
Hari ini Kinara sudah boleh pulang ke rumah oleh dokter Siska karena kondisinya sudah lebih baik. Azka langsung mengajak Kinara pulang kerumah orang tuanya sesuai permintaan nya pada ayah mertuanya kemarin karena tidak ingin hal terjadi terulang kembali.
Mama Hanna dan papa Anderson tidak tahu kejadian yang sebenarnya karena memang Azka yang meminta pada mertuanya untuk tidak mengatakan pada orang tuanya.
Mama dan papa nya hanya tahu jika Kinara drop karena kelelahan dan stress setelah kematian Anthony.
Hingga tujuh hari kematian almarhum Anthony Kinara dan Azka tidak menampakkan diri di kediaman tuan Wibowo, bukan tanpa alasan karena dokter Siska meminta Kinara untuk istirahat total. sedangkan Azka memang tidak mau Kinara bertemu lagi dengan Keisya, ia tidak ingin hal seperti kemarin terjadi lagi.
Di sisi lain Azka juga ingin menjaga jarak dari Keisya setelah mengetahui kebenaran dari mbak Rena. Ah sebegitu besarkah auranya mempengaruhi mata setiap wanita yang bertemu dengannya? bukan hanya sekali dua kali Azka menghindari perempuan bahkan dulu di negara tempat tinggalnya ia lebih di kenal cowok dingin dan penyuka sesama jenis. karena memang Azka menghindari berinteraksi dengan lawan jenis.
Karena hari ini tidak ada jadwal mata kuliah, sejak selesai sholat subuh Azka lari pagi keliling kompleks dengan sang papa sembari membahas tentang kelangsungan perusahaan.
"Papa mau resign, mau istirahat, perusahaan di Jerman udah papa serahkan pada kakak mu, sekarang papa mau kamu mengelola perusahaan kita disini, karena aset dan saham yang ada disini semuanya atas namamu"
"Aku belum siap untuk terjun langsung ke dunia bisnis pa, meski aku sudah tahu bagaimana menjalankan perusahaan tapi dengan kondisi seperti ini aku benar-benar belum bisa apalagi Kinara hamil"
"Papa nggak minta sekarang, setelah kamu lulus S1 lanjutkan S2 mu ke London, papa serahkan jabatan sementara pada Yusuf, dia yang akan menjadi asisten mu nanti"
"Papa yakin mau nyerahin tampuk kepemimpinan sama mas Yusuf?"
"Yusuf hanya menghandle pekerjaan sementara kamu kuliah nanti, papa yang mengawasi, papa baru akan menyerahkan jabatan resmi setelah kamu selesaikan S2 mu"
"Jalan masih panjang pa, kita nggak akan pernah tahu apa yang terjadi kedepannya, doakan saja kuliahku lancar tepat waktu."
"Papa yakin kamu bisa, papa mau ke Jerman Minggu depan, ada masalah dengan perusahaan kita disana, makanya Rania dan si kembar di minta pulang ke Indonesia"
"Apakah rumit pa?"
"Tidak, hanya ada orang dari masa lalu papa yang datang mengusik, entah apa yang dia inginkan, papa bahkan sudah memberikan semua yang ia minta dahulu sebelum papa pergi, tapi rupanya ia masih nekat mencari papa dan menginginkan perusahaan kita menjadi haknya"
"What??"
"Sudahlah biar itu menjadi urusan papa, tetap disini jaga anak istri mu dan keluarga kita."
"Pa, apa ini ada hubungannya dengan orang yang pernah ku temui saat SMP dulu?"
"Maksudmu?"
"Ada seorang pria paruh baya datang ke sekolah ku dan mengatakan jika dia adalah pamanku tapi aku tidak percaya bahkan aku memberi nya uang dan ku minta dia pergi tapi sebelum pergi dia sempat mengatakan padaku jika suatu saat dia akan kembali untuk merebut apa yang menjadi hak nya"
"Kau tahu namanya?"
"Jason, ku dengar dia mengatakan itu pada seorang guru"
"Rupanya dia juga mengawasimu, kau jangan khawatir, dia tak akan bisa berkutik karena papa punya kelemahan nya"
"Telpon aku jika papa membutuhkan bantuan ku"
"Terimakasih nak, Insha Allah papa baik-baik saja, besok rencananya mertua mu akan pergi, apa kau sudah tahu?"
"Sudah, ayah bilang akan berkunjung kesini nanti sore sekaligus pamitan pada anak kesayangannya"
"Sudah sejak lama dia ingin rehat setelah almarhum ibu mertua mu meninggal empat tahun lalu, tapi Revan menahannya hingga masalah yang sedang menimpa kita selesai, dan sekarang sudah saatnya ia wujudkan keinginannya untuk hidup tenang yang sudah menjadi pilihannya sejak lama,
"Oh ya rencana pernikahan kak Revan di tunda?"
"Iya di tunda sampai Vivi selesai sidang thesis bulan depan."
"Wiih udah gelar doktor, hebat ya kak Vivi sebegitu setia nya, mereka bahkan pacaran sejak masuk SMA sampai sekarang"
"Ya itu jodoh, kamu juga dari kecil setia sama perempuan yang kamu curi pita rambutnya hahahah"
"Iiih papa deh bisa ae"
"Emang iya kan?"
"Ya udah yuk pulang, nanti mama mu nyariin, matahari juga sudah tinggi"
"Papa udah ketemu sama nenek Widya.?"
