
Reno menutup kembali buku diary yang sudah menjadi temannya sehari-hari selama setahun ini, tidak terasa waktu berlalu begitu cepat.
Pandangan matanya tak lepas dari sebuah foto yang ia simpan rapi selama ini di sampul buku diarynya. Mungkin bagi teman-teman lainnya Reno seperti anak perempuan yang cuma bisanya nulis di buku diary sambil nangis-nangis. Tapi toh Reno tetap cuek.
Hari ini ia harus bersiap-siap karena besok sudah harus pergi meninggalkan rumah yang menjadi tempatnya berteduh selama setahun ini.
Liburan semester ingin ia habiskan di desa bersama ibu dan kedua adiknya. Menyembunyikan rasa rindu pada mereka begitu berat terkadang Reno pun harus benar-benar menekan ego untuk tidak menangis. Ya Reno memang secengeng itu jika menyangkut keluarga yang ia sayangi.
"Ren, mau bawa amplang nggak?" Tanya Tante Meri di depan pintu kamar
"Paketin aja deh tan, daripada bawa berat, banyak lagi" jawab Reno sembari membuka pintu kamar
"Ini semua mau di paketin? Mahal ongkir" kata Tante Meri
"Mending bayar mahal dari pada nggak muat di bagasi, lagian penumpang di batasi bawa barang kan maksimal lima kilo, Tadi kan cuma dua kardus Tan kenapa nambah jadi sebanyak ini, enam kardus isinya apa aja, astaga" Reno mengembuskan nafas
"Ini amplang dua dus, yang ini kue-kue kering khas Kalimantan, trus yang ini baju-baju baru buat ibu kamu, lagian kardusnya kan kecil Ren" kata Tante Meri
"Gini aja deh, aku nyari kardus besar di rumah Rino, Tante bongkar semuanya biar nanti aku yang nata" ucap Reno lalu pergi
Tante Meri hanya menatap kepergian Reno. "benar-benar anak itu, sama kayak Gito kalau di suruh bawa barang sukanya maketin". Batin Tante Meri geleng-geleng kepala
"Mama mabok?" Seru Arzan yang datang dari belakang
"Apa Zan?" Tanya Tante Meri menoleh, "kamu ngomong apa tadi?" Tanya Meri lagi
"Mama mabok? Kenapa geleng-geleng kepala hihihi" ucap Arzan sengaja menggoda mama nya.
"banyak nanya, bantuin bongkar isinya semua kardus ini" titah Tante Meri.
"huh, lagian mas Reno disana cuma dua Minggu mama repot bawain macem-macem, yang aneh mama tauk, mana mau mas Reno bawa bontrot sebanyak ini kayak mau pindahan aja" oceh Arzan membuat Tante Meri akhirnya kesal dan memukul anaknya dengan handuk.
"Emang bener kan ma, mama sih rempong"ucap Arzan dengan tangan memegang handuk yang hendak di pukulan padanya
"Apa sih kalian? Tiap hari bertengkar terus, udah sini papa bantuin, mana Reno?" Ucap om Danu datang melerai istri dan anaknya
"Kerumah Rino minta kardus besar" jawab Tante Meri dengan mata melotot pada Arzan
"Zan, kamu itu sudah-sudah jahil mu sama mama, apa kamu nggak ingat kalau mama yang sudah capek hamil sampai kamu lahir rawat kamu dari kecil, kalau masih berulah papa tarik semua aset mu" tegur om Danu membuat Arzan langsung memutar bola mata jengah.
Arzan mencebi dan menirukan gaya ucapan papanya saat mengancam akan menarik semua asetnya.
"Astaga…" ucap ketiga orang itu melihat kardus yang di bawa Reno memanglah kardus bekas kulkas.
"Kenapa astaga… ini muat banyak, daripada ini kecil-kecil" kata Reno
"Bukan masalah besarnya gais, masukin barangnya gimana? Tinggi kardusnya daripada orangnya, ancen i.." sahut Arzan membuat Reno garuk kepala.
