
Mereka sampai di pelataran rumah sakit, karena keadaan sudah malam, dan jam besuk sudah habis, akhirnya hanya Mala saja yang di izinkan masuk oleh petugas berhubung Mala ada keluarga pasien.
Awalnya Revan ngotot ingin menemuinya namun Beni memberi pengertian hingga Revan akhirnya mengalah dan memilih pulang ke apartemen.
"Ayah belum tidur?" tanya Revan yang melihat sang ayah masih asyik menonton siaran olahraga di televisi.
"Kamu baru pulang?" tanya tuan Wibowo
"Ayah ini kebiasaan pertanyaan di jawab pertanyaan"
"Hehe, sini duduk ayah mau ngomong"
"ngomong apa, kok tumben?"
"Gimana perusahaan, aman kan?"
"Alhamdulillah aman, AMD Group sudah mencairkan sisanya, hanya ada beberapa tanda tangan kontrak untuk proyek yang di garap pemerintah, dan mereka meminta kita yang menghandle semuanya"
"Baguslah, kalau semuanya lancar, ayah berharap kamu bisa memimpin perusahaan ini lebih baik lagi, dan mensejahterakan karyawan, jangan lupa zakat, infaq, dan shodaqoh nya."
"Siap ayah"
"Van, ayah sudah semakin tua,..,...." menjeda sejenak, "Ayah sudah bicara dengan calon mertua mu, kalau awal bulan depan kalian sudah resmi menikah, nggak bisa di tunda lagi. semua urusan pernikahan sudah ayah serahkan sama Tante Amira dan suaminya, Azka dan Kinara juga akan pergi ke Jerman untuk beberapa waktu setelah kalian menikah. dan untuk Keisya, ayah sudah menyerahkan semuanya pada om Denias, jadi ayah minta pergunakan waktumu sebaik-baiknya."
"Kenapa mendadak sih yah, nggak ngomong dari awal kenapa nggak ngajak aku rundingan sih?"
"Izinkan ayah melakukan ini untuk mu nak, ayah sudah semakin tua ,sudah waktunya untuk ayah istirahat, nenek mu akan datang di acara pernikahan mu nanti"
"Nenek?"
"Iya, dia sudah memutuskan untuk kembali"
"Baiklah"
"Van, apapun yang terjadi, satu hal yang harus kamu tahu kalau ayah dan ibu tetap menyayangi mu, terimakasih sudah ada untuk kami nak, terimakasih, maaf jika ayah belum bisa memberikan hal baik padamu, izinkan ayah menikahkanmu"
"Ayah kenapa ngomong gitu sih, aku tetap anak kalian" Revan memeluk pria paruh baya itu yang sudah menangis.
"Apa kau sudah bertemu Ratih?" tanya pak Wibowo sontak membuat Revan melonggarkan pelukannya.
"A...apa maksud ayah?" tanya Revan tak percaya
"Kenapa tidak pernah bertanya pada ayah nak, kenapa semuanya kau lakukan sendiri?" ucap tuan Wibowo.
Revan masih tidak percaya jika sang ayah tahu apa yang ia lakukan selama ini, mencari ibu kandung nya tanpa melibatkan siapapun, karena merasa punya hutang budi yang besar pada keluarga yang bukan keluarga kandung nya.
"A..ayah tahu?" tanya Revan dengan wajah sendu. "Maafkan aku ayah" ucapnya lagi
"Tidak apa, ayah yang seharusnya minta maaf telah menyembunyikan hal ini darimu., ibu dan ayah sepakat mengangkat mu sebagai anak kandung sesaat setelah engkau lahir, semua dokumen tentangmu kami ubah, sesuai permintaan ibu kandung mu." ujar tuan Wibowo
"Maaf ayah, maaf aku telah berbuat jauh tanpa izin mu, aku hanya tidak ingin membuatmu terbebani"
"Tidak nak, itu sudah hak mu sepenuhnya, kau berhak tahu siapa ibu kandung mu, darimana kau tahu hal ini dan nekat seperti itu?"
