KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
91 Hamil?



"Dadah Sofia, Tante pulang dulu ya ,kapan-kapan kita main lagi", ucap Ririn pada anak semata wayang dokter Fritz.


"akak au ulang?" tanya gadis itu dengan ucapannya yang masih belum jelas


"Iya akak au ulang uyu, au cekulah, anti alo udah lulus akak ain kecini Agi, cama ia" ucap Ririn mengundang tawa semua yang ada di halaman rumah.


"Ia ayang akak, akak ayang ia?" kali ini Ririn melongo dan segera menoleh ada sang pemilik anak.


"Hahahaha maksudnya kamu sayang Sofia nggak"


"Ooh hehe, akak ayang ia kok, emmmuaach jadi anak baik ya, belajar yang rajin nanti kalau sudah besar bisa jadi polwan kayak kakak hihihi"


" Tes aje belum, songong amat Lo kalo ngomong" cecar Beno.


"Sewot amat sih Lo Ben, idup idup gue, ayang gue aja nggak sewot, wleee"


"udah jangan berantem malu sama yang tua" sahut Azka


" dah masuk mobil Sono, jangan sok keganjenan, makanya nikah biar bisa bikin anak" kelakar Reno


Plak plak


"woi njir, sakit bego"


"Mulut di setir ada anak di bawah umur" kini giliran Riska yang menyahut


"sudah, ayo berangkat Salim dulu sama abah,umi kita harus kejar waktu" ucap Dokter Fritz.


Satu persatu menyalami sang pemilik rumah, setelahnya mereka masuk ke dalam mobil masing-masing. hanya tinggal tetua adat yang masih berbicara dengan Abah Ramli,


"Terimakasih pak kyai atas bantuannya, jika bukan karena pak kyai saya tidak tahu harus berbuat apa, terimakasih atas jasa almarhum pak kyai sepuh yang sudah pernah membimbing nenek saya mengenal siapa Tuhan nya." ucap tetua adat dengan sedih


"Jangan berlebihan pak, semua karena Allah SWT bukan karena saya, berdoalah semoga sampai disana bisa menemukan garis keluarga yang almarhum Mak Angker cari sebelum meninggal sesuai dengan wasiatnya, nanti kabari saja saya dan kyai Hasyim, Kami siap untuk membantu jika ada yang di perlukan"


"Baiklah terimakasih banyak pak kyai, saya hutang budi sama njenengan, maaf kalau saya ada salah, permisi, assalamualaikum"


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh"


Mobil melaju membelah jalanan yang ramai padat kendaraan lalu lalang, Azka masih setia memeluk Kinara yang tiba-tiba saja mabuk kendaraan.


"Om kita berhenti sebentar di klinik sekitar sini ada nggak?" tanya Azka yang tampak khawatir melihat kondisi Kinara yang lemah.


"Sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit besar, sabar dulu aku udah nelpon pihak rumah sakit"


"Barusan loh kamu mabuk begini Ra," ucap dokter Fritz. "apa jangan-jangan kamu hamil?" ucapnya lagi


"Semoga saja hamil" ucap Azka tersenyum simpul.


"Tuan kita sudah sampai rumah sakit" ucap sang sopir


"Ya udah kita turun dulu, Ka kamu gendong Kinara bawa ke UGD, saya urus administrasi dulu"


"Oke"


Azka segera menggendong Kinara masuk ke ruang IGD dengan perasaan cemas.


"Maaf adek menunggu di depan saja ya, biar kami periksa dulu"


"Baiklah, jangan lama-lama ya mbak suster" ucap Azka khawatir


"Tenang saja dek, sembari berdoa"


Setelah menyelesaikan administrasi dokter Fritz menghampiri Azka yang duduk di depan ruang UGD dengan wajah khawatir.


"Gimana?" tanya nya dengan perasaan cemas


"Masih di dalem"


ceklek


Tak lama pintu terbuka seorang dokter wanita yang merupakan teman seprofesi dokter Fritz keluar.


