KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
120 Tamu Istimewa



Setelah sholat isya kediaman tuan Wibowo sudah penuh sesak dengan para tamu yang datang untuk tahlilan, mendoakan mendiang Anthony.


Kondisi Kinara sudah jauh lebih baik daripada pagi tadi saat Anthony baru saja menghembuskan nafas terakhir. kehadiran mbok Jum wanita paruh baya yang sudah bekerja pada keluarganya sejak puluhan tahun lalu itu bisa menghilangkan sedikit mendung di wajah Kinara.


"Jadi mbok selama ini sembunyi di di kediaman om Denias?"


"Iya non, tuan yang meminta saya saat nona tinggal bersama den Azka."


"Jadi sebulan setelah akad kalian pergi?"


"Kurang lebih gitu non, mbok sudah lupa"


"pantas saja aku datang kesini pulang sekolah rumah sepi nggak terawat waktu itu" ucap Kinara mengingat kejadian hampir setahun silam


"Emang non pernah kesini? nggak apa-apa kan?" tanya mbok Jum terkejut.


"Maksud nya?"Kinara heran dengan pertanyaan mbok Jum.


"Tapi non nggak kenapa-kenapa kan?"


"Nggak tuh emang kenapa sih?"


Mbok Jum bernafas lega saat mendengar ucapan Kinara. ada guratan kesedihan di mata mbok Jum untuk bercerita di balik kepergiannya tanpa pamit setahun lalu.


"Mbok kenapa, cerita dong"


"Sewaktu nona pergi dan tinggal bersama den Azka, rumah ini hanya ada saya, Asep dan teman lain yang datang bergilir saat siang sampai sore saja. sedangkan saat malam hari hanya ada saya, Asep dan dua orang satpam yang berjaga di depan." mbok Jum berhenti sejenak sebelum meneruskan ceritanya.


"Malam itu, saya dan Asep sedang keluar untuk membeli kebutuhan dapur dan pekerja yang habis di minimarket depan perempatan sana, di sini hanya ada dua satpam sedang berjaga, rumah juga sudah kami kunci otomatis semuanya,baik jendela atau pintu, saat pulang kami terkejut saat mendapati Yuga salah satu satpam terkapar di samping pos satpam dan satu temannya lagi di ikat dan di salah satu tiang teras dengan wajah babak belur, kami panik dan memanggil warga, beruntung rumah dalam keadaan aman, Yuga dan temannya di bawa kerumah sakit, dua hari setelah mereka membaik, tuan Denis datang dan menanyakan kejadian itu, ternyata ada dua orang tak di kenal memaksa masuk ke rumah namun di halang oleh Yuga, ternyata ada salah satu dari mereka yang naik pagar tanpa di ketahui oleh Yuga, Yuga pingsan setelah di pukul dari arah belakang, dan saat itu Munir baru keluar dari kamar mandi langsung dibekuk oleh mereka. ternyata mereka bertiga, dua orang tadi sengaja mengecoh Yuga. Munir di hajar habis oleh mereka dan mengikat mereka pada tiang teras. setelah itu mereka pergi."


"Astaghfirullah teganya mereka, trus bagaimana ceritanya rumah ini kosong?"


"Tuan Denias meminta semua pekerja untuk kembali ke kampung halamannya untuk sementara hanya saya dan Asep yang di minta untuk tinggal di kompleks tempat tinggal Keisya. sehari setelah kejadian itu kami semua pergi, bahkan kami semua diberi kartu ponsel yang baru dan hanya ada nomor tuan Denias saja disana bahkan kami mengganti identitas agar tidak terjamah oleh anak buah Anthony"


"Astaghfirullah, segitunya, kenapa mbok nggak cerita ke aku sebelum pergi paling tidak telpon"


"Tuan Denias melarang kami demi kebaikan non sama Aden dan keluarga nya."


"Ya Allah, trus waktu itu ayah sama kak Revan tahu kejadiannya seperti itu?"


