
"Jadi gitu ceritanya?" tanya Lina setelah mendengar cerita dari Keisya kalau ia memiliki kembaran bahkan menunjukkan foto mereka pada mbok Yem dan Lina.
"Iya begitu"
"Maaf ya salah ngenalin, malah nuduh kamu yang tidak-tidak" kata Lina merasa bersalah
"Ah nggak papa, namanya juga baru kenal"
"Kalau gitu kita tidur bareng ya di sini depan tipi," ajak Lina
"Boleh tapi jangan di matikan lampu ya, soalnya nggak biasa tidur lampu mati" ucap Keisya
"Iya, saya juga takut gelap hihihi"
****
"Ren, mau kemana Lo, ini masih jam empat subuh" tanya salah satu temannya
"Gue mau berangkat, soalnya jauh, kabari aja kalau acara selesai, gue jemput" jawab Reno
"Ya udah hati-hati, kabarin kalau mau balik"
"Oke"
Reno berangkat dengan mobil yang sudah ia sewa dari Rino teman sekolah Dimas di madrasah. karena jarak perjalanan yang memakan waktu hampir seharian ia harus benar-benar pergi sepagi ini di saat semua orang masih terlelap dalam mimpi.
Reno mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang tak lupa ia menoleh ke kanan kiri sekiranya ada penjual yang sudah membuka lapaknya karena jarak ke pasar sepertinya masih jauh.
Sebenarnya sudah berulang kali baik Dimas ataupun Vivi memintanya untuk menemui Keisya meminta maaf tanpa harus lagi bersembunyi. tapi Reno tetap kukuh tak mau melakukannya karena ia tahu betul Azka dan Revan masih mencarinya.
Sebelum berangkat pun om Danu sudah mewanti-wanti dirinya agar tidak gegabah mengambil keputusan, meskipun ia tahu jika sekarang tuan Wibowo sudah lebih legowo menurut Dimas dan Vivi, ia tetap harus waspada, sia-sia jika persembunyian nya harus terungkap secepat ini meski sudah setahun berlalu.
Bahkan Reno pun diam-diam sedang mencari beasiswa luar negeri untuk ia melanjutkan jenjang pendidikan nya setelah lulus, ia ingin langsung pergi dan menghilangkan jejak.
Pukul sembilan pagi Reno sampai di perbatasan kota dan berhenti sebentar di sebuah warung makan untuk mengisi perutnya yang sudah kelaparan sejak tadi.
"Bruk"
"Eh maaf mas saya tidak sengaja" kata Reno meminta maaf karena menabrak seseorang
"Oh iya nggak papa, mas mau mesen juga?" tanya orang yang di tabraknya
"Iya mas, antriannya panjang banget" kata Reno
"Mas ambil ini aja, ini nomor antrian orang yang tadi di depan saya, beliau pulang karena dapat telpon mendadak nggak jadi mesen" ucapnya menyodorkan nomor antrian pada Reno
"Kayaknya mas dari perjalanan jauh ya, ambil aja mas, rumah saya deket kok setengah jam dari sini nggak papa antri belakangan" ucapnya lagi membuat Reno merasa tak enak hati.
"Ya udah saya terima ya mas, terimakasih mas mau mesen apa, saya sekalian yang mesenin "
"Nggak usah mas, biar saya pesen sendiri saja"
"Oh ya udah, mas nya siapa ya kalau boleh tahu, saya Reno mas dari kota Y"
"Oh mas Reno, saya Hanif asli kota xx"
"Itu nomornya sudah di panggil mas kesana gih" ucap pria bernama Hanif
"Oh iya saya duluan"
Reno langsung memesan menu dan membawanya ke meja sesuai nomor yang tertera di nomor antrian.
"Desa tapi fasilitas nya nomor wahid," batin Reno memperhatikan Desain interior rumah makan itu. angannya tiba-tiba teringat dengan Keisya yang juga suka mendesain bangunan, baju bahkan gedung perkantoran.
Reno menghela nafas panjang lalu menatap nanar pada menu makanan yang ada di hadapannya.
"Maaf Kei, seharusnya kamu menikmati makanan terakhir waktu itu, tapi aku malah menghancurkan semuanya" batin Reno sedih
Reno melanjutkan makan hingga tandas, dan duduk sebentar di teras rumah makan menikmati semilir angin pedesaan di perbatasan yang menyejukkan.
"Mas Reno, saya duluan ya, semoga suatu saat bisa bertemu lagi, kalau kesini jangan lupa singgah kerumah saya setengah jam dari sini, di desa xx jalan perkebunan raya tanya saja rumah pak Hanif dimana" ucap pria bernama Hanif yang sudah berjasa memberikan ia nomor antrian.
"Oh iya mas, terimakasih, Insha Allah suatu saat Allah pertemukan kembali jika ada umur panjang, sehat selalu ya mas salam buat keluarga mas dirumah" kata Reno menggenggam tangan pria di depannya
"Iya mas sama-sama semoga perjalanan nya lancar, saya. duluan assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Reno kembali menghisap sisa rokok di tangannya, Reno sebenarnya bukan perokok berat, hanya saja di saat-saat tertentu ia terpaksa harus merokok untuk menghilangkan penat hari dan pikirannya.
Reno menatap hamparan sawah menghijau dan para petani yang sigap mengusir burung-burung yang beterbangan di atas hamparan padi.
"Kei, mas kangen kamu, maaf selama kita bersama justru aku yang tidak pernah peduli padamu, padahal kamu lah yang sudah berusaha untuk meluluhkan egoku, dan aku juga yang sudah menghancurkan semua impianmu, dan aku benar-benar menyesal sekarang sudah mengabaikan kamu selama ini" batin Reno menatap nanar pesan-pesan Keisya yang tidak pernah ia hapus selama ini.
Reno memasukkan kembali ponsel ke saku celana dan berjalan menuju ke mobil. Reno kembali melajukan kendaraan nya membelah jalanan yang cukup ramai oleh kendaraan lalu lalang dan para petani yang mencari pakan ternak mereka di pinggiran atau pematang sawah.
Pukul empat sore Reno tiba di tempat tujuan tapi kali ini ia singgah untuk sholat ashar di masjid dekat taman, tempat terakhir kali ia bertemu Keisya, tempat yang menjadi saksi kesalahan yang ia sudah ia buat dulu.
Setelah sholat Reno melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan, namun baru separuh perjalanan matanya tak sengaja melihat Keisya sedang bersama Hanan masuk ke dalam sebuah mobil di depan sebuah rumah mewah yang sedang ramai karena tengah hajatan.