
Rena menatap nanar tubuh yang terbaring lemah di atas kasur berukuran king size itu. Keisya pingsan kembali setelah tadi sadar dan menangis histeris. dokter Wawan yang sejatinya hendak menyusul ke pemakaman harus berbalik arah lagi di tengah perjalanan karena panggilan telepon dari Rena kalau Keisya histeris.
Tak lama setelah ia kembali ke rumah, teman seprofesi nya dokter Rahma yang memang sudah di tunjuk untuk merawat Keisya datang dengan banyaknya peralatan medis. bersama dengan seorang asistennya, dokter Rahma terpaksa menyuntikkan obat penenang pada Keisya karena histeris dan sempat membuat gaduh karena nekat mengakhiri hidupnya.
Nyonya Amira meminta agar Keisya di rawat di rumah saja karena kondisi tidak memungkinkan jika ia di rawat di rumah sakit, tidak ada yang bisa menjaganya karena semua sibuk hingga tujuh hari kematian almarhum Anthony.
Kinara yang memang sudah lemah karena shock juga harus beristirahat total di dalam kamar miliknya yang sudah ia tinggalkan hampir setahun. Dokter Siska juga datang untuk merawat Kinara sesuai permintaan Azka dan mama Hanna.
"Mas bisa aku minta tolong?" tanya Kinara pada suaminya.
"Apa sayang?"
"Kalau masih ada Tante Ranti di bawah bisa nggak mas minta buat kesini, ada yang mau aku bicarakan" ucap Kinara memohon.
"Oke, ada lagi?" tanya Azka langsung mengiyakan permintaan sang istri
"Bawain toples cemilan yang aku simpan di mobil"
"Udah itu aja?"
"Iya itu aja"
Azka berlalu meninggalkan kamar dan mencari sosok yang di minta sang istri tadi. Kinara turun dari ranjang berjalan menuju ke lemari pakaian lalu membuka tumpukan baju yang sudah tidak terpakai mencari sesuatu. setelah menemukannya Kinara memindahkan baju agar bisa menekan tombol yang ia dapatkan.
Kinara masuk ke salah satu ruang rahasia melalui celah di belakang lemari setelah menekan tombol on pada sisi dalam lemari tadi.
Kinara masuk ke dalam ruangan yang berjejer rak buku di sisi kiri dan kanannya, langkahnya terhenti di sebuah meja kerja. Kinara duduk di kursi dan membuka laci, sebuah album lama yang tidak sengaja ia temukan di gudang beberapa tahun lalu sebelum ibunya meninggal.
"Bu aku sudah menunaikan wasiat mu, terimakasih sudah mengajarkan aku untuk bisa ikhlas memaafkan kesalahannya, aku tahu ini yang ibu inginkan dan aku sudah mengabulkan. harta yang ibu tinggal kan untuk ku dan Keisya sudah ku amanahkan pada om Darwis untuk di bacakan setelah 40 hari kematian om Anthony sesuai dengan permintaan ibu, Bu apa kabarmu disana? aku merindukan mu Bu, sekarang aku sedang hamil cucu ibu, terimakasih sudah memberikan jodoh terbaik untuk ku Bu, aku mencintai nya Bu, ibu tahu nggak kalau salah satu pita biru yang selalu aku simpan selama ini ternyata dia juga menyimpan nya loh, terimakasih tak terhingga sudah memberikan jodoh terbaik untuk ku Bu" Kinara bermonolog sembari mengusap lembut foto almarhum ibunya.
Kinara membolak-balik album kenangan masa kecilnya sejak lahir, jemarinya berhenti pada salah satu foto masa kecilnya bersama seorang anak laki-laki seusianya sedang asyik memakan es krim, pita biru yang menghiasi rambutnya yang di kepang dua tengah di pegang oleh anak laki-laki yang duduk di sampingnya. ia tidak ingat tapi ibunya pernah bercerita jika anak laki-laki itu yang membawa pita biru miliknya pulang dan tidak pernah mengembalikan lagi padanya.
