KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 21



"Gimana mas Hanan, betah nggak kerja sama Keisya?" tanya Azka saat mereka tengah duduk berdua di halaman samping.


Azka baru saja terjadi tiba saat Hanan sudah sampai di halaman rumah sedang memarkirkan mobil, karena jadwal siang ini akan mengantarkan Keisya terapi.


"Alhamdulillah betah mas, nona muda juga baik, nggak pernah marah-marah" jawab Hanan jujur


"Baguslah kalau betah, semoga saja semakin langgeng jadi bodyguard Keisya ya" seloroh Azka


"Hah, langgeng kayak orang nikah aja mas, aneh" sahut Hanan tertawa sumbang


"Loh, siapa tahu malah beneran nikah, nggak papa juga kan, siapa mau ngelarang hahaha" timpal Azka


"Hahaha ya nggak pantes lah, Keisya orang darah biru, saya cuma orang biasa mas, aneh" ucap Hanan


"Darah warnanya merah mas bukan biru, siapa yang nggak senang kalau punya menantu ahli bahasa kayak sampean, cerdas, ahli IT juga, ibadahnya bagus, agama juga the best, kalau saya jadi orang tuanya Keisya, langsung tak lamar jadi mantu ku sampean mas" seloroh Azka.


"Hahahah, sampean itu lucu mas, apa sih yang saya andalkan, orang biasa kayak gini kok mau bersaing sama mereka yang punya segalanya, nona muda itu cantik, sudah pasti banyak pengusaha atau anaknya pengusaha yang naksir"


"Lah kalau bapak mertua saya yang melamar sampean jadi menantunya, emang berani nolak?" sahut Azka membuat Hanan terdiam dan melongo lalu setelah nya tertawa pelan.


"Nggak usah ndagel mas, jangan aneh-aneh" sahut hanan di sela tawanya.


"Asik banget pada ketawa, jadi mau berangkat anterin aku ketemu dokter ganteng nggak mas Hanan?" sahut Keisya yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka.


Hanan dan Azka langsung menoleh ke belakang, Azka tersenyum menggoda lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Hanan terlihat salah tingkah, dan berusaha mengatur nafasnya, ternyata Azka yang sudah membuatnya seperti ini malah pergi masuk ke dalam rumah.


"Sudah siap daritadi nona, mari kita berangkat" ucap Hanan.


Hanan berlari kecil ke arah mobil dan membukakan pintu untuk Keisya.


"Kita langsung ke rumah sakit atau mau singgah dulu nona?" tanya Hanan saat sudah berada di depan kemudi.


"Langsung rumah sakit saja mas, nanti pulang nya baru singgah ke butik"


"Oh iya"


Keisya asyik dengan dunianya sendiri saat mobil sudah mulai melaju meninggalkan pelataran rumah melewati pintu gerbang besar. sepanjang jalan Keisya asyik bertukar pesan dengan sahabat lamanya di luar negeri hingga tidak menyadari jika mereka sudah tiba di rumah sakit.


Hanan tersenyum simpul melihat begitu banyak perubahan pada diri Keisya selama dua setengah bulan ini.


Keisya memang sejak awal sudah mencuri hatinya saat pertama kali melihat gadis itu duduk di depan teras menikmati hujan deras malam hari dengan memakai celana pendek dan kaus oblong serta cardigan panjang, rambut hitamnya tergerai indah, meski dengan tatapan sendu, Keisya tetaplah cantik di matanya.


"Nona, kita sudah sampai" ucap hanan membuat Keisya terkejut


"Astaghfirullah, kaget aku mas, saking asyiknya ngobrol sampai lupa, mas tunggu di sini saja ya"


"Baik nona".


Keisya keluar dari mobil lalu berjalan memasuki lorong rumah sakit hingga tiba di depan pintu ruangan dokter Fritz.


"Assalamualaikum dok, maaf telat dikit"


"Waalaikumsalam it's okey, how are you?"


"Very well, tumben banget nanyain aku apa kabar?"


"Kamu kelihatan beda hari ini, full senyum, wajah juga kelihatan cerah, ada kabar baik apa, penasaran deh"


"Ahh nggak ada, biasa aja sih, cuma tadi sempet chatting sama temen lama aja di luar negeri"


"Wow, it's look good, who is she?"


"Maria, my old friend, we met at the train station two years ago"


"It's look good, I am happy for hear that, what she looks?"


"She is tall, she has white skin, and beautiful smile, she is very kind and good friend, and you know that she Will visit Indonesia next month, she has family here"


"Wow...it's amazing, when she come here? can you bring me to know her?"


"Yes, I Will"


"Thank you, It's a good news when she was come here"


"That's right"


"Jadi hari ini ada yang mau kamu obrolin selain teman kamu Maria itu?"


"Ehmm...ada sih, tapi aku takut nanti dokter ketawa"


"Kenapa harus ketawa?"


"Ya gimana, aneh aja kalau aku mau cerita"


"Kalau nggak mau cerita ya kamu kasih clue aja biar aku yang nebak"


"Emm dapet SMS aneh"


"Pesan singkat maksudnya?".


