
"Bos Revan kenapa?" tanya salah satu pegawai kepada temannya yang kebetulan berpapasan dengan Revan di toilet
"Kena marah sama adiknya kali" jawab teman yang lain
"Ah masak sih, sampe segitunya mukanya kusut kayak kanebo kering hihihi"
"Lo nggak tahu ya bakalan ada pergantian direksi nggak lama lagi"
"Iya sih, jadi pimpinan kita nanti bukan lagi pak Revan tapi Bu Kinara, anak bau kencur baru lulus SMA udah jadi bos" ucap salah satu pegawai lain dengan nada mengejek.
"Huss, Lo pikir enak ada di posisi dia? coba aja Lo yang jadi dia, nikah di jodohin, masa mudanya habis cuma buat keluarga dan perusahaan, Lo mah yang tau nya duit sama dandan mana tahu urusan tanggung jawab sebesar itu" sindir teman lainnya.
"Emang dasarnya orang kaya tetap aja kaya biarpun masih orok"
"Husss, kalian ngapain sih pada gibah, udah sana kerja, gue laporin pak bambang baru tau rasa Lo pada" tegur seorang manager yang kebetulan lewat di depan mereka
"Maaf Bu" ucap mereka serentak
"Udah sana kerja".
***
"Kak, maaf kalau aku ngasih tahu soal transaksi jual-beli tanah ibu dengan almarhum bapaknya Reno" ucap Kinara yang sengaja menemui Revan di ruangannya.
"Kenapa harus gini Ra? sama aja kamu mempermainkan kakak, apa selama ini kakak nggak bertanggung jawab dengan amanah sebesar ini? kalau kakak orang yang curang sejak dulu kakak udah ambil alih semua ini dan bisa jadi malah ayah dan kamu kakak habisi demi ambisi" ucap Revan dengan marah.
"Ya maaf kak, abis selama ini kakak selalu bekerja sendirian sampai nggak ingat waktu untuk diri sendiri, jujur aja aku juga baru tahu setelah kematian almarhum Anthony, kalau ada pengurusan sertifikat pengalihan tanah milik ibu, pak Darwis yang ngurus karena baru dapat berkasnya dari pengacara keluarga Bu Fitri"
"Trus kenapa ku baru ngomong sekarang Ra?"
"Waktu itu aku nggak ada mikirin tanah dan perusahaan apalagi harta orang tua kak, kondisi aku hamil muda, kondisi mental Keisya selalu down, belum lagi ngurusin jam kuliah, aku cuma bilang sama pak Darwis buat ngurusin segalanya"
Revan mengurut keningnya berkali-kali dengan nafas kasar. benar-benar hal menyakitkan dalam hidupnya merasa tidak di percaya oleh keluarganya sendiri. teringat amarah Lutfiah selama dua pekan ini.
"Trus kenapa kamu nggak minta dokumen itu sejak awal Ra?" tanya Revan kesal
"Aku udah pernah minta melalui sekretaris kakak, tanya aja mbak Mala kalau nggak percaya" jawab Kinara tegas
"Kapan?"
"Panggil mbak Mala sekarang" titah Kinara
Revan langsung memanggil Mala melalui sambungan telepon. tanpa menunggu lama Mala datang dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa ya pak?" tanya Mala begtu sudah di minta duduk di kursi sebelah Kinara
"Apa benar Kinara pernah minta dokumen lama kepemilikan almarhum ibu saya?"
"Iya pernah udah lama, tapi waktu itu bapak bilang nanti di cari sendiri bapak sendiri yang mau nyerahin ke nona muda" jawab Mala jujur
"Waktu bapak selesai rapat dengan pemegang saham waktu itu, tahun lalu kayak nya pak, kalau saya nggak salah ingat bapak baru keluar dari ruang rapat trus marah-marah gara-gara OB nggak sengaja numpahin kopi" terang Mala mengingat beberapa kejadian.
"Astaghfirullah iya aku pernah marah sama OB gara-gara numpahin kopi di atas dokumen penting waktu itu, jadi kamu ngomong ke saya minta dokumen tapi jawaban saya begitu?" tanya revan memastikan
"Iya pak" jawab Mala
"iya maaf kalau begitu memang saya yang salah, ya sudah kamu silahkan kerja lagi" ucap Revan merasa bersalah
"Maaf Ra, kakak yang salah, belum lama aku Nemu dokumen itu di laci meja kerjanya ibu di rumah utama, waktu itu juga nggak sengaja pas lagi nyari surat-surat berharga yang di minta ayah untuk pergantian direksi rumah sakit, dokumen itu jatuh waktu aku ngangkat tumpukan map di laci." jelas Revan
"Trus kakak diem dan nggak nanya ke aku atau ayah?"
"Nggak! karena kakak pikir waktu itu emang ini punya ibu, ya kakak simpan, trus ayah minta pergantian kepemimpinan perusahaan di percepat ya makanya kakak setorin juga dokumen ini beserta isinya ke kamu, waktu aku baca memang awalnya nggak percaya kalau tanah yang sekarang jadi kos-kosan itu punya ibu, dua toko roti yang berbeda cabang juga tanah dan bangunan punya ibu" terang Revan.
"Ya udah karena kakak sekarang udah tahu, nggak usah di perpanjang lagi, aku minta maaf udah buat kakak begini, maaf ya" ucap Kinara meminta maaf
"Ck, huh untung adek kalau bukan udah gue habisin Lo" seru Revan kesal
"Hahahah emang berani? kita seimbang gais sama-sama pemegang sabuk emas hahahaa" sahut Kinara
"Emas gundul mu wi" balas Revan kesal tapi tertawa.
**
"Eh Gus ketemu lagi" sapa tuan Wibowo menyapa Gus Rohid di pematang sawah
"Iya pak, lagi nyari ikan?" jawab Gus Rohid
"Iya ini Bintoro semalam masang gogoh buat nangkep ikan, tadi subuh malah buru-buru di suruh pulang sama istrinya mau lahiran jadi saya yang datang meriksa, panjenengan bawa apa itu?"terang tuan Wibowo seraya mengangkat gogoh ke atas pematang sawah
"Ubi jalar, sampean mau? baru di panen sama anak Lanang kemarin sore tapi di simpan di gubuk, nggak bisa bawa pulang" tawar Gus Rohid
"Wah terimakasih, anak ku dirumah pasti senang dapat sedekah pagi-pagi" kelakar tuan Wibowo di sambut tawaan Gus Rohid
"Hahaha orang kaya Kon Nerima sedekah, piye to pak pak" tawa Gus Rohid
"Yang kaya bukan saya tapi anak-anak, jangan salah sampean Gus" kilah tuan Wibowo tertawa
"Wah, iwak e gede-gede di bakar sambelnya terasi sama kemangi lak uenak e pol Iki pak" seru Gus Rohid melihat hasil tangkapan ikan
"Sampean mau? kita barter aja setengah-setengah Gus" tawar tuan Wibowo
"Boleh lah, itung dulu ikannya baru di bagi dua" usul Gus Rohid
Mereka berdua tampak akrab seperti dua anak kecil bersahabat dan saling berbagi apa yang mereka miliki.
Begitu sudah terjadi transaksi barter mereka berdua jalan beriringan ke arah pulang dan bercengkrama dengan warga yang melintas dan berpapasan.