KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
26 Bertemu Keisya??



"Tuaaan.... Tuaaaann...." Seorang wanita dengan wajah pucat karna shok berlari masuk kembali ke dalam rumah memanggil tuan rumah yang sedang sibuk menyiangi tanaman di halaman belakang.


"Apa sih mbak? Kenapa lari-lari?" tanya tuan rumah


"It...itu... Ada hantu di depan rumah tuan...." ucapnya dengan nafas masih tersengal


"Hahhaa mbak ini bercanda aja"


"Suwer sambel gedek tuan... Pake jil-jilbab putih tuan..."


"Ahh mbak Asih ngayal deh,yuk ahh saya liat dulu awas ya kalo mbak Asih bohong, mana ada hantu di siang bolong??"ujarnya seraya berjalan menuju pintu utama. Mbak Asih langsung berjalan mengikutinya dengan wajah masih ketakutan.


"Loh Kinar? Kamu...kok gak bilang kalau mau kesini? Ayo masuk.." sapa Pak Pranata ramah saat sudah sampai di pintu utama. "Ini ponakan saya mbak ...dia saudara kembarnya Keisya." tambahnya lagi


"Oo...oh gitu to tuan.. Tap tapi bukannya udah mati ya kembarannya?" tanya Mba Asih


"Hahahh ya udah mba Asih lanjutin aja masaknya, nanti gosong kasian dapur saya kotor." titah pak Pranata di angguki oleh saang asisten.


"Kamu tumben dateng kesini gak ngomong Om dulu? Dan ini siapa?"


"Saya Aldo Om, saya sengaja di tugasin sama bos buat anter jemput mantu kesayangannya."


"Oh ya ya..kemana Azka? Gak ikut?"


"Kerja lagi ada event katanya" jawab Kinara sekenanya.


"Oh gitu..udah lama juga Om gak ketemu Azka. Lain kali ajak dia kesini lah." pinta Om Denis


Aldo melihat sekeliling ruangan dan mata nya tertuju pada sebuah benda impiannya.


"PS5....itu punya Om?" tanyanya dengan wajah berbinar. Om Denis tertawa melihat tingkah Aldo seperti anak kecil.


"Pake aja kalo mau Aldo, itu punya Rafka anak saya yang bungsu, anaknya sementara liburan kerumah omanya di surabaya".


"Beneran boleh Om?". Pak Denis mengangguk tanda setuju. "Yes kalo gini mah gua mau kalau di suruh nganter kesini tiap hari Ra..." tukas Aldo riang. Kinara hanya memutar bola mata jengah melihat tingkahnya.


Mbak Asih datang membawa minuman dan cemilan. Ia masih tampak kikuk dan takut berhadapan dengan Kinara. Setelah menaruh sajian di atas meja ia segera berlalu ke dapur.


"Om gak dapat kabar dari ayah?" tanya Kinara sejurus kemudian. Om Denis diam tak merespon. Ia tahu semuanya dan masih terlalu berat untuk bisa menceritakan semuanya pada ponakan kesayangannya. Di tambah sekarang Keisya sudah berada disini meski kondisi psikisnya belum ada perkembangan baik. Bagaimana jika mereka bertemu sedangkan ia sendiri belun siap untuk bercerita.


"Om kok diem? Om gak ada masalah kan?" tanya Kinara melihat raut muka pamannya seperti ada beban.


"Belum ada kabar dari ayahmu sejak selesai operasi sampai hari ini. Om masih berusaha menghubungi Revan dan Wawan tapi belum ada respon. Kamu yang sabar ya doakan saja semua baik-baik saja. Kamu bisa kan?" ucap Pak Denis berbohong.


"Apa mereka menelantarkan aku makanya nekat nikahin aku sama Azka?"


"Huss kamu ngomong apa sih? Gak ada orang tua yang mau nelantarin anaknya nduk. Jangan mikir macem-macem. Om yakin mereka pasti baik-baik saja di sana."


