KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
56 Aldo vs Azka part II



"Dari mana lo jam segini baru pulang?" tanya Reno yang sedang membersihkan motor kesayangannya di halaman depan.


Aldo memarkirkan motornya di garasi, tak menghiraukan pertanyaan Reno. Ia membuka tas dan mengeluarkan seragam yang ia simpan dalam tas lalu membawa nya masuk ke dalam rumah. Reno hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Aldo yang tiba-tiba cuek.


"Hah, kenapa harus gini sih, mending gue mati daripada terlibat urusan hati. argggh" gerutu Aldo saat sudah masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


"Aldo udah pulang?" tanya Azka pada Reno yang sibuk mencuci si merah kesayangannya.


"Hem barusan" jawab Reno tanpa menoleh


"Oh" Azka menjawab singkat lalu pergi meninggalkan Reno dan masuk ke dalam rumah.


Azka menoleh sebentar kearah pintu kamar yang di tempati Aldo dengan tatapan yang sulit di artikan, Ia menghela nafas berat lalu memutar arah menuju kamarnya.


Azka meletakkan tas punggung nya di atas nakas lalu merebahkan tubuhnya di kasur, memandang langit-langit kamar dan sesekali menatap keluar jendela.


"Ya Allah sesulit ini yang harus aku hadapi, beri aku kemudahan melewatinya, aku tak pernah meminta dari rahim siapa aku di lahirkan dan dengan siapa aku berjodoh, aku dan Kinara harus terjebak dengan kerumitan ini. jika ini jalan terbaik yang sudah Engkau gariskan, maka mudahkanlah" batin Azka


Azka memejamkan mata mencoba menetralisir perasaannya yang benar-benar berantakan akhir-akhir ini. Azka meraih ponsel nya di saku celana lalu mendial nomor seseorang.


"Halo, apa kau bisa menemui ku di rumah yang ku tempati sekarang?" tanya Azka pada orang di seberang telepon


".............."


"Aku tidak bisa menemui mu di klinik"


"..........."


"Baiklah aku kirim lokasi nya sekarang"


Azka mematikan panggilan lalu mengirimkan lokasi rumah yang ia tempati sekarang.


Brak


"Eh busyet" Azka melempar bantal ke arah Beno yang meringis setelah membuka pintu dengan keras.


"Eh si Udin anak pak RT ngajak ketemuan besok sore, lo bisa nggak?" tanya Beno tanpa babibu


"Tumben?" tanya Azka balik menautkan kedua alisnya


"Ini soal pak londo" Beno menjawab sembari membuka toples yang terletak di atas meja belajar Azka


"Udah ketemu ntu orang?" tanya Azka


"Hem sepertinya, gue nebak aja sih, soalnya si Udin tadi cuma bilang ini soal londo, gitu aja!"


"Jam berapa?"


"Pulang dari kampus katanya, jam 4 sore, Udin bilang lo yang nentuin tempatnya"


"Oke gue tunggu di kafe besok sore" jawab Azka seraya mengambil gitar yang terletak di samping tempat tidurnya.


Jreng..


Jreng...


Jreng..jreng..jreng..jreeeeng


"Ribet amat, lempar aja tuh gitar, duit lo banyak" Oceh Beno yang berlalu meninggalkan kamar Azka.


Azka tak membalas ocehan Beno, Ia masih terus memetik senar gitarnya dan mengeluarkan suara emasnya.


*Hatimu tempat berlindungku


Dari kejahatan syahwatku


Tuhanku merestui itu


Di jadikan engkau istriku


Engkaulah bidadari syurgaku


Rabbanaa hablana min azwajina


Wa dzurriyatuna Qurrota 'ayun wa ja alna lil muttaqina imamaa*..


Azka menarik nafas panjang dan menghentikan permainan guitarnya saat mendengar nada panggilan di ponselnya.


