KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
52 Investasi 2 triliun...???



"Assalamualaikum permisi pak maaf mau nanya" tanya seorang anak muda di luar gerbang yang hanya setinggi dada orang dewasa itu.


"Waalaikumsalam Iya dek, ada apa?" tanya pak Asep yang sedang berjalan ke luar seraya membuka gerbang


"Mau nanya alamat kompleks griya permata blok F2 sebelah mana ya?"


"Blok F2 sebelah sana dek, dari sini terus aja lalu belok kanan terus belok kiri lagi, emang ada apa?"


"Ini saya mau nganterin barang pesanan pak saya bingung soalnya dari tadi muter-muter nggak nemu alamat" ujar anak muda tersebut


"Atas nama siapa kalau boleh tahu?"tanya pak Asep


"Ibu Asih pak"


"Oh sini biar saya aja yang anterin, soalnya saya juga mau ke sana"


"Ta...tapi...tapi pak" ucap anak muda tersebut ragu


"Jangan takut dek saya bekerja di rumah itu kebetulan hari ini jadwal saya, kalau gitu barangnya biar saya bayar aja dulu" tawar pak Asep


"Emang nggak papa pak?"tanya nya lagi ragu


"Iya biar saya aja yang bawa kesana, berapa saya harus bayar barang ini?"


"lima ratus lima puluh ribu pak semua, ini satu setelan gamis dan satu setelan mukenah" paparnya


"Baik, tunggu sebentar ya saya masuk ambil uang dulu, oh ya dek silakan masuk nunggu di dalem aja nggak baik di luar pagar." tawar pak Asep


"Baik pak" ucap pemuda itu seraya mengikuti langkah pak Asep di depannya. anak muda tersebut langsung duduk di kursi yang tersedia di teras rumah tersebut.


"Dek ini uangnya" ucap pak Asep yang baru saja keluar dari dalam rumah.


"Oh iya pak, terimakasih" balas anak muda itu setelah menerima uang lalu menghitung nya.


"Pak maaf ini uang nya kelebihan" lanjut nya lagi


"Nggak apa ambil aja, rezeki nggak boleh di tolak nak"


"Tapi pak" anak muda itu menyerahkan uang pada pak Asep


"Udah ambil aja, ini rezeki mu hari ini nak"


"Ya... ya udah sekali lagi makasih banyak pak" ucapnya sembari membungkuk kan badan


"Iya sama-sama"


"Kalau gitu saya permisi pak, harus antar barang lainnya lagi" pamitnya


"Iya baik lah, silakan semoga rezeki nya lancar tiap hari" ucap pak Asep


"Terimakasih pak permisi assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


***


"Ini sudah sebulan lebih kita tidak mendapatkan petunjuk keberadaan Vania istri ku" ucap pak Bagas


"Sepertinya Anthony sengaja menghilangkan jejak. bahkan kartu As ku saja tidak mengetahui dimana Anthony bersembunyi kali ini" balas pak Denias


"Bagaimana dengan kakek tua itu?" tanya pak Wibowo


"Aku sudah mencari nya namun tidak ada hasil sampai hari ini, mungkin sudah meninggal. bahkan keluarga nya pun sudah tidak menempati rumah yang pernah ku singgahi dulu" jelas pak Bagas


"Setahu ku hutan itu di kenal angker oleh masyarakat setempat dan tidak ada satupun penduduk yang berani keluar rumah saat sore menjelang" tambah pak Wibowo


"Apa kartu As yang mas tempatkan disana tidak pernah bertemu dengan Anthony?" tanya pak Wibowo kemudian


"Semenjak hilang nya nyonya Vania. Anthony sudah tidak pernah menginjakkan kaki di rumah itu. Ada satu anak buah kepercayaan Anthony yang memegang kendali disana" papar pak Denias


"Lalu Roby?" tanya pak Anderson


"Entahlah aku pun tak bisa menghubungi nya sejak nyonya Vania hilang"jawab pak Denias


"Jika dugaan ku ini benar bisa jadi ini tak tik yang di gunakan Roby agar kita bisa bersiap sebelum perang" tukas pak Anderson


"Aku juga berfikir begitu,bisa jadi ini sandi untuk kita segera bersiap kapanpun Roby memberi petunjuk dan saat itu tiba kita harus maju"


"Lalu bagaimana dengan ibuk mas, apa beliau sudah benar-benar siap untuk kembali?"


"Ibuk sudah banyak perkembangan sekarang meski usia nya sudah sangat sepuh tapi semangatnya mengalahkan anak muda" papar pak Denias


"Aku hanya khawatir kondisi nya semakin buruk jika kita membawa nya kemari" ucap pak Wibowo khawatir


"Tenanglah, ada saatnya aku membawa ibuk kemari" ujar pak Denias.


