KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
65 Jatuh Cinta Pada Orang Yang Sama



"Ma, pa aku pamit mohon doanya semoga ujian lancar sampai selesai" ucap Kinara berpamitan pada kedua mertuanya di ikuti Azka yang juga mengekor di belakangnya.


"Pamit pa, ma ,assalamualaikum"


"Jangan bandel, jagain mantu mama" celoteh mama Hanna


"Ck, iya iya waalaikumsalam"


Azka dan Kinara memasuki mobil dan bertolak menuju ke sekolah. dalam perjalanan mereka pun hanya saling diam membisu. sejak kejadian kemarin malam memang Azka lebih banyak diam ia masih merasa kesal dengan sikap Kinara yang tiba-tiba meledak. padahal selama menikah tak pernah sekalipun Azka mendengar Kinara bicara kasar.


Aldo yang memegang kemudi pun tak mau ambil pusing dengan sikap kedua majikan mudanya itu. baginya itu sudah sarapan sekaligus makan malam baginya setiap hari sejak awal dia bekerja sebagai sopir pribadi.


"Huuft brrr prrrt" Aldo memainkan bibirkan tanpa sadar membuat kedua majikannya sontak menoleh padanya.


"Ngapain liatin gue gitu?" tanyanya pada Azka


"Kenapa nggak di bawa sekalian tuh tadi bekel papa ke kantor" ucap Azka


"Heh apa urusan gue sama bekel bos besar?" balas Aldo


"Ckckck kirain lo laper makanya mainin bibir"


"Bwahahahah sa ae lo njir, gue deg-degan bukan laper ogeb"


"Nggak ada Ririn disini deg-degan di sekolah aja" sahut Kinara


"Ni lagi, gue ngomong apa lo nyahutnya apa" sungut Aldo


"Kayak bayi gede lo mainin bibir" ejek Kinara


"Lha emang gue bayi udah gede sembeb, emangnya lo bayi nggak pernah gede" balas Aldo


"Issh pa an sih, gue udah gede ya" ucap Kinara tak terima


"Nyenyenye" Ejek Aldo


Bugh ( Kinara memukul bahu Aldo dengan lipatan kertas manila)


"Aiish lo kdrt jangan sama gue dong, noh suami lo bukan gue" ucap Aldo sembari menunjuk Azka di sampingnya


"Nyebelin sih lo" sahut Kinara


"Nyebelin tapi bikin nyaman" tukas Aldo bangga


"Wleeek"


"Mau bukti?"


"Gak butuh"


"Ya udah fix oke bye"


"bye"


Azka terdiam dengan sorot mata tak bisa di baca melihat keakraban istri dan sahabatnya itu.


"Sejak kapan mereka sedekat ini, selama ini aku nggak pernah liat Kinara seceria ini" batin Azka pilu. ada sesuatu yang tiba-tiba membuat dadanya terasa sesak. cemburu?


"Dah sampai" setelah memarkir mobil Aldo memutar dan membukakan pintu mobil untuk Kinara yang duduk di kursi belakang.


"Terimakasih"


"Sama-sama nona muda" ucap Aldo tersenyum jahil membuat Kinara merasa jengah dan berjalan meninggalkan parkiran.


Rupanya aksi Aldo tak luput juga dari perhatian Azka. ia mencoba menutupi rasa sesak yang ia rasakan dengan tersenyum getir saat membuka pintu.


"Ka, lo baik-baik aja kan?" tanya Aldo saat ia melangkah pergi meninggalkan parkiran.


"Hem baik kok" ucapnya tersenyum kecut. ia ingat semua ucapan Dokter Fritz sepupu jauhnya saat ia baru pulang dari rumah sakit.


"Apapun yang membuatmu merasa down, coba lah untuk tersenyum dan mengingat hal yang baik-baik saja, belajarlah untuk mengingat satu hal bahwa kau hidup karna Allah dan kau mati pun juga karna kehendak Allah, Dia yang maha hidup Dia pula yang maha tahu semua isi hati manusia. jangan biarkan emosi sesaat membuatmu gelap mata, jangan biarkan sikap tak mengenakkan orang padamu menutup mata hatimu, bacalah ini di saat apapun yang terjadi dalam hidupmu "Hasbunallah wa nikmal wakil".


Azka menghela nafas pelan lalu meneruskan langkah, membuat Aldo merasa tak enak pada sikap Azka.


Sejujurnya Aldo masih merasa bersalah dengan pertengkaran mereka saat itu, meski ia sendiri tak tahu menahu penyebab Azka marah padanya. Aldo menyadari perasaannya pada Kinara yang dulu ia pendam perlahan rasa itu kembali hadir. namun ia sadar mustahil baginya memiliki yang bukan miliknya. sebisa mungkin ia menekan perasaannya lagi, ia harus sadar ada hati yang kini harus di jaganya meski ia sendiri pun tak tahu apakah mereka akan berjodoh nantinya.


"Beb, bengong aja sih?" tanya Ririn yang sudah menyamai langkahnya


"Ehh hehe nggak lah, kok gue dag dig dug ya mau ujian" ucapnya berbohong


"Lebih nerves kalau ujian di depan penghulu beb" balas Ririn asal


"Bwahahahaa emang lo udah siap gue kawinin?" sahut Aldo


"Paan sih," Ririn tersipu malu dengan ucapannya sendiri.