"Iya, masuk aja langsung ke kamar gue di lantai dua paling pojok" ucapnya pada orang di seberang telpon.


Azka masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah menjawab panggilan.


"Eh, mister cari siapa?" tanya Fikar yang baru saja keluar hendak membuang sampah


"Azka nya ada?" tanya orang tersebut


"Oh ada masuk aja, baru juga pulang setengah jam-an kayaknya" Jawab Fikar sembari membuka lebar pagar rumah agar memudahkan mobil yang di tumpangi sang tamu bisa masuk.


"Nih orang nggak ada tampang pribumi tapi pake bahasa pribumi lincah banget" batin Fikar


"Eh mister mau saya anterin?" tawarnya setelah menutup gerbang.


"Oh tentu saja terima kasih"


Sang tamu dengan perawakan bule mengikuti langkah panjang Fikar masuk ke dalam rumah. Fikar mempersilakan tamunya duduk di sofa ruang tamu sementara ia memanggil Azka di kamar.


"Ka..ada tamu lo tuh di depan"ucap Fikar yng sudah berada di dalam kamar Azka


"Iya gue tahu, suruh masuk aja kesini" balas Azka yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basah.


"Nggak biasa nya lo keramas sore-sore" tanya Fikar heran


"Sewot amat sih lo, yang keramas siapa yang sewot siapa" balas Azka seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Main sabun lo ya?" gurau Fikar penuh selidik sembari menahan tawa


"Apa lo bilang??" Azka melotot


"Wleeek🤪🤪" Fikar berlari keluar kamar dengan tawa yan keras. Azka mencebik melihat tingkah konyol sahabatnya itu.


Setelah rapi Azka turun ke bawah menemui tamu yang sudah menunggu nya.


"Hi, wie gehts es dir?"


"Mir gehts es gut"


"Sorry, buat lo nunggu, mau minum apa?"


"Semua yang ada di kulkas keluarin aja hehe"


"Ck udah tua kebiasaan lo nggak berubah juga"


"Hahahaaa" keduanya tertawa, lalu Azka pergi menuju ke dapur mengambil minuman.


"Siapa sih Ka?" tanya Reno yang sudah berdiri di sampingnya memegang sebuah mangkuk berisi bubur ayam


"Temen gue dari Jerman, dia tugas lagi disini"


"Oh, pantesan ngomongnya lincah banget kagak ada belibet"


"Ya emang dari kecil dia disini" Azka merebut sendok yang hendak masuk ke mulut Reno lalu memasukkan ke dalam mulutnya.


"Eh njir.. jijik banget sih lo, bekas orang tauk" cibir Reno yang menerima kembali sendoknya


"Sedekah mulia daripada sedekah chip wleek🤪🤪" sahut Azka lalu pergi meninggalkan Reno.


"Shhhok, padahal dia aja langganan minta chip ke gue, dasar somplak" Gerutu Reno


Azka mengajak tamunya naik ke lantai atas menuju ke kamar yang ia tempati. sementara itu Aldo yang sejak tadi mengurung diri di kamar mulai beranjak karna merasakan cacing di perutnya sudah memberontak minta jatah.


"Ngapa tuh muka kusut amat?" tanya Reno yang baru selesai mencuci mangkuk bekas makanan nya.


"Diem, jan bawel" sahut Aldo, akhirnya Reno memilih diam dan meninggalkan sahabatnya itu. Ia sangat faham jika sudah begini Aldo tidak bisa di ganggu gugat.


Aldo membuka kulkas mencari bahan yang sekiranya bisa ia olah untuk mengisi perutnya yang keroncongan.


"Ah bikin telor dadar martabak aja deh" gumamnya sembari mengambil beberapa butir telur, daun bawang, daging ayam dan bumbu olahan yang memang sengaja mami nya bawakan dari rumah setiap akhir pekan.


Aldo mengambil mendongak untuk melihat jam lalu mengambil celemek dan memakainya.


