KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 129



"Semoga berhasil bro, cepat pulang bawa kabar bahagia"ucap Fikar memeluk sahabatnya.


"Thanks bro, udah bantuin gue selama di Jakarta, gue pasti ngasih kabar, doakan ya" ucap Reno memeluk erat sahabatnya


"Gue doakan anak Lo kembar sepuluh" kata Beno ikut memeluk kedua sahabatnya


"Gue doakan dua puluh" tambah Aldo ikut memeluk mereka bertiga


"Gue cuma minta foto bayi Lo aja, kalau cewek gue jodohin sama Keenan" seru Azka membuat keempat sahabatnya menoleh bersamaan seiring pelukan mereka terlepas


Plak


"nggak ada acara jodoh-jodohan, jaman anak-anak kita nggak sama dengan kita anjai" sahut Beno memukul pundak Azka.


Mereka akhirnya tertawa cekikikan bersama. pemandangan itu tak luput dari Andin dan Bu Fitri yang duduk tak jauh dari mereka berlima.


"Bu, apa mereka bersahabat sejak kecil?" tanya Andin pada ibu mertuanya


"Reno, Kinara, dan Fikar mereka sahabat sejak masih TK, dan mereka bertemu dengan Beno, Aldo sejak masuk SD. kalau Azka, kedua orang tuanya dan orang tua Kinara sudah menjodohkan mereka sejak mereka bayi, dan keduanya baru bertemu saat kelas tiga SMA, saat itulah mereka mengawali hidup baru mereka sebagai sepasang suami-istri remaja kala itu, dan dari situ lah awal mula masa lalu Reno dan Keisya terjadi" cerita Bu Fitri mengenang.


Andin mendengar cerita mertuanya dengan tenang meski ada badai tengah menghimpit sudut hatinya. Ia bisa menyimpulkan jika Reno melajang dan menikahinya di usia sangat matang bukan tanpa alasan selain berusaha melepas masa lalunya agar tak menyakiti masa depan nya.


"Nak apapun yang terjadi di masa lalu Reno, jangan pernah kamu ungkit di depannya, kamu masa depannya, jangan pernah merisaukan apa yang sudah terjadi di masa lalunya" ucap Bu Fitri memegang erat tangan menantunya, beberapa menit lalu ia sadar salah dengan ucapannya.


"Nggak papa Bu, nggak usah khawatir, aku nggak berani bahas masa lalu mas Reno, karena aku tahu bagaimana sulit nya melepas dan mengikhlaskan sesuatu yang benar-benar berharga dalam hidup, meskipun pada hakikatnya penyesalan itu ada" ucap Andin berbesar hati dan berusaha meyakinkan ibu mertuanya kalau ia tak masalah dengan masa lalu Reno lebih tepatnya tidak peduli.


"Terimakasih nak, sudah mau menerima anak ibu dengan segala kekurangannya" ucap Bu Fitri


"Aku yang harusnya bersyukur bisa memiliki mas Reno yang sayang dengan keluarga" kata Andin


Kedua wanita berbeda usia itu saling menatap dan tersenyum. Tangan mereka saling menggenggam erat.


"Bu, ayo kita check in" ucap Reno menghampiri ibunya. Dua koper besar langsung ia bawa.


"Nak Azka, Aldo, Beno, Fikar, terimakasih sudah membantu kami selama disini" ucap Bu Fitri pada Azka


"Sama-sama Bu, kami yang berterima kasih ibu sudah berkenan menerima bantuan kami" balas Beno memeluk Bu Fitri


"Salam buat ibu kamu ya," ucap Bu Fitri pada Beno


"Hati-hati ya Bu"tambah Aldo


"Kabari secepatnya kalau Reno udah berhasil bikin sarang walet di Singapura" Beno menimpali dan langsung mendapat tepukan di bahu nya.