"Apa yang anda fikirkan pak? tanya pak Anderson pada pak Bagas yang terlihat termenung


"Aku memasang alat pelacak di perhiasan dan barang-barang yang di gunakan istriku, tapi saat itu aku hanya menemukan sinyal di gudang tua itu saja, apa mungkin ada yang Vania tinggalkan disana selain perhiasan emas yang kita temukan?" ucap Pak Bagas


"Hemm bisa jadi seperti itu, bagaimana kalau kita tugaskan seseorang untuk masuk ke gudang tua itu?" usul pak Anderson


"Kalau bisa jangan orang-orang kita!" sahut pak Denias


"Maksudnya?" tanya Pak Bagas


"Aku akan meminta Ahmad yang masuk kesana" ujar pak Denias


"Ahmad?" Tanya pak Anderson


"Ya, siapa lagi yang pandai dalam situasi seperti ini, bukankah dia dahulu orang terhebat di perusahaan mu saat di Jerman?" ujar pak Denias


"Tapi itu kan di Jerman di perusahaanku sangat jauh berbeda dengan bidang yang dia miliki" sahut pak Anderson


"Apa kau tidak tahu dia memiliki bergudang prestasi bukan hanya dalam bidang akademis dan bisnis?" tanya pak Denias


"Maksud mu?" pak Anderson bingung


"Dia itu ahli tak tik dalam bidang militer, menguasai berbagai macam teknik bela diri, Bahasa asing, seorang hacker handal, solidaritas dan ibadahnya jangan di ragukan lagi" papar pak Denias membuat pak Anderson melongo


"Sehebat itu, kenapa aku tidak pernah menyadari nya?" ucap pak Anderson terkejut


"Karna dia anak buahku, jadi jangan sekali-kali kau anggap remeh anak jebolan pondok pesantren, bukan cuma pinter ngaji dan baca kitab kuning saja broo" sahut pak Denias


"Wow ternyata anda cukup mengerikan juga pak Den," tukas pak Bagas.


"Hahaha dia emang dari dulu gitu, waktu kecil sukanya main kucing-kucingan sih bwahahaaa" seloroh pak Wibowo


"Hahahaa semua serempak tertawa"


Tok tok tok


"Masuk" ucap pak Denias


"Wah lagi ngumpul rupanya" seloroh Revan yang baru saja masuk bersama dengan Sean


"Lagi reunian jaman sma ini mah" sahut Sean


"Udah tuwir masih kangen-kangenan" timpal Revan


"Anak kecil tau nya permen, banyak omong" sahut pak Denias tak mau kalah


"Yee...anak kecil tapi udah berbuntut iya!" jawab Sean


Revan dan Sean duduk di sofa yang berada di seberang berdekatan dengan pintu. Sean mengkode ke arah Revan


"Ini mau ngasih laporan aja" ucap Revan


"Apa ada perkembangan sejauh ini?" tanya Pak Wibowo


"Ini mau laporan yang buruk atau baik dulu?" tawar Revan


"Mana aja lah suka-suka lo" sahut pak Denias sembari menghisap rokoknya.


Revan diam sejenak sebelum memulai berbicara


"Hemm berita buruknya kita masih butuh dana sebanyak 3,5 milyar, untuk menstabilkan kondisi perusahaan kita di beberapa cabang akibat dari penjarahan karna ulah si Anthony" papar Revan


"Dana yang kita miliki masih kurang, sebagian para investor masih enggan menyuntik kan dana mereka kembali setelah tahu perusahaan kita di sabotase." ucap pak Anderson


"Aku sudah menemui salah satu investor terbesar kita namun sepertinya dia masih berfikir dua kali jika hal ini akan terjadi lagi." sahut pak Wibowo


"Bahkan dana perusahaan ku pun tidak mencukupi untuk menutup kekurangan itu" tambah pak Bagas


"Ehm" Sean berdehem


"Apa sih?" tanya pak Denias memicingkan mata


"Mau berita baik nggak?" tanya Sean balik


"Ck mana ada berita baik, kalau pun ada ya berita baik nya Revan mau melamar Lutfiah setelah Kinara dan Azka Ujian Nasional" sahut pak Wibowo


"Ayah ihhh" Revan bersungut-sungut mendengar ucapan ayahnya


"Hahahaahaa rasain lo," cibir Sean diikuti gelak tawa yang lainnya.