"Sekalian buat makan malam anak-anak dah" batinnya.


Hingga suara adzan berhenti aktifitas memasak Aldo pun selesai, ia langsung menata piring dan menu yang ia buat di atas meja makan. setelah semua selesai ia segera berlalu ke kamar untuk mandi dan bersiap sholat maghrib.


"Gue sholat dulu ya, lo mau nunggu disini?" tanya Azka pada tamu nya yang tak lain adalah dokter Fritz.


"Gue tunggu di ruang tamu aja."


"Ya udah gue mau siap-siap."


Dokter Fritz mengangguk lalu meninggalkan kamar Azka menuju ke ruang tamu.


Aldo sudah siap dengan setelan koko dan sarung serta kopyah hitam milik papinya yang sengaja ia bawa dari rumah, katanya sih tombo kangen (kangen di ceramahin papi kalo telat sholat 🤪😅).


Tak lama kemudian Beno, Reno, dan Fikar keluar dari kamar masing-masing hanya tersisa Azka yang masih belum turun. mereka berempat berjalan keruang tamu seperti kebiasaan mereka sholat berjamaah nggak boleh ada yang ditinggalin.


Aldo sedikit terkejut melihat tamu yang sedang duduk di sofa sembari membaca koran.


"Temennya Azka" ucap Fikar yang menyadari gelagat Aldo.


"Oh" Aldo ber-oh ria.


Tak lama Azka turun dan berbicara pada dokter Fritz dengan bahasa Jerman. Ke empat sahabatnya hanya melongo tak mengerti. Beno lebih dulu keluar rumah diikuti Aldo, Reno, Fikar dan Azka serta dokter Fritz.


Dokter Fritz akhirnya memilih menunggu mereka berlima di teras rumah sembari menikmati suasana malam di teras rumah orang.


Sepanjang jalan menuju ke masji kelima sahabat hanya saling diam, entah apa yang ada dalam fikiran mereka. sampai tiba di area masjid mereka mengambil air wudlu kemudian masuk ke dalam masjid dan mengatur shaf.


Selesai sholat mereka pulang kerumah. dalam perjalanan hanya Beno, Fikar dan Reno saja yang bersenda gurau saling melempar candaan. Azka dan Aldo masih sibuk dengan fikiran mereka sendiri.


"Mereka kenapa lagi sih?" tanya Beno berbisik pada Reno yang jalan paling belakang. Reno hanya mengedikkan bahunya acuh tanda tak mengerti dengan urusan Aldo dan Azka


"Masih pada cemburuan kali ya?" ucap Beno


"Ck, mana gue tahu, pulang kerumah muka udah pada kusut semua" balas Reno


"Barusan Azka ngundang temennya dimari?" oceh Beno


"Ada urusan pribadi kali, soalnya tadi gue liat mereka masuk ke kamar" tambah Reno


"Ngapain pisang berduaan dalam kamar?" sabut Beno


"Otak lo miring kemana sih Ben, kagak di rem tuh mulut, lagian apa urusannya sama lo" sungut Reno menoyor pundak Beno.


Azka berhenti di teras menemani dokter Fritz sedang Aldo langsung masuk ke dalam rumah tanpa satu katapun ia ucapkan pada tamu Azka. Entah kenapa perasaan nya hari ini benar-benar berantakan.


Setelah berganti pakaian ia segera turun ke bawah untuk makan malam.


"Udah disini kalean" ucap Aldo pada ketiga sahabatnya. "Azka mana?" tanya nya lagi


"Masih di teras" jawab Reno


"Lo panggil dong Ben, ajak makan malam sekalian tuh mister bule" tukas Fikar


"Gue sibuk" jawab Beno yang mencomot telur


Plak


plak


"Paan sih Ren, main pukul aja" Beno tak terima tangannya di pukul


"Cuci tangan dulu, panggilin noh Azka" titah Reno


"Iishh gue mulu di suruh" ucap Beno berlalu meninggalkan dapur


"Lo yang masak ini semua Do?" tanya Reno


"Hem" jawab Aldo singkat sembari membuat susu hangat


"Barusan lo masak segini banyak, tahu aja kalo ada tamu"


"Lagi pengen aja"


"Eh mister, silakan duduk " sapa Reno


"Terimakasih"


"Lo yang masak Ren?" tanya Azka, Reno menggeleng kemudian mendongak ke arah Aldo yang masih berdiri di pantri.