Kinara menutup album lalu menyimpan kembali ke dalam laci lalu berjalan keluar melalu celah yang lain yang tembus di kamar mandi. setelah masuk ke kamar mandi Kinara sengaja menyalakan kran air karena mendengar suara suaminya memanggil.
"Ra kamu di dalam kamar mandi?" suara azka berteriak
"Iya lagi pup, mau nyebokin?" goda Kinara sedikit keras agar suaranya terdengar
"Oh ya udah kirain kamu kemana, ada Tante Ranti nih"
"Oke masseh bentar ya" teriaknya lagi setelah itu menutup mulut menyembunyikan tawanya. setelah buang air kecil dan mencuci muka Kinara keluar. dilihatnya Tante Ranti tengah duduk di sofa kamar sembari membaca tabloid Wanita.
"Kirain Tante udah pulang" ucap Kinara berbasa-basi lalu duduk di samping Tante Ranti.
"Oh mbak Ismi ya,"
"Iya dia mau datang sama mertua nya karena ada acara nikahan di salah satu kerabatnya di sini"
"Oh gitu, maaf Tan kalau ganggu rencananya"
"Halah nggak papa santai aja, lagian om kamu sudah pulang duluan tadi dari pemakaman, ada apa nih?"
"gimana ya ngomong nya,"
"Ck tinggal ngomong aja, kenapa sih?"
"Itu soal wasiat almarhum ibu, em tanah wakaf yang ada di daerah xx itu mau di wakafin dimana?"
"Oh itu, ibumu dulu bilang itu hak kamu yang nentuin karena pemilik tanah itu sebelumnya memang memberikan tanah itu pada ibumu secara cuma-cuma, makanya ibumu berniat mau wakafin aja tanah itu, tapi nunggu kamu sudah nikah karena hak milik di sertifikat sudah berpindah atas nama mu"
"Oh gitu, ya udah nanti setelah tujuh harian, Tante bisa kan temenin aku kesana buat liat keadaan?"
"Bisa sekali lah, kabari aja ya, ini om kamu udah nelpon mungkin besan udah datang ini, Tante pulang dulu ya," ucap Tante Ranti seraya menjawab panggilan telepon.
"Oke Tante terimakasih, hati-hati ya" teriaknya dari dalam kamar. Tante Ranti memang langsung melesat pergi setelah berbicara.
"Mbok Jum?" Kinara terkejut saat melihat asisten rumah tangga yang selama ini menghilang tanpa kabar sedang menggelar karpet di lantai bawah. baru saja hendak melangkah menemui mbok Jum, langkahnya terhenti karena suara sang suami yang keluar dari kamar sebelah, kamar kak Revan.
"Mau kemana sayang?"
"Kamu ngapain di dalam kamar kak Revan?"
"Di suruh buat ambil ini" ucap Azka mengangkat kunci mobil "Mau kemana?" tanya nya lagi
"Mau turun, tuh liat mbok Jum" tunjuk Kinara pada sosok yang masih sibuk menggelar karpet di lantai bawah.
"Nanti aja, istirahat aja dulu, biar nanti aku minta mbok Jum yang bawain makanan ke kamar" titah Azka tegas.
"Iish bosen tau mas, aku sekalian mau liat kondisinya Keisya"
"Nanti aja, sekali mas bilang nggak ya nggak, mau nganterin kunci mobil dulu dah di tunggu sama yang punya" ucap Azka berlalu meninggalkan sang istri yang cemberut. Azka tersenyum penuh kemenangan. niatnya ingin mengerjai sang istri berhasil.
Kinara balik ke kamar dengan wajah di tekuk. segitu protektifnya Azka semenjak dia hamil, padahal baru masuk tiga bulan walaupun kebiasaan mual dan ngidam di malam hari sudah berkurang tapi tetap saja sang suami selalu over protektif.