KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
12 Kehangatan



Sore ini keluarga Anderson berkumpul di taman belakang, bercengkrama bersama sembari menikmati teh hangat dan cemilan kesukaan keluarga yang di sediakan Nyonya Besar untuk menyambut kedatangan menantu barunya.


Azka duduk di tengah diantara Sean dan Papanya, sesekali mereka tertawa dengan guyonan Sean dan Azka.


"Papa masih inget gak waktu mau ganti popoknya Azka dan papa di kencingin pas di wajah papa?? Sumpah itu lucu abiisss hahahah" kenang Sean terbahak.


"Hahaa wah iya itu hal paling papa inget. Kadang papa sampe tertawa sendiri kalo inget kecilnya Azka"


Azka hanya mendengus sebal mendengar cerita masa kecilnya. Selucu itukah diriku saat itu? Pikirnya.


"Dan siapa yang menangis di kelas gara-gara kebelet pipis karna gak berani minta izin sama guru dan akhirnya ngompol di celana hahahahaa" timpal Azka membalas celotahan Kakaknya. Mampus lo! Batinnya.


"hahahaahaaa" mereka tertawa bersama. Sean masih mengingat betul kejadian itu saat ia masih TK, karna takut meminta izin guru untuk ke toilet alhasil dia kencing di celana dan menagis kencang.sang mama yang awalnya takut terjadi apa-apa padanya akhirnya tertawa lepas setelah sampai di dalam kelas mendapati celana Sean yang basah karna mengompol.


Kinara yang duduk di kursi seberang ikut tersenyum melihat reaksi mereka bertiga. Ada desiran rindu hadir di dalam hatinya, rindu pada sang Ibu dan Ayah serta Kak Revan. Rindu saat mereka masih di kampung dan belum hijrah ke kota, rindu kebersamaan mereka setiap saat yang selalu bersama tanpa terpisahkan. Ayah dan Ibu yang selalu ada untuknya, Kakak yang selalu menemaninya saat kesulitan mengerjakan tugas sekolah dan masih banyak lagi kehangatan keluarga yang selalu ia rindukan.


"Ra bagus gak?" tanya mama Membuyarkan lamunannya. Ia menoleh dan tersenyum melihat mama mertuanya menunjukkan gamis navi di hadapannya. "Bagus kok mah, yang warna cream juga bagus emang buat siapa?" tanya Kinara


"Ini contoh aja buat seragam majlis ta'lim kebetulan tadi butik temen mama keluarin produk baru jadi mama rekomendasiin buat majlis ta'lim dan besok mama mau bawa ke tempat Bu Hajah Aisyah untuk di pilih". Jelas sang mama


"Owh gitu" ucap Nara berohria sembari memijit kakinya yang terasa nyut-nyutan. " Mah Kak Rania kemana ya? tadi ada disini nyiramin bunga?" tanya Kinara berusaha mencairkan kecanggungan nya sedikit.


"Ke dalem tadi" jawab Mama tanpa berpaling dari gamis-gamis yang ia pegang. "Ra ini yang pink salem bagus kayaknya ya..? Tanya mama, menoleh melihat Kinara yang meringis memijit kakinya. Mama segera menaruh gamisnya di meja dan meraih kaki Kinara yang bengkak ke atas pahanya dan mengurutnya pelan.


"Disini pusat sakitnya, besok juga sembuh kok, ini udah mendingan gak terlalu bengkak kayak tadi. Masih sakit banget ya?"


"Banget mah" jawab Kinara canggung. Setidaknya saat ini Kehadiran mama mertuanya mampu mengobati rindunya pada almarhum ibu.


.


.


.


Setelah sholat Maghrib tadi Azka turun ke bawah bergabung dengan papa yang tengah duduk di sofa ruang keluarga. Ada beberapa hal yang ingin ia diskusikan pada papanya.


Kinara merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran sedang sembari mengedarkan pandangannya keseluruh kamar yang di dominasi warna abu-abu dengan beberapa lukisan dan bingkai foto terpajang di beberapa titik dan berbagai koleksi miniatur mobil yang tertata rapi di dalam sebuah lemari. "hemm cowok abiss koleksinya ginian semua" gumamnya dalam hati.


