KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
85 Gurauan Pagi



"Kamu kenapa?" tanya Azka yang melihat Kinara dengan wajah cemberut nya keluar dari kamar mandi. yang di tanya hanya diam saja tanpa berminat untuk menanggapi.


Azka memilih diam saja setelah tidak mendapatkan respon dari sang istri. mereka akhirnya larut dalam ibadah menghamba pada sang pencipta langit dan bumi beserta isinya. udara dingin yang menembus ke tulang tidak membuat semangat mereka buyar untuk melaksanakan ibadah.


Setelah sholat subuh Kinara ikut nimbrung di dapur bersama Safira dan Umi Aisyah untuk membuat sarapan. Meski tidak di izinkan untuk ikut bertempur dengan peralatan perdapuran Kinara hanya duduk manis sambil bercerita dengan umi dan Safira.


"Jadi nak Kinar sudah lama menikah?" tanya umi Aisyah hati-hati takut jika menyinggung perasaan tamunya yang merupakan anak konglomerat.


"Iya umi, kami di jodohkan karena wasiat dari almarhum ibu, saya juga nggak tahu menahu soal perjodohan ini pada awalnya karena semua orang tua yang mengatur jadi saya hanya ngikut alur saja"


"Jalani saja dengan ikhlas Insha Allah akan indah ada waktunya, kita manusia hanya bisa pasrah dengan apa yang sudah Allah SWT tentukan, jika memang pilihan hidup nak Kinara memang sudah seperti itu, berarti nak Kinara yang harus bisa legowo"


"Iya umi, makasih nasihatnya. Insha Allah saya sudah lebih ikhlas sekarang umi, semoga saja ini jalan takdir kami sampai di akhirat"


"Amiiin, ini di minum dulu teh hangat nya nak, biar agak enakan, soalnya perjalanan jauh biasa gampang masuk angin"


"Iya umi makasih, mba Safira ngajar di pesantren juga ya?"


"Iya mbak, saya di amanahi Abah untuk menggantikan posisi beliau karena Abah sudah mulai sakit-sakitan" ucap Safira


"Terus kalau adeknya mba Safira ngajar juga di pondok?"


"Baru lulus Madrasah Aliyah mbak"


"Oh, jadi mau lanjut kuliah lagi?"


"Nggak tahu juga mbak, anaknya masih mau khatamin hafalan Al-Qur'an nya dulu katanya buat masuk ke Al-Azhar Mesir."


"Wow hebat, subhanallah"


"Umi sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan saja nak Kinar, apapun yang menjadi keinginannya, jangan sampai kita sebagai orang tua malah nyakitin anak tanpa di sadari jika terlalu banyak keinginan pada anak"


"Betul juga umi, kebanyakan orang tua terlalu banyak menuntut pada anak untuk melakukan apa yang mereka inginkan tanpa pernah mempertimbangkan imbasnya pada kondisi psikologis anak. karena pada dasarnya setiap anak punya hak untuk berbicara dan menentukan sendiri masa depannya dengan dukungan moril dari orang tua"


"wah nak Kinar bicara nya kayak psikolog aja, umi kagum dengan pemikiran nak Kinar, sudah pasti almarhum ibunya orang cerdas ya"


"Hehehehe umi kalau muji ketinggian ah, saya mah biasa aja, takut jatuh loh nanti sakit"


"Hahahah bisa aja kamu nak"


Sementara itu Azka dan Abah Ramli terlibat perbincangan hangat di teras rumah sembari menikmati teh hangat dan seppiring pisang goreng dengan parutan coklat keju serta lumuran susu kental manis.


"Jadi dek Azka masih sepupu jauh dari pak dokter?" tanya Abah Ramli


"Iya bah, sepupu dari keluarga mama, saya juga nggak terlalu faham sanak famili dari mama karena beliau sudah yatim piatu sejak kecil hanya ada keluarga angkat dan satu saudara dari mendiang neneknya mama, itupun mama saya tidak pernah tahu dimana keberadaan nya entah masih hidup atau sudah meninggal."


"Wah, rumit ya, apa dari kecil memang sudah hidup di Jerman?"


"Papa saya blasteran Jerman-Indonesia, kakek saya asli Indonesia nenek asli Jerman, kalau mama saya nggak tahu asli Jerman atau blasteran karena wajah mama setengah timur tengah setengah kebaratan."


