
Dua setengah tahun berlalu, hari-hari yang di jalani Keisya di kota tempat ia menimba ilmu terasa biasa saja, karena ia sibuk dengan banyaknya agenda perkuliahan dan juga jadwal show belum lagi masih harus mengurus butik yang masih di pegang kakaknya.
Karena padatnya aktivitas membuat ia menjadi wanita muda yang gila kerja dan energik, tak waktu buat bersantai-santai tanpa membuahkan karya.
Di sela kesibukan ia masih tetap murojaah bersama Arini di saat mereka sudah pulang dari kampus meskipun terkadang tidak bersamaan.
Jadwal kuliah Arini yang memang berurusan dengan dunia kesehatan membuat ia terkadang harus pulang larut malam untuk menyelesaikan tugasnya.
Keisya juga sudah semakin banyak perubahan semenjak duduk di bangku kuliah. banyaknya intensitas pertemanan dengan banyak orang membuat ia bisa mengenal karakter orang lain dengan mudah.
Meski begitu Keisya tetaplah menjadi sosok yang pemilih kepada siapapun. meski di kampus di kenal gadis yang ramah dan cantik tapi Keisya juga dikenal sebagai sosok yang lebih banyak menutup diri. Keisya hanya berbicara seperlunya saja dengan siapapun.
Karena itulah Keisya lebih suka menyibukkan diri dengan segala aktivitas yang positif meski di waktu libur.
Karena kecintaannya pada dunia fashion dan desain membuat Keisya perlahan-lahan mulai melupakan sosok Reno yang bersemayam di hatinya.
Tiga setengah tahun lebih sudah mampu membuat ia melupakan semua kenangan pahit tentang Reno yang pernah sangat ia harapkan setelah tragedi perpisahan mereka saat itu.
Keisya sudah tak mau lagi mengingat apalagi berharap apapun pada Reno yang nyatanya tak pernah mengabulkan harapan nya selama ini.
Perlahan Keisya membuka hati lagi karena gerah dengan ceramah Arini yang terus menerus menuntut nya untuk mencoba menerima Hanan yang sudah sangat lama menantikan dirinya.
Keisya tak dapat menampik pesona Hanan yang memang menjadi sosok laki-laki idaman semua wanita. sikapnya yang lemah lembut pada wanita dan mampu menjaga diri itulah yang membuat Keisya perlahan-lahan mau membuka hati kembali.
Dan setahun yang lalu Hanan kembali melamarnya saat pria itu baru mau memulai melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
Keisya tak dapat lagi menolak, namun ia memberikan alasan yang lugas dan memilih berteman saja dan saling mengenal satu sama lain terlebih dahulu.
Keisya masih harus menata hati yang sudah tertutup rapat dengan satu nama meski di setiap doa-doa nya ia berharap pria itu datang, tapi justru pria lain yang tidak ia harapkan berulangkali datang padanya.
Hanan setuju saja karena memang ia mengerti jika melupakan orang yang pernah mengisi hati itu terlalu sulit. Hanan hanya berharap jika pertemanan mereka suatu saat akan mendapatkan jalan terbaik.
"Kita berteman saja sepertinya lebih baik mas, saya belum mau membuka diri, maaf, lebih tepatnya belum ingin menjalin hubungan dengan siapapun kecuali jika saya sudah siap untuk menikah, saya masih ingin fokus dengan karir dan kuliahku yang harus selesai secepatnya" kata Keisya kala itu.
Namun siapa sangka enam bulan kemudian setelah Hanan melamar, umi Tin jatuh sakit dan harus bolak balik menjalani perawatan dan kemoterapi.
Tanpa di sangka oleh Keisya doanya beberapa tahun lalu saat bertemu umi tin di warung Bu Sabar akhirnya di ijabah oleh Allah.
Umi tin datang mengunjunginya di kota Y dan meminta maaf serta merestui Hanan menikahi Keisya jika suatu saat mereka memang di takdir kan berjodoh.
Sejak saat itu hubungan nya dengan Hanan semakin baik berkat umi Tin yang sudah memberikan lampu hijau. Keisya tetaplah Keisya yang memegang teguh prinsip nya.
Meskipun Hanan sering menemaninya saat ada fashion show di luar kota berkat permintaan Kinara dan ayahnya, Keisya tetap mengingatkan Hanan jika hubungan mereka masih sebatas teman saja.
Pernah suatu saat Hanan marah karena Keisya selalu mengulangi ucapan yang sama, bukannya Keisya semakin simpati justru sebaliknya Keisya mengatakan pada Hanan kalau ia tak suka dengan pria yang pemarah.
Hanan lagi-lagi harus mengelus dada menghadapi sikap tegas Keisya yang tak pernah kenal ampun dengan siapapun.
"Kei, liburan semester mau pulang kampung?" tanya salah satu teman sekelasnya.
"Wihh, aku rencana mau ke kota J juga sih, jenguk nenek disana kalau nggak ada halangan"
"Oh kabarin aja kalau kamu udah disana, nanti kita hang out bareng"
"Beneran? seorang Keisya mau ngajakin aku hang out? oowh sebuah keajaiban" Seloroh wanita bertubuh tinggi itu.
"Biasa aja kali, okelah aku duluan bye"
"bye bye"
***
"Ren, hari ini direktur mau lihat lokasi proyek kita, kamu ada jadwal sampai besok?" tanya om Danu saya mereka sedang ada di taman belakang
"Jam berapa?"
"Hari ini agak siangan, tapi besok pagi"
"Bisa, tapi aku izin kepala madrasah dulu om, karena hari ini anak-anak semester dan aku kan masih baru enam bulan ini ngajar disana, nggak enak kalau mau minta izin terus"
"Kamu panitia semester?"
"Kebetulan bukan, ada jadwal mengawas"
"Oh ya udah, nanti kamu bicara sama pak Yunan dulu kalau begitu, mudah-mudahan di izinkan"
"Iya..."
"Om Leno....om Leno.... ada ante Andin di depan" teriak Angel yang sampai sekarang masih saja cadel jika berbicara, padahal usianya sudah enam tahun.
"Iya, suruh nungguin dulu sebentar" kata Reno seraya menyimpan kembali cangkul di samping rumah.
"Ren..." panggil om Danu saat Reno hendak pergi ke kamar mandi.
"Iya Om?" tanyanya menoleh.
"Jangan terus-terusan di biarkan perempuan itu datang kesini, nggak enak sama omongan tetangga, kalau kamu serius, cepat di nikahin aja" ucap om Danu membuat Reno tersentak
"Maaf om, kalau om ternyata nggak merasa nyaman, nanti say bilangin Andin biar nggak usah kesini lagi"
"Iya, maaf ya Ren, soalnya om pernah di tanyain tetangga soal perempuan itu, ada gosip miring yang om dengar, makanya om khawatir kamu kena imbasnya"
"Oh iya terimakasih om sudah di ingatkan, nanti saya akan bicarakan dengan Andin".
"Ya udah kalau gitu, Dah sana cepat udah di tungguin"