KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 39



"Mas, aku nunggu disini aja ya" ucap Arzan yang duduk santai di samping kursi kemudi.


"Ikut lah, siapa tahu mereka bawa barang banyak Zan, yuk kasihan loh mereka perempuan semua" kata Reno memaksa


"Heddeh, mas aja deh, aku malas jalan masih ngantuk" tolak Arzan


"Arzan" kata Reno tertahan dengan mata sorot mata tajam membuat Arzan Langsung angkat kaki dan keluar dari mobil.


Sepertinya mendapati Reno marah lebih menakutkan daripada mendengarkan omelan mamanya saat di suruh belanja di pasar.


Reno menghubungi Vivi dan memastikan wanita itu masih berada di lokasi bandara. setelah dua kali panggilan, akhirnya tersambung.


"Saya tunggu di luar mbak, saya ada di depan pintu masuk" kata Reno


"Ya udah tunggu disitu, ini otewe kok" balas Vivi


"Nggak kemalaman kan mbak? soalnya tadi belanja dulu"


"Nggak papa, ya udah aku jalan"


Reno menutup sambungan telepon lalu berjalan kembali ke arah mobil dan menghampiri Arzan yang sudah menguap.


"Zan, bisa tunggu bentar kan?" tanya Reno


",Kita nginep di tempat om Martin ya mas, capek aku kalau langsung pulang" rengek Arzan.


"Iya, itu yang mau di omongin, kamu telpon dulu om Martin, biar aku yang telpon Tante" kata Reno. wajah Arzan langsung cerah seketika mendengar persetujuan Reno.


"Ini udah jam delapan malam, busyet" gumam Arzan melihat jam di ponselnya


"Trus sekolah kamu besok gimana Zan?" tanya Reno yang baru teringat jika Arzan masih ujian nasional.


"Ujian nasional udah selesai, tinggal praktek doang" jawab Arzan


Reno mengangguk dan kembali menghubungi Tante Meri, sedangkan Arzan masih sibuk bernegosiasi dengan om Martin di seberang telepon


Reno memilih menjauh karena suara Arzan yang kencang juga suara deru mobil yang lalu lalang.


Tanpa Reno sadari ada seorang gadis yang memandangnya sejak tadi, sejak mereka tiba di depan pintu masuk bandara. meski ada petugas yang sudah mengizinkan mereka masuk, tapi tetap saja Reno lebih memilih menunggu di luar.


Karena pencahayaan yang remang-remang dan jarak mereka yang cukup jauh sekitar 100 meter membuat Reno tidak menyadari kehadiran sosok gadis yang tengah memandang nya sejak tadi.


"Reno" suara Vivi membuat Reno langsung berbalik ke arah sumber suara. beruntung panggilan telepon sudah selesai, Reno langsung menghampiri Vivi dan temannya yang kerepotan membawa koper.


"Maaf ya mbak saya kemalaman, tadi mampir ke pasar dulu belanja titipan Tante saya" ucap Reno meminta maaf.


"Nggak papa kemalaman, lagian bandaranya juga bisa di pake istirahat" sahut Vira yang seperti sudah letih


Reno mengangkut dan memasukkan semua koper dan tas milik Vivi dan Vira ke dalam bagasi. Arzan masih sibuk dengan negosiasi nya hingga tak sadar jika Reno sudah masuk ke dalam mobil.


"Tunggu siapa sih dek?" tanya Vira sambil menutup kedua mulutnya yang sejak tadi sudah menguap.


"Itu adek saya mbak, negosiasi daritadi nggak kelar-kelar" jawab Reno lalu keluar dan menghampiri Arzan.


"Dah sini gue yang ngomong, masuk ke mobil sana,. dah di tungguin sama mbak Vivi tuh" ucap Reno seraya merebut ponsel di tangan Arzan.


Arzan hanya menurut dan mengikut instruksi Reno.


"Halo om, selamat malam" sapa Reno


"Iya om dengan saya, maaf tadi Arzan ada ngomong apa sama om?"


"Katanya mau nginep di rumah, saya lagi di kota baru, mungkin tengah malam baru sampai di rumah, kunci rumah saya kasih ke asisten saya tapi kalau jam segini dia sudah pulang ke apartemennya, saya minta Arzan buat ngambil aja kesana, tapi dia nggak mau"


"Oh bisa kirimkan saja alamat apartemennya om?"


"Bisa, Arzan juga sudah tahu kok alamatnya"


"Biar lebih ringkas om kirim saja ke nomor Arzan saya tunggu satu menit dari sekarang"


"Okelah, dari tadi kek kamu yang ngomong, Arzan itu selalu begitu banyak alasan"


"heheh maklum saja om, terimakasih ya om"


"Iya iya"


Reno menutup sambungan telepon dan berjalan masuk kedalam mobil. sejenak ia menoleh ke arah Arzan yang sudah tidur di kursi samping.


"Ck, bilang aja ngantuk makanya malas, tidur mulu kerjaannya" gumam Reno seraya menggoyangkan kedua tangannya tepat di depan wajah Arzan.


"Tidur beneran dia" batin Reno lali menoleh ke belakang dan melihat kedua penumpang nya sudah setengah sadar.


"Kenapa Ren?" tanya Vivi yang masih memegang ponsel dengan mata setengah terbuka.


"Kalau mbak ngantuk tidur aja, nanti aku bangunin kalau udah sampai dirumah"


"Hotel dek bukan rumah" seru Vira dengan mata masih tertutup rapat. Reno tertawa melihat tingkah teman Vivi.


"Mbak masih sadar to, saya kira sudah laep heheh"


"Mau Lo kasih nafas buatan emangnya kalau gue laep? enak aja" ucap Vira dengan wajah mehong nya.


"Hahaaa, ini beneran mbak, malam ini nginep di rumah om saya aja di jalan cendrawasih, belum reservasi hotel kan mbak?"tanya Reno


"Belum" jawab Vivi


"Ya udah buruan gue udah capek bet nih, punggung rasanya nano-nano" saru Vira yang langsung dapat senggolan dari Vivi.


Reno melajukan mobil memecah kegelapan malam menuju ke apartemen asisten om Martin, alamat sudah dikirim ke ponsel Arzan sesaat setelah sambungan telepon berakhir.


"Mbak tunggu sini ya ,saya mau ambil kunci rumah dulu" ucap Reno pada Vivi yang masih terjaga meski sesekali matanya tertutup.


"iya"


Reno berjalan memasuki sebuah gerbang dan pamit dengan satpam yang menjaga apartemen agar bisa menemui salah satu pemilik apartemen.


"Apa adek ini keponakan tuan Martin?" tanya pak satpam


"Iya pak, maaf kok tahu?"


"Baru saja si Boru nganterin kunci rumah katanya ada Reno keponakan om Martin dari Jakarta mau ambil kunci rumah"


"Oh gitu, ya udah salam buat bang Boru ya. pak, kuncinya boleh saya bawa kan?"


"Silahkan dek".