu keponakanmu mencari ibu kandungnya, dan sepertinya asisten baru yang di rekrut Revan punya informasi penting dimana Ratih berada"
"Baiklah lakukan sesukamu Amira, aku berhutang budi padamu"
"Sama-sama dan kita impas"
to be continue.