
"Ren, maaf kalau om Danu tegur kamu kemarin karena Andin datang kesini. sebenarnya Tante nggak masalah toh dia juga sering bantu bikin kue, cuma ya kita tinggal di tempat yang adat istiadat nya masih utuh, kita yang harus toleransi" kata Tante Meri sembari melihat kue yang Ia panggang sudah masak atau belum.
"Iya Tan, nggak papa, aku juga ngerasa nggak enak sama tetangga kalau Andin sering datang"
"Sebenarnya bukan cuma om kamu yang di tegur pak RT, tapi Tante juga pernah di tanyain langsung sama Bu RT waktu pengajian,di kiranya Andin itu calon istrinya Gito"
"Maaf Tan, gara-gara aku Tante sama om kena teguran"
"Nggak papa, ini pelajaran lain kali jangan di ulang lagi Ren"
"Iya"
"Giman rasanya ngajar di sekolah jadi guru olahraga?"
"Asik, seneng rasanya bisa main sama anak-anak, apalagi ini anak SD banyak ngelucu nya"
"Dulu disini itu kekurangan guru Ren, karena lokasinya pelosok makanya banyak yang nggak kuat tunggal di sini, tapi sekarang jalanan sudah bagus nggak kayak dulu, makanya sudah semakin banyak guru yang mau mengajar"
"Masak sih Tan?"
"Iya tanya aja om kamu itu, waktu pertama kali datang kesini, kaget lihat jalanan becek, terjal kalau hujan, aktivitas banyak terhambat, untung om kamu banyak teman di kantor dewan, berulang kali om kamu bikin proposal untuk desa ini, berulang kali di tolak, tapi waktu om Martin naik jadi anggota dewan, proposal om kamu langsung di setujui, makanya langsung dapat tender, ini udah yang kesekian kali om kamu tangani tender pembangunan jalan, di desa sebelah juga Alhamdulillah sekarang sudah bisa bernafas lega karena jalanan sudah bagus" terang Tante Meri
"Berarti perjuangan om Danu untuk desa ini patut di acungi jempol, kenapa nggak nyalon jadi desa aja Tan?"
"Nggak mau, berat tanggung jawabnya Ren, om kamu lebih suka kerja di lapangan proyek untuk pedesaan daripada ngurusin yang ribet-ribet, pernah Tante tawarin nyalon desa katanya nggak mau ribet, jadi kontraktor sudah enak ngapain ribet jadi kepala desa"
"Hahaha"
"Kamu beneran mau lanjut S2 di luar negeri?" tanya Tante Meri
"Iya tahun depan, nyari beasiswa dulu, lagi di usahakan juga sama temen"
"Mau ambil apa?"
"Pendidikan juga, dapat tawaran dari dinas untuk turnamen nasional tahun depan tapi masih mikir-mikir dulu"
"Kenapa musti mikir? kamu kan atlet basket kenapa harus mikir sih Ren? masih takut ketemu mantan?"
"Ya nggak gitu juga, masih belum bisa move on tepat nya hehe"
"Kan kamu udah minta maaf sama orang tuanya, kenapa musti masih di ingat lagi"
"Ya nggak papa Tan"
"jangan takut dengan bayangan sendiri, hadapi kenyataan oke?"
"Hehe iya"
****
"Kei, Hanan beneran mau melamar?" tanya Arini sembari memasukkan pakaian ke dalam lemari.
"Nggak tahu, urusan dia aja mau melamar kek enggak kek, nggak ngurusin aku" jawab Keisya cuek
"Hiss,jadi cewek jangan gitu amat lah kei, jangan bilang masih ngarepin Reno" seru Arini
"Tau ah...males gue bahas mereka" balas Keisya
"Paripurna, itu Hanan, doain aja biar Tuhan buka pintu hati gue buat Hanan" balas Keisya
Blam
Arini melempar bantal pada Keisya saking kesalnya.
"Tobat gue punya sodara dingin banget, sesekali lah Lo buka hati sama Hanan, move on gais move on"
"Susah Rin, emang semudah itu ngelupain Reno? mudah-mudahan Lo jatuh cinta suatu saat, Lo bakalan tahu gimana rasanya gagal move on, apalagi di tinggal pas sayang-sayang e wleek" balas Keisya.
"Sa aja Lo,"
"bisa lah"
"Besok liburan mau langsung ke kota apa mampir ke kampung dulu?" tanah Arini
"Langsung Kerumah mbak Kinar, kangen sama dua bocil ku" jawab Keisya
"Nggak ke desa dulu? jadi gue pulang sendirian dong cerita nya" kata Arini sedih
"Kan ada mbak Miska yang barengan sama kamu pulangnya"
"Ck, nggak asik, mbak Miska sama suaminya, ya kan nggak enak akunya"
"Serah deh, yang jelas aku pulang ke kota"
"Kei, mertuanya mas Bagus sakit keras" kata Arini
"Yang laki-laki apa perempuan?"
"Yang perempuan, kemarin aku ketemu adiknya mbak Rasti yang perempuan di warung makan depan kampus kedokteran, dia bilang ibunya sakit keras udah nggak bisa ngapa-ngapain, trus bapaknya nggak mau ngurusin saking jengkelnya waktu sehat selalu semena-mena"
"Mbak Rasti tahu nggak? trus siapa yang rawat sekarang?"
"Mbak Rasti tahu katanya udah di telpon tapi nggak tahu mau datang lihat ibunya apa tidak"
"Setiap orang pasti punya salah, sekiranya kita bisa memaafkan sebelum orang itu tiada alangkah lebih baik seperti itu"
"Dari awal nikah sama mas Bagus, selesai resepsi itu udah ngajakin pulang kerumah ibu, mas Bagus sempat marah tapi kakak iparnya cerita alasan mbak Rasti nggak mau tinggal di sini sama orang tua nya"
"Oalah... kita jenguk nanti sore bisa kan?"usul Keisya
"Hah? mau jenguk? emoh ah, Kon wae dewean" tolak Arini
"Kenapa nggak mau? kamu jangan ngikutin mbak Rasti dan saudara-saudaranya, kita ini orang luar, anggap saja toleransi dan tenggang rasa pada sesama" kata Keisya
"Hem, gimana ya, okelah tapi jangan lama-lama"
"Iya, lah di rumah sakit mana di rawat?"
"Nggak tahu, kemarin nggak sempat nanya"
"Ya udah kita kerumahnya aja"
"Yo wes lah, karepmu"