
Pagi ini Keisya berangkat ke kantor lebih pagi tidak seperti biasanya.
Setalah dua malam berlalu saat ia membuntuti Hanan suaminya menemui Reno, hubungan keduanya belum membaik. Bahkan Hanan lebih banyak membatasi interaksi dengannya.
Saat malam Keisya hanya tidur sendiri tanpa sang suami yang lebih memilih tidur di ruang kerjanya.
Meski begitu Hanan tetap tak ingin membuat anak-anak nya ikut merasakan apa yang tengah orang tua mereka rasakan. Hanan tetap menjadi sosok ayah yang ceria di hadapan mereka meskipun ada Keisya di sampingnya.
Keisya pun begitu, meski sikap Hanan dingin padanya tapi ia tetap melaksanakan tugasnya sebagai istri menyiapkan kebutuhan suami saat berada di rumah.
Keisya masuk ke dalam ruang kerjanya, seorang asisten mengikutinya masuk membawa beberapa dokumen yang ia perlukan untuk kerjasama proyek perusahaan dengan anak cabang perusahaan lain yang mengajukan kerjasama dengannya.
"Bu, boleh saya bicara?" tanya asisten berhijab itu dengan wajah menunduk.
"Boleh, justru pendapat mu juga saya butuhkan, mau ngomong apa?" ucap Keisya lembut
"Begini Bu, kemarin saya sudah bertemu dengan asisten dari pihak perusahaan A, dan maaf Bu mungkin ini memalukan, orang tersebut sempat hampir melecehkan saya sewaktu kami bertemu untuk membahas rencana proyek kerjasama" ucap wanita muda berjilbab coklat itu.
"Maksudnya kamu sempat di lecehkan? Bukannya saya sudah minta untuk pertemuan di ruang terbuka?" tanya Keisya kaget.
"Saya sudah reservasi Bu di teras De' Orion, tapi saat saya tiba disana resepsionis bilang tidak ada yang reservasi tempat itu, dan sudah di reservasi orang lain, saya juga kaget, terus tiba-tiba asisten itu datang dari arah lain dan berbincang-bincang dengan resepsionisnya dan singkat cerita kami ada di ruang VIP, dan di situlah dia hampir melecehkan saya, beruntung ibu sempat mengajar kan saya bela diri saya bisa keluar dari cafe itu dan melapor ke pihak manajemennya justru saya malah yang di salahkan bu" cerita wanita muda itu dengan air mata mengalir
"Astaghfirullah, naudzubillahi min dzalik, ya Allah Una, kenapa kemarin kamu nggak langsung telpon saya atau bapak atau teman-teman kantor? Kamu bisa hubungi Kak Revan atau om Anton kepala reserse? Kenapa malah baru sekarang kamu ngomong? Mulai hari ini kamu saya kasih libur dulu" ucap Keisya pada asisten nya.
"Maafkan saya Bu" ucap Una dengan baju bergetar
"Sudah, masalah ini biar pihak perusahaan yang selesaikan, kamu saya liburkan dulu, kasihan orang tua mu, sudah sakit-sakitan malah kamu Hampir di lecehkan." ucap Keisya memeluk Una dan menenangkan asistennya itu.
"Pagi-pagi pergi kerja niatnya biar healing nggak stres sama mas Hanan malah di kasi ujian tambah berat lagi" batin Keisya mengeluh.
Setelah memastikan Una benar-benar tenang, Keisya langsung menghubungi Kinara dan Azka juga kak Revan, dan sudah meminta asisten suaminya untuk menghubungi Hanan dan meminta mendatangi rapat dadakan karena kasus pelecehan yang di terima oleh karyawan mereka.
Tak perlu waktu lama Azka Kinara juga kak Revan dan Hanan beserta asisten pribadi mereka sudah tiba di ruang rapat pemilik perusahaan.
