
Pukul sepuluh malam lewat 25 menit aku dan mas Hanan baru sampai di rumah. kami berdua turun tepat di jalan raya dan berjalan memasuki lorong arah rumah kami berdua.
Mas Hanan benar-benar menepati ucapannya sejak kami baru menaiki taksi, ia duduk tepat di sebelah supir dan aku duduk di kursi penumpang di bagian belakang. hingga kami turun di jalan raya aspal poros desa dan memasuki lorong rumah Bulik Sri dan rumah kedua orang tuanya. mas Hanan berjalan agak menjauh di belakang ku.
Melewati beberapa rumah tetangga yang sudah tertutup rapat karena penghuni nya sudah tidur membuatku sesekali menoleh ke belakang karena merinding dan sedikit takut berjalan melewati rerimbunan pekarangan rumah penduduk.
Rumah Bulik Sri memang agak jauh dari jalan besar atau jalan utama desa. sehingga masuk ke sini harus berjalan 200 meter barulah sampai di rumah Bulik Sri.
"Makasih mas Hanan atas pertolongannya hari ini, saya masuk rumah dulu assalamualaikum" ucapku pada mas Hanan saat aku sudah tiba di depan pintu rumah Bulik Sri.
"Waalaikumsalam nona" jawabnya tanpa beralih menatapku. aku sedikit risih namun sebisa mungkin aku bersikap normal.
Ku ketuk pintu rumah Bulik Sri dengan rasa bersalah karena sudah larut malam. tanpa menunggu lama pintu terbuka, sosok Bulik Sri berdiri tepat di depanku dengan wajah heran.
"Saya kira siapa nduk, kok malam-malam begini pulang, sama siapa? loh Gus Hanan, kok ada di sini juga?" tanya Bulik Sri seketika membuat ku menoleh ke belakang. ku pikir mas Hanan sudah pulang kerumahnya saat aku berbalik mengetuk pintu tadi rupanya masih berdiri di depan pagar bambu.
"Injeh Bulik, tadi di minta jemput nona di masjid dekat taman ba'da Maghrib" jelasnya tanpa ada yang di tutupi.
"Ya udah nduk masuk, cepet tidur udah malam" titah Bulik Sri dan aku mengikutinya. aku masuk ke dalam rumah dan beristirahat.
Saat aku hendak ke kamar mandi ku lihat pintu depan masih terbuka dan lampu ruang tamu juga terang benderang. aku abai dan melanjutkan langkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.
"Maaf Bulik, saya hanya menjalankan perintah saja, saya nggak tahu kalau nona ada di taman kota, Saya cuma di telpon suruh jemput itu aja" ucap Hanan dengan raut bersalah.
",Ya udah nggak papa, yang penting kalian pulang selamat, besok pagi saya minta penjelasan dari sampean Gus, nggak penak karo tonggo" balas Bulik Sri tak enak hati.
"Pamit Bulik, assalamualaikum "
"Waalaikumsalam "
Bulik Sri gegas menutup pintu depan setelah Hanan pergi kerumahnya. dengan perasaan tak menentu Bulik sri kembali ke kamarnya.
Aku sempat mendengar percakapan mereka di depan rumah, ada rasa bersalah juga di hati telah melibatkan mas Hanan atas permasalahan ku. namun aku sendiri tidak tahu harus meminta pada siapa di kota kecil ini yang jauh dari ayah dan kedua kakak ku.
Aku berpikir mungkin lebih baik jika aku akan menjelaskan pada Bulik dan paklik besok pagi setelah sarapan. berhubung ayah sedang berkunjung ke kota melihat kedua cucunya yang masih bayi merah jadi lebih baik aku bicarakan masalah ku dan Reno pada mereka disini.
Gegas ku tarik selimut hingga sebatas dada. ku rapalkan doa-doa seperti biasa sebelum tidur. bayangan mas Reno yang tadi lewat di depan masjid tiba-tiba terngiang di benakku.
Ku raih ponsel di atas meja rias, Ku buka kembali pesan terakhir darinya sebelum aku melihatnya melintas di depan masjid. ku hitung jarak waktu saat mas Reno mengirimkan pesan dan saat aku keluar dari masjid menunggu taksi pesanan mas Hanan.