"Hehe bener juga sih, maksud aku biar masuk semua ke dalam sini nggak terpisah kayak gitu, biar jadi satu"
"Udah sini papa yang bantuin, ambil gunting besar di belakang Zan, ini harusnya di gunting dulu pinggirnya biar jadi tutup di atas, mama keluarin semua barang-barangnya" ucap om Danu melerai mereka bertiga daripada terjadi adegan perngeyelan berikut nya karena setiap hari jika mereka sedang dirumah, selalu terjadi hal-hal ajaib yang tidak terduga.
***
"Kamu mau daftar jurusan fashion designer?" Tanya tuan Wibowo sore itu di teras belakang rumah sembari menyiangi rumput yang tumbuh memenuhi taman.
"Iya, Minggu depan tes terakhir, dua hasil karyaku udah di pesan salah satu dosen di sana untuk pernikahannya" jawab Keisya
"Alhamdulillah, kenapa kamu nggak Nerima permintaan endorse produk baju muslimah, ada teman ayah yang buka usaha butik muslimah online"
"Belum kepikiran kesitu yah, mau fokus ngembangin bakat dulu, lagian mbak Kinar juga masih megang butik, meski stok baju pesanan pelanggan aku semua yang ambil alih"
"Trus kapan kamu mau ambil alih butik sama galeri ibu? Kakak mu nggak sanggup kalau harus dia semua yang pegang Kei, mana urusin anak, kuliah, ngurusin perusahaan, belum lagi kalau anak-anak sakit" kata tuan Wibowo
"kan masih ada kak Revan yang bantu meskipun nggak secara langsung turun tangan, lagian mas Azka juga bisa di andalkan" elak Keisya
"Terserah kamu lah, yang penting kamu jangan ngorbanin dua kakakmu hanya demi egomu, kasihan mereka terutama Kinara dari kecil sudah merasa tertekan, ayah cuma nggak mau dia tiba-tiba menyerah dan membuat kita semua kalang kabut saking frustasi nya." Ucap tuan Wibowo membuat Keisya menelan kecewa karena merasa memiliki hutang budi pada kedua kakak nya.
"Lagi-lagi mereka yang di sebut-sebut, aku tahu dan aku sadar kok yah, aku hanya merepotkan kalian sejak kecil hingga ibu juga meninggal karena aku, kalian hidup dalam ketakutan selama bertahun-tahun karena aku, bukan aku nggak mau, tapi aku belum sanggup ngelupain mas Reno kalau aku harus kembali lagi ke sana" batin Keisya sedih.
Tuan Wibowo tahu apa yang dirasakan anaknya tapi hanya itu satu-satunya cara agar sang anak tidak takut pada bayangan nya sendiri terlebih jika menyangkut masa lalu mereka dengan Reno.
Bukan tidak tahu jika Reno sengaja pergi dan menghilangkan jejak, tapi tuan Wibowo benar-benar tak ingin memaksakan anaknya untuk memikirkan lagi tentang pernikahan, biarlah waktu saja yang menentukan. Jika memang suatu saat takdir Reno yang menjadi jodoh Keisya pasti akan ada jalan.
Sudah beberapa kali tuan Wibowo mendapat mendapatkan pinangan dari koleganya untuk Keisya, tapi tuan Wibowo selalu menolak dengan halus dan memberikan alasan masuk akal jika Keisya masih belum sembuh total dari trauma nya.
Tuan Wibowo masih merasa bersalah hingga saat ini dan itulah sebabnya ia tak mau menemui Reno dan ibunya meskipun ia sendiri tahu dimana mereka sekarang berada. Tuan Wibowo tak ingin Reno dan keluarganya merasa kesulitan karena dirinya lagi.
"Maaf kan ayah Kei, ayah ingin kamu nggak takut lagi dengan bayangan masa lalu kalian, ayah ingin kamu bisa mengambil langkah untuk masa depan kamu, ayah tahu ini berat, semua karena keegoisan ayah, kalaupun suatu saat nanti kalian berjodoh pasti Tuhan berikan jalan" batin tuan Wibowo sedih.