
"Jadi ayah selama ini tahu soal Reno? kenapa ayah nggak pernah cerita ke kami?" tanya Kinara lembut.
"Ini permintaan Reno, juga karena ayah merasa bersalah dengan Reno dan ibunya" kata tuan Wibowo memandang ke arah putri pertamanya
"Tapi nggak harus dengan cara seperti ini yah, ayah tahu kan, kalau mereka saling mencintai justru setelah mereka berpisah?" timpal Kinara
"Ya, ayah tahu, tapi ayah juga tak mau memaksakan kehendak pada Reno, ini juga keinginan Reno yang tidak mau keberadaannya di ketahui kalian, karena rasa bersalahnya pada Keisya" terang tuan Wibowo, seraya menyesap kopi.
Kinara nampak beringsut, dan berjalan menuju ke wastafel untuk menyimpan piring kotor bekas sarapan mereka. ia sendiri bingung harus berucap apa dan bersikap bagaimana menghadapi kenyataan yang baru saja ia ketahui.
Selama tiga setengah tahun ini suami dan kakaknya berjuang mencari keberadaan Reno, tapi ternyata orang tua mereka sendiri yang menyimpan rapat dimana Reno berada.
"Jadi sekarang bagaimana yah?" tanya Kinara pada akhirnya
"Biarkan Keisya tenang dulu, soal Hanan ayah serahkan pada Keisya, siapapun yang akan dia pilih itu haknya, kalau pada akhirnya Keisya memilih Reno ayah akan meminta Reno untuk kembali, meskipun harus menghancurkan harga diri ayah di depan ibu dan adiknya" kata tuan Wibowo putus asa.
"Ya mudah-mudahan Keisya bisa mengambil keputusan yang tepat" ujarnya.
"Apa Azka masih mencari Reno sampai sekarang?"tanya tuan WIB
"Seperti nya iya, meskipun nggak ngomong ke aku, bahkan waktu kita reunian disini, Beno juga sempat nanyain Reno, tapi kita nggak tahu mau jawab apa, sepertinya memang Beno sempat kontak dengan Reno karena Beno sepertinya nggak percaya dengan apa yang kita omongin, malah Beno sempat nyangka kalau Reno nggak mungkin begitu" terang Keisya.
"Berarti Beno tahu dimana posisinya reno sekarang? kenapa nggak kalian tanya?"tanya tuan Wibowo
"Justru Beno ngira kalau Reno itu ada di Jakarta yah, makanya Beno bingung dan nyangkal semua yang kita ceritain" tukas Kinara
"Ayah juga jadi bingung Ra" tambah tuan Wibowo, keningnya nampak berkerut.
"Coba ayah cari tahu dulu soal Reno" usul Kinara
"Nanti ayah coba ke om Denias, siapatahu dia masih punya alamat Danu" kata tuan Wibowo
"Danu siapa yah?"
"Bukan siapa-siapa, tapi sepertinya Reno masih ada hubungannya dengan Danu, ayah juga nggak kenal siapa dia, tapi om Denias kamu yang tahu siapa Danu meskipun nggak kenal" kata tuan Wibowo
"Maksudnya giman sih yah, hahaha kok malah aku yang bingung, katanya nggak kenal tapi kok tahu? gimana sih?" seru Kinara tertawa karena merasa bingung dengan ucapan sang ayah.
"Ayah sendiri bingung Ra, om Denias kamu pernah bilang kalau Reno itu anak angkatnya Danu, kontraktor terkenal di Kalimantan yang sering bekerjasama dengan pemerintah untuk daerah-daerah pedesaan dan pedalaman" jelas tuan Denias.
"Tapi om Denias sendiri nggak kenal siapa Danu gitu?" tanya Kinara lagi
"Ya begitulah, tahu sendiri om kamu itu detektif, soal informasi begitu hal gampang buat dia" jawab tuan Wibowo.
