KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
67 " Hai Cousin!"



"I am sorry being late dear" suara seorang wanita menghampiri mereka.


brak prang


Tuan Denias, Revan dan Mr. Andrew seketika berdiri.


"Amira?" ucap tuan Denias terkejut


Wanita yang di sebut Amira sama terkejutnya saat berhadapan dengan tuan Denias. Hendak berucap seketika bibirnya terasa kelu. melihat tatapan mata yang selama puluhan tahun ia rindukan, wajah yang sudah terlihat guratan keriput meski masih terlihat segar bugar, senyum mengembang yang penuh kehangatan dan tanpa disadarinya air mata kerinduan pada sosok pria di hadapannya mengalir begitu saja.


"Kamu Amira?" tanya tuan Denias meyakinkan dirinya


"Ka...kak hikss hikss...." ucap wanita itu sendu


Revan yang menyadari situasi segera menggeser kursinya agak menjauh. Ia sendiri sebenarnya bingung dengan apa yang ia lihat saat ini di depan matanya, sekilas ia melirik ke arah tuan Andrew yang tersenyum tipis dengan tatapan aneh menurutnya.


Tuan Denias berhambur memeluk wanita yang ia cari selama ini, wanita yang sudah puluhan tahun meninggalkannya bersama ibu dan adiknya,wanita yang sudah menjadi dalang dari semua permasalahan dalam hidup keluarga mereka, wanita yang sudah mereka anggap mati meski tak pernah ditemukan jasadnya, wanita yang dulu masih seorang gadis kecil yang mulai beranjak remaja dengan semua tingkah polahnya yang absurd dan membuat semua orang marah dengan sifatnya yang nekat dan keras kepala serta teguh dengan pendiriannya.


Amira Pranata Suryo adik kembar dari mendiang ibu Kinara Amina Pranata Suryo, kini telah kembali setelah menghilang selama puluhan tahun tanpa kabar tanpa jejak apapun yang di tinggalkan.


Tuan Denias menangis haru memeluk sang adik yang ia sayangi, adik yang selama ini selalu dicari keberadaannya tanpa lelah meski tak pernah menemukan titik terang.


"Akhirnya, Allah kabulkan doaku disaat aku hampir saja menyerah mencarimu" ucap tuan Denias terbata seraya membelai lembut kepala sang adik.


"Maaf...ma...maaf kak" ucap Amira di sela isak tangisnya seraya mengurai pelukan sang kakak.


"Maafkan aku kak pergi tanpa kabar, ak..aku...aku tak tahu jalan pulang" ucap Nyonya Amira menunduk sembari mengusap air mata yang menetes di pipinya.


"Kau memang bebal, nakal, bandel, suka berulah, anak tak tahu di untung, urakan...." cecar tuan Denias namun segera di potong oleh sang adik


"Cah edan, enggak waras, ndablek apalagi.... sebutin semua..." sahut Nyonya Amira tersenyum penuh kemenangan.


"Bahahahahahahahaa" pada akhirnya kedua saudara kandung itu tertawa bersama sembari mengusap kedua pipi mereka demi menghilangkan jejak-jejak butiran kristal yang menetes sejak tadi.


Revan sedikit mengerti di tengah keterkejutan nya. sedikit tak percaya namun itu nyata, orang yang sejak kecil di ceritakan oleh mendiang ibunya rupanya masih hidup dan sehat. takdir benar-benar ajaib, ketika Tuhan sudah menentukan suatu hal tak akan ada yang bisa menghindarinya sekuat apapun manusia itu berusaha untuk lari.


"Ehmm" tuan Andrew mencairkan suasana yang terasa sedikit aneh. matanya memicing kearah pintu ruangan yang sedikit terbuka, lalu memberikan kode.


Perlahan pintu terbuka, masuk dua orang anak remaja yang membawa kue dengan hiasan lilin. semua menoleh kearah pintu. Revan dan tuan Denias memasang wajah terkejut.


"Siapa yang ulang tahun?" pikir Revan


"Berani banget Sindu punya karyawan bule" pikir tuan Denias memandang lekat pada kedua remaja yang berseragam pelayan itu.


Mr.Andrew hanya menahan tawa saat melihat kedua anaknya memakai seragam pelayan. sedangkan nyonya Amira menatap tak percaya pada kedua anaknya.


"Kalian apa-apaan?" semprot nyonya Amira pada kedua anaknya yang hanya di balas dengan cengengesan.


"Happy birthday mom" ucap Darren


"Happy milad umi hihihi" sambung Steffy


"What?" pekik Revan lebih terkejut lagi.


"Kalian ini...?" tanya Tuan Denias menunjuk kedua anak remaja berseragam pelayan itu, lalu menoleh ke arah sang adik yang tersenyum haru.


"Dia anak-anak ku kak" sahut nyonya Amira menjawab keterkejutan sang kakak. "Aku bahkan sampai melupakan hari terpenting dalam hidupku karna mengurus mereka berdua" lanjutnya lagi.


"Hai cousin.." Sapa Darren sok akrab pada Revan yang hanya di sambut cengiran haru sekaligus malu.


"Sok banget" ejek Steffy pada kakaknya.


Nyonya Amira menoleh pada sang suami yang berdiri di belakangnya dengan sorot mata tajam penuh intimidasi dan yang di tatap hanya tersenyum simpul seraya memicingkan matanya penuh cinta pada sang istri.


"Pegel mom pegang kue, tiup dulu dong" rengek Steffy


"Simpan di meja, siapa suruh nggak bilang" balas nyonya Amira.