***


"Pa nggak usah ganggu mereka dulu sampai selesai ujian" ucap Sean pada papanya


"Ck, kalau gitu kamu yang jelasin"


"Cepetan"


Sean akhirnya menceritakan kronologi terbuka nya kasus kecelakaan tabrak lari seorang anak sma lima belas tahun lalu secara detail tanpa jeda.


"Jadi dimana pak Londo itu sekarang?"


"Sebelumnya dia tinggal di perkampungan kumuh pa, sehari-harinya menjadi pemulung dan tukang bersih-bersih di masjid. kalau sekarang ia sudah tinggal bersama pak rt"


"Hem, sudah kau cari identitasnya?"


"Tuh berkasnya warna biru pa"


"Ck, kebiasaan" tuan Anderson berdecak


"Sudah hapal" sahut Sean meninggalkan ruang presdir utama Eins Corp.


Sesi satu ujian nasional berbasis komputer selesai, semua siswa keluar dari ruang ujian dengan teratur berganti dengan siswa yang mengikuti ujian di sesi kedua.


Azka dan Kinara masuk di sesi kedua sedang kan sahabat mereka sudah selesai di sesi pertama.


Azka memandang sesaat wajah istrinya yang terlihat ceria setelah beradu cerita pada Aldo saat hendak memasuki ruang ujian.


Ia tersenyum samar dan mencoba untuk mensugesti pada dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.


Kinara bukan tak menyadari sikap Azka yang lebih banyak diam, toh ia sendiri pun masih kesal dengan sikap Azka yang cuek saat ia meminta maaf kemarim malam.


"Ben, gue denger lo berhasil buka kasus?" tanya Fikar saat mereka ada di rooftop.


"Siapa bilang?"


"Gue denger dari abang gue"


"Oh emang bang Andri cerita banyak sama lo?"


"Nggak juga sih, cuma bilang aja kalau salut sama cara kerja lo aja"


"Ahahaha biasa aja, gue mah udah biasa sama yang begituan, soalnya almarhum kakek gue dulu selalu ngajakin gue ke lokasi tkp kalau ada kasus nah dari situ gue belajar"


"Hebat lo"


"Ck biasa aja kali ah"


"Do, lo ngapain sih ngelamun mulu akhir-akhir ini? tanya Fikar


"Lagi mikirin anak gadis orang, masih belum mau di kawinin sama dia" sahut Reno


pletak (Aldo memukul jidat Reno)


"Sabar woi" ujar Reno santai


"Diem lo" Aldo melotot


"Iya Do, gue juga ngerasain gitu tau nggak, lo berubah akhir-akhir ini, lebih banyak diem nya, biasa lo ngebacot sana sini sekarang malah jadi kayak pocong taubat tau nggak" tambah Beno


"Ck, gue baik kok" ucap Aldo santai tanpa menoleh pada sahabatnya.


"Tapi yang gue liat-liat nih ya, kalau pas sama Kinar muka lo keliatan cerah gitu. kayak gimana ya pokoknya wajah lo tuh bersinar" ujar Reno


"Waduh gawat, jangan bilang cinta lama belum kelar mau di kelarin nih" sahut Beno


Pletak tak tak tak (Aldo memukul dahi Beno dengan sendok di tangannya)


"Hati-hati kalau ngomong ya!" sungut Aldo


"Weii... nggak usah nge gas ya, kita semua udah tau Do, gimana perasaan lo sama Kinara dulu, dan sekarang lo harus terikat kontrak pekerjaan dengan keluarga dia. gue cuma mau bilang yang sabar aja" Ucap Reno menengahi


Aldo menahan nafasnya sejenak sebelum berbicara.


"Gue terlanjur sayang dia dari dulu tapi dulu gue terlalu minder"ucapnya pelan lalu menyeruput es teh nya. semua sahabatnya terhenyak mendengar ucapan Aldo


"Ya udahlah bukan jodoh lo, tapi jodoh sahabat lo, harusnya lo bersyukur karna lo belum pernah untuk memulai setidaknya lo nggak kecewa berat saat dia jadi milik orang lain". Nasihat Reno


"Kalau gue mah udah belajar ikhlas aja dari dulu, kalau dia bukan jodoh gue nanti nya" Fikar menyahut membuat semua sahabatnya langsung menoleh dengan raut wajah meminta penjelasan.


"Siapa sih yang nggak suka sama dia, dari dulu gue udah tau bukan cuma gue tapi kalian semua ada hati sama dia" jawab Fikar santai membuat semua sahabatnya terdiam.


"Ya udah lah ikhlasin aja"lanjutnya begitu tak mendapatkan respon


"Gue gak bisa, kalau sampai gue lihat lagi dia terluka, gue siap rebut dia dari pemiliknya" sahut Aldo."


Plak plak plak


"Sahabat bengek lo" ucap Reno


"Lo mau jadi pebinor?" Sahut Beno


"Lo mau kemanain nasib si Ririn hah?" sungut Fikar.


"Bwahahahahahahhahha ternyata kita jatuh cinta pada satu orang yang sama" ucap Beno di sela tawanya. mereka semua pada akhirnya saling menertawakan dan bernostalgia dengan masa-masa smp.