Ia menarik napas panjang dan mengeluarkannya pelan sembari memejamkan mata. "Semua indah pada waktunya, kok Ayah gak ada kabarnya ya?"gumamnya lalu meraih ponsel di atas nakas sekedar melihat ada notifikasi masuk atau tidak dari kakaknya. "Huh operator mulu yang setia dari dulu." gerutunya lalu menyimpan kembali ponselnya.


"Loh Dek, Kinara mana?" tanya Sean saat sudah duduk di meja makan.


"Di kamar" jawab Azka datar


"Nih bawa ke atas mama gak mau mantu mama sakit. " pinta mama sembari menaruh nampan berisi sepiring nasi, semangkuk sayur, lauk dan buah serta air minum.


"Ntar aja ma Azka mau makan dulu" jawabnya cuek.


"Gak ada penolakan Azka, sekarang  bawa keatas." perintah mama


"Azka makan dulu ma" masih ngeyel.


"Sekalian bawa piring kamu juga mama gak mau ada yang gak makan, dah cepetaaaan" titah mama


"Oke mama sayang..." Azka membawa nampan dan sepiring nasi yang akam ia makan dan melenggang pergi dari dapur.


"Ra bukain kamar donk"teriaknya di depan kamar


"Buka sendiri lah" jawab Kinara dari dalam


"Gak bisa tangan aku berat nih cepetan gak pak__ __" belum selesai ia bicara pintu terbuka


"Disini aja makannya" titah Azka sembari mendudukkan diri di lantai. "Hemm?" Kinara mengeryit "Aku gak bisa duduk bersila" sambungnya sembari mengkode bahwa kakinya masih tidak baik-baik saja.


Azka beranjak mengambil nampan diatas nakas dan menaruhnya di lantai." kamu duduk selonjoran bisa kan?" tanyanya, Kinara mengangguk paham lalu mengambil posisi duduk berselonjor di tepi ranjang. Ia memperhatikan gerak gerik Azka yang mengisi piringnya dengan lauk dan sayur lalu memberikan padanya. "Nih di makan, abisin ya ntar aku di omelin mama kalo gak abis, jangan lupa baca doa" ujarnya di sambut anggukan dari Kinara.


Setelah selesai dengan ritual makan malam, Kinara beranjak ke meja belajar untuk mengerjakan beberapa tugas yang belum ia selesaikan karna absen untuk mengurus pernikahan. Sedangkan Azka tak nampak kembali ke kamar setelah makan malam.


"Hoaaamm jam berapa sih ini?" gumamnya sembari melihat jam di layar ponselnya. "Udah jam sepuluh pantes aku ngantuk" batinnya. Ia segera merapikan buku dan bersiap ke kamar mandi untuk cuci muka dan berwudlu lalu lanjut ke alam mimpi.


Pukul 12 malam Azka baru kembali dengan wajah lelahnya. Sampai di kamar ia merebahkan tubuhnya di samping Kinara yang tidur membelakanginya. "Huuh aku capek, baru mulai kerja udah kek ruda paksa badanku remuk semua."Batinnya.


Azka membelai rambut Kinara pelan takut jika ia terbangun. "Emmhh wangi banget istri gue" batinnya tersenyum "ahh ngomong apaan sih gue? Mending tidur" batinnya lagi.


Azka beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian berganti pakaian lalu menyusul Kinara ke alam mimpi.


"Gute Nacht Kinara.." Ucapnya pelan seraya membelai rambut Kinara sekilas.


***/


"Ibuu...ibuuu... Ibuu.. Jangan.. Jangaaaann sentuh ibu ku..


Ayaah,kakak tolong ibu.. Jangan... Jangan sentuh Ibuku....."


Pergi.... Jangan sentuh ibuku......"


"Ra.... Bangunn...Kinara banguun kamu kenapa...??"


"Kinara, bangun Kinar... Kamu kenapa??"


