KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 9



Prank


Kluntang


Prak


"Aaarrrggg"


"Bu, ibuuu ....",teriak mbak Rasti dari kamar Keisya.


Bulik Sri, Gus Rohid dan Gus Hanif serta bagus yang sedang menyuapi anaknya di dapur langsung berlari ke arah sumber suara.


"Astaghfirullah Keisya..." Bulik Sri langsung berlari ke kamar Keisya dengan wajah panik.


"Kei, wes nduk, wes..." mbak Rasti menangis melihat Keisya nekat mengambil gunting di atas meja rias dan nekat ingin menusuk perut nya menggunakan gunting.


Mbak Rasti memegang kuat lengan Keisya dan berusaha menarik paksa gunting dari tangan Keisya.


"Pergii... lebih baik aku mati mbak"


"Istighfar nduk, uwes sini gunting e mbak pinjam"


"Lepaaasss"


"Nduk, Iki Bulik nduk, ayo pergi ke sawah liat ikan mau ya?" ucap Bulik Sri merayu Keisya.


"Sawah?" ucap Keisya dengan mata berbinar lalu kemudian menunduk lagi dengan wajah sedih


"Nggak, aku nggak mau, nanti di marahin orang" ucap Keisya kemudian dengan kepala menggeleng. setelah diam beberapa menit akhirnya Keisya kembali menangis tersedu-sedu memegang kedua lututnya. pegangan tangannya pada gunting juga akhirnya melonggar dan mbak Rasti meraih lalu menyembunyikannya.


Gus Rohid dan Gus Hanan yang melihat keadaan Keisya merasa teriris, betapa malang nasib gadis tak bersalah ini, keadaan dan kesalahan masa lalu membuat mentalnya rusak sedemikian rupa. entah siapa yang patut di salahkan.


Bagus menggendong anaknya keluar kamar karena sang anak ketakutan melihat Keisya. Gus Rohid mengajak putranya keluar agar ketiga wanita di dalam bisa lebih tenang.


"Bagus Maaf bukannya saya lancang mau ikut campur urusan keluarga mu, tapi melihat sepupu mu tadi saya kasihan, mentalnya hancur" ucap Gus Rohid pada Bagus yang duduk memangku anaknya. mereka memilih duduk di teras daripada di dalam rumah.


"Saya nggak terlalu tahu masalah keluarga pakde saya Gus, yang setahu saya saat mereka datang Keisya memang sudah punya tekanan mental dan itu dari kecil. menurut cerita bapak, anak itu hilang di culik saat umur 3, tahun sama saudara tiri almarhum ibunya. selama lima belas tahun di sekap di dalam rumah dan nggak pernah tahu dunia luar. hidupnya di luar negeri nggak menetap karena penculiknya melarikan diri terus."


"Astaghfirullah coba kamu ceritakan yang kamu tahu saja Gus, siapa tahu saya bisa bantu"


Akhirnya bagus menceritakan yang ia tahu saja soal Keisya tanpa ada yang di kurangi atau di tambah.


"Jadi masalah sekarang ini karena pernikahannya di batalkan sepihak sama calone, trus sekarang mantan calone itu menghilang"


"Nggeh ngoten Gus"


"Sebenarnya kalau dari segi mental itu belum siap dua-duanya ya jangan di paksa, maupun itu berat dengan wasiat, tapi ya seharusnya sejak awal di bicarakan baik-baik nggak perlu di paksakan, saya malah kasihan sama mereka nggak jadi nikah malah dua-duanya bermasalah" tambah Gus Rohid


"Saya juga kasihan Gus, pakde Hadi juga langsung sakit pas dengar pernikahan mereka di batalkan, Kinara saudara kembar nya juga nggak bisa merawat karena baru melahirkan, satu-satunya anak angkat laki-laki pakde Hadi juga sibuk ngurusin dua perusahaan sekaligus,"


"Assalamualaikum eh ada Gus Rohid, dari tadi Gus?" ucap Azka saat baru tiba dari halaman samping


"Waalaikumsalam, loh saya kira sudah pulang mas Azka, masih di sini rupanya" balas Gus Rohid menyambut uluran tangan Azka


"Iya Gus, mungkin besok atau lusa kami pulang ke kota, menunggu jemputan"


"Mas, Keisya ngamuk lagi tuh di dalam,coba sampean samperin dulu" sahut Bagus pada Azka.


"Loh kumat lagi mas Bagus?" tanya Azka terkejut.


"Iya baru saja"


"Ya sudah saya ke dalam dulu" Azka berlalu meninggalkan ketiga pria itu di teras.


"Bulik, mbak, Keisya kenapa lagi?" tanya Azka di depan pintu kamar


"Barusan nekat bunuh diri lagi" ucap Bulik Sri sembari mengusap lembut kepala Keisya.


"Ssst" mbak Rasti memberi kode Azka untuk diam. "Yuk ikut, bapak mana?" tanya mbak Rasti menarik lengan Azka keluar.


"Pakde di belakang langsung mandi kayaknya mbak kenapa?"


"Kapan datang orang suruhan pakde Hadi? tadi pakde Denias nelpon sudah di perjalanan dari Surabaya bawa dokter psikolog katanya" ucap mbak Rasti


"Oh ya, kok nggak nelpon aku mbak,"


"Kamu bawa hape? nelpon di nomornya ibu tadi".


