
"Ini udah ketiga kalinya Lo bikin masalah sama gue, Lo lemparin gue batu,ngotorin baju gue pake genangan air yang becek, sekarang Lo nabrakin gue ke dinding, sebenernya gue salah apa sih sama Lo Hah?" ucapnya lantang karena saking kesalnya melihat wajah Reno yang sudah ketiga kalinya membuatnya apes.
"Ya maaf gue nggak sengaja, bener nggak sengaja, gue bakal tanggung jawab"
"Andin ada apa sih, jangan bikin malu" ucap salah satu pegawai yang tadi mengantar Azka masuk ke dalam gerai. wanita itu langsung memeluk gadis bernama Andin dan mengajaknya masuk keruang pegawai.
"Reno?" panggil Azka di depan pintu ruangan
Perhatian Reno teralihkan pada panggilan Azka di balik pintu. Reno langsung berjalan menemui sahabatnya dan masuk ke dalam gerai dengan wajah yang datar.
"Kinara mana?"
"Itu tidur di sofa, darimana Lo?"
"Dari rumah ibu, nganterin tiket pendaftaran si kembar turnamen basket nanti"
"Oh, adik-adik Lo ngikutin jejak Lo ya sekarang, duduk dulu, gue mau bayar ke kasir" ucap Azka seraya membelai kepala Kinara yang tertutup hijab lalu pergi ke kasir membayar belanjaan.
Reno menarik nafas dalam-dalam, memandang wajah lelap Kinara yang tertidur. "Gue hanya berharap Lo bahagia Ra, Lo bisa Nerima kenyataan dan gue belajar banyak dari Lo, terimakasih sudah hadir dalam hidup gue meski bukan gue yang ada di samping Lo, doakan gue dan Keisya bisa bersama sampai maut memisahkan, meski gue belum yakin" batin Reno sendu.
Azka berjalan menghampirinya bersama seorang pegawai wanita.
"Ini belanjaan nya biar saya bawa ke mobil pak?" tanya pegawai ber-nametag Syifa yang tadi membawanya masuk.
"Oh iya terimakasih banyak mba, sebagian biar dibawa temen saya, saya angkat istri saya dulu ya"
"Buset, ini Lo mau pindahan atau beli toko nya sekalian buat di pindahin kerumah Lo?" seru Reno terkejut dengan banyaknya belanjaan Azka padahal hanya baju bayi.
"Ssst diem ntar marah nyonya gue, cepetan bawa" titah Azka dengan nada pelan
"Ampun, mbak panggil satu orang lagi deh buat bawa ini semua, masak iya mau bolak-balik ke dalem" sahut Reno pada Syifa.
"Iya mas, tapi bawa ini dulu nanti di luar biar saya panggil temen saya"
"Nah itu siapa mbak, masih ada orang kok" ucap Reno menunjuk seorang kasir dan seorang pegawai yang tengah membawa stok barang.
"Mereka tugasnya disini, nggak boleh di ganggu, udah bawa aja mas"
"Ya udah deh"
Reno dan Syifa membawa barang-barang tadi keluar dan memasukkan ke dalam bagasi mobil.
"Ck, besok-besok pesen mobil pickup yang bisa ngangkut bangunan sekalian Ka" seru Reno pada Azka yang sedang mendudukkan Kinara di kursi penumpang.
"Ck, ini diluar ekspektasi gue Ren, tadinya gue cuma mau belanja dikit doang karena dirumah juga udah banyak, tapi Kinara tetep ngeyel" ujar Azka dengan raut sedikit kesal dan capek bercampur jadi satu.
"Hahaha sabar aja lah, lagian katanya anak Lo kembar, maklumi aja lah"
"Capek gue debat Mulu daritadi, beruntung ada Syifa yang jadi penengah" cerita Azka
"Pak ini di simpan dimana?" tanya seorang pegawai yang membawa barang tersisa di dalam toko.
"Oh iya simpan di sini aja Mbak, masih muat kok tempat nya" jawab Azka seraya menunjukkan tempat di bagasi yang masih longgar"
"Makasih ya mbak"
"Iya pak sama-sama semoga bermanfaat, ibu dan Dede bayinya lahir selamat".
"Iya mbak terimakasih, Ren sini Lo bantu gue nutup" ucap Azka seraya memanggil Reno.
"Mata Lo dimana sih, Lo bisa liat nggak?" bentak pegawai bernama Andini.
