KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
122 Menantu dan Mertua



"Kenapa sih ada terus masalah meskipun orang nya udah mati, sekarang malah Keisya yang bikin masalah huft" umpat Azka dalam hati sembari memandang Kinara yang tengah tertidur.


"assalamualaikum" suara orang yang ia kenali masuk ke dalam ruang rawat, Azka menghampiri dan mencium punggung tangan mertuanya.


"Waalaikumsalam ayah sendiri?"


"Iya sendiri,baru dari kantor mbok Jum nelpon katanya Kinara di rawat lagi"


"Iya ayah, tapi Alhamdulillah kondisi cucu ayah sehat kok,"


Setelah berbasa-basi sesaat kemudian Tuan Wibowo mengajak Azka untuk berbicara empat mata di cafe yang ada di seberang rumah sakit setelah memastikan Kinara tidur dengan tenang dan ada yang menjaganya.


"Mbak Rena sudah cerita kejadian sebenarnya, maafkan Keisya ya" ucap tuan Wibowo merasa bersalah


Azka menghela nafas berat jujur saja mendengar kenyataan itu membuat hatinya merasa was was jika hal itu terulang lagi.


"Maaf ayah, mungkin mulai besok aku sudah membawa Kinara pulang kerumah, aku tidak mau Kinara mendapat tekanan lagi, kasihan kondisi anak kami, ini sudah kesekian kalinya Kinara keluar masuk rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, sudah cukup Kinara mendapat banyak tekanan selama ini, aku tidak mau ia mengalami stress berlebihan dan mempengaruhi kondisi janin dalam kandungannya."


"Iya itu benar nak, maafkan ayah yang terkadang memaksakan kehendak pada kalian, pulanglah kembali ke rumah, untuk Keisya ayah sudah putuskan untuk membawanya ke pondok pesantren sesuai keinginannya dan ayah juga akan ikut tinggal disana, ayah juga berencana membuat rumah disana dan menghabiskan sisa waktu ayah di sana yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota"


"Ayah serius?"


"Iya, setelah mendengar cerita dari bik asih dan Rena tadi, ayah sudah memantapkan niat nak, semua sudah selesai disini, dan ayah sudah berbicara dengan kakakmu Revan"


"Apa tanggapan kak Revan?"


"Setuju saja jika memang itu untuk kebaikan Keisya, dan untuk permintaan istrimu, ayah berencana menikah lagi tapi belum dalam waktu dekat"


"Alhamdulillah kalau memang ayah sudah mantap, mungkin sebulan sekali kami akan berkunjung ke sana, kapan rencana ayah akan pergi?"


"Setelah tujuh hari mendiang Anthony ayah akan mengajak Keisya pergi"


"Lalu ayah akan tinggal di pesantren juga?"


"Untuk sementara ayah tinggal di rumah salah satu kerabat disana sembari mencari tanah yang cocok untuk dibeli dan di bangun rumah"


"Oh gitu, untuk desain rumah yang mau ayah bangun udah punya ide?"


"Belum, kakakmu Revan rencana akan mengenalkan ayah dengan temannya seorang arsitek"


"Nggak perlu yah, aku punya beberapa model desain rumah modern minimalis dan klasik kalau ayah mau"


"Beneran? kamu punya desain sendiri atau punya orang?"


"Desain sendiri, ngisi waktu luang kalau nggak ada kerjaan aku bikin model desain interior rumah, perkantoran, dll"


"Kok kamu baru ngomong?"


"Hehehehe hobi sih, soalnya papa nggak suka aku menggambar, aku sembunyi-sembunyi selama ini"


"Masya Allah nak, kamu punya ide berbakat kenapa di pendam aja, bener-bener itu papamu"


"Jangan salahin papa, mungkin papa punya alasan sendiri kenapa melarang aku menggambar, dulu waktu keluarga kami masih lengkap aku selalu menggambar anggota keluarga kami tapi setelah kejadian menyakitkan itu, papa benci sekali setiap aku menggambar karena akan mengingatkannya pada mendiang Rafka."


