
"Kamu pulang lagi nan?" tanya umi Tin pada anak bungsunya yang baru datang menenteng tas.
"Iya Bu, tuan besar minta aku nganter anaknya besok ke kota Y"
"Oh" umi Tin berlalu meninggalkan Hanan dengan sikap cuek. Hanan hanya bisa menghela nafasnya panjang-panjang.
Hanan mengikuti langkah kaki ibunya ke dapur dan melihat hasil masakan ibunya di atas meja.
"Mas Hanif pulang Bu?" tanya Hanan
"Iya, pergi ke rumahnya pak RT ada perlunya, kenapa?" jawab umi Tin masih dengan sikap cuek
"Nanya aja, pulang sendirian lagi, nggak sama anak istrinya?" tanya Hanan lagi
"Ikut semua tapi tinggal dirumahnya nggak disini" jawab umi Tin
"Oh gitu, mbak Khusnul nggak pernah ada kabar Bu?"tanya Hanan perihal Kakak perempuannya
"Nggak, mungkin udah lupa sama orang tua sendiri, mbak mu terlalu sibuk sama dunianya". umi Tin menjawab dengan sikap acuh
"Jangan ngomong gitu lah Bu, orang di Mesir sama disini kan perputaran waktu nya beda" jelas hanan
"Terserah lah, tanya aja abahmu yang sering komunikasi sama mbak mu" seru umi Tin
"Ibu kenapa sih bawaannya marah terus daritadi, Hanan bikin salah Bu?" Hanan mulai merasa tak enak dengan sikap ibunya
"Ibu nggak marah, siapa to yang marah" elak umi Tin
"Ck, aku hapal Bu, jangan kira aku anak kecil" sangkal Hanan
"Kenapa kamu nggak berhenti kerja aja nan?" tanya umi Tin
"Apa? berhenti kerja? maksudnya ibu apa?" tanya Hanan tak mengerti
"Berhenti kerja, cari tempat kerja yang lain" usul umi tin
"Astaghfirullah ibu kenapa sih, apa tempat kerjaku ada yang salah? belum tentu Bu ada tempat lain yang mau Nerima mahasiswa" kata Hanan tak setuju dengan permintaan ibunya
"Pasti ada kok" jawab umi tin percaya diri
"Ibu kenapa sih? ibu nggak suka aku kerja di tempat Keisya? maksudnya perusahaan milik orang tua Keisya? salahnya dimana Bu?" tanya Hanan mulai terpancing emosi
"Masih nanya salahnya dimana? ibu nggak suka kamu sama Keisya" ucap umi tin terang-terangan
"Masalahnya apa Bu? dengan siapapun Hanan akan menikah, itu hak aku Bu, karena aku yang akan menjalani bukan ibu" kata Hanan tertahan
"Ibu nggak akan pernah merestui, sampai mati pun ibu nggak mau kamu nikahi Keisya, meskipun kamu pernah di tolak bukan berarti suatu saat dia akan menolak kamu lagi nan" ujar umi Tin
"Aku udah bilang beribu kali, jangan pernah larang aku memilih wanita yang ingin aku nikahi nanti Bu" Hanan berucap sedikit keras
"Ibu yang tahu perempuan mana yang pantas untuk kamu nan" ucap umi Tin membuat Hanan naik pitam
"Oh ya? seperti Ning Syifa gitu maksudnya ibu?" tanya Hanan marah
"Ya, cuma dia satu-satunya yang pantas untuk kamu daripada wanita model kayak Keisya" jawab umi Tin lugas
"Sejak kapan ibu berani mencaci anak orang lain? seperti ini kah ibuku, orang tua yang melahirkan aku?" ucap Hanan penuh emosi
"Nan jangan kurangajar kamu" hardik ibunya
"Apa salah kalau anak membela diri karena orang tuanya yang salah Bu?" kata Hanan membela diri.
