
"Jadi bagaimana nak Reno?" tanya tuan Wibowo setelah beberapa saat lamanya mereka saling diam dengan pemikiran masing-masing.
Reno masih bergeming, mengolah benang kusut dalam otaknya menjadi uraian panjang yang bisa menghubungkan kembali kain yang sudah koyak.
Reno menghela nafas panjang, memutuskan sendiri memang sulit, ibarat buah simalakama menolak tak bisa, menerima pun rasanya terlalu sulit. ia tidak yakin Keisya akan setuju apalagi menerima, karena Reno tahu pasti jika gadis itu masih menyimpan perasaan pada kakak iparnya sendiri.
"Saya minta waktu....tuan" ucap Reno pada akhirnya. beberapa menit lalu ia mengubah panggilan Om, lalu sekarang panggilan itu kembali ke tempat semula. Reno menunduk menautkan buku-buku jarinya.
Tuan Wibowo memandang Reno yang menunduk. lalu berucap " Baiklah saya beri waktu tiga hari, setelah kondisi Keisya membaik kalian sudah bertunangan dan setelahnya Keisya harus kembali ke pesantren, dan kamu bisa meneruskan kuliah hingga selesai, om percaya kamu nak Reno ".
"Baik om terimakasih sudah memberi saya waktu, saya akan menemui om tiga hari lagi" ucapnya memandang tuan Wibowo lekat
"Terimakasih nak, om percaya kamu, kalau begitu om permisi karena harus kerumah sakit lagi"
"Apa perlu saya antar om?"
"Tidak perlu, ada supir yang antar"
"Oh baiklah"
***
"Ayah serius mau jodohin Keisya sama Reno?" tanya Kinara dengan tatapan tak percaya pada apa yang ayahnya ucapkan beberapa saat lalu.
Kinara datang ke rumah sakit setelah selesai mengambil nilai semester di kampus bersama Azka. saat baru tiba ia berpapasan dengan ayahnya yang juga baru saja tiba dari rumah kos Reno.
Tuan Wibowo mengajak anak dan menantunya berbicara di ruang kerjanya perihal niatannya menjodohkan Reno dan Keisya.
Azka hanya diam menyimak pembicaraan anak dan ayah itu tanpa mau menyela sedikitpun sebelum ia di mintai pendapat.
"Ayah serius nak, ini wasiat terakhir ibumu yang meminta ayah mencarikan jodoh untuk Keisya jika dia sudah kembali pada kita" tuan Wibowo menunduk menyembunyikan buliran air mata yang akan merembes di kedua matanya.
Kinara menghela nafas berat lalu menoleh pada sang suami yang duduk di sampingnya sembari membaca koran.
"Kenapa?" tanya Azka yang tahu Kinara menoleh padanya. ia tahu apa yang Kinara pikirkan.
"Izinkan ayah melakukan tugasnya Ra" Azka berucap seraya menggenggam tangan sang istri.
"Kamu keberatan nak?" tanya tuan Wibowo setelah mendengar ucapan menantunya pada anak perempuan nya.
"Jujur aku keberatan yah, kondisi Keisya belum pulih, aku takut jika ayah nekat menjodohkan Keisya akan semakin merusak mental nya" Kinara berucap pelan
"Selama satu Minggu Keisya di rawat kamu tahu siapa yang menjaganya setiap malam?" tanya tuan Wibowo pada anaknya
"Maksudnya apa yah?" tanya Kinara
"Bu Fitri yang selama beberapa hari ini menjaga Keisya saat malam, setiap selesai sholat isya Bu Fitri datang kesini dan paginya pulang, bahkan Reno juga tahu itu" jelas tuan Wibowo
"Kak Revan tahu?" Kinara memastikan
"Ya, kakak mu yang memberikan usulan, karena Tante Ratih juga masih masa pengobatan, mertua kakakmu juga sudah kembali ke kampung, Mala sibuk dengan banyaknya pekerjaan di kantor menggantikan Revan sewaktu-waktu begitu juga Vivi yang sibuk di kampus, kamu dan Azka juga sibuk apalagi kamu hamil harus banyak istirahat, jadi kakakmu mengusulkan Bu Fitri untuk menjaganya setiap malam, dan Bu Fitri menyanggupi karena memang Bu Fitri sayang dengan Keisya"
Kinara menutup kedua matanya, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya agar pikiran nya tenang. Lalu, "Aku nggak tahu harus ngomong apalagi ayah, kalau memang itu sudah ayah putuskan, hanya satu yang aku khawatir kan jika suatu saat mereka berdua memutuskan untuk berhenti, apa ayah dan Bu Fitri akan menentang? mereka juga berhak bahagia dengan pilihannya, sudah cukup aku saja ayah yang merasakan jangan Keisya, kami memang di ciptakan kembar tapi bukan berarti karakter kami sama, tetap saja aku dan Keisya dua orang yang berbeda." ucap Kinara mengeluarkan ganjalan dalam hatinya.