"Ya setidaknya ngasih aku kabar Om, ini udah hampir 4 bulan aku nikah sejak ayah selesai operasi sampe sekarang gak pernah ngasih aku kabar. Kalau masih gini aku aja yang nyusulin mereka ke sana."


"Gak!! Om gak akan pernah izinin kamu pergi kemana pun begitu juga mertuamu. Kamu amanah dari ayahmu untuk kami. Jadi jangan sekali-kali mikir untuk pergi." ucap Om Denis tegas


"Tapi Kinar butuh penjelasan Om. Kenapa sih susah banget? Kenapa semua harus ninggalin rumah termasuk Mbok Jum yang udah urus aku dari kecil. Mereka juga gak peduli sama aku. Mereka pergi gitu aja Om." ucap Kinara tak tahan.


"Gaaaakk lepaaaaas... Lepaaaassin aku...aku gak mauu.." terdengar teriakan Keisya dari lantai atas. Om Denis langsung berlari naik ke atas untuk melihat kondisi Keisya. Wajahnya tampak panik bagaimana jika mereka bertemu? Apa yang harus aku lakukan? Pikir Om Denis seraya menaiki anak tangga gelisah.


Kinara terkejut mendengar teriakan histeris seperti itu. Suara perempuan. Setahunya anak Om denis laki-laki semua Reino dan Rafka. Apa anak Reino? Tidak mungkin! Istri Reino baru hamil. Rafka tidak mungkin! anak itu masih kuliah semester 4 kalaupun menikah pasti dia tahu. Lalu siapa?? Kinara langsung menyusul keatas di susul Aldo di belakangnya yang juga merasa terganggu dengan teriakan histeris tadi saat ia sedang asyik dengan PS5nya.


Di kamar Keisya Mbak Asih memeluk gadis itu erat sambil menenangkannya. Rupanya ia mimpi buruk. Om Denis sedang menelpon dokter sekaligus psikolog sahabatnya.


Om Denis mengahadap keluar jendela kamar sedang menelpon. Kinara berjalan mendekat. Ia menepuk bahu mbak Asih agar bisa melihat wajah gadis dalam pelukannya itu. Mbak Asih kaget dan takut. "Non... Ja.. Jangan se...sentuh sa..saya. ta..kut!"


"Siapa dia mbak? Boleh saya lihat?" pinta Kinara mengabaikan rasa takut mbak Asih.


"KINAR!! Keluar kamu!" suara bariton di belakangnya terdengar tegas dan membentak. Ia langsung menoleh dan mendapati Om Denis dengan wajah garangnya. Nyalinya ciut. Ia diam tak mampu berucap. Memilih memundurkan langkahnya menuju ke pintu dengan air mata yang langsung menetes tanpa pamit. Apa ini? Om Denis tega membentaknya? Apa salahnya? Apa yang Om Denis sembunyikan? Gadis itu siapa? Aku hanya ingin melihat wajahnya. Apa itu salah?


"Pergi Aldo!! Om mohon pulanglah bawa pulang Kinar sekarang juga!" titahnya pada Aldo yang masih bengong di depan pintu.


"Ba---baik Om aku pulang. Ayo Ra..kita pulang udah mau sore juga, bos papa nyariin loh!" ajaknya menarik ujung jilbab Kinara. Yang di ajak masih bergemingĀ  dengan wajah yang sudah basah dengan air mata. Aldo segera meraih tangan Kinara dan mengajaknya keluar sekarang juga.


Aldo meraih tasnya dan milik Kinara yang tergeletak di sofa lalu keluar rumah masih dengan menggenggam lengan Kinara. Ia membuka pintu mobil untuk Kinara. "Cepetan masuk!" titahnya. Setelah Kinara masuk ia segera memutari setengah mobil lalu masuk ke dalam dan menjalankan mesin.


Om Denis memandang kepergian Kinara dengan hati pilu dari jendela kamar Keisya. "Maafkan Om nak. Aku belum siap mengatakan semuanya sekarang. Maafin Om Kinar. akan ada waktunya Om bisa mengatakan semuanya. Om terpaksa lakukan ini agar tidak membuatmu merasa terbebani." batinnya miris.


