KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 77



"Mas Reno ada telpon dari petugas proyek" teriak Arzan yang sedang berkemas


"Iya angkat bentar, tanya keperluannya apa" balas Reno dari dalam kamar


",Oke" Arzan langsung mengangkat telpon begitu mendapat perintah.


"Oke bang, nanti saya bilang ke orangnya," ucap Arzan di ujung telepon.


Tak lama setelah sambungan telepon berhenti, Reno keluar dari kamar dengan wajah lebih segar.


"Siapa yang nelpon Ar?"


"Om Jaka, katanya ada proyek baru di daerah pemekaran, jalanan desa gitu katanya" kata Arzan menirukan ucapan Jaka tadi


"Oh, om Danu yang handle, aku cuma pengawas lapangan" kata Reno melihat Arzan memasukkan pakaiannya ke dalam koper.


"Jadi liburan ke Jakarta?" tanya Reno


"Jadilah, Tante Rosa mumpung lagi baik hatinya, nanti ku ajak mampir di kontrakan mu biar tau rasa dia bagaimana hidup di ibukota" kata Arzan


"Pamali, ngerjain orang tua loh, kamu itu y nggak usah usil-usil lagi, udah gede, udah kuliah masih aja banyak tingkah" nasihat Reno


"Ck, kayak nggak tahu aja kayak gimana Tante Rosa, yakin seribu yakin aku, pasti ada aja akalnya mau ngerjain aku duluan"


"Udah jangan di ladenin, oh ya Tante mana?" tanya Reno yang tidak melihat Tante Meri sejak pagi


"Pamit ke tetangga sebelah mau hajatan, masak nggak dengar dari pagi udah pamit"


"Nggak, kan aku tidur udah sholat subuh"


"Mas, kamu beneran mau nikahin cewek cafe remang-remang itu mas?" tanya Arzan tanpa di filter.


"Dia punya nama, Andin namanya, sekali lagi kamu bilang cewek cafe remang-remang ku sambel mulut mu" tegur Reno tak suka Andin di sebut cewek cafe. meskipun kenyataannya memang benar.


"Diih gitu aja marah, udah move on dari mantan terindah ceritanya? hahahahiii" Seru Arzan


"Mau tau aja Lo urusan orang" kata Reno sebal


"Gue tahu apa yang nggak Lo tahu, anjay hahhhahaaa" seru Arzan


"Pa'an sih" ucap Reno berlalu pergi meninggalkan Arzan.


Hari ini Reno berencana untuk membesuk Puput yang sudah siuman dua hari lalu. meskipun Andin masih tetap tak mau bicara padanya hingga hari ini, tapi ia tetap kukuh ingin menikahi gadis itu karena sudah terlanjur ia putuskan.


Biarlah waktu yang akan menjawab nantinya, jika memang Andin jodohnya, sudah pasti akan ada jalan, jika bukan tuhan pasti sudah persiapkan jodoh terbaik untuknya nanti. meski bukan Andin atau Keisya.


Meskipun satu nama itu tak mampu terhapus oleh hati dan pikirannya, Reno yakin akan ada takdir baik untuk mereka berdua nantinya.


Sementara itu di tempat lain, Keisya yang sedang berjalan ke arah stasiun kereta dan menunggu keberangkatan, di kejutkan dengan suara yang sangat ia kenali dari jarak yang tak jauh.


"Dim, telpon mas mu kapan mau datang kesini, katanya Tante Meri Reno mau melamar seorang gadis" kata sebuah suara yang sangat ia kenali.


Keisya mencoba untuk menoleh ke arah sumber suara untuk meyakinkan pendengarannya, tapi karena terhalang oleh penumpang kereta yang sedang duduk dan suara sirine dari gerbong kereta membuat ia tak mampu mendengar apalagi melihat jelas suara yang sangat ia kenali.


"Mbak, cepetan masuk, nanti kita ketinggalan" seru salah satu penumpang menepuk pundaknya dan berbicara dengannya cukup keras karena suara bising.


"Iya iya" kata Keisya yang akhirnya mengabaikan apa yang ingin ia lihat tadi dan langsung masuk ke dalam kereta mengikuti wanita muda yang ada di depannya tadi.