"Mereka mengajukan kerjasama apa dengan anak perusahaan kita?" tanya Kinara
"Kerjasama untuk pengadaan proyek peluncuran produk baru, mereka siap menyetok bahan baku, kemarin aku sudah atur jadwal pertemuan di D'orion cafe, dan aku udah reservasi di teras satu meja buat pertemuan dengan asisten dari pihak perusahaan A. Nyatanya entah bagaimana mbak Una tiba di sana ternyata resepsionis bilang sudah ada orang lain yang lebih dulu reservasi dan nggak ada yang reservasi atas nama saya, tiba-tiba si asisten dari pihak A entah datang darimana dan bincang-bincang dengan resepsionis nya dan singkat cerita Una di ajak ke ruang VIP yang sudah di pesan perusahaan A, di sanalah kejadian itu terjadi mbak" jelas Kinara mewakili Una.
"Anak buah gue udah kesana setelah Lo nelpon Kei" jawab kak Revan
"Mbak Una maaf, boleh saya bertanya?" tanya Hanan pada Una yang sejak tadi menunduk.
Una hanya mengangguk samar.
"Kemarin saya tidak sengaja lihat kamu di cafe D'orion naik motor bukan naik mobil perusahaan, karena kebetulan kemarin kita searah jadi saya lihat mbak Una turun di depan cafe, dan maaf saya lihat mbak Una di tunggu oleh seorang pria, dan orang itu melakukan kekerasan di depan cafe, bukan begitu? Tolong kasih penjelasan" tanya Hanan menatap tegas pada Una.
"Una jawab" suara bas Revan membuat Una langsung mendongak dan menatap Hanan.
"Benar pak yang bapak lihat, dia mantan pacar saya minta balik berkali-kali tapi saya tolak, saya juga tidak tahu kalau dia ada di sana menunggu saya, saya juga bingung darimana dia tahu kalau saya mau bertemu klien" jawab Una tanpa ragu.
"Fix bisa di cerna, oke lah urusan ini biar gue sama Azka yang turun tangan, kalian beresin aja yang di dalam" ucap kak Revan memutuskan.
"Hanan, kalau ada anak buah saya mengirim bukti cctv, mohon kamu periksa, oke" ucap kak Revan.
"Siap mas"jawab Hanan
"Kinara, untuk perusahaan A coba kamu lihat profil lengkap nya, Kei, kamu telusuri siapa saja yang sudah keluar masuk perusahaan selain karyawan" titah kak Revan.
"Baik kak" jawab Kinara dan Keisya
"Dan mbak Una mulai hari ini dan seterusnya sampai masalah ini selesai, kamu saya istirahat kan dengan kedua orang tua mu di paviliun saya, supaya aman" ucap kak Revan
"Baik tuan, terimakasih" ucap Una.
Kinara dan Keisya hanya mendengus setelah rapat yang mereka lakukan selesai, ini sudah kesekian kalinya mereka mendapatkan masalah di dalam perusahaan, ada seseorang yang berusaha masuk dan mencoreng nama baik perusahaan setelah ayah mereka benar-benar turun tahta dan memilih pensiun dari kegiatan bisnisnya yang sudah ia dirikan sejak dulu.
"Kamu ngerasa nggak sih, kalau masa lalu itu terulang lagi?" tanya Kinara pada adik kembarnya
"Entahlah mbak, aku nggak bisa menerka apa tengah terjadi setelah ayah benar-benar memilih pensiun". Jawab Keisya
"Mbak tidak sepintar kak Revan apalagi sejago mas Azka dan Hanan, tapi mbak bisa mengira kalau ini ada kaitannya dengan masa lalu, entah dari mana, setelah Anthony meninggal hidup kita damai, tapi setelah ayah turun tahta perusahaan seolah ada yang berusaha untuk menggedor-gedor pondasi agar bangunan ini jatuh dan runtuh dan hanya jadi cerita masa lalu di masa depan nanti" kata Kinara panjang lebar.
"sayangnya Insting mu sering kali benar mbak, dan aku salut, aku ngerasa nggak ada musuh tapi entahlah kenapa bisa begini, selalu saja ada masalah internal di dalam perusahaan kita" balas Keisya