"Iya nona mereka tahu semua, demi non Kinara tuan Wibowo mengalah untuk tidak memberi kabar apapun sama nona, padahal setiap malam tuan Wibowo menelpon asistennya tuan Anderson cuma mau tahu keadaan nona"


" Ya Allah, jadi mereka sengaja melakukan ini semua demi aku dan mas Azka?"


"Iya nona, karena mereka nggak mau kalau non ikut di culik juga oleh anak buah Anthony karena non Keisya saat itu sedang berusaha untuk melarikan diri dari rumah Anthony"


"Ya Allah segitu rumitnya, saat yang lain kembali ke kampung apa yang mereka kerjakan disana?"


"Tuan Denias dan tuan Wibowo serta mertua nona memberikan kami semua modal usaha untuk membuka kios atau apapun itu bahkan ada yang mendapatkan biaya kuliah kayak keponakan saya Rosmiati non"


"Alhamdulillah


"Sekarang semu sudah selesai non, makanya tuan Denias memangil kembali kami semua yang pernah bekerja disini"


"yang bener mbok? ada mbak Anggi dong,"


"Anggi sudah meninggal sebulan lalu non"


"Anggi dan suaminya kecelakaan saat hendak pergi kerumah mertuanya, saat itu Anggi sedang hamil tua dan nunggu hpl beruntung anaknya dalam kandungan bisa di selamatkan, tapi Anggi pendarahan hebat akibat benturan saat kecelakaan dan nyawanya tidak bisa tertolong, suaminya meninggal di tempat, dan sopir pribadi mereka sampai sekarang masih koma"


"Ya Allah mbak Anggi, udah lama nggak denger kabarnya, trus anaknya sekarang sama siapa mbok?"


"Anaknya di rawat sama adiknya Anggi yang masih kuliah, karena ibu mertua Anggi sudah lumpuh dan bapak mertuanya juga sudah meninggal, orang tua Anggi juga sakit-sakitan di kampung"


"Jadi adiknya mbak Anggi yang merawat orang tua dan bayinya?"


"Iya, bahkan mertuanya Anggi juga kabarnya di rawat adiknya Anggi, kasihan sekali Melia non, kuliah semester akhir nyambi kerja sekarang harus merawat bayi dan orang tua, belum lagi adik laki-lakinya baru masuk SMA sudah putus sekolah karena keadaan, saudara Anggi bahkan nggak ada yang peduli dengan keadaan mereka. padahal orang tua Anggi selalu membantu saat saudara yang lain kena musibah"


"Ya Allah, nanti kapan-kapan kita main kesana ya mbok, kalau bisa adiknya mbak Anggi biar ikut aku aja"


"Usul yang bagus non, eh ya udah ya mbok mau siapin makanan buat nyonya besar katanya mau datang besok pagi"


"Nenek Widya?"


"Iya, Nyonya Widya mau datang besok pagi sekarang masih transit di ibukota istirahat dulu"


"Alhamdulillah akhirnya tamu istimewa yang aku tunggu puluhan tahun mau datang yeii"


"Ya udah mbok pamit dulu ya, mau bantu yang lain dulu, ceritanya di lanjutkan kapan-kapan lagi"


"Oke mbok, makasih ya udah mau nemenin aku disini"


"Sama-sama"


Setelah kepergian mbok Jum senyum ceria langsung menghiasi wajah Kinara yang tadinya mendung, kabar akan kedatangan neneknya membuatnya bahagia sekali hingga tidak menyadari kehadiran sang suami yang berdiri di pintu sembari bersedekap.


"Ekhem" Azka berdehem demi menyadarkan sang istri akan kehadirannya.


"Ehh mas?"


"Kok seneng gitu auranya?"


"Hehe seneng dong, nenek mau datang"


"Oh nenek Widya?"


"Mas tahu?"


"Tahu lah, kan mas yang jemput besok pagi"


"Issh curang"


"Loh kok curang?"


"Iya harusnya mas itu kaget bukannya gitu"


"Astaga istriku ternyata seimut ini kalau ngambek emmuach makin sayang deh, mau jenguk Keisya nggak?"


"Ayo, aku mau liat kondisinya"


"Ya udah buruan pake jilbab kita turun sekalian ikut tahlilan sebentar lagi mulai"


"Oke"