
Reno memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. besok ia sudah harus pulang ke kampung meski hanya sehari dan esoknya lagi harus berangkat ke Kalimantan.
Pemandangan jalanan sore hari memang melelahkan selain macet dan saling sahut-sahutan dengan kendaraan lain, asap dan polusi dari bahan bakar kendaraan lain juga sangat menggangu belum lagi jika ada pejalan kaki yang melintas di antara kerumunan mobil yang tengah menunggu antrian sepanjang jalan.
Reno memutar sholawat untuk menenangkan hatinya. tak peduli dengan panjangnya antrian kemacetan di depannya, Reno tetap menatap iringan mobil lain melalui kaca jendela yang ia buka sedikit.
Setengah jam perjalanan Reno singgah di toko, membeli oleh-oleh yang sudah ia pesan khusus untuk di bawa bertamu ke rumah sahabatnya.
Rumah minimalis modern dan mewah itu ia pandang dari balik kaca mobil. dengan langkah ragu, Reno membuka pintu dan berpesan pada salah satu karyawan yang sengaja ia ajak untuk menunggu.
Reno melangkah pelan menekan bel dan tak lama seorang satpam datang dan membukakan pintu.
"Saya Reno temannya Azka dan Kinara" kata Reno memperkenalkan diri pada pak satpam.
"Oh Tuan dan nyonya baru juga pulang, silahkan masuk mas, mari saya antar ke dalam" kata pak satpam ramah lalu berjalan mendahului Reno.
Reni duduk menunggu di kursi teras sementara pak satpam masuk untuk memberitahu tuan rumah jika ada tamu yang datang.
Tak lama satpam kembali dan mempersilahkan Reno masuk dan menunggu di ruang tamu.
Reno menatap ruang tamu yang di terpisah dengan ruang lain. foto-foto Kinara dan Keisya juga keluarga besar mereka menjadi pemandangan pertama yang Reno lihat.
"Loh, reno?" ucap Azka terkejut melihat Reno tamu yang datang sore ini.
"Eh, hai, apa kabar?" tanya Reno tersenyum tulus.
Azka langsung memeluknya erat dan menepuk-nepuk punggung nya berkali-kali.
"Kenapa Lo datang? gue lagi nggak mau ngasih sumbangan" canda Azka setelah melepas pelukannya.
"Nggak di sumbang nggak papa, duit gue masih banyak" balas Reno tertawa kecil.
"Tumben Lo datang, tunggu ya Kinara masih ngurusin anak-anak di atas" kata Azka.
"Santai aja, gue juga nggak lama, soalnya ada keperluan lain" ucap Reno.
"Oh gitu" kata Azka.
Suasana mendadak kaku tidak seperti empat tahun lalu. Reno dan Azka sama-sama saling diam. merasa tak biasa setelah sekian lama tak bertemu. meski malam itu Azka sempat menemaninya hingga pagi dan mengantar pulang, tapi tetap saja saat kondisi sadar seperti ini kekakuan itu terjadi.
"Ehm, Ka, gue pamit besok , waktu cuti gue udah habis" kata Reno membuka suara
"Lo ... mau pulang kampung atau ke luar negeri? kata Beno Lo dapat beasiswa luar negeri buat lanjut S2?" tanya azka
"Owh itu, masih pengusulan, doakan aja gue lulus" ucap Reno
"Ya amiiin mudah-mudahan lulus. hem ren, gue nggak minta Lo harus jujur ke gue, tapi mbak Vivi, maaf nih pernah cerita ke gue kalau Lo di Kalimantan, bener nggak?" tanya Azka hati-hati
Reno tersenyum menatap sahabat lamanya itu dengan.
"Karena apa Ren?" cecar Azka
"Karena gue belum sanggup buat ketemu Lo dan teman-teman lainnya, gue juga nggak sanggup kalau harus ketemu Keisya karena gue udah bikin kesalahan fatal pada kalian " ucap Reno jujur.
"Tapi kenapa harus menutup semua akses Ren?"
"Ya nggak papa, gue cuma nggak mau kehadiran gue bikin Keisya tambah sakit, gue salah karena emang gue masih kekanak-kanakan waktu itu, dan nggak berpikir panjang buat mutusin satu hal" kata Reno
"Iya gue ngerti, tapi kehadiran Lo waktu pertunangan Keisya sempat bikin mas Revan meradang saat tahu kalau Lo yang numpahin kue, beruntung ada ayah yang nenangin tanpa istri gue dan adiknya tahu., kami sekeluarga tahu kalau itu Lo Ren kecuali Kinara dan Keisya" jelas Azka.
"Maaf soal itu Ka, maafin gue, dan terimakasih Lo udah nemenin gue dan nganterin pulang ke kosan"
"Udah nggak papa, apapun yang terjadi di masa lalu kita, Lo tetap sahabat gue Ren" ucap Azka haru.
"Terimakasih Lo nggak dendam ke gue karena kesalahan gue dulu Ka" kata Reno merasa bersalah
"Udah nggak usah di bahas lagi, ngomong-ngomong gue denger kalau Lo udah nikah ya?" tanya Azka
"Ehmm.... Lo dapat informasi dari mana kalau gue nikah?" tanya Reno akhirnya
"Dokter Fritz, katanya pernah ketemu Lo bareng cewek di rumah sakit, dan Lo bilang itu istri Lo, tapi dokter Fritz nggak ngomong kalau di Kalimantan, udah tiga tahun dokter bule itu nggak nongol kesini, baru kemarin datang itupun cuma nyamperin Keisya doang" jelas Azka
"Sebenarnya...... gue belum nikah" ucap Reno terbata.
Azka mendelik tak percaya, "Lo bohongin dokter Fritz?" tanya Azka
"Sebenarnya nggak bohong juga, emang gue udah rencana buat nikahin dia, cuma belum terealisasi aja hehe" kata Reno tertawa kecil
"Trus kenapa Lo datang waktu pertunangan Keisya?"
"Gue nggak tahu ya, kalau Keisya lamaran waktu itu, gue cuma bantuin karyawan dan bos di toko doang, gue juga nggak merhatiin rumah ini apalagi orang-orang yang ada di sini" kata Reno membenarkan
"Oh ya? tapi sampe bikin Lo mabuk semalam Ren, gue tahu Lo pasti datang buat nemuin Keisya kan? Lo cinta sama Keisya! nggak usah banyak alasan Lo" timpal Azka.
Blam
Reno terdiam setelah kata terakhir Azka terucap. apa yang di tuduhkan Azka memang benar tapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur. Keisya bukan untuknya.
"Udah lah Ka, gue kesini bukan untuk bahas hal yang udah nggak seharusnya gue bahas, itu masa lalu, Keisya sudah dapat calon yang lebih baik, gue cuma perantara, dan emang kita bukan jodoh" kata Reno meredam emosi nya.
"Maaf kalau ucapan gue salah Ren" ucap Azka meminta maaf.
"Gue pamit mau balik ke kampung trus ke Kalimantan lagi, gue nggak bisa lama-lama soalnya waktu liburan semester anak-anak juga udah selesai Ka, salam buat Kinara dan Keisya juga temen-temen lainnya, gue nggak bisa nyamperin satu-satu karena waktu juga udah mepet" kata Reno beranjak hendak pamit.
"Baik-baik Lo disana, kalau mau nikah jangan lupa berkabar"
"Iya makasih banyak ya"