"Fritz? kok ada di sini?" tanyanya


"Gimana adek saya di dalem?"


"Oh gadis itu adek kamu?"


"Dia istri saya dokter" ucap Azka


"Hah? istri kamu? nggak salah?" tanya dokter Rahmi terkejut


"Gimana adek saya Rahmi?"


"Dia hamil baru dua Minggu, kondisi di trimester awal masih rentan jadi tolong di jaga kesehatannya jangan terlalu capek, apalagi ini kehamilan pertama, butuh banyak dukungan terutama suaminya. Dan ingat jangan sampai ibu hamil stress ya" ujar dokter Rahmi panjang lebar.


Plak


"Aish nggak gitu juga kali om, minta cubit malah di tampar" oceh Azka


"Biar lebih kerasa sensasi nya"sahut dokt r Fritz


"Hhaah kalian ini ada-ada saja, selamat ya jadi bapak muda, kirain masih single mau gue jodohin sama adek gue hehe" canda dokter Rahmi


"Boleh masuk dok?"tanya Azka sumringah


"Silakan saja, saya permisi Fritz"


"Oke makasih banyak ya mi"


"Sama-sama"


Azka masuk menemui Kinara dengan hati berbunga-bunga. saat masuk Kinara sedang meminum obat dibantu oleh seorang suster. wajahnya tampak kuyu, pucat dan tidak bersemangat.


"Maaf dek, biar pasien istirahat dulu, silakan keluar" ucap suster dengan sopan.


"Saya suaminya suster"


"Hah?? su... suami?" ucap suster dengan nametag Susi."Kok kayak anak SMA ?"


"Namanya juga nikah muda sus, kami baru lulus, nikahnya udah lama, honeymoon aja baru jalan dua bulan" ucap Azka lugas


"Bmmpt..(suster Susi menutup mulutnya menahan tawa mendengar ucapan Azka barusan)" ya sudah saya keluar ya, jaga baik-baik istrinya"


"Ada yang sakit sayang?" tanya Azka


"Nggak ada, cuma lemes banget nggak selera makan, tiap bau sesuatu mau muntah terus"


"Sabar ya, demi anak kita, nyangka nggak sih bakalan dapet rezeki secepat ini?"


"Ya Alhamdulillah, antara percaya sama nggak"


"Maaf ya kalau udah sering nyakitin kamu dulu, mulai sekarang aku janji akan berubah demi anak kita"


"Hah basi, nggak usah banyak janji, kita sama-sama belajar, kita juga nggak tahu garis kehidupan kita ke depannya seperti apa"


"iya-iya kamu selalu benar"


"Yang lain lanjut pulang atau ikut kita singgah di sini?"tanya Kinara penasaran


"Mereka langsung pulang, cuma om bule saja yang disini, kalau udah boleh pulang kita kasih kejutan buat mama papa dan ayah"


"Terserah aja sih, mau di kabarin sekarang juga nggak papa"


"Trus om bule mau nginep dimana?"


"Nggak usah kuatir dia mah orang kaya"


"Ck, semoga besok bisa pulang, kira-kira orang dirumah nanti nanya macem-macem nggak ya kalau tahu kita terlambat dari rombongan?"


"Santai, bilang aja bulan madu ke seratus kalinya"


plak


"Enak aja ngomong gitu"


"Hehehe"


"Mau makan apa aku beliin?"


"Pengen cendol dawet aja kalau ada di sini"


"Nggak takut di marahin dokter? jangan ah yang lain aja" tolak Azka halus


"Tadi nawarin kan, kalau nggak mau nyariin ya udah"


"ck jangan cemberut gitu dong, aku nggak tahu daerah sini, ntar kesasar gimana?"


"Kan ada google map"


"Yang lain aja sayang,"


"Kalau nggak mau aku minta om bule aja"


"Eitz jangan, iya-iya aku bakal nyariin tapi pamit dulu sama om bule, boleh nggak makan begituan"


"Ya udah sana pergi" ucap Kinara dengan wajah yang masih cemberut.