Feeling ku mengatakan jika memang benar dia ada disana saat itu karena memang aku mengatakan ada di masjid saat mas Reno mengubungi ku terakhir kali.
Berulang-ulang ku baca pesan nya, membuat hatiku semakin di landa gelisah, apa dia baik-baik saja di perjalanan pulang yang waktu tempuhnya hampir seharian?
Kata hatiku tidak sejalan dengan pemikiran ku kali ini. berkali-kali ku hubungi nomor mas Reno tapi tetap tidak aktif, hingga pukul 01.25 dini hari akhirnya aku kalah dengan rasa kantuk yang luar biasa membuatku langsung terlelap.
Di sudut perbatasan kota Reno berhenti di salah satu penginapan karena sudah lewat tengah malam dan ia benar-benar lelah dan mengantuk.
Setelah melakukan reservasi ia langung menuju ke kamar yang sudah di pesannya. Reno mengaktifkan ponsel yang sejak tadi sengaja ia matikan karena perjalanan jauh.
Banyak panggilan dan pesan masuk dari Keisya juga Azka dan Dimas. Reno membuka satu persatu pesan dari Keisya terakhir lima belas menit yang lalu.
"Mas, udah sampai dimana, kalau capek singgah aja di penginapan, lanjut besok, salam buat ibu ya"
Tanpa di sadari air mata menggenang di sudut matanya. Reno tergugu dengan rasa bersalahnya membaca pesan terakhir Keisya.
"Ini yang nggak akan adil buat kamu Kei kalau kita menikah, aku nggak mau kamu tersakiti dengan sikap ku, aku menerima mu hanya sebatas balas budi bukan yang lain Kei, maaf, maafkan aku" batin Reno.
"Mulai besok gue harus ganti nomor dan semua sosmed gue harus di nonaktifkan" gumamnya seraya membaca berulangkali pesan terakhir Keisya hingga tertidur.
***
Aku terbangun setelah adzan subuh selesai, gegas aku keluar kamar dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. samar-samar kudengar percakapan Bulik Sri dan paklik Kardi di dapur belakang. karena kamar mandi masih terhubung dengan rumah sedangkan dapur terpisah di luar.
"Mas Hadi, mau ngomong opo pak?" (Mas Hadi tadi ngomong apa pak?)
"Mas Hadi nek rumah sakit, penyakit e kambuh, mbene Keisya Yo Ra roh". (Mas Hadi masuk rumah sakit, penyakit nya kambuh, dan Keisya belum tahu)
"Lah kepiye ceritane iso mlebu rumah sakit neh Ki?" (Lah bagaimana ceritanya bisa masuk rah sakit lagi?)
"Keisya Karo calone Ra dadi buk" (Keisya sama calonnya batal menikah buk)
"Loh, la gari sak sasi maneh kok batal Ki piye? gek Yo Keisya seng mbatalke opo calone?" (Loh tinggal sebulan lagi kok malah batal ini gimana? Keisya yang batalkan atau calonnya?"
"Ya Allah, lah pantes mambengi bocae teko matane Aboh" (Ya Allah pantesan tadi malam anaknya datang matanya sembab)
"Keisya teko buk?" (Keisya datang buk?)
",Lah dalah Ra eroh pak? mambengi teko di terne Gus Hanan jam sepuluh lewat"
(Masak nggak tahu? tadi malam datang di antar Gus Hanan jam sepuluh lewat)
"Lah kok iso i piye?" ( loh kok bisa sih?)
"Mengko tak njalok penjelasan Gus Hanan pak" ( Nanti saya minta penjelasan dari Gus Hanan).
Sedikit mengerti percakapan mereka yang sempat ku dengar. ayah masuk rumah sakit apa karena perjodohan ku dan Reno batal atau karena hal lain.
Tiba di kamar aku termenung menimbang segala sesuatu yang akan ku lakukan setelah keluar dari kamar ini. hendak menghubungi ayah takut jika akan membuatnya semakin terpuruk karena permasalahan ku dan Reno. mengubungi kak Kinar sepagi ini juga tidak mungkin karena biasa ia sibuk mengurusi kedua bayinya.