------😣


"Ke makam ibu sekarang!" titah Kinara pada Aldo. Aldo segera mengubah arah menuju ke lokasi pemakaman. Ia masih ingat tempatnya karna pernah ikut mengantar jenazah ibu Kinara di makamkan bersama teman-teman sekolahnya.


Tiba di lokasi Aldo dan Kinara di sambut oleh penjaga pemakaman. Aldo membiarkan Kinara menuju ke makam ibunya. Ia tahu Kinara butuh waktu sendiri. sedang ia menunggu di sebuah pondok di depan pintu masuk makam bersama seorang penjaga. "Dek kok gak ikut masuk?" tanya mas Diman


"Enggak mas, dia lagi butuh waktu sendiri biar aku nunggu aja disini." jawab Aldo, sang penjaga hanya manggut-manggut saja tanda mengerti. Mereka bercengkrama cukup lama sampai panggilan telpon mengakiri obrolan mereka.


"Aldo kamu dimana ini udah hampir petang!"


"Lagi di pemakaman bos, udah hampir sejam aku nunggu belum keluar anaknya" jawab Aldo


"Ya udah hati-hati. Jangan ngebut!"


"Sip Bos"


Panggilan terputus. Aldo melihat jam di ponselnya pukul 17.15. Ia melihat Mang Diman sedang mondar mandir tak karuan di depan gerbang. "Dek temennya panggil gih ini udah mau malem loh saya harus pulang!"


"Siap tunggu bentar mang!" ujar Aldo segera melangkah memasuki area pemakaman. Dari kejauhan ia melihat Kinara masih duduk dengan kaki di tekuk dan wajahnya yang tertelungkup.


"Ra...lo tidur? Ayo pulang udah mau malem, mang Diman juga mau pulang tuh!" ajak Aldo. Kinara masih bergeming tak ada tanda pergerakan. Aldo memegang kepala Kinara dan menggoyangkan badannya. Kinara mendongak dengan mata sayu. Rupanya gadis itu tertidur setelah lelah menangis terlihat dari kantung matanya yang membengkak.


"Gendong" ucapnya lirih


"Berdiri" titah Aldo memberikan tangannya. Kinara meraih tangan Aldo untuk berdiri kakinya terasa kram dan sulit untuk berjalan. Aldo membantunya berjalan keluar pemakaman. Mereka pamitan pada mang Diman yang juga akan pulang.


"Besok weekend anter ke galeri ibu jam 10 pagi. Gak boleh telat!" pinta Kinara saat mereka sudah di perjalanan pulang.


"Oke Boss! Azka gak ikut?"tanya Aldo


"Gak perlu ngajak dia." jawab Kinara ketus.


"Ok lah!" sahut Aldo manggut-mangut saja tanda mengerti.


"Besok jangan telat!" pesan Kinara saat mereka sudah tiba di depan rumah. "Wokeeh Sip nyonya!!" sahut Aldo seraya melajukan mobilnya menuju kerumah. Seharian ini sungguh sangat melelahkan terlebih melihat kedua majikannya bertengkar hebat siang tadi lalu kejadian di rumah Om Denis yang masih jadi tanda tanya besar di benak Aldo.


Kinara meletakkan tasnya asal begitu sampai di kamar lalu mengambil baju ganti dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah beberapa menit ia keluar dan turun membantu asisten memasak untuk makan malam.


Tepat pukul 12 malam Azka baru pulang kerumah. Ia segera membersihkan diri setelahnya ikut merebahkan diri di samping Kinara. Ada rasa penyesalan dengan pertengkaran mereka siang tadi. Lagi-lagi egonya lebih mendominasi. Entah kenapa setiap menyangkut nama Rangga ia terpancing emosi. Cemburu? Benar. Namun lagi-lagi ia selalu salah menempatkan sikap.


TBCĀ