"Karna kalin sudah disini, mama kenalin, ini uncle Denias seorang detektif profesional yang bisa memecahkan teka teki silang paling sulit tapi tidak pernah bisa menemukan jejak digital mama selama bertahun-tahun" lanjut nyonya Amira memperkenalkan tuan Denias pada anak-anaknya.


Darren dan Steffy menyalami Tuan Denias penuh khidmat. Tuan Denias lagi-lagi merasa terharu dan bahagia memeluk kedua keponakan baru nya. Begitupun Revan ia tak kalah terkejut dan meneteskan air mata bahagia bisa bertemu dengan sepupu baru dan tantenya yang di nyatakan meninggal meski di sudut hatinya ia masih merasa tak percaya dengan keajaiban yang Tuhan berikan padanya hari ini.


"Yang betah disini ya, kalau perlu kalian menetap saja disini jangan lagi pulang ke Belanda" Tuan Denias berkelakar pada kedua keponakannya seraya duduk di kursi.


"Tergantung mommy sama daddy" sahut Darren.


"Kalau Darren silakan saja, mau bikin pulau disini juga nggak papa" Ucap Mr. Andrew santai


"Ini lilin nya kapan di tiup sih mom, tuh udah mau habis" sungut Steffy yang membuat seisi ruangan tertawa.


"Mommy nggak suka kejutan, harus berapa kali mommy ulang?" sungut Nyonya Amira


"Hahahahaahaa...mommy kalian itu berandalan kampung, dia nggak suka yang berbau romantis, sukanya yang berbau anyir hihihi" Sahut tuan Denias


"Mas jangan mulai" tegur Nyonya Amira melotot pada sang kakak.


Mr.Andrew yang sedari tadi menonton pada akhirnya tertawa dan membenarkan ucapan kakak iparnya.


"Udah...udah kalian makanlah sendiri kuenya" ucap Nyonya Amina sebagi bentuk protesnya pada ulah sang suami dan anak-anaknya.


Revan tersenyum simpul melihat nyonya Amira yang beda ribuan derajat dengan almarhum sang ibu. hanya wajah dan senyuman mereka yang kembar. Revan merasa menemukan sosok ibunya lagi sekarang. ada debaran bahagia dalam hatinya. "Andai ibu masih hidup" batinnya mencelos mengingat sang ibu selalu mengatakan rindu pada sang adik kembarnya yang tak pernah di temukan bahkan hingga akhir hayatnya sang ibu masih menyebut nama Amira.


"Aku tidak menyangka hari ini" ucap tuan Denias setelah menyesap kopinya.


"Maafkan saya tuan, ini rencana saya sendiri ingin memberi kejutan pada istri saya" Balas Mr.Andrew sedikit kaku


"Kupikir pak Santoso operasi plastik" Imbuh Revan yang di sambut gelak tawa nyonya Amira


"Yap, bahkan aku mengira pak Santoso salah kirim orang" sahut tuan Denias membuat Mr.Andrew ikut tertawa.


"Sebenarnya sejak awal saya sudah meminta Amira untuk kembali ke Indonesia menemui anda, namun dia selalu menolak"


"Maksud kalian?" tanya Tuan Denias heran dengan ucapan Mr.Andrew begitu juga Revan. yang terlihat menautkan kedua alisnya.


"Ceritanya panjang mas" sahut nyonya Amira setelah menghela nafas nya berat.


"Ma, aku sama kak Darren mau pergi jalan boleh kan ya?" tanya Steffy, ia menyadari ada hal serius yang akan di bahas oleh kedua orang tua mereka dengan paman dan sepupunya Revan.


"Pergilah".


Setelah kepergian Darren dan Steffy, mereka melanjutkan obrolan.


"Bagaimana bisa kau pergi tanpa jejak Amira?" tanya tuan Denias pada sang adik.


Nyonya Amira memandang sang suami meminta persetujuan untuk menceritakan semuanya saat ini. Mr. Andrew menjawab dengan satu anggukan membuat Nyonya Amira menahan nafasnya sejenak sebelum mengatakan kebenaran yang selama ini ia simpan.


"Maafkan aku mas, bahkan hingga saat ini aku masih merasa bersalah atas tindakanku dulu pada kalian" ucap sendu Nyonya Amira.


"Sudahlah lupakan, aku hanya ingin tahu bagaimana kau bisa lupa jalan pulang?" balas tuan Denias tegas. nyonya Amira menunduk berusaha mengatur detak jantungnya yang tak karuan.


"Bagaimana kabar ibu, apa ibu masih hidup?" tanya nyonya Amira sedih


Tuan Denias memejamkan matanya sejenak " Ibu masih hidup dan sehat" jawabnya kemudian.


"Maafkan aku mas, jadi penyebab masalah yang kalian hadapi hingga saat ini"


Mr.Andrew memeluk istrinya erat untuk menguatkannya membuka lembaran lama yang tidak satupun dari mereka yang tahu kecuali keluarga Mr.Andrew dan kedua anak mereka.


Tuan Denias dan Revan semakin tidak mengerti dengan ucapan nyonya Amira.


"Jangan cerita jika kamu belum siap Mira" ucap Pak Denias setenang mungkin.


"Aku harus cerita, banyak hal yang tidak kalian tahu selama puluhan tahun kita berpisah" tukas nyonya Amira


"Sudahlah, tenangkan dulu dirimu" sanggah tuan Denias


"Apa kalian tidak ingin menghentikan kejahatan Anthony?" tanya nyonya Amira tegas membuat Revan dan tuan Denias saling pandang..