KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 58



"Assalamualaikum" ucap Keisya di depan pintu rumah berkali-kali


"Waalaikumsalam" tapi jawaban itu berasal dari wanita tua di sebelah rumah ayahnya


"Loh mbok Yem? ayah ku belum datang ya?" tanya Keisya melihat mbok Yem memegang kunci rumah


"Iya nduk, pak Hadi belum datang, sampean sama siapa?" tanya mbok Yem melihat sekeliling Keisya


"Naik taksi tadi mbok, tapi taksinya kerumah Bulik Sri nganter mas Bagus sama istri dan anaknya juga Arini" ucap Keisya


"Lah kenapa nggak sekalian turun di sana aja nduk, sampean sendiri disini emangnya berani? ini rumah besar sekali loh nduk" ucap mbok Yem khawatir


"Hem, iya sih harusnya tadi aku turun kesana aja ya mbok, ku pikir ayah sudah sampai rumah, aku juga lupa nggak ngisi bateri hp" ucap Keisya duduk di atas teras.


"Nginap di rumah saya saja ya nduk, kebetulan ada cucu saya Lina itu datang dari kota"


"Emm boleh lah mbok, daripada dirumah sendiri, tapi ini barang-barangnya saya di masukin ke dalam dulu ya,"


"Bisa-bisa, ayo mbok bantu, ini sudah jam delapan malam tumbenan juga jalanan masih ramai, berarti orang hajatan di lorong sebelah belum selesai" ucap mbok Yem sembari mengangkat koper Keisya.


"Sini tak buka pintunya mbok" ucap Keisya meminta kunci rumah.


"Oh iya-iya ini" sembari memberikan kunci rumah pada Keisya.


Keisya membuka pintu dan menyalakan lampu rumah seluruh ruangan, pemandangan gelap adalah hal yang menyakitkan baginya selama ini. beruntung selama tinggal dengan sang ayah, tak pernah sekalipun ayahnya komentar untuk hemat listrik karena lampu menyala sepanjang malam.


"Ini disimpan dimana nduk?" tanya mbok Yem


"Oh astaghfirullah kenapa di angkat mbok, biar saya aja, ini berat loh" ucap Keisya meraih koper dari tangan mbok Yem.


"Tak kiro lak enteng mau nduk, abot tenan tibakne hehehe"


"Ahh mbok yang ada-ada saja, tunggu sebentar ya aku nyimpan ini di kamar."


"Iya, mbok tunggu di sini" ucap mbok Yem duduk di kursi ruang tamu.


Setelah beberapa saat menunggu, Keisya datang menenteng tas ransel berisi pakaian gantinya beserta kebutuhan penting lainnya, hanya beberapa lembar sisa uang tunai ia bawa, selebihnya tersimpan di atm dan ia simpan di dalam celana panjangnya.


"Bawa apa itu nduk?"


"Yang di tas ini baju ganti ku mbok, yang di kresek putih ini oleh-oleh dari kota Y buat mbok sama cucunya"


"Ya Allah merepotkan sekali nduk, ini banyak sekali"


"Nggak papa mbok, bagi-bagi rejeki"


Keisya menutup kembali pintu rumah tanpa mematikan semua lampu kecuali lampu kamar nya ia ganti dengan lampu tidur.


"Lina cucu mbok yang di Jakarta itu ya? yang katanya kuliah?" tanya Keisya mengikuti langkah pendek mbok Yem.


"Kenapa mbok nggak mau ikut ke Jakarta juga?"


"Nggak lah, lebih enak hidup di desa, dulu mbok pernah kerja di ibu kota tapi setahun langsung pulang karena nggak di gaji sama sekali, bosnya peliit sekali" cerita mbok Yem mengenang masa mudanya dulu


"Masa sih mbok, trus mbok pulang?"


"Mbok nggak langsung pulang, tapi kabur diam-diam trus ketemu almarhum suami saya di terminal di ajak pergi kerja di tempat bosnya, Alhamdulillah dapat bos yang baik, tiga tahun kemudian baru saya nikah, tapi setahun setelah nikah saya dan suami tiba-tiba di kasih tanah dua hektar di desa ini, sawah sama rumah yang saya tempati ini, tapi sebulan kemudian majikan saya meninggal karena perusahaannya tiba-tiba bangkrut di sabotase sama musuhnya, akhirnya kami pulang membawa semua surat-surat pentingnya sesuai wasiatnya saat kami diberi tanah dua hektar"


"Trus surat-surat penting itu mbok simpan sampai sekarang?"


"Iya ,nggak ada yang tahu kecuali saya sama almarhum, anak saya cuma satu ya bapaknya Lina itu, dia kerja di kota jadi pemulung, dia juga taunya saya ngontrak tanahnya orang di sini, padahal ini milik kami semua"


"emm gitu, kita udah sampai mbok, itu siapa di dalam rumah kok rambutnya panjang?" tanya Keisya yang takut melihat wanita berambut panjang.


"Oalah...Lina ... Lina .." panggil mbok Yem kesal melihat cucunya bertingkah seperti itu.


"Ono opo mbok?" tanya Lina menoleh dengan wajah tertutup masker hitam


"Astaghfirullah" Keisya berteriak ketakutan


"Bocah ediaan, nyapo Kon macak koyok kuntilanak ngunu wi Lina...ndang salen, anak e bos ape nginep, Ojo kurangajar Kon" mbok Yem memarahi Lina.


Keisya masih berdiri dengan kedua tangan menutup wajahnya saking takut melihat cucu mbok Yem seperti hantu.


Keisya masuk ke dalam rumah di papah oleh mbok Yem. beberapa saat kemudian Lina selesai mencuci muka dan berganti baju lalu keluar menemui tamu tetangga sebelah rumah neneknya.


"Astaghfirullah Ki...Kinara?" kata Lina terkejut melihat Keisya.


Keisya tersenyum sekaligus terkejut mendengar nama saudara kembarnya di sebut.


"Kamu kenapa disini Ra?" tanya Lina sekali lagi


"Saya Keisya mbak, bukan Kinara mbak salah orang" ucap Keisya membuat mbok Yem juga bingung


"Kamu tuh jangan ngaco Lin, ini Keisya anaknya pak bos tempat mbok kerja bersih-bersih, piye toh Kowe Ki"


"Ah...kamu Kinara nggak usah berlagak nggak kenal, kita satu kampus dan kamu adik junior, apa karena kesalahanku kamu sekarang begini mau balas dendam?" tuduh Lina membuat Keisya langsung melongo.


"Oh, pasti mbak kira aku mbak Kinar kan? saya Keisya kakak kembarku namanya Kinara"


"What?"


"Opo?"


Mbok Yem dan Lina sama-sama terkejut mendengar ucapan Keisya.