"Ini mau berita baik nggak sih?" ucap Revan kesal


"Gue ber-rius-rius nih!" lanjut nya


"Iya apaan?" tanya pak Denias setelah berhenti tertawa


"Amd group akan menyuntik kan dana sebesar 2 triliun rupiah" ucap Revan tanpa jeda


"Apaaa?" semua menoleh dengan wajah tak percaya


"Amd group bukannya perusahaan yang baru saja berdiri dan menjalin kerjasama dengan kita?" tanya pak Anderson terkejut


"Yups anda benar tuan Anderson yang mulia" ucap Sean di iringi tawa kecil Revan


"Bokap lo itu men" ujar Revan


"Bukan, cuma teman hidup emak gue di rumah" balas Sean


" Nggak usah di dengerin orang nggak jelas gitu Van" ucap pak Anderson


" Itu artinya emak sama bapak gue juga nggak jelas gitu?" timpal Sean menanggapi


"Udaah ribut mulu nih, udah Van lanjut!" tegur Pak Denias


"Awalnya aku juga cukup terkejut bagaimana bisa mereka menyuntikkan dana sebesar itu sedangkan mereka baru saja berdiri dan kena imbas juga akibat penjarahan Anthony." Revan menatap semua tetua di hadapannya sebelum melanjutkan ucapannya.


"Aku sudah mencoba meminta alasan mereka menyuntikkan dana namun tak menemukan jawaban yang memuaskan, sampai akhirnya aku dan Sean menemukan fakta yang cukup mengejutkan" Revan diam menjeda sesaat


"Fakta apa jangan bikin orang penasaran" sahut pak Denias


"Amd group bukan milik pak Santoso tetapi milik salah satu pengusaha hebat dari Belanda."


"Maksudmu apa??" tanya pak Anderson


"Mr. Andrew dan istri nya yang berasal dari Indonesia, mereka memiliki beberapa perusahaan di Belanda dan beberapa negara lainnya mulai dari perhiasan, elektronik hingga makanan dan lain-lain" papar Revan


"Sebenarnya ini adalah warisan dari orang tua Mr.Andrew, namun Mr.Andrew rupanya merambah bisnis nya ke berbagai bidang hingga se-sukses saat ini" tambah Sean


Semua yang mendengar penuturan mereka berdua ternganga tak percaya. mereka larut dalam pemikiran masing-masing.


"Dan pak Santoso itu orang kepercayaan mereka selama ini untuk memegang kendali perusahaan mereka disini" tambah Revan lagi


hening


krik krik krik


(Haduh ini pada ngapain ya? dapat berita baik kok malah bengong??😂😂)


Plak


plak


Pak Denias memukul pundak adik iparnya sedikit keras


"Nggak percaya aja sih dengernya" ucap pak Anderson tiba-tiba


"Aku bahkan baru mendengar nama Mr. Andrew pengusaha asal negeri kincir angin itu" tambah pak Bagas


"Aku pernah sekali mendengar nya dari salah satu teman yang ku temui di Singapura" ujar pak Wibowo


"Seingat ku dari cerita teman lama kalau istrinya itu kehilangan keluarganya sewaktu remaja dan di angkat anak oleh orang tua Mr. Andrew" tambah pak Wibowo lagi.


"Yang ayah dengar emang benar" ucap Revan


"Kamu tahu Van?" tanya pak Denias


"Ya sedikit banyak tahu, kalau istri nya Mr. Andrew emang nggak bisa tampil di publik bahkan tak pernah terekspos di majalah bisnis apapun tapi dia bekerja di belakang layar untuk mengembangkan bisnis mertua dan suaminya. berkat tangan dingin seorang wanita asal Indonesia perusahaan keluarga mereka bisa se sukses sekarang." tambah Revan


"Dan seingat ku tuan Vallas pernah bercerita jika istri dari tuan Andrew sedang mencari keluarga nya di Indonesia" ucap pak Wibowo.


"Jadi gimana, mau di terima nggak ini?" tanya Sean


"Dua triliun itu berkali lipat dari dana yang kita butuhkan loh tuan-tuan" lanjut Sean lagi


"Bagaimana?" tanya pak Denias pada Wibowo


"Gue sih yes!" jawab Pak Wibowo


"Gue juga" pak Anderson menjawab


"Ok saya setuju" jawab pak Bagas


"Keputusan final kami terima" ucap pak Denias mantap.


"Baik, nanti kami sampaikan pada pak Santoso secara langsung" ucap Sean


"Biar aku menemui nya" ucap pak Denias


"Loh Om mau ngapain?" tanya Revan


"Udah pokoknya atur aja pertemuan ku dengan pak Santoso itu, bocil nggak usah banyak nanya!" ujar pak Denias


"Ck ke kebiasaan!" cibir Revan


" bwahaahahahaha kayak nggak tau aja lo, kan udah gue bilang emang dia dari kecil suka main kucing-kucingan hahahah" sahut pak Wibowo.


" Ya udah laporan selesai, waktunya kita isi jawa tengah dulu hayuuuk Sean" ucap Revan segera melangkah pergi meninggalkan ruangan di ikuti Sean.