"Udah, nanyain kamu sama Kinara tapi papa bilang kalau kinar harus istirahat total, kasihan sudah tua, rencananya ayah mertuamu juga akan memboyong nenek Widya ke kampung halamannya dulu"
"Oh gitu, ayo pa lari siapa duluan sampai rumah dia yang buang sampah"
Kedua pria beda usia itu akhirnya berlari dengan kekuatan dan kecepatan masing-masing untuk sampai lebih cepat di rumah.
Sementara itu di salah satu rumah sakit kondisi Nana sudah kritis dan harus di rawat secara intensif.
Sahabat mereka semasa SMA secara bergantian datang berkunjung untuk melihat kondisi Nana yang semakin memprihatikan. Rangga yang bertugas sebagai ketua penggalangan dana sudah bolak balik ke rumah sakit setiap selesai jam perkuliahan demi memastikan kondisi teman sekelas nya sejak SMP itu dan mengabarkan pada teman seangkatan dan adik kelas yang tegabung dalam grup SMA Harapan.
"Bu, mulai besok adik Nana akan pindah ke sekolah kami, saya sudah bicara dengan kepala sekolah dan pemilik yayasan, ibu tak usah khawatir dengan biaya nya semua akan di tanggung pihak yayasan". ucap Rangga
"Tapi nak, ibu sudah banyak merepotkan kalian, kalau bukan karena Riska yang memaksa, ibu tidak berani datang ke kota ini, ibu tidak punya uang cukup untuk biaya berobat Nana" ujar Bu Lastri sedih
"Semua biaya rumah sakit Nana kami yang akan menanggung nya Bu, bahkan pemilik rumah sakit sudah menyediakan rumah singgah sementara untuk ibu bahkan semua pasien yang berobat kesini dari luar daerah atau luar pulau"
"Kalau boleh tahu, siapa pemilik rumah sakit dan sekolah yang kalian ceritakan pada ibu, kalau ada waktu ibu ingin bertemu"
"Maaf Bu, kalau itu saya tidak berhak untuk mengatakan karena saya juga belum pernah bertemu pemilik rumah sakit ini bahkan yayasan tempat kami sekolah" bohong Rangga menutupi karena memang Kinara yang sudah mewanti-wanti agar ia tutup mulut.
"Lalu dari mana nak Rangga tahu kalau biaya sekolah adik Nana di tanggung yayasan bahkan rumah sakit juga bebas biaya?"
"Dari petugas rumah sakit Bu, kalau untuk sekolah, saya sudah bicara dengan kepala sekolah dan guru, oh ya apa adik Nana pernah ikut lomba sains?"
"Iya pernah tiga bulan lalu di kota ini, dia juara satu, padahal katanya saingannya itu orang kota semua yang prestasi nya tak bisa di ragukan lagi, tapi ya itu lagi hanya keberuntungan saja Diki bisa juara satu"
"Juri lomba itu kepala sekolah saya Bu, dan lomba itu di gelar di sekolah kami"
"B benarkah?"
"Iya, makanya saat saya mengajukan permohonan penggalangan dana, saya berbincang dengan kepala sekolah dan guru, ternyata mereka sedang mencari Diki untuk di berikan beasiswa hingga sarjana"
"Beb..benarkah nak?"
"Iya Bu, justru saya datang hari ini ingin menyampaikan hal itu pada ibu"
"Masya Allah, terimakasih pertolongan MU," ucap Bu Lastri haru.
Tak lama Riska datang menenteng kresek berisi makanan yang baru saja ia beli di warung tenda tak jauh dari rumah sakit.
"Kalian makan siang dulu Bu, Rangga, saya akan berjaga di sini"
"Nggak usah Ris, aku udah makan tadi sebelum kesini, kamu aja yang makan sama ibu biar saya yang jaga Nana"
"Kamu nggak papa?".
"Nggak,"
"Makasih ya, aku sama ibu kelaur dulu mau makan"
"Iya".
****
"Aku harus bisa memiliki apa kamu miliki juga kak, kita kan kembar, sudah seharusnya sebagi kakak kamu mengalah untuk adikmu iya kan?" Keisya berucap sembari menatap foto Kinara sama persis seperti yang ia lakukan kemarin.
Rena dan bik Asih yang sejatinya sudah tahu kondisi kejiwaan Keisya hanya bisa merasa iba atas apa yang di alami gadis yang baru saja berusia sembilan belas tahun itu.
"Kasihan kamu non karena kesalahan orang tua di masa lalu hingga membuat kondisi psikologis mu terguncang, bahkan hingga kini orang yang membuatmu terluka sudah tiada, kondisi mu semakin buruk, semoga saja Allah memberikan mu hidayah kembali ke jalan yang benar" batin Rena sedih
"Rena, Keisya sudah siap belum, kita mau kerumah besan jenguk Kinara sekaligus pamitan juga"
"Sudah tuan, sisa memakai jilbab saja kok"
"Ya sudah say tunggu di depan ya"
"Baik tuan" Rena segera memakaioan jilbab pada Rena sedangkan bik Asih menyiapkan keperluan yang akan di bawa.
"Sih, kamu ikut kesana ya, saya khawatir kalau kondisinya Keisya seperti waktu itu" ujar mbok Jum berbisik di telinga bik Asih.
"Saya ikut supir di belakang mbak yu, tenang saja"
"Ya sudah kalau gitu salam buat nona muda ya"
"Iya nanti saya sampaikan"