KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 76



"Mas jelasin, apa maksud kamu beliin aku cincin ini? tadi kamu bilang kalau kamu bakalan pergi dan lanjut kuliah ke luar negeri, sekarang malah ngasih aku cincin tanpa ngasih aku alasan apapun, jelaskan mas" cecar Andin saat mereka sudah berada dalam mobil.


"Udah kamu pakai aja, kamu simpan sebagai kenangan, aku pergi juga pasti kembali, kamu mau kan nunggu aku kembali?" tanya Reno


"Maksudnya apa mas? aku nggak ngerti sama sekali" ucap Andin semakin dibuat kesal


"Kita nikah"


"What's?"


Andin terbengong-bengong dengan ucapan Reno tentang pernikahan. bagai Dejavu Andin memukul pipinya berkali-kali membuat Reno tertawa gemas karenanya.


"Aku nggak bohong ndin, kita nikah"


"Nikah? jangan bercanda deh, aku tahu mas masih menunggu seseorang disana kan, jadi nggak usah ngaco mas sore-sore" sergah Andin.


"Lihat aku ndin"


"Nggak"


"Ndin, lihat aku"


"Ngapain sih? harus ya?" ucap Andin menoleh menatap Reno dengan rasa tak percaya.


"Kita nikah" ulang Reno yang juga menatap Andin.


Andin melengos keinginan nya untuk bicara menguap seketika. satu Minggu yang lalu Reno mengatakan jika dia istrinya di depan dokter yang merawat Puput, sekarang justru ia mengajaknya menikah tanpa memberikan alasan apapun.


Harusnya ia senang karena akhirnya Reno bisa jadi miliknya, tapi ia juga tahu Reno mencintai wanita lain.


"Mas aku nanya daritadi kamu nggak mau jawab dan nggak ngasih aku penjelasan apapun, apa maksud kamu bilang aku ini istri mu di depan dokter Fritz satu Minggu yang lalu?" tanya Andin kemudian


"aku udah bilang kan, aku nggak bisa jelasin ini ke kamu"


"Kalau emang nggak mau jelasin kenapa malah ngajak aku nikah mas? sedangkan kamu punya pilihan lain. apa aku ini barang yang bisa di di permainkan?"


ciiiit


Reno menghentikan mobil di tepi secara mendadak, benar-benar hal tersulit baginya mengahadapi ego wanita.


Reno menatap jalanan yang memang agak lengang, hatinya benar-benar bingung harus dengan cara apa ia menyampaikan semuanya pada Andin. nyata nya kesalahan di masa lalunya justru malah menyeret wanita tak bersalah itu ke dalam jurang yang ia buat sendiri.


"Ndin, kasih ku kesempatan untuk berubah dan membuka hati untuk kamu" kata Reno akhirnya


"What's? mas pikir aku ini barang apaan mas, aku hanya minta penjelasan kamu waktu itu, atau jangan-jangan kamu memang ada hubungan sebelumya dengan dokter Fritz? keluarga kamu atau keluarga mantan pacar kamu atau apa? jawab aku mas, pliss" ucapan Andin melemah karena saking kesalnya menahan amarah sejak tadi.


Andin hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan, hatinya benar-benar sakit. benar ia mencintai pria di sampingnya itu, tapi ajakan menikah secara tiba-tiba justru menjadi bumerang baginya. andai Reno tidak memiliki wanita lain, bisa saja ia berbahagia, tapi keadaan sungguh berbeda dan tak adil baginya.


"Ndin, maaf, kalau kamu nggak mau jawab sekarang, nggak papa, aku akan menunggu" Kata Reno berusaha menenangkan Andin. tapi bukan ketenangan yang di dapat, justru Andin menangis semakin menjadi-jadi.


Reno akhirnya keluar dari mobil dan memilih duduk di kursi yang ada di bawah pohon. memesan es kelapa dua gelas sembari memainkan ponselnya.


Reno benar-benar menyesal telah menyetujui saran dari Gito semalam untuk menikahi Andin, karena kebohongan yang ia buat di depan dokter Fritz.


