KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 114



Azka sedang bercengkrama dengan Reno di taman belakang saat Kinara baru saja tiba bersama ke empat anak mereka sore itu.


"Darimana aja Lo? Sendirian?" tanya Kinara sumringah melihat kedatangan Reno di rumahnya.


"Daritadi lah, cuma berdua sama suami Lo haha" jawab Reno tertawa


"Nggak lucu, udah berubah Lo sekarang ya? gue aja nggak kenal hahah" timpal Kinara


"Ya iyalah emang gue mau kecil terus? Aneh aja Lo, buntut Lo udah berapa?" tanya Reno


"Baru empat, Lo berapa?" pancing Kinara


"Boro-boro anak, nikah aja belom gue hahah" balas Reno


"Ngaco Lo, masak orang paling ganteng di sekolah belom nikah?" Seloroh Kinara


"Serius gue, tanya aja sama laki Lo" ucap Reno


"Ya ampun Ren, Lo belom move on atau gimana sih?" tanya kinara


"Ya belom ada jodoh aja Ra, gimana sih haha" balas Reno tersenyum kikuk.


"Sibuk dengan gelar baru nya, sampai lupa sama nikah hahaha" tambah Azka.


"Wkwkwk, tau aja Lo bro" balas Reno


"Tumben Lo datang, kirain udah lupa jalan pulang?" seloroh Kinara


"Enak aja lupa jalan pulang, gue datang karena ibu sakit, katanya Dimas kalian udah jenguk ibu gue?" tanya Reno


"Dua hari yang lalu kita kesana, dapat kabar pas aku lagi belanja di toko, Dimas waktu itu kelihatan buru-buru gitu, jadi gue tanya, ternyata ibu masuk rumah sakit" jelas Kinara terlihat sedih


"Lagi drop karena selama seminggu nggak berhenti kerja, padahal udah di bilangin mbak indah sama Dimas buat nggak kerja lagi, tapi yan gitu lah ibu, nggak bisa diem" tambah Reno


"Tapi Lo balik kesini lagi untuk selamanya kan?" tanya Kinara


"Ya Insha Allah, ngikut aja sama jalan takdir, kita nggak tahu apa yang bakal terjadi besok" ucap Reno


"Mamiiiiii Keira sembunyiin pensil warna aku" teriak salah satu anak Kinara dari dalam rumah.


"Kak Kean boong maaa, dia aja yang salah naro, aku yang di salahin, huaaaa huaaa" teriak anaknya yang lain dengan tangisan melengking


"Wooii ribut Mulu sih kalian, aku mau belajar nggak konsen" teriak Keenan dengan suara cemprengnya.


"Bang, mending Lo nyari tempat lain, ke kamar kek, Kean cari dulu dimana terakhir kamu simpan, biasanya kan kamu pelupa, Kei,udah jangan nangis, kak Kean lagi khilaf, nanti kakak beliin boneka, tapi diem ya" suara Keana meredam dua adik kembarnya juga Abang nya yang setiap hari tidak pernah berhenti bertengkar.


Kinara yang berdiri di depan pintu pembatas ruang keluarga dan ruang makan hanya bisa menghela nafas panjang. kedua anak kembarnya yang baru berusia empat setengah tahun yang masih paud itu tidak pernah akur, Keanu dan Keira. Kedua anak pertamanya Keenan dan Keana sudah kelas tiga SD, meski begitu diantara keempat anaknya hanya Keana saja yang bersikap lebih dewasa di antara ketiga saudaranya yang lain.


"Nggak kerasa aja ya Ka, udah sebelas tahun lebih kita lulus SMA, sekarang udah punya kehidupan masing-masing, gimana rasanya ngadepin empat anak kembar? Tiap hari mereka begitu?" tanya Reno yang mendengar pertengkaran anak-anak Azka di dalam rumah.


"Ya begitulah, Keana yang paling dewasa, tapi Keenan yang paling di takuti adik-adiknya kecuali Keana, selisih mereka empat tahun lebih kalau gue nggak salah ingat, ya gue nggak pernah nyangka aja Ren, bisa punya empat anak, padahal dulu emaknya ogah-ogahan di deketin tiap hari jual mahal, malah bertengkar Mulu hahahahah" ucap azka mengingat masa lalunya saat baru pertama menikah dengan Kinara.


"Sa aja Lo, oh ya gimana kabar Keisya?" tanya Reno penasaran


"Keisya? Lo masih ingat rupanya hehe" timpal Azka


"Ck, Lo mah, tinggal jawab aja"


"Keisya Alhamdulillah sehat-sehat, keluarganya juga adem tentrem, anaknya udah dua, yang pertama udah TK besar ,yang kedua umur dua setengah tahunan kayaknya, emang Lo nggak pernah komunikasi sama Keisya?" tanya balik Azka.


"Nggak sama sekali, semenjak gue pergi udah nggak pernah tahu apapun soal dia" ucap Reno menutupi keadaan sebenarnya.


"Oh, kirain Lo masih stalker dia" ucap Azka


"Semenjak hari itu gue udah nggak lagi, jaga perasaan suaminya lah, haram mikirin istri orang" ucap Reno


"Siapa tahu Lo minat jadi pebinor" seru Azka.