Kinara auto tepuk jidat saking kesalnya, mengesalkan tapi bikin ngakak. obrolan mereka berhenti saat kedua Keenan dan Keana datang bersama baby sitter mereka membawa banyak belanjaan dari pasar.
"Mama ini aku beli kayon walna cama buku gambal" teriak Keana dengan nada cedalnya sedangkan Keenan nampak berjalan santai sambil menikmati popcorn kesukaannya lalu duduk di sofa yang ada di sudut ruang makan.
"Wow, cucu opa beli krayon? buat gambar apa sayang?" tanya tuan Wibowo menggendong cucunya lalu menciumi berkali-kali hingga anak balita itu terkikik geli.
"Nggak ke cafe mas?" tanya Kinara menyambut belanjaan dari suaminya.
"Nanti agak siangan, weekend gini Gugun sama Kriting pasti bangunnya siang" jawab Azka.
"Mbok Yo di nasihati itu mereka mau weekend atau nggak bangun tetap harus pagi, nanti kalau udah berumah tangga gimana kalau bangun nya aja siang terus" ucap Kinara
"Maklumi aja Bun, namanya anak muda, apalagi mereka sudah wisuda duluan, rencananya Gugun juga mau buka usaha sendiri bidang furniture, kalau Kriting masih mikirin emaknya kapan naik haji, padahal duit udah cukup katanya wkwkwk" ucap Azka terkikik mengingat percakapan mereka bertiga beberapa waktu lalu.
"Nanti biar bareng sama ayah saja emaknya Kriting daripada nunggu giliran lama" usul Kinara
"Bener juga usul kamu Bun, nanti lah aku tanya si Kriting mudah-mudahan dia setuju" ucap Azka
"Amiin semoga aja" Kinara mengamini
"Dari subuh udah pergi ke butik, mau ngecek sisa kain di gudang katanya" jawab Kinara
"Oh ya? tumben"
"Lagi bete mungkin"
****
"Ndin, aku minta maaf untuk terakhir kalinya, kalau kamu mau minta penjelasan, aku bakal jelasin segalanya ke kamu" kata Reno dengan perasaan bersalah
Hari ini ia memang datang berkunjung kerumah Andin untuk meminta maaf sebelum ia pulang kampung Minggu depan yang tinggal tiga hari lagi.
Andin menatap Reno lekat, mencoba mencari kebohongan dari sorot mata Reno, tapi yang ia temukan hanya sebuah perasaan terluka dan rasa bersalah yang bersemayam di hati pria muda itu.
"Mas mau jelasin apapun yang aku minta?" tanya Andin
"Iya"
"Baiklah" Andin terdiam lalu menarik anfas panjang.
"Bagaimana perasaan mas ke aku?" tanya Andin
Reno langsung mendongak karena tak menyangka Andin akan menanyakan hal itu padanya.
"Maaf ndin, layaknya teman, seperti itu" jawab Reno ragu
"Apa mas masih mencintai wanita itu?"
"Ya, masih"
"Lalu kenapa mas nggak berusaha untuk nya, kenapa malah menyeret aku?"
"Ceritanya panjang ndin, aku udah pernah bilang kan, kalau aku pernah bertunangan"
"Lalu kenapa harus berakhir?"
"saat itu aku belum siap dan nggak ada perasaan khusus untuknya, aku memutuskan pertunangan kami, lalu memilih pergi menjauh agar dia nggak merasa terbebani dengan kesalahan ku, ternyata aku salah besar, setelah kepergian ku, justru dia depresi dan berkali-kali ingin mengakhiri hidupnya, membuatku semakin merasa bersalah, sejak kecil dia hidup penuh dengan luka, tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua dan keluarga yang utuh, selama lima belas tahun hidup dalam keterpaksaan dan kesakitan yang ia pendam sendiri selama bertahun-tahun, ia tak tahu siapa orang tuanya, orang yang ia anggap orang tua rupanya seorang psikopat yang sudah membunuh ibu kandungnya, dan menghancurkan keluarganya, ia tak tahu apapun, hidup dalam kungkungan membuatnya tak pernah bisa menikmati dunia luar, doktrin yang ia dapatkan dari orang tua asuhnya membuatnya menjadi pribadi yang memiliki mental yang tidak sehat,hingga suatu hari ia menemukan sebuah foto usang di dalam kamar orang tua asuh yang ia panggil papa, dan menanyakan pada asisten yang sudah mengurusnya sejak bayi, pada mulanya asisten itu tak mau bercerita tapi karena desakan darinya akhirnya sang asisten rumah tangga itu bercerita kisah hidupnya sejak kecil."
