KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 81



"Nan, kamu sudah yakin dengan keputusan kamu mau melamar Keisya untuk ketiga kalinya?" tanya Gus Rohid pada anak bungsunya yang kelihatan gundah beberapa hari ini.


Sebagai orang tua, meskipun sang anak tidak bercerita, Gus Rohid tentunya tahu jika sang anak sedang galau. entah apa yang membuat sang anak justru lebih banyak diam di saat waktu sudah mendekati.


"Bah, apa salah kalau aku berusaha mendapatkan apa yang aku inginkan?" tanya Hanan tanpa menoleh.


"Apa yang membuat kamu bingung le? cerita saja, mumpung ibu mu lagi pergi" tanya Gus Rohid


"aku Nggak tahu bagaimana perasaan Keisya ke aku bah, aku takut kalau dia menerima karena terpaksa, itu nggak akan adil buat Keisya, aku tahu Keisya berusaha membuka diri meskipun dia mungkin masih....." ucapan Hanan menggantung karena rasa sesak yang ia rasakan.


"Mungkin apa nan?"


"Mungkin dia masih mencintai mas Reno" kata Hanan tertahan


Gus Rohid terdiam, angannya melayang pada percakapannya dengan paklik Kardi beberapa waktu lalu saat umi Tin tengah berjuang karena penyakitnya.


"Keisya itu tipe orang yang setia dan susah move on, dia sama kayak bapaknya, memang keponakan ku itu sampai sekarang masih menunggu mantannya, karena Arini sendiri yang cerita ke saya Gus, kalau bukan karena tiap hari di bully dan di rayu terus sama Arini, anak itu nggak akan pernah membuka hati sama laki-laki manapun termasuk Gus Hanan" terang paklik Kardi saat itu.


Gus Rohid mengatur nafasnya berkali-kali, terlihat jelas kegundahan hatinya selama ini soal sikap Keisya yang seperti orang pasrah saja meksipun hatinya seolah menolak.


"Nan, apa kamu sudah sholat istikharah?" tanya Gus Rohid


"Setiap malam bah, yang aku lihat dalam mimpi memang Keisya diam tapi pandangan nya ke arah lain" kata Hanan


"Ya sudah, jangan di paksa dulu, hentikan dulu niatan mu melamar Keisya, mumpung Abah belum bicara terlalu jauh dengan orang tua nya, hati manusia itu hanya Tuhan yang tahu le, Gusti Allah swt yang berhak membolak-balikkan hati setiap hambanya, jangan memaksakan kehendakmu jika tuhan belum meridhoi, berusahalah dengan doa kalau memang dia jodohmu, suatu saat akan ada jalannya kok, kamu yang harusnya lebih sabar dan lebih berusaha lagi, ingat, jangan memaksakan karep" nasihat Gus Rohid


"Bukannya Abah sudah ngomong kalau aku mau melamar?" tanya Hanan


"Abah cuma menanyakan saja, jawaban tetap sama Keisya, kalau nanti tuan besarmu itu pulang ke tanah air, beliau pasti akan memberikan kabar bagaiman keputusan Keisya, kamu yang sabar" ujar Gus Rohid menenangkan sang anak


"Iya bah,. tapi ibu bagiamana?"


"Jangan pikirkan soal ibumu, biar itu jadi urusan Abah"


"Oh iya, aku cuma nggak mau kalau ibu marah lagi seperti dulu bah"


"Sudahlah jangan terlalu dipikirin, ibumu insha Allah baik-baik saja, Abah cuma nggak mau kamu menyesal nan, sebelum semuanya terlambat lebih baik urungkan dulu niat mu, menjauhi sepertinya lebih baik, Abah cuma tidak ingin masa lalu mas mu terjadi lagi pada mu, meskipun mungkin berbeda cerita tapi tetap saja pada akhirnya istrimu yang akan terluka nantinya"


"Iya bah, aku ngerti, aku takut jika terlalu memaksa, Keisya akan merasa terpaksa menerima ku bah, sama seperti Kinara dulu"


"Jangan samakan hidup Keisya dengan kakaknya, mereka lahir dari satu rahim yang sama tapi memiliki kisah hidup yang berbeda nan"


"Maksudnya?"