"Astaghfirullah bisa nggak sih jadi perempuan jangan kasar, saya dari awal sudah minta maaf tapi kamu selalu nyolot tanpa pernah mau menanggapi permintaan maaf saya mbak" ucap Reno kesal
"Cih, Lo itu yang harusnya nyadar, punya mata buat melihat"
"Astaghfirullah mbak.......ap......" ucapan Reno terputus karena salah satu pegawai datang melerai mereka
"Andin, berapa kali mbak bilang jaga sikap kamu sama orang, mbak malu lihat sikap mu seperti itu, mereka itu pelanggan, kalau Bu Maryam tahu sikapmu seperti itu pada pelanggannya, bisa-bisa mbak juga ikut di pecat ndin" ujar pegawai ber-nametag Syifa
"Tapi dia emang......."
"Emang apa? kamu yang egois ndin, orang sudah minta maaf kamu tetap angkuh, apa sih yang kamu mau banggain hah, masuk sekarang sebelum Bu Maryam datang" Syifa menarik lengan Andin masuk ke dalam rumah.
Reno masih terpaku dengan pemandangan yang baru saja di lihatnya, gadis yang sudah ke empat kalinya di mintai maaf ternyata seangkuh itu. mereka kakak beradik rupanya, sang kakak terlihat sopan sedang adiknya bar-bar. mereka hanya pegawai toko tapi kelakuan minus. batin Reno.
Azka yang sejak tadi berdiri di belakang mobil hanya diam memperhatikan saja. bagasi mobil sudah tertutup sempurna tapi hatinya tiba-tiba merasa ragu akan satu hal yang di lihat nya di depan mata. seperti sebuah firasat tapi entahlah, ia sendiri tidak dapat memastikan perasaannya.
"Lo kenapa sih Ren?" tanya Kinara dari balik kaca mobil sembari mengucek matanya. tetapi Reno masih bergeming. lalu, "Reno Adriansyah" teriak Kinara membuat Reno berbalik seketika saking terkejutnya.
"Ap...apa..apa Ra?" tanah Reno bingung. Azka hanya bisa mendesah pelan melihat emosi istrinya yang terkadang naik turun kayak rollercoaster.
"Udah cepet masuk kita pulang" Azka menepuk pundak Reno lalu membuka pintu penumpang dan duduk dengan nyaman.
Reno mendengkus kesal. baru kali ini dalam hidupnya seorang Kinara berani berbicara begitu kasar.
"Lo kenapa sih Ren, kenapa Lo di marahin sama pegawai tadi?" cecar Kinara saat Reno sudah duduk di kursi kemudi.
"Sayang udah, tidur lagi ya, tadi itu Reno cuma lagi ada salah paham sedikit sama pegawainya, udah itu aja"
"Salah faham apa mas, tapi harusnya nggak segitunya juga lah sampai ngatain Reno seperti itu, aku sendiri aja jengkel banget lihat tingkah arogannya" cecar Kinara
Azka hanya mendengkus kesal, memutar bola mata jengah, lalu menatap Reno yang juga menatapnya melalui kaca.
"Ya udah sabar" ucap Reno.
"Sabar gimana Ren, kamu itu di hina loh dikatain juga, ya harusnya kamu jangan diem aja dong" cecar Kinara
"Astaghfirullah Ra, ini kamu? gue nggak percaya ya, setelah menikah Lo berubah begini, mana Kinara yang dulu lemah lembut alim, nggak pernah mau bales kalau di salahin orang,heh kemana?" ucap Reno sarkas karena sudah merasa kesal dan cukup pusing.
Azka diam seribu bahasa mencoba mencerna ucapan Reno yang tiba-tiba marah dan tidak terkendali. Kinara diam setelah mendengar ucapan Reno yang memang sepenuhnya benar. ia berubah setelah menikah. Kinara menunduk dan Azka langsung menggamit jemarinya.
"Udah ya sayang itu urusan Reno, kita nggak berhak ikut campur, tadi udah mas bilang hanya salah faham aja" ucap azka ia tahu betul Kinara tengah merasa bersalah setelah mendengar ucapan Reno.
"maaf Ren, gue nggak maksud nyinggung Lo" ucap Kinara
"Dan terimakasih udah buat gue tersinggung dengan sikap Lo yang kayak topeng" ucap Reno sarkas.
Azka mendengkus, ini bukan perkara mudah karena mereka sudah bersahabat sejak lama, meski Azka orang baru dalam kehidupan istri dan sahabat nya, tapi ia juga tidak mau persahabatan mereka rusak karena kesalahpahaman seperti ini.
"Ren jalan aja, sampai rumah Lo langsung pulang, Lo bawa mobil papa" ucap Kinara berusaha mencari jalan tengah agar Kinara dan Reno tidak lagi berdebat.
Reno diam sepanjang jalan hingga tiba dirumah. sesuai ucapan Azka tadi, begitu sampai dirumah Reno turun dari mobil dan menaiki mobil tuan Anderson untuk pulang kerumahnya.
"Apa setelah menikah nanti Keisya juga bakalan berubah kayak Kinara tadi?" semoga saja enggak". batin Reno sepanjang jalan.