"Sejak saat itu ia tahu bagaimana jalan hidupnya dan kenapa ia harus hidup dalam kungkungan selama ini, hingga suatu hari orang yang ia sebut dengan panggilan papa mengajaknya pulang ke tanah air, dan disitulah ia mulai menyusun rencana untuk melarikan diri bersama sang asisten, ia tak tahu jika asisten itu adalah anak buah dari keluarga kandung nya yang sengaja di tugaskan untuk menjaga dan merawatnya sejak hari dimana ia hilang, tanpa sepengetahuan papa angkatnya"
"Aku tahu, aku bersalah, seharusnya aku yang mengobati luka mentalnya, bukan malah menambahkan luka padanya, dokter Fritz lah yang sudah menyembuhkan depresi yang ia alami, sejak terakhir kali aku pergi, aku memang menjauh dari keluarganya juga teman-teman ku hingga detik ini" cerita Reno panjang lebar.
Andin menunduk dengan sesekali menyeka air matanya. masih ada orang lain yang mengalami hidup lebih menyakitkan daripada dirinya. meski ia tak punya orang tua, tapi ia masih memiliki keluarga yang peduli padanya. dan apa yang terjadi dengan wanita yang Reno ceritakan rupanya lebih menyakitkan lagi. memiliki keluarga yang utuh tapi hidup dalam kungkungan seorang psikopat yang mengalami gangguan mental hingga merusak mental anak yang tidak bersalah selama puluhan tahun.
Reno terdiam dengan hati yang perih setelah menceritakan segalanya tentang Keisya. meskipun mungkin ini akan menyakitkan untuk Andin.
"Apa kamu masih berharap dengannya mas?" tanya Andin setelah beberapa saat terdiam.
"Aku nggak bisa dan aku takut akan lebih menyakitinya, justru karena itulah aku tak berani menemuinya apalagi keluarga nya" jawab Reno
"Bertanggungjawab lah dengan semua kesalahan mu mas, temui dia dan minta maaflah, kamu udah salah sejak awal dan sekarang seharusnya kamu yang memperbaiki semuanya, kalau kalian berjodoh sudah pasti Tuhan berikan jalan" nasihat Andin.
Reno menatap Andin tak percaya, semudah itukah Andin memintanya bertanggungjawab atas kesalahannya di masa lalu?
"Ndin" Reno menatap Andin lekat.
"Pergilah mas, temui dia dan minta maaflah, jangan pikirkan tentang perasaan ku, aku akan bahagia kalau mas mau bertanggungjawab atas kesalahan mu, aku tak bisa memaksakan perasaan mas ke aku, karena aku tahu mas pun nggak mudah untuk melupakan dia, aku akan baik-baik saja mas" kata Andin menyeka air matanya.
"Hidupnya sudah menderita sejak kecil, dan mas yang menambah luka itu, luka yang belum benar-benar mengering, meski aku yatim-piatu tapi Tuhan masih memberiku keluarga yang selalu ada untukku, tapi dia memiliki keluarga yang utuh tapi hidup dalam kesakitan puluhan tahun tanpa tahu jati diri dan keluarganya" lanjutnya.
"Maafkan aku ndin, maaf" ucap Reno dengan rasa bersalah