"Hahah kamu ini ada aja bahasa nya, saya jadi bingung juga dek"


"ajarin bahasa Jawa dong bah, aku kadang bingung kalau pas ketemu mertua di ajak bahasa Jawa cuma melongo kayak cacing kepanasan nggak tahu apa yang di omongin."


"Hahahaha aduh duh pagi-pagi udah bikin perut Abah kenyang ketawa kamu ini" ujar Abah Ramli


"Abisnya emang bener sih bah omongan saya"


"hahaha udah nanti minta ajar sama si Rizal saja lah, kalau anaknya udah pulang murojaah di pondok, Abah nggak bisa ngajarin malah yang ada ketawa mulu"


"Hahahaha"


Safira tersenyum melihat keakraban Abah dan Azka, sudah sejak lama ia tidak melihat Abah tertawa bahagia seperti pagi ini. rupanya kedatangan tamu mereka dari kota membawa atmosfer bahagia untuk Abah.


"Kenapa mbak?" tanya Kinara yang ikut nimbrung di belakang Safira


"Nggak papa seneng aja lihat Abah tertawa lepas"


"Anak itu emang gitu orangnya mbak, mungkin karena itu juga ayah saya sayang sekali sama dia, orangnya humble meskipun kadang menjengkelkan" ujar Kinara


"Hehe iya mbak maaf"


"Ya udah tolong kamu panggilkan mereka untuk sarapan"


"Om bule kemana ya mbak?"


"Masih di pondok mungkin, sama Sofia anak kami bentar lagi juga pulang"


Tak lama Dokter Fritz datang dengan seorang gadis kecil berusia dua tahun diikuti oleh seorang remaja seumuran Azka yang menaiki motor matic.


Rizal putra ketiga Abah Ramli dan umi Aisyah yang baru saja lulus madrasah Aliyah.


"Assalamualaikum Abah,"


"Waalaikumsalam, kamu darimana nak?" tanya nya pada Sang menantu


"Baru pulang sowan sama pak kyai di pondok bah, sudah semalam beliau menghubungi saya pengin ketemu katanya" ujar dokter Fritz.


"Pengen ketemu karena kangen sama stetoskop dan jarum suntik hahah" kelakar Abah


"Abah ini sama mas nya sendiri selalu bagitu" sahut Umi Aisyah yang tiba-tiba sudah muncul dari balik pintu utama


"Eh umi, hehehe"


"Abah apanya pak kyai umi?" tanya Azka yang penasaran dengan ucapan Umi Aisyah


"Adik kandung satu-satunya laki-laki, pak Kyai itu anak pertama, Abah anak ketiga dan anak kedua itu Bu nyai Humairah tapi nggak disini tinggal nya,"


"Ooh gitu, tapi Abah kok nggak seperti kyai ya, malah kayak konglomerat aja penampilan nya." celetuk Azka


"Ahahha Abah emang konglomerat, nanti kita ke Empang lihat-lihat ikan peliharaan Abah di sana"


"Apa hubungannya Empang sama konglomerat bah?"


"hahahaha" semua tertawa mendengar ocehan Azka


"Abah itu konglomerat empang disini, hasil Empang ya sampai di ekspor ke diluar negeri juga loh" timpal Safira


"Iya kah??" ucap Kinara terkejut


"Wah boleh dong bah cobain mancing di Empang"


"Boleh tapi nggak gratis"


"Ini mah Abah modus, bilang aja suruh nyeserin sendiri ikannya masuk di Empang" timpal Rizal


"Hehehehe"


"Wahh bakalan dapet pengalaman baru tuh kalau gini"


"Emang nggak pernah masuk ke empang?" tanya Rizal


"Mana ada CEO masuk ke Empang apalagi nyeserin ikan 🐟 di sana Zal" seloroh Dokter Fritz


"Wah, kamu CEO ya? hebat bener masih muda belasan tahun udah jadi bos"


"Iidih jangan percaya omongan si bule, kebanyakan ngibul nya itu"


pletak


"Sejak kapan gue beralih profesi jadi tukang kibul?"


"Sejak Lo bawa gue kesini lah"


"hahahaha"