Justru karena kebohongan itulah yang membuat ia bingung selama satu minggu, niat hati ingin menghindari Andin agar wanita itu tidak terlalu menaruh harapan besar padanya, justru kini ia sendiri yang menjebak Andin dalam permainan nya.


"Arrh" batin Reno kesal


"Kenapa mas? ada masalah ya? itu pacarnya di mobil nggak di suruh turun? tanya si penjual


"Hem, makasih mas, lagi berantem mas, tolong kasih ke dia ya, kalau saya yang ngasih nanti malah tambah gede ngamuk nya" kata Reno.


"Ya udah yang sabar aja mas, nanti juga baik lagi"


Flashback


satu minggu yang lalu


Reno sampai dirumah sudah pukul satu dini hari, ia langsung masuk ke kamar saking mengantuknya, setelah om Danu membukakan pintu.


Bukannya tidur tenang justru bayangan dokter Fritz saat bertanya padanya soal Andin tadi saat konsultasi, melayang-layang terus di benaknya.


Ia tahu sudah pasti Andin akan bertanya banyak hal jika besok ia harus mengunjunginya kerumah sakit, tapi jika tidak kesana sudah pasti dokter Fritz juga akan menanyakan keberadaan nya dimana pada Andin.karena ia tahu betul bagaimana watak dokter Fritz yang humble pada semua pasiennya.


Keesokan harinya pun begitu Reno hanya datang sesekali saja membawakan bekal makanan dan pakaian ganti untuk Andin tapi hanya sebentar saja setelah itu ia harus pulang sebelum dokter Fritz melihatnya dirumah sakit, selama itu pula Andin juga tak berani bertanya macam-macam karena sikap Reno yang tiba-tiba dingin dan tak mau berbicara jika tidak di ajak lebih dahulu.


Hingga suatu malam Reno meminta pendapat pada Gito saat mereka tengah menyelesaikan studi kasus pada thesis kedokteran yang sedang Gito kerjakan.


"Gua tahu dia cinta sama Lo Ren" ucapan Gito semalam berhasil membuat Reno jungkir balik.


"Nikahin aja, urusan Lo cinta atau nggak, jalani aja, dia tetap jadi istri Lo kalau kalian menikah, mau sampai kapan Lo nunggu Keisya yang jelas-jelas udah nggak ngarepin lo? kalau emang Lo cinta harusnya sejak dulu Lo perjuangin, tapi kenyataannya Lo malah yang mutusin dan Lo pergi tanpa kabar sampai sekarang kan?" serobot Gito sebelum Reno sempat menjawab


"Jadi gue harus nikahin Andin? sama halnya gue nyakitin dia kan to?" sahut reno


"Trus mau sampai kapan lo ngarepin Keisya? kan aneh aja kalau sampai berita Lo udah nikah di denger Keisya dan keluarganya, apa Lo nggak malu kalau harus perjuangin Keisya? nah sampai sekarang aja Lo kabur tanpa kejelasan" timpal Gito.


"Gue nggak mau nyakitin Andin, dia terlalu baik buat di sakitin, dia yatim piatu to, gue nggak cocok sama dia" sanggah reno


"Nggak cocok karena Lo nggak cinta dan ngarepin Keisya atau nggak cocok karena alasan lain heh?"seru Gito membuat Reno akhirnya diam dan merasa kalah beradu mulut dengan Gito.


"Gue bakal ngerasa bersalah kalau sampai ngasih dia harapan palsu to?" kekeh Reno


",Kan udah gue bilang kamvret, urusan Lo cinta atau nggak sekarang itu urusan nanti, yang penting Lo nikahin dulu anak orang, urusan cinta suatu saat kalau kalian ada anak pasti Lo bakalan cinta tanpa Lo sadari, makin lama makin kesel gue sama Lo Ren" oceh Gito kesal.


Flashback end


"Mas, Bu RT nelpon, Puput siuman" kata Andin dari dalam mobil.


Reno langsung menghabiskan sisa es kelapa nya hingga tandas dan memberikan selembar uang biru pada penjual.


"Kembaliannya buat anak istri Abang dirumah" kata Reno langsung bergegas masuk ke dalam mobil.