"Oh ya?"


"Abah tahu tentang keluarga mereka?"


"Lebih dari tahu nan, tapi Abah nggak punya hak untuk bercerita tentang kehidupan Keisya, biar Keisya sendiri yang kelak bercerita padamu, dia memang butuh sosok yang sabar dan mau ikhlas menerimanya, tapi itu lagi, Keisya itu perempuan setia, tidak mudah bagi kamu menaklukkan hati nya" ujar Gus Rohid tertawa sumbang.


"Terimakasih bah, aku tahu harus berbuat bagaimana, aku akan menunggu saja keputusan Keisya"


"Baguslah kalau kamu nurut apa kata Abah"


****


"Ndin, kamu masih marah?" tanya Reno saat mengantar Puput ke kediaman Bu RT. mereka kini sedang berdua di halaman depan melihat ikan-ikan peliharaan pak RT di kolam kecil


"Mas, sebenarnya mau kamu apa sih?" tanya Andin kesal


"Maaf ndin, kalau sikap aku nggak bikin kamu nyaman" ucap Reno merasa bersalah


Andin menghela nafas berat berkali-kali, mendengar ucapan maaf Reno yang terlihat tulus dan menyesal membuatnya harus benar-benar memaksakan untuk berbicara.


"Aku nggak tahu, mau kamu apa dari awal mas, aku tahu kamu mencintai wanita lain dan masih menunggunya sampai saat ini, tapi sikap kamu yang tiba-tiba ngomong kalau aku ini istri kamu di depan dokter Fritz benar-benar bikin aku kayak perempuan nggak bener mas, meskipun memang iya aku dulu mantan pekerja malam, walaupun nggak melayani pelanggan, tapi tetap saja stigma masyarakat ke aku tetap perempuan nakal". terang Andin pelan tapi dengan nada kesal.


"Dokter Fritz keluarga mantan calon tunangan ku, wanita yang aku cintai sampai hari ini" kata Reno membuat Andin langsung menoleh dan tak habis pikir.


"Bener kan dugaan aku, trus kamu jadikan aku alat supaya menutupi kenyataan lain? apa aku ini barang mas?" tanya Andin lirih.


"Maaf ndin, saat itu aku benar-benar shock dan nggak nyangka bakal ketemu dokter Fritz, aku benar-benar nggak tahu harus berbuat apa, aku juga merasa bersalah ndin sama kamu, makanya aku minta maaf" terang Reno


"Trus maksud kamu ngajakin nikah maksudnya apa? buat nutupin kebohongan kamu lagi? apa aku ini barang mas?" tanya Andin kesal dan berlalu meninggalkan Reno sendirian di dekat kolam ikan.


Andin pulang menggunakan motor nya, sedangkan Tante Meri yang sempat mendengar pertengkaran mereka hanya memilih diam dan mengelus dada.


Anak angkatnya ini memang tipe orang yang sulit mengendalikan perasaannya soal perempuan. benar-benar harus di kursusin dulu. batin Tante Meri.


Reno terdiam dengan rasa bersalah di hatinya. sejak awal ia memang sudah salah melangkah, dan sekarang harus menyeret wanita lain yang tak bersalah masuk ke dalam permainan yang ia buat.


Reno menarik gusar rambutnya, keinginannya untuk mempersunting Andin bisa jadi gagal. terlebih lagi ibunya sudah tahu permasalahan ini meskipun tak tahu segala intrik yang terjadi di dalamnya.


"Apa yang harus gue lakuin? kenapa gue jujur soal Keisya ke dia? arrh!!" batin Reno kesal.