Revan menatap lekat wajah tua sang ayah sebelum menjawab " Saat aku umur 15 tahun, aku tidak sengaja menemukan foto ibu dengan seorang wanita yang menggendong bayi, foto itu aku temukan di laci meja kerja ibu, saat itu aku sedang mencari selotip untuk mengerjakan tugas dari sekolah, aku membaca nama yang tertera di balik foto itu, tanggal yang tertera adalah tanggal lahirku, namaku dan nama Ratih Purwasih adalah nama wanita yang menggendong bayi itu"
"Awalnya aku hanya acuh, namun melihat wajah wanita itu mirip dengan wajahku, aku terfikir apa aku bukan anak kandung kalian, sejak saat itu aku sering mencuri waktu mencari tahu tentang foto yang ku temukan dan saat aku mulai sibuk mengurus pendaftaran masuk kuliah, aku tidak sengaja menemukan dokumen tentang kelahiran ku, data rumah sakit tempat aku lahir, aku menemukannya di laci meja kerja ayah."
Tuan Wibowo tercenung mendengar cerita Revan, sejak awal ia menyadari jika cepat atau lambat hal ini akan Revan ketahui, tapi ia tidak menyangka jika kejadiannya akan seperti itu. inilah takdir tak ada yang bisa menebaknya.
"Besok kita jemput ibumu bersama-sama" ucap Tuan Wibowo
"Ayah yakin?"
"Percayalah"
"Apa Kinara tahu tentangku ayah?"
"Ya dia sudah tahu, sejak lama dia juga menemukan foto itu sewaktu masih SD dan menanyakan langsung pada ibumu, kau tahu kan adikmu anak yang cerdas. hanya dengan melihat foto itu dia sudah bisa menyimpulkan jika kalian bukan saudara kandung, bahkan ibumu saja kebingungan saat ia menanyakan perihal foto itu"
"Maafkan aku ayah, jika aku telah lancang berbuat tanpa izinmu"
"Sudah ku bilang, itu hakmu, apa semua aset Anthony kau juga yang mengalihkan atas nama mu?"
"Darimana ayah tahu?"
"Itulah hebatnya ayahmu, terimakasih telah memberi pelajaran berharga untuknya, saat ini dia sudah mulai berubah menyadari kesalahannya selama hidup, dia sudah menyesalinya, jenguk lah dia di pengasingan jika hatimu sudah siap, biar bagaimanapun dia ayah biologis mu, dia tidak pernah tahu jika memiliki anak yang berbakti sepertimu, maafkan dia, biarkan Allah SWT yang menghukum nya"
***
Pagi-pagi sekali Mala sudah menghubungi nya jika ibu Ratih sudah bisa di bawa pulang, semalam Mala bercerita banyak tentang Revan pada wanita tua itu. Mala hanya mengikuti kata hatinya saja namun siapa sangka saat subuh sebuah tangan lembut tengah mengelus pucuk kepalanya yang tertutup hijab.
Mala terkejut saat mendapati ibunya tersenyum bahagia kearahnya.
"Terimakasih sudah merawat ku" ucap wanita paruh baya itu tersenyum lembut.
Mala memeluknya penuh suka cita, tak sia-sia ia bercerita tentang Revan semalam, ia sempat pesimis jika harus mengatakan hal itu, namun ia yakin jika ibunya di berikan stimulus positif terus menerus maka akan berbuah manis pada kesehatan mentalnya. sisanya ia hanya meminta pada yang maha khalik atas kesembuhan sang ibu.
Revan yang mendengar cerita itu berbinar bahagia, ia langsung menghubungi Beni untuk mengurus administrasi sang ibu di rumah sakit. pun dengan tuan Wibowo mendengar sahabat lama nya itu sudah kembali sadar, ia bersyukur tak terhingga, apa yang menjadi harapannya kini sudah terjawab.
"Ayah sudah menghubungi adikmu, ayah minta dia menyusul ke rumah sakit bersama suaminya"
"Kinara itu hamil cucu ayah, kenapa harus di suruh kesana kemari sih yah kasihan loh"
"Orang dia juga mau kok, biarin lah dari pada mood nya down lagi, ayah jenuh kalau harus mendengar cerita besan kalau mereka berantem tiap hari gara-gara adikmu ngidam aneh-aneh, kemarin malam saja Azka sampai harus keliling kota tengah malam buat nyari es dawet, untungnya art di rumah mereka bisa di ajak kerjasama, mereka buatin es dawet dengan alibi beli di tempat langganan, ujung-ujung nya Azka juga kena marah, mustahil langganannya buka tengah malam, dia hampir mirip ibumu saat hamil mereka dulu"
"Ahh ya sudah lah kalau ada apa-apa jangan salahin Revan ya, Kinara sekarang udah hilang kalemnya selama hamil, jadi maklumin aja lah yah"
"Hahaha nanti kalau istrimu hamil kamu juga bakal ngerasain kok hahaha"
"Issh ayah, ya udah cus kita otewe"
*
Beni yang masih terlelap dalam mimpinya harus di kejutkan dengan perintah atasan alias sahabat nya untuk kerumah sakit mengurus administrasi.