"Jaga kesehatan ya Bu" ucap Fikar


"Kapanpun dan dimanapun saya siap kalau di butuhkan Bu" ucap Aldo menyalami Bu Fitri


"Semua keperluan ibu dan Reno serta istrinya sudah saya penuhi di sana Bu, kalau ada apa-apa segera hubungi saya" kata Azka memeluk erat Bu Fitri


"Terimakasih semuanya, ibu nggak tahu bisa balas dengan apa kebaikan kalian selama ini, jaga baik-baik anak istri dan keluarga kalian, maaf kalau ibu dan Reno pernah berbuat salah dan khilaf" ucap Bu Fitri berkaca-kaca


"Sama-sama Bu"


"Sampai jumpa Ren, semoga berhasil bikin sarang walet nya" seru Beno


"Hahahaha" mereka semua tertawa mendengar teriakan Beno


***


"Lagu sibuk, ada agendanya hari ini di luar cafe" jawab Kinara sembari membenarkan letak jilbabnya


"Di luar cafe, jawaban rancuh" seru Keisya


"La emang di luar cafe, dia bilang gitu, ada temennya mau ke Singapura jadi dia nganter sampai ke bandara sekalian reunian katanya" jelas Kinara melangkah ke arah pintu masuk kantor


"Kak Beno?" tanya Keisya penasaran


"Bukan"jawab Kinara sedikit kesal


"Trus siapa?"tanya Keisya lagi


"Mau tau aja sih urusan orang kei, bukan hak kamu juga, itu urusan dia, gue istrinya aja egp Lo kok sok mau tau aja sih?" ucap Kinara kesal karena merasa di wawancarai.


Keisya terdiam, ia sadar sudah terlalu jauh mencampuri urusan rumah tangga kakaknya, seharusnya hal seperti itu tak perlu ia tahu.


"Ya maaf mbak, maaf aku salah" ucap Keisya


"Udah, besok jangan di ulangi, suami ku nganter mantan tunangan kamu ke Singapura , urusan kerjaan, OKE" ucap Kinara memberikan penekanan pada akhir kalimat nya.


Keisya terdiam dan sedikit terkejut mendengar ucapan terakhir Kinara soal Reno.


Meski begitu ia tetap bersikap biasa saja, bukan lagi urusannya apa yang terjadi pada Reno. Reno bukan miliknya, Reno hanya masa lalu yang sudah memberinya pelajaran berharga dalam hidup ini.


Kinara berlalu keluar dari lift lebih dulu tanpa sepatah katapun pada Keisya. Melihat sikap kakak nya yang berubah Keisya benar-benar menyesali perbuatannya tadi.


Seandainya ia ada di posisi kinara sudah pasti hal itu juga yang ia lakukan demi menjaga Marwah rumah tangga nya.


Keisya masuk ke ruangan nya bersama sang asisten yang baru saja datang.


"Bu, ini ada undangan reuni dari kampus ibu, saya baru dapat kemarin siang" ucap sang asisten


"Angkatan saya atau semua angkatan? Sini aku lihat, tolong kamu buatkan saya jadwal untuk Minggu depan, kosongkan satu hari saja karena saya harus nyekar ke makam ibu dan anak saya" ucap Keisya


"Baik Bu, orderan sejak tanggal 10, rencananya hari ini pemesan akan melihat langsung, saya sudah buatkan jadwal Bu nanti jam makan siang"


"Tanggal 10, yang mau nikahan dua bulan lagi itu?" tanya Keisya


",Iya Bu, mereka sudah meminta waktu bertemu dua hari lalu, dan saya jadwalkan hari ini setelah rapat" ucap asisten


"Oke, kamu yang handle ya, untuk orderan atas nama Dimas yang pesan baju seragam keluarga tolong kamu buatkan jadwal untuk bertemu saya tiga hari lagi dari sekarang"


"Baik Bu, kalau begitu saya permisi"


"Iya silahkan"


Keisya kembali sibuk dengan lembaran kertas di depannya tanpa peduli siapa yang tengah datang dan duduk manis di sofa.


"Sayang, makan siang yuk" ucap Hanan sembari membuka majalah design


"Disini aja, aku ada klien setelah ini" kata Keisya tanpa menoleh pada sang suami.


"Lihat sini dulu dong, daritadi loh aku disini nggak kamu perhatikan" seru Hanan


Keisya mendongak dan melihat apa yang sudah tersedia di atas meja. "Haduh ya udah lah kalau udah gini, mana bisa nolak" ucapnya menutup buku lalu beranjak ke wastafel.