Keisya duduk di dekat jendela dan sungguh terkejut saat melihat ke arah kursi tunggu penumpang, ia melihat Bu Fitri mantan calon mertuanya sedang berjalan di papah oleh kedua anak kembarnya, Arkan dan Dimas.


Keisya menutup kedua mulutnya dengan telapak tangan, kenangan masa lalu saat mereka sering bersama terlintas lagi di benaknya. Bu Fitri yang keibuan dan memperlakukan ia seperti anak sendiri. tanpa terasa air mata Keisya jatuh membasahi kedua pipinya.


"Bu Fitri" batinnya sedih


Keisya memandang ke arah Bu Fitri yang berjalan semakin menjauh meninggalkan stasiun bersama kedua anaknya.


"Mas Reno mau nikah? kenapa hatiku sesakit ini, ini sudah tiga tahun lebih, tapi kenyataannya aku tetap nggak bisa melupakannya" batin Keisya.


"Mbak , mbak bangun kita udah sampai" kata salah satu penumpang yang bersamanya sejak di stasiun sebelumnya.


"Astaghfirullah aku ketiduran mbak, makasih ya udah di bangunin, mbak mau kemana?" tanya Keisya


"saya mau pulang mbak, udah sampai di stasiun saya mau ke terminal nunggu adik saya menjemput untuk ke desa, mbak emangnya mau kemana?"jawab wanita tadi


"Mau nyari mobil ke Jakarta mbak, mau pulang kampung saya" kata Keisya


"Oh mbak asli Jakarta ya, ya udah ikut saya aja, kebetulan ada saudara saya yang kerja di Jakarta sedang pulang kampung, nanti nebeng aja pakai mobil perusahaannya"


"Oh boleh ya, makasih ya mbak"


"Iya..iya ayok turun, kita nyari ojek ke terminal"


"Iya mbak, makasih banyak sudah di bantu"


"Sama-sama mbak, kita sama-sama perantau, bedanya saya sudah bersuami, dan suami saya baru meninggal sebulan lalu jadi saya mutusin pulang ke kampung orang tua saja"


"Turut berdukacita mbak, semoga amal ibadah almarhum diterima di sisi Allah swt"


"Amiin"


"Oh ya mbak tadi kenapa waktu berangkat kayak liatin seseorang di stasiun sampai nangis"


"Oh..hehe nggak papa mbak, saya nggak sengaja lihat mantan calon mertua saya di papah sama anak-anak nya, mau nyapa nggak sempet karena keburu masuk tadi" kata Keisya.


"Pernah mau nikah mbak? ya Allah kok malah nggak jadi ki piye?"


"Nggak jodoh mbak, oh ya kita mau nyari ojek dimana? itu bukannya ada ojek?" tanya Keisya


menunjuk beberapa pengendara motor yang sedang parkir di salah satu tempat di ujung stasiun.


"Oh iya, sebentar mbak saya panggil"


Wanita yang tidak ia kenal namanya itu memanggil dua orang ojek yang sedang parkir tak jauh dari halte. saat mereka berdua datang, justru terkejut dan langsung tunduk hormat pada Keisya membuat mbak yang tak ia kenal itu kebingungan.


"Kok malah nunduk hormat Ki piye toh mas?" tanyanya bingung.


"Maaf mbak, ini nona muda Keisya kan?" tanya salah satu ojek pada Keisya yang juga kebingungan.


"Iya, saya Keisya, kok kalian tahu?"


"Saya dulu yang pernah kerja di butik nona, tapi mengundurkan diri karena orang tua sakit, saya Umang nona dan ini adek saya"


"Umang...Umang...oh iya iya cleaning servis itu ya?"


"Iya nona, Alhamdulillah masih ingat, ini mau di antar ke mana emang?"


"Ke desa c mas" jawab mbak yang tadi.


"Ini temennya nona?"


"Iya kamu satu tujuan tadi, kebetulan saya mau nyari mobil sewaan ke Jakarta dan mbak ini bantu saya karena ada saudara nya pulang kampung pakai mobil kantor"


"Oh gitu ya udah mari saya antar nona"


"terimakasih mas Umang"


"Mbak, kamu orang kaya toh, kok sampai tukang ojek saja kenal?" cerocos mbak yang tadi.


"Bukan mbak, saya ini mahasiswa tingkat menengah, baru semester lima kok, itu tadi mantan karyawan bapak saya di kantor" kata Keisya merendah.


"Loh gitu"