"Menyebalkan, masih capek ngantuk seenak jidat kalau nyuruh, untung kaya jadi gue nggak bingung beliin Hermes buat Delia"
"Ngomong apa ayah?" sahut Delia_sang istri yang sedang mengeringkan rambut.
"Hehehe maapkan ya sayang"
"Kalau udah nggak mau kerja ngomong aja, biar aku cari suami baru, kerja gitu aja ngomel mulu, masih banyak orang di luaran sana yang susah nyari makan, sampean sudah dikasih pekerjaan berlabel pengacara aja banyak ngomelnya, kalau nggak mau nyenengin anak istri......hmppt" Delia nyerocos tanpa rem
"Udah ya, ngomel nya di sambung nanti malam, ayah mau mandi dulu" Beni membekap mulut istrinya dengan kedua tangan lalu berlari ke arah kamar mandi secepat kilat. Delia memang wanita yang pekerja keras meskipun cerewet nya minta ampun beruntung lah meski begitu Delia sangat cekatan dalam mengurus rumah tangga dan anak-anak.
Satu jam kemudian mereka semua sudah berkumpul di rumah sakit, Revan memeluk sang ibu yang menangis bahagia.
Tuan Wibowo ikut terharu, sudah dua puluh tahun ia mencari keberadaan sahabat lamanya itu, terakhir ia bertemu saat Ratih masih bersama suami barunya dengan seorang anak perempuan yang masih balita saat itu, dua tahun kemudian ia kembali ke desa tempat tinggal Ratih, namun tidak menemukan keberadaan mereka, hanya Abah Somat saja yang ia temui saat itu. sang juragan kambing yang terbilang sukses di usia muda.
tuan Wibowo berbicara dengan sahabat lamanya, meski Ratih hanya bisa merespon dengan gerakan dan sesekali bicara meski hampir tidak terdengar. kondisi fisiknya sudah pulih hanya kondisi mentalnya yang masih harus mendapatkan dorongan dan dukungan dari orang terdekat agar bisa sembuh total.
"Tolong di jaga baik-baik kondisi fisiknya ya, makan teratur, tidur teratur, jangan lupa obatnya juga harus teratur, jangan biarkan ibu Ratih sendiri, harus selalu ada yang menemani dan mengajaknya berbicara agar kondisi mentalnya semakin baik," petuah Dokter yang merawat Bu Ratih.
"Untuk terapinya apa masih di lanjutkan dok?"tanya Mala
"Masih harus sampai benar-benar stabil, nanti akan saya rekomendasikan psikiater terbaik, Bu Mala bisa menghubungi saya jika sudah siap ya"
"Kalau boleh tahu siapa dok?" sahut Revan penasaran.
"Dia dokter baru di rumah sakit ini, Dokter Fritz"
"Oh si bule ternyata"
"Pak Revan mengenal nya?
"Dia sepupu adik ipar saya pak dokter"
"Ooh ya sudah kalau begitu saya tidak perlu memperkenalkan lagi, bapak bisa memintanya secara pribadi saja kalau begitu"
"Baiklah terimakasih banyak dok"
"Ayah nggak bisa pengen nikah lagi?" bisik Kinara saat mereka sudah berjalan keluar di pelataran rumah sakit. tuan Wibowo menganga mendengar ucapan sang anak yang sangat menggelikan.
"Kamu ini, hamil sekarang banyak ngoceh ya?" sahut tuan Wibowo
"Iih ayah aku beneran, nikah ya sama Tante itu?"
"APA??" tuan Wibowo terkejut bukan kepalang mendengar ucapan absurd sang anak. auto tepuk jidat pak Presdir kata mba othor.
Kinara hanya cengengesan saja melihat respon sang ayah. "Ya Allah Amina, anakmu ini kenapa sekarang jadi gini??" batin tuan Wibowo. Azka yang berjalan di sebelah Kinara hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. bisa-bisa nya sang istri bicara nyeleneh gitu. efek ngidam segitu amat ya?!