"Apa nggak bisa kamu nurut sama ibu? mau ngikutin mas sama mbak mu yang membangkang itu nan?"
prang (suara piring pecah)
"Astaghfirullah" suara Gus Rohid dari arah pintu masuk bersama Hanif anak sulungnya
"Apa hak ibu melarang aku menikahi wanita seperti Keisya? salahku dimana Bu? aku mencintai Keisya, apa itu salah? urusan dia akan menolak atau menerima ku suatu saat nanti itu urusan belakang, hari ini saat ini aku kerja untuk masa depanku Bu, tidak ada urusannya dengan Keisya, aku kerja disana juga bukan karena Keisya tapi mas Reno yang memasukkan aku kerja di perusahaan besar itu, dan itu bukan impian ku, kalau sekarang aku ternyata karyawan di perusahaan tuan Wibowo itu karena izin Allah perantara mas Reno, bukan karena Keisya" ucap Hanan marah
"Nan sudah" ucap Hanif memeluk pundak adiknya mencoba menenangkan.
"Lihat mas Hanif Bu, lihat Abah, apa ibu pikir mereka tidak terkekang dengan sikap egois ibu selama ini? jangan libatkan masa lalu ibu dengan bapaknya almarhum mbak Rurin, jodoh hidup mati dan rejeki sudah di atur sama Allah bukan sama ego ibu, paham?" teriak Hanan lalu meraih gelas dan melemparnya ke dinding
Prang
Gelas yang ia lempar jatuh berkeping-keping dan serpihannya yang terlempar sempat mengenai lengan ibunya. tapi umi tin tetap diam.
"Nan, sudah ayok ikut Abah lihat ponakan mu di rumah barunya" ucap Gus Rohid menenangkan anak bungsunya.
Hanan mengikuti langkah abahnya keluar dari dapur karena lengannya sedikit di tarik paksa oleh Gus Rohid.
sedangkan Hanif membersihkan serpihan pecahan gelas dan piring yang tadi di lempar Hanan karena emosi.
"Bu, istirahat aja, biar Hanif yang bersihkan semuanya" ucap Hanif lembut meminta ibunya masuk ke kamar.
Umi tin hanya diam dan mengikuti perintah sang anak. hatinya masih sakit dengan perilaku sang anak yang memang sejak kecil sudah berani memberontak jika keinginannya tidak di penuhi.
Umi tin tetap tidak merasa bersalah sedikitpun atas keinginannya, tetap tidak mau di salahkan karena ia memang merasa benar. umi Tin pada dasarnya hanya merasa tak sebanding dengan keluarga tuan Wibowo yang kaya raya dan dermawan itu.
Karena perasaan yang merasa rendah diri dan kecewa karena Hanan pernah menolak rencananya menjodohkan dengan anak teman lamanya membuat umi tin semakin membenci Keisya tanpa sebab.
Umi Tin hanya ingin anak-anaknya bahagia dengan pilihannya. itu saja. tanpa memikirkan bagaimana perasaan anak-anaknya sendiri.
Hanif menangis saat mengambil serpihan piring yang berserakan di lantai dan di atas meja makan. kilasan masa lalunya terlintas saat mengetahui kejadian di balik meninggal nya almarhum istri pertamanya dulu.
"Kenapa ibu masih mengulangi kesalahan yang sama" batin Hanif sedih.
Sedangkan di luar Hanan benar-benar pergi kerumah kakak iparnya bersama abahnya. sepanjang jalan Hanan hanya memilih diam sembari menata emosi yang masih membara dalam hatinya.
Bukan keinginan nya untuk melawan orang tua. tapi sikap ibunya membuatnya merasa perlu membela diri karena ia tak ingin kisah masa lalu kakaknya terulang Kembali.
"Maafkan ibumu nan, suatu saat ibumu akan luluh, Abah pernah cerita kan bagaimana masa lalu ibumu?"
"Maaf kan Hanan bah, tapi sikap dan omongan ibu benar-benar kelewatan, aku Ndak suka bah"
"sudahlah, dengan siapapun kamu menikah Abah merestui saja, karena kamu yang akan menjalaninya bukan Abah, lihat mas mu Hanif sekarang bahagia dengan pilihannya meskipun ibumu masih belum mau membuka diri dengan menantunya, doakan saja ibumu nak"
"Iya Abah"