"Ayah sudah membicarakan ini dengan Bu Fitri, kami sepakat untuk legowo kalaupun memang suatu saat mereka memutuskan untuk memilih jalan berbeda" kata tuan Wibowo tegas
Ada helaan kelegaan di hati Kinara mendengar ucapan sang ayah. meskipun tak dapat ia tutupi jika kekhawatiran itu tetap ada mengingat kondisi kejiwaan Keisya masih belum sembuh total. apalagi Rena asisten pribadi yang pernah di tunjuk om Denias untuk menjaga Keisya sudah memutuskan untuk berhenti dan tak lama lagi akan di persunting oleh dokter Wawan, adik kandung ayahnya yang seorang duda tanpa anak.
Kinara tentunya tidak lupa peran Rena dalam kesembuhan Keisya selama hampir setahun ini. tapi semenjak insiden memalukan itu terjadi kinara tahu jika Keisya belum sembuh sepenuhnya. kondisi mental nya memang sudah banyak perkembangan tapi pola pikir Keisya masih belum berubah. ia masih melihat segala sesuatu hanya dari satu sisi yang di yakininya saja.
Azka mendongak memandang wajah mertuanya dan sang istri bergantian. ia tahu ini memang berat untuk mereka. terlebih hanya ayah mertuanya saja yang kini mereka miliki. ia juga tahu betul bagaimana mertuanya menghadapi banyak hal setelah kepergian Keisya selama lima belas tahun. dan hal wajar jika ayah mertuanya menginginkan hal ini sebagai wujuh tanggung jawabnya terakhir kali untuk anak gadisnya.
"Ekhem" Azka berdehem memecah keheningan yang tercipta di dalam ruangan itu.
"Semoga ini yang terbaik untuk Keisya ayah, jujur saja saya sependapat dengan Kinara dan karena ayah dan Bu Fitri sudah memutuskan untuk tetap legowo kedepannya, saya anggap itu sangat bijak, kondisi Keisya memang belum sepenuhnya sembuh, dan kalau saya boleh usul, dokter Rahma saya rasa bisa ikut tinggal di pondok pesantren dengan Keisya untuk mengontrol kondisi Keisya setiap saat, dan...." ucapannya terjeda sejenak. lalu "dokter Rahma juga masih muda dan single siapa tahu di pesantren juga dapat jodoh hehehe" Azka spontan. sedetik kemudian ada perasaan malu atas apa yang sudah ia ucapkan.
Tuan Wibowo tersenyum hangat mendengar ucapan menantunya yang sangat bijak. ia tahu sang istri memang tidak salah dalam memilih menantu.
"Terimakasih nak, untuk saran kamu bisa ayah pertimbangkan, sepertinya itu ide bagus juga, ayah akan sampaikan usulmu pada kakakmu Revan dan untuk kalian tahu setelah Keisya benar-benar sembuh ayah akan laksanakan pertunangan Reno dan Keisya sebelum Keisya Kembali ke pondok, ayah hanya ingin ada yang menjaganya meski ayah belum tahu bisa menjadi wali nikahnya atau tidak, umur tidak ada yang tahu nak, ayah hanya ingin menunaikan kewajiban dan juga janji ayah pada almarhum ibumu itu saja." kata tuan Wibowo sedih
Kinara tidak mampu lagi membendung air matanya. jika membahas tentang ibunya hatinya begitu teriris, banyak luka yang ia pendam juga ibunya semasa hidup tapi tak seorangpun tahu hal itu. ibunya yang bijak, ibunya yang selalu mementingkan orang lain lebih dari dirinya sendiri, ibunya yang bahkan nekat mengatur jodoh untuknya sejak kecil, semua itu tidak lain karena rasa takut kehilangan sekaligus merelakan kebahagiaan nya untuk anak-anak nya.
Rasa iba dan sayangnya pada Keisya sebagi seorang adik kembarnya juga melebihi apapun, meski pada awalnya ia begitu kecewa dengan tindakan keluarga yang mengatakan Keisya telah meninggal, pada akhirnya ia tahu itu juga atas permintaan ibunya hanya karena tak ingin melihatnya bersedih sekaligus mengajarkannya untuk bisa menerima kesalahan orang lain setelah mengetahui kebenarannya.
"Apa Reno sudah setuju yah?" tanya Kinara di sela Isak tangisnya.
"Dia masih meminta waktu, ayah memberi nya waktu tiga hari"
"Ayah yakin dia akan menerimanya? ayah tahu kan sejak dulu bagaimana Reno"
"Ayah tahu, ayah suka dengan kepribadian nya yang bertanggung jawab dan sayang pada keluarga meskipun pada sesama teman ia sedikit usil dan jahil itulah keunikan yang ayah suka darinya, ibumu juga menyukai nya itu pasti."
"Baiklah aku setuju, jika memang Reno setuju dan menerimanya"
"Terimakasih nak"