"Anjai Lo, kayak perempuan cuma dia doang" timpal Reno.


"Lagian, umur udah mau kepala tiga masih betah aja Lo menjomblo, kayak nggak laku hahaha" ejek Azka


"Emang gitu filosofi nya, baru tahu gue" kata Azka tertawa


"Ya udah gue pamit ya mau ke tempat Beno dulu, katanya lagi seneng-seneng nyambut anak kedua" ucap Reno pamitan


"Oh iya, gue baru aja dari sana kemarin, udah pulang kerumah kayaknya, gue kesana masih di rumah sakit" ucap Azka.


"Iya ini udah janjian, mumpung gue di Jakarta jadi sekalian aja silaturahmi, soal Cici sama Fikar ternyata sumpah kalian beneran ya, mereka akhirnya jodoh, cuma Riska yang nggak ada kabarnya sama sekali" ucap Reno


"Riska di luar negeri ikut suaminya tugas disana, dubes di uni emirat katanya" kata Azka.


"Wow, beneran?" tanya Reno tak percaya


"Iya, bulan lalu dia pulang kesini datang kerumah sama suami dan anaknya" ucap Azka meyakinkan


"titip salam aja ya, ya udah gue pamit, salam buat Kinara dan anak-anak" ucap Reno pamitan


"Buat Keisya nggak?" pancing Azka.


"Sa aja Lo, di marahin suaminya gue" ucap Reno.


****


"Sayang ada apa?" tanya Hanan pada istrinya sore itu di taman belakang. Setelah pulang dari rumah sakit siang tadi, Keisya memang lebih banyak diam.


"Nggak papa mas, lagi nggak enak badan aja, anak-anak udah pergi ngaji?" tanya balik Keisya


"Udah sama mbak nya, kamu kayak ada beban, mas siap dengerin kalau kamu mau cerita" ucap Hanan lembut


Keisya nampak menghela nafas panjang, luka masa lalu itu terlintas kembali. Sesak di dada masih terasa, meski sudah sepuluh tahun berlalu, ternyata dia masih belum mampu untuk melupakan hal menyakitkan itu.


"Sayang, mau aku buatin sesuatu?" tanya Hanan sekali lagi


"Nggak mas, cukup mas disini aja, oh ya besok antar aku kerumah om Fritz ya, aku kemarin janjian sama istrinya" ucap Keisya menatap sang suami


Hanan sudah bisa menebak apa yang terjadi pada istrinya, jika ia ingin menemui dokter Fritz berarti ada beban di masa lalu yang di sedang mengusik hatinya.


"Iya besok mas temenin kesana, pulangnya kita ajak anak-anak jalan-jalan" ucap Hanan mencoba menghibur hati Keisya.


Keisya tersenyum lembut menatap suaminya. sungguh beruntung ia mendapat suami seperti Hanan, suami paripurna dengan caranya sendiri.


Terkadang dalam hati ia merasa bersalah seringkali menyakiti perasaan Hanan dengan masa lalunya yang masih ia simpan rapat-rapat hingga kini.


Bayangan hidup dari masa kecil hingga bertemu pria berhati lembut seperti Hanan tak ayal bisa membuat nya melupakan semua tentang Reno yang pernah menggariskan warna dalam hidupnya.


Sama seperti yang tejadi siang tadi di rumah sakit. Tak pernah terbayangkan sekali pun ia akan bertemu dengan laki-laki yang pernah ia harapkan kehadirannya di masa lalu.


Meski sudah banyak berubah, tapi sorot kerinduan masih terlihat di bola mata pria itu meski kecil kemungkinan.


Keisya menghapus sudut matanya tanpa sadar, meskipun Hanan hanya terdiam dan memeluk nya dari samping, sejujurnya jauh di lubuk hati Hanan merasa sakit melihat keadaan sang istri yang belum juga sembuh dari luka masa lalunya.


Tapi Hanan sudah pernah berjanji untuk tidak membahas apapun tentang masa lalu sang istri agar tak ada yang saling tersakiti di antara mereka.


Faras yang berdiri di balik jendela melihat kedua orangtuanya saling mendukung satu sama lain, membuat nya menangis dalam diam.


Faras tahu jika ibunya sudah berjuang demi dia dan adiknya selama ini, orang yang selalu ia panggil mama sejak kecil rupanya kakak dari ibunya. Kini setelah Kinara memilih pergi ke luar negeri dalam waktu lama, ia baru tahu jika Keisya lah ibu kandungnya.


"Den, ayok pergi, sebentar lagi magrib" ucap sang pengasuh.


"Ibu sakit ya mbak?" tanya anak laki-laki berusia hampir lima tahun itu


" iya tapi sudah sembuh" jawab sang pengasuh


"Ibu sakit karena aku kan mbak, karena aku lahir" ucap Faras memeluk sang pengasuh


"Nggak kok, ibu itu hebat bisa melahirkan anak pintar dan Sholeh kayak mas Faras" ucap sang pengasuh menenangkan Faras.


"Tapi gara-gara aku ibu jadi sakit kan?" ucap Faras menangis tergugu di pundak sang pengasuh.


"Udah yuk kita di tungguin pak kyai, nanti keburu telat nggak jadi dapat pahala pertama" rayu sang pengasuh membawa Faras berlalu meninggalkan rumah.