KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 89



POV Reno


Rintik hujan mengguyur bumi sore ini. aku duduk di teras belakang menikmati secangkir kopi pahit dan martabak manis pemberian dari bang Somat.


Bang Somat yang ku amanahi untuk menjaga kos-kosan sedang pulang kampung menjenguk ibu yang sakit. sebagai anak angkat yang sudah di asuh dan di besarkan oleh almarhum nenek, bang Somat selalu menunjukkan baktinya pada ibuku. karena ibuku adalah anak tunggal.


Almarhum nenek memiliki beberapa anak angkat yang sudah di asuh sejak bayi. bukan tanpa alasan dulu nenek di kenal sebagai dukun bayi yang selalu menolong orang hamil dan melahirkan serta merawat bayi mereka selama empat puluh hari.


Nenek yang memang penyabar dan suka membantu sesama pernah menolong salah seorang ibu yang sedang melahirkan tanpa suami dan keluarga di sebuah puskesmas, setelah bayinya lahir sang ibu justru meninggalkan dunia, jadilah nenek merawat bayi itu hingga dewasa.


Aku membuka akun fack yang sudah lama ku buat untuk satu hal tertentu. meski aku sudah lama berkecimpung dalam dunia per_hacker_an, tapi aku tetap menyembunyikan jatidiri ku di hadapan keluarga dan sahabat ku selama ini. satu-satunya yang tahu hanya Dimas karena anak itu juga memiliki kesukaan yang sama dengan ku di dunia IT.


Aku mencari alamat rumah Kinara setelah mendapatkan informasi dari salah satu informan ku. besok aku berencana akan mengunjungi kos-kosan dan dua toko roti milik ibu yang sudah empat tahun tidak pernah ku sambangi.


Bunyi dentuman keras dari rumah sebelah menghentikan aktivitas ku yang sedang sibuk menscrol beranda sosial media ku. aku menoleh ke arah rumah tetangga yang tengah berteriak minta tolong karena bagian belakang rumahnya tertimpa pohon kelapa yang tumbang.


Aku bergegas pergi dan menolong nek Irah yang tengah menangis karena terkejut. beruntung beliau tidak tertimpa dahan pohon kelapa yang menimpa bagian dapur mereka.


"Mbah, kiambak an teng griyo?" tanyaku sembari memapah beliau menjauh dan membawa ke teras rumah ku. nenek Irah hanya mengangguk saja dan mengusap air matanya.


Tak lama rombongan warga berserta aparat desa datang dan membantu memindahkan pohon kelapa itu dari rumah nenek Irah.


"Bulek Sum teng pundi Mbah?" tanya ku setelah nenek Irah sedikit lebih tenang


"Neng sawah le Karo paklek mu, Irah sek ngaji durung bali" jawab nenek Irah mengusap air matanya.


Aku bergegas membantu warga untuk memindahkan dahan kayu. beruntung tadi ibu sudah pergi kerumah Bulik Sukaesih bersama Bang Somat, Arkan dan Dimas sedang latihan basket di kecamatan.


***


"Mas, kamu jadi ke Jakarta besok?" tanya Dimas saat kami sudah berada di kamar malam ini. tubuhku terasa sakit dan lelah karena membantu warga memindahkan dahan kelapa di rumah nenek Irah sore tadi.


"Jadi, agak siangan berangkat, niatnya pagi tapi karena gue capek, badan pegal-pegal jadi di undur siang aja, mau ikut Lo?" jawabku sekaligus menawarinya untuk ikut.


"Nggaklah, mau ngapain sih kamu kesana? bang Somat disini masih lama, lagian disana kan masih ada yang lain" ucap Dimas menolak tawaran ku.


"Emang nggak boleh aku kangen sama kamar lama ku? udah empat tahun dim, empat tahun gue tinggalin, sekalian mau liat toko kue, selama gue tinggalin ada kelalaian apa nggak" kataku tegas.