Dering gawai di meja rias menghentikan lamunanku, nama mas Reno tertera di layar utama. mas Reno tengah melakukan panggilan video. gegas aku menggeser tombol hijau dan panggilan kami tersambung.
Kulihat ia hanya diam menatapku dengan wajah lelah tanpa berniat untuk memulai percakapan.
"Ada apa mas?" tanyaku memulai percakapan
"Nggak ada apa-apa, kamu baik-baik aja kan?" tanyanya. aku tersenyum sumbang.
"Menurut mas gimana?" tanya ku balik
"Maaf Kei, maaf mungkin ini terakhir kalinya kita bicara, kamu nggak usah mikir yang aneh-aneh semua yang di sini tanggung jawabku, karena aku yang berbuat dan aku harus bertanggung jawab atas kesalahanku" ucapnya panjang lebar.
"Iya, terserah kamu saja mas"
"maafkan aku kei, jika suatu saat kita bertemu kembali, aku berharap kamu sudah bisa memaafkan kesalahanku, dan aku berharap kamu hidup lebih baik dan bahagia di masa depan"
"Iya" hanya satu kata itu saja yang bisa mewakili perasaan ku saat ini.
Aku harus apa lagi, semua keputusan sudah terjadi dan itu kemauan mu mas. bukan inginku. aku sudah berusaha mensejajarkan dan memantaskan diri untuk mu selama tiga bulan ini, tapi kamu sendiri yang meminta ini berakhir.
"Kei"
"Ya?"
"Aku harus pergi, sekali lagi maafkan aku"
"Ya"
Tut
Sambungan terputus dan aku tergugu untuk kesekian kalinya. perpisahan ini bukan yang aku inginkan tapi aku harus apa jika dia sendiri yang menginginkan kami berpisah.
Aku sudah mulai merasa nyaman dengan ibunya tapi dia juga yang mematahkan rasa nyamanku setelah sekian puluh tahun aku tidak merasakan aura Seorang ibu. aku kecewa dengan sikap tak konsisten nya. aku terluka dengan semua keputusan nya.
Aku tidak menyadari jika sejak tadi Bulik Sri sudah duduk di depan meja rias karena aku masih sibuk menangisi perpisahan kubdan mas Reno.
"Nduk, sarapan dulu yuk, sudah jam tujuh kamu nangis daritadi apa nggak capek?" ucap Bulik Sri mengusap lembut rambutku. Aku langsung berlari ke dalam pelukannya ku tumpahkan segala tangisku dalam dekapannya. Bulik Sri masih setia mengusap lembut rambutku dengan penuh kasih dan ku sadari jika beliau juga ikut menangis karena bahuku basah oleh air matanya.
"Buk, ada ummi Tin sama Gus Hanan di depan" ucap paklik Kardi di depan pintu kamar.
"Iya minta tunggu sebentar lagi pak"
"Udah nduk, Bulik ada tamu, sampean cepet sarapan ya, nanti paklik antar ke pondok, tadi Arini sudah nelpon katanya sampean cuma izin sehari" ucap Bulik Sri melepas pelukannya kemudian mengusap kedua pipi ku dengan telapak tangan nya yang hangat.
"Seng sabar Yo, Gusti Allah sudah siapkan gantinya lebih baik lagi, yang tenang ya berdoa terus sama Allah, jalan masih panjang" nasihat Bulik Sri padaku.
"Enggeh"
Bulik Sri keluar kamar dan menemui tamunya yang tidak lain adalah tetangga depan rumah. entah apa yang mereka bicarakan, ku dengar ummi Tin seperti marah pada Bulik Sri dan melayangkan tuduhan tak baik padaku.
"Bu sudah, Hanan sudah bilang hanya melaksanakan tugas dari bos, itu saja, Hanan kerja sama pak Hadi itu artinya semua keluarga pak Hadi itu bos Hanan yang harus di hormati, kalau ibu marah nggak harus menjelekkan non Keisya, dia nggak tahu apa-apa Bu, ngerti?" ucap mas Hanan lantang dan masih ku dengar dari kamar.
Ucapan mas Hanan pada ibunya benar-benar membuat ku geleng-geleng kepala. benarkah ini Hanan yang ku kenal?