Krik


Krik


Krik


Suasana tiba-tiba mencekam


"Ehm" Fikar berhedem memecah kesunyian yang tiba-tiba merayap memenuhi ruang makan.


"Mari makan, sebelumnya baca doa terlebih dahulu sesuai keyakinan masing-masing" Ucap Reno


Mereka mulai makan dalam diam namun di tengah mereka menyantap makan malam ponsel Aldo berdering.


"Hem, Ra" ucap Aldo kemudian berlalu meninggalkan ruang makan.


"Emang ada lo simpan di tas gue?"


"Nggak ada penyyaaak,"


"Ck ntar gue periksa, bilang aja kenang-kenangan dari Rangga hahaha"


"Ck iya bawel! ntar gue kabarin penyyaak, dah tutup bye!"


Aldo kembali ke meja makan, namun baru saja Aldo duduk Azka meletakkan sendok dengan sedikit keras lalu pergi meninggalkan ruang makan.


Sontak semua memandang aneh pada Azka, kecuali dokter Fritz yang memang sudah paham betul karakter Azka sejak kecil.


"Tenang, lanjutkan saja makan kalian"ucap Dokter Fritz yang menyadari keterkejutan mereka, seolah terhipnotis pada akhirnya keempat sahabat melanjutkan sesi makan malam dalam diam sampai mereka kembali ke kamar masing-masing.


"Apa kau yakin baik-baik saja?" tanya dokter Fritz yang merasa khawatir, Azka hanya mengangguk tanpa berminat untuk menjawab.


"Belajarlah menerima perlahan-lahan, aku tahu ini sulit Eins, trauma itu tidak bisa hilang dalam sekejap bahkan ini sudah belasan tahun berlalu, cobalah untuk memaafkan, terlebih mereka semua sudah mendapatkan hukumannya.


"Aku harus pulang istri dan anakku sedang menunggu di rumah, pergilah ke alamat ini jika kau ada waktu, ku pikir kau butuh siraman rohani" ucap dokter Fritz menepuk pundak Azka dan meletakkan secarik kertas bertuliskan alamat sebuah pondok pesantren.


"Kau?" tany Azka heran saat membaca alamat itu


"Aku bersahabat dengan salah satu anak pemilik nya" ucap dokter Fritz berlalu meninggalkan rumah.


Azka kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil pamannya itu keluar dari halaman rumah.


"Ka, lo baik-baik aja kan?" tanya Aldo yang berpaasan dengannya di bawah tangga.


"Baik" jawab Azka acuh


"Ka" Aldo mencekal tangan Azka


"Gue cuma mau nyerahin ini, punya Kinar ketinggalan di tas gue" ucap Aldo menyerahkan paperbag berisi sandal dan cardigan.


"Kenapa harus gue, kan deketnya sama lo, yang perhatian kan juga lo bukan gue" ucap Azka ketus


"Apaan sih, apa maksud lo ngomong gitu Ka" Aldo sedikit terpancing namun berusaha ia tahan.


"Ck basi lo" ucap Azka lagi


"Lo marah sama gue, apaan coba?" Sarkas Aldo


"Pikir sendiri pake otak" sahut Azka


Bugh


Prang


"Auh" Azka menahan beban tubuhnya dengan bertumpu pada meja kecil di sampung tangga hingga vas bunga menjadi korban jatuh ke lantai.


"Aldo stop" teriak Reno..


bersambuuuuungg...