"Lah ini orang, Lo nggak percaya sama gue, huh? tiap weekend gue kesono ngecek, Insha allah semua baik-baik saja, Mbak indah itu orang jujur, alumni pesantren berani nilap, emang nggak takut dosa??" timpal Dimas seperti nya kesal.


"Heran deh, kenapa sih Lo kayak nggak suka gue ke Jakarta? ada masalah sama Lo?" ucapku memicingkan mata. Dimas seperti salah tingkah tapi anak itu langsung menguasai keadaan


"Gue terserah sama takdir aja dim, kalau akhirnya ketemu ya udah, kalau Keisya mau balik sama gue ya nggak papa, gue juga nggak masalah" ucapku sembari mengubah posisi tertelungkup.


"Lo gila? susah payah gue ngejauhin Lo dari mereka, nyembunyiin Lo, dan baru sekarang Lo bilang pasrah? kenapa nggak dari dulu aja mas??"oceh Dimas ketus membuatku seketika beringsut duduk.


"Lo marah dim? gue cuma ke kosan sama toko kue aja, kenapa Lo harus neggas gitu sih? emang ada yang salah kalau gue kesana?" tanya ku semakin heran


"Percuma gue ngomong, daritadi di jelasin juga nggak ngerti, pokoknya kalau sampai Lo ketemu keluarga mereka jangan salahin gue kalau Lo babak belur, mas Revan masih nyariin Lo sampai sekarang" ucap Dimas berlalu meninggalkan kamar dan membanting pintu sangat keras.


Baru kali ini aku melihat Dimas seperti kesetanan, seolah kepergianku ke Jakarta memberikan pertanda buruk padaku. karena Dimas biasanya selalu seperti itu, insting anak itu terlalu kuat, karena ibadahnya juga kuat.


Aku memilih tidur kembali daripada pusing memikirkan tingkah dimas yang kayak orang paranoid.


Aku langsung menutup semua akses sosial media ku dan mematikan jaringan ponsel ku. mengubah dalam mode pesawat yang selalu ku gunakan selama ini. Ku simpan ponsel dan mengambil ponsel yang lain.


Saat tengah asik membalas pesan salah satu teman kuliahku di Kalimantan, Arkan datang dengan raut wajah seperti kesal dan setengah ingin mengomel.


"Mas, kenapa lagi sih sama Dimas? kenapa gue kena marah juga?" tanyanya padaku. justru aku juga terkejut mendengar ucapan adik bungsu ku itu.


"Lo di marahin Dimas? kenapa lagi tuh anak?" tanya ku heran


"Justru aku nanya ke kamu, tadi kamu ngapain Dimas sampai-sampai nabrak piring ku jatuh isinya terhambur ke lantai, gue laper belom makan dari siang mas" ucapnya kesal.


"Astaghfirullah, gue juga nggak tahu Ar, daritadi dia ngomel mulu gue mau ke Jakarta besok" kataku membuatnya mendengus.


"alamat buruk, ganti makanan gue, mau ke warung mas Sugeng makan bakso, laper banget mas" ucapnya mengelus perutnya yang datar.


Aku langsung mengambil selembar uang merah dari saku celana dan memberikan padanya.


"Beliin gue juga, titip martabak telor porsi paling mahal di tempat mas Adi sama gorengan, nih gue tambahin" ucapku menyodorkan selembar uang merah lagi


"Kebanyakan mas, bakso lima belas ribu palingan gue makan 20 ribu sama lontong dan telur, martabak paling mahal 35 ribu, gorengan sepuluh ribu aja ya, siapa yang mau ngabisin mas" ucapnya menghitung semua total uang yang ku beri.


"Sisanya buat Lo jajan di kampus, isi bensin Lo anjai, hari Senin Lo udah balik kosan" sahutku mengayunkan tangan pertanda menyuruh nya keluar.


Arkan langsung melipir pergi keluar kamar dengan wajah cengengesan. tak lama ku dengar lagi teriakan bang Somat dari dapur.


Astaga........


Gara-gara satu orang bikin orang serumah geger, untung aja ibu nginap di rumah bulik Sukaesih. kalau ada ibu bisa di cincang gue.