Azka mencoba membangunkan Kinara yang meracau tak karuan. Azka melihat jam sudah pukul 2 dinihari. Ia baru tertidur 2 jam yang lalu dan sekarang dibuat terkejut karna Kinara yang meracau tak karuan.


"Kinar kamu kenapa?" tanya Azka pelan saat Kinara membuka matanya dengan nafas tersengal-sengal di susul bulir bening mengalir dari irisnya yang sendu. "Dia pembunuh... Ibu... Hikss hikss...pembunuh itu..."


Lirih Kinara di sela isak tangisnya.


Azka mendudukkan Kinara dan memeluknya erat. Ada rasa iba menjalar di lubuk hatinya. "Cup cup udah nangisnya, Alfatihah untuk ibu ya hemm?!" ucap Azka pelan di telinga Kinara yang masih terisak.


Azka memberikan segelas air untuk Kinara saat tangis gadis itu sudah mereda. "Mau sholat jamaah tahajjud?" tawar Azka kemudian di angguki Kinara. Azka segera menuntun Kinara sampai di depan kamar mandi untuk bersuci terlebih dahulu sedang ia menyiapkan alat sholat.


"Udah siap??" tanya Azka


"Hmm" jawab Kinara singkat.


Mereka larut dalam takbir menghadap sang pemilik hidup. menyerahkan seluruh gelisah yang hanya hati mereka dan Sang Pencipta yang tahu.


"Hiks..hikss.." Kinara kembali larut dalam kesedihannya setelah Azka mengucapkan salam terakhir. Azka segera meraih tubuh Kinara yang limbung di belakangnya. Azka membenamkan wajah Kinara pada dada bidangnya memeluknya erat seraya merapalkan doa. Ia tahu ada luka begitu dalam yang tersimpan rapi dalam hati istrinya itu.


"Pembunuh...apa kira-kira maksud Kinara ya? Apa dia tahu sesuatu sebelum ibunya meninggal?" batin Azka. "Ya Allah bukalah tabir kebenaran atas izin-MU, hamba tak tau apa yang terjadi sebelum bertemu gadis yang sekarang jadi jalan ibadahku, bukakanlah jalan untuk keluarga kami atas RidloMu serta hadirkanlah cinta dan kasih sayang dalam hati kami Karna Rahmat MU, Amiiin Ya Robbal Alamin"


Azka membelai pelan punggung istrinya. Ada rasa iba yang menghujam keras ulu hatinya melihat Kinara meracau tak jelas. "Pembunuh" kata itu yang terus terucap dari bibir mungil istrinya. Ada banyak pertanyaan yang otomatis memenuhi isi kepalanya di saat yang sama.


Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus di balik dada bidangnya. Kinara tertidur kembali dalam pelukannya. Azka segera membuka alat sholat yang di gunakan Kinara karna basah terkena tangisannya, lalu merebahkan Kinara di tempat tidur.


"Gue gak tau apa yang lo rasain dan lo adepin sebelum kita bertemu. Awalnya gue nolak perjodohan ini, tapi gue bukan orang yang lari dari tanggung jawab jika itu demi orang tua dan keluarga dan gue pantang nyakitin perempuan. Gue akan berusaha memenuhi tanggung jawab ini semampu gue. Meskipun diantara kita belum ada cinta tapi gue yakin semua indah pada masanya." batin Azka seraya menatap lekat wajah lelap Kinara.


Azka duduk di samping Kinara yang tidur lelap jam sudah menunjukkan pukul 03.15 dinihari. Ia memutuskan untuk mengerjakan tugas sekolah seraya menunggu waktu fajar dan subuh yang tak lama lagi.


...........to be continue..


"Aku pendendam namun tak bisa membenci. Traumatic?? Ya luka yang pernah ada membuatku mengalami trauma yang begitu lama, jika bisa ku ulang waktu ingin rasanya aku tidak menghadapi hal semenyakitkan itu. Mencoba ikhlas tak semudah yang orang katakan. Nyatanya aku masih mengingat luka itu seiring waktu terus berlalu. Andai ini hanya sebuah novel akankah ini berakhir indah? "