"Iya, dok"


"Bisa, tapi jangan komentar jelek ya, aku malu dok"


"Nggak, tenang aja, mana coba lihat isi pesannya"


Keisya menyerahkan ponselnya dan mempersilakan dokter Fritz membaca pesan singkat dari nomor tak di kenal beberapa jam lalu.


Beberapa saat dokter Fritz terdiam membaca sms tersebut berulang kali. hingga membuat Keisya penasaran.


"Kenapa dok?" tanya nya


"Emm, nggak papa, boleh aku nanya?"


"apa?"


"Apa yang kamu rasakan sekarang setelah kalian berpisah?"


Keisya terdiam cukup lama mendengar pertanyaan dokter Fritz.


"Oke, maaf kalau kamu tersinggung, apa kamu tahu siapa pengirimnya?"tanya dokter Fritz kemudian. Keisya hanya menggeleng.


"Apa ada seseorang yang mengirimkan pesan seperti ini sebelumnya pada mu?"


"Nggak pernah, dan baru kali ini"


"Ya udah, kalau gitu nggak perlu kamu ladenin lagi kalau ada pesan yang sama seperti ini oke?"


"Dok, apa salah kalau berharap dengan seseorang setelah ia pergi meninggalkan kita?"


"Nggak ada yang salah kok, emang kamu ngaruh harapan sama siapa? si mantan kamu itu?"


"Apa itu salah?" tanya Keisya lagi


"Kamu nggak salah, berharap itu boleh saja asalkan jangan menyakiti diri sendiri, sampai kamu melupakan orang di sekeliling mu"


"Aku...aku nggak tahu perasaan apa ini, tapi setelah dia benar-benar pergi, seolah separuh hidupku hampa, aku masih saja berharap dia kembali, aneh kan dok?"


"Nggak aneh, itu wajar kok, apa kamu mulai jatuh cinta setelah dia pergi?"


"Aku nggak tahu dok"


"Tanya hatimu, hanya di situ ada jawabannya, tanpa perlu aku menjawab, apa kamu sudah mulai nyaman dengan keluarga baru kamu sekarang?"


"Alhamdulillah nyaman, aku senang tinggal sama mereka"


"Apa kamu nggak ingin tinggal dengan ayah kamu di desa?"


"Aku nggak terlalu dekat sama ayah, tapi....."


"Apa?"


"Kata Arini, ketika kita masih di berikan kesempatan untuk merawat orang tua, jangan pernah di sia-siakan, aku pengen bisa merawat ayah kalau saja ayah dekat di sini"


"Ayah kamu dekat kok di hati kamu, doakan saja terus kirimkan alfatihah untuk ayah kamu, beliau sekarang sudah ingin hidup tenang, karena tanggung jawabnya sudah hampir selesai, hanya menunggu kamu siap saja hehe"


"Maksudnya dok?"


"Nggak ada maksud apa-apa, gimana sama bodyguard kamu, apa dia baik?"


"Baik kok dok, orangnya humble juga cerdas, sopan sekali"


"Ya ya ya...semoga langgeng ya"


"Hah? maksudnya?"


"Nggak apa-apa Kei," Dokter Fritz menarik nafas lalu berucap, "Kei terkadang apa yang kita inginkan tidak selalu harus terjadi, bahkan terkadang apa yang tidak terbersit di pikiran kita itulah yang terjadi, jadi jangan terlalu tinggi menyimpan harapan pada seseorang yang belum tentu memiliki harapan sama dengan mu, kamu masih muda, teruslah berkarya, banyak orang yang menyayangi mu, jika suatu saat ada seseorang yang mengulurkan tangannya untuk kamu genggam terima lah, bisa saja dia lah memang orang yang tepat yang sudah tuhan kirimkan untuk kamu. ngerti sekarang?"


"Ngerti, aku nggak boleh terlalu berharap mas Reno kembali, bisa saja kan dia sudah bahagia dengan pilihan hidupnya disana, meskipun sakit kalau mengingat itu, aku harus belajar ikhlas kan?"


"Kamu makin kesini makin pinter, sudah mulai ngerti, siapa yang ajarin kamu pasti Kinara kan?"


"Ya benar mbak Kinara banyak ngasih nasihat sama aku, dan merubah pola pikir aku selama ini"


"Dia sama seperti almarhum ibumu, kalian kembar tapi di beri keistimewaan masing-masing oleh Tuhan, jadi pelihara dan rawat itu dengan baik, jangan lupa bersyukur".


"Baik dok, makasih untuk hari ini, akhirnya aku bisa mengerti arti kehidupan ku yang sesungguhnya, aku juga bisa tahu apa yang aku inginkan selama ini"


"Sama-sama, jangan lupa terimakasih juga sama bodyguard kamu yang banyak ngasih pelajaran berharga buat kamu"


"Iya itu pasti"


"Semoga langgeng ya"


"Apanya yang langgeng?"


"Hanan jadi bodyguard kamu"


"Ya kan dia kerja di bayar dok, aneh ihh"


"Hahahaha"