"Oh iya aku lupa tadi nggak bawa ikut pakde ke kebun"


"Yo wis mbak masak dulu, Keisya biar tidur sama ibu untuk sementara, dah kamu ke depan dulu"


"Iya mbak"


***


"Sama mama, ada suster Ema dan yang lain kok ayah, kak Revan mana?"


", Nganter mbak mu beli keperluan di minimarket depan, kamu sendiri?"


"Sama sopir, maaf yah baru bisa jenguk".


"Nggak papa, anak-anak sehat kan?"


"Alhamdulillah sehat semua"


"Apa Azka sudah ngasih kabar?"


"Sudah, om Denias juga sudah di perjalanan kerumah Bulik Sri, ayah yang tenang ya, nggak usah banyak pikiran"


"Ayah merasa bersalah nak, Reno dan keluarganya pergi entah kemana, rumah mereka kosong sejak dua hari lalu, Reno juga pergi setelah malam itu menemui Keisya"


"Iya aku sudah tahu yah, mas Azka sudah meminta anak buahnya untuk mencari Reno, ibu dan kedua adiknya, ayah nggak usah banyak pikiran, dari awal kan ini maunya ayah bukan mereka, jadi ayah nggak perlu merasa bersalah begitu, bukannya dari awal ayah sama Bu Fitri sepakat untuk legowo kalaupun pada akhirnya mereka batal menikah"


"Kamu benar nak, seharusnya ayah fokus dengan kesehatan mentalnya Keisya bukan malah merongrongnya untuk menikah, ayah salah"


"Sudah, semua sudah terjadi, kita yang harusnya legowo ayah"


"Kamu benar ayah harusnya legowo"


"Tuh kan"


****


Setelah sholat isya Gus Rohid memenuhi janjinya pada pakde Kardi sore tadi bahwa akan membantu Keisya untuk melakukan ruqyah lebih dahulu sebelum kembali ke kota.


Tuan Denias juga sudah tiba ba'da magrib tadi bersama dokter Fritz yang memang sudah pindah tugas ke Surabaya mengikuti tempat tugas istri nya yang baru saja lulus PNS.


Mereka berkumpul di ruang tamu membicarakan perihal Keisya, dan alternatif pengobatan yang akan di berikan demi kesembuhan Keisya juga pendampingan spiritual agar jiwa dan hati Keisya terbuka dan lebih mengenal sejati dirinya.


"Saya manut sama persetujuan keluarga mawon paklik, kalau mau di lakukan ruqyah terlebih dahulu saya siap kapan saja" ucap Gus Rohid


"Saya menurut baiknya mas Pran wae piye penak e, soal e Iki wes darurat, penanganan juga sepertinya nggak butuh waktu sehari dua hari tapi bertahun-tahun" tambah paklik Kardi menunjuk tuan Denias sebagai wali Keisya dari pihak almarhumah nyonya Amina.


"Ya usul saya yang tadi, ruqyah ndisek, setelah itu biar Fritz yang mendampingi pengobatan secara psikis, tetapi tetap saja Keisya butuh pengawalan kemanapun dia pergi, saya kira Azka sudah punya calon pengawal" balas tuan Denias menunjuk Azka.


"Tau darimana om?" tanya Azka heran karena sejak tadi ia belum mengatakan apapun.


"Itu urusan ku, lha bagaimana calon pengawal yang kamu tunjuk, mau tidak? ini menghadapi satu orang tapi seperti mau perang dunia ke tiga" seloroh tuan Denias diikuti tawa ringan yang lainnya.


"Gimana mas Hanan, penawaran saya tadi pagi masih berlaku tanpa masa Expired" tanya Azka pada Hanan yang duduk di kursi seberang di samping sang ayah.


"Loh ini kok anak saya di tunjuk mas Azka?" Gus Rohid terkejut mendengar pertanyaan Azka pada putranya.


"Begini Gus maaf, tadi saya meminta kesanggupan mas Hanan jadi bodyguard Keisya sekaligus guru spiritualnya, nanti akan ada istri saya juga yang menjadi pengawal pribadi Keisya saat di rumah" terang Azka


"Oh begitu saya terserah anak saja mas, karena dia yang akan menjalani, apalagi sampean kan atasannya jadi apapun itu saya tidak berhak mencampuri, saya hanya bisa mendukung dan mendoakan semoga anak saya bisa amanah menjalankan tugas" balas Gus Rohid


"Terimakasih Gus atas kebijakannya, jadi gimana mas Hanan bisa kan?"tanya Azka pada Hanan sekali lagi.


"Insha Allah sanggup" jawab Hanan mantap menatap mata Azka dengan pandangan tajam.


"Terimakasih mas Hanan mulai malam ini sudah menjadi tugasnya sampean"


"Tapi saya nggak tidur disini juga kan ya?" Seloroh Hanan


"Hahahahaa" semua tertawa mendengar ucapan Hanan.


"Nanti di Jakarta saya akan tambah satu pengawal perempuan untuk Keisya, jadi kemanapun Keisya mau pergi nggak menimbulkan fitnah" ujar Azka menambahkan.


"Siapa Ka, jangan bilang mama kamu" sahut tuan Denias menebak


"Tuh tahu, siapa lagi yang pantas kalau bukan mama, emang istri om mau?"


"Bisa yang penting bayarannya" balas tuan Denias


"Hahahaha "


"Om... om masih aja melawak, om kan banyak duit, masa masih mau di bayar"


"Nggak ada yang gratis jaman sekarang ya kan Gus?"


"Hahahahaa" semua tertawa mendengar celotehan tuan Denias.