Tuan Wibowo diam mendengar cerita Azka, ada rasa bersalah juga dalam hatinya karena ulah saudara Anthony mereka harus kehilangan anggota keluarga mereka dengan cara tragis dan menyebabkan trauma berkepanjangan.


"Sudahlah ayah, semua sudah menjadi ikatan takdir yang tidak satupun manusia bisa menolak, aku sudah ikhlas sekarang"


"Untuk Keisya, ayah harap kamu bisa memaklumi ya nak, kondisi kejiwaannya belum stabil, Rena sudah cerita semuanya tadi, ayah juga tidak menyangka Keisya bisa seperti itu, tapi ayah tidak bisa menyalahkan nya karena itu hak dia tidak bisa di cegah, nanti jika kalian bertemu bersikaplah sewajarnya saja jangan memberi dia peluang apapun, memang sulit karena ini mungkin hal pertama baginya selama ini, cukup sudah lima belas tahun ia tidak mengenal dunia selain Anthony."


"Iya ayah jangan khawatir, aku tetap setia dengan janji yang sudah ku ucapkan saat akad, ayah tahu nggak foto ini?" tanya Azka seraya memperlihatkan sebuah foto dua anak kecil sedang memakan ice cream.


"Itu....." tuan Wibowo berusaha mengingat tapi nihil ia benar-benar lupa.


"Ini foto aku dan Kinara saat usia kami lima tahun, tiga bulan sebelum kejadian naas yang menimpa kami waktu itu" ucap Azka membuka kenangan masa lalu di benak ayah mertuanya.


"Ahh ya ayah ingat waktu itu kalau tidak salah pas ulang tahun ibumu dan waktu itu Rafka baru umur berapa bulan ya, ayah sudah lupa"


"Nggak usah di ingat yah, yang jelas aku sama Kinara sudah bersama sejak kami masih kecil dan ayah tahu nggak kalau pita biru yang Kinara pakai di foto ini sampai sekarang masih aku simpan"


"Hah? yang bener kamu nak?"


"Beneran aku nggak bohong, jadi sekarang ayah nggak usah khawatir apapun ya, insha Allah aku akan selalu menjaga putri kecil ayah sesuai yang sudah Allah tetapkan sampai akhir hayat" ucap Azka seraya mengelus punggung tangan ayah mertua nya.


tuan Wibowo sangat terharu dengan sikap tanggung jawab Azka dan kasih sayangnya pada putri kesayangannya itu.


"Terimakasih nak sudah menjadi imam untuk anak ayah, terimakasih sudah melengkapi kekurangan ayah sebagai orang tua, almarhum ibu mu benar kamu orang yang tepat untuk anak kami" tuan Wibowo berdiri dan memeluk Azka dengan tangis haru.


Sementara itu di kamar rawat Kinara terbangun tanpa melihat sang suami disisinya. suster ya


ng di tugaskan untuk menjaganya dengan sigap membantunya ke kamar mandi.


"Sus, suami saya mana?"


"Oh sedang keluar pergi mencari makanan, nona tidur nyenyak sekali jadi tuan tidak tega untuk membangunkan, sebentar lagi jam istirahat siang dokter Siska sudah berpesan mau mengecek kondisi anda nona"


"Baiklah, suster udah makan?"


"Belum nona, menunggu pergantian jam baru saya makan siang"


"Loh, nanti makan disini saja ya bareng"


"Ah nggak usah nona, saya sudah bawa bekal dari rumah."


"Nggak boleh menolak ya"


"Eh ya..ya sudah lah"


***


"Kenapa kamu sesempurna itu kak, padahal kita kembar, banyak orang menyayangimu tapi tidak dengan ku, aku penyakitan, aku yang telah membuat ibu sakit dan meninggal, aku yang telah membuat kekacauan dalam keluarga, karena aku, kau menyimpan luka itu sendiri selama bertahun-tahun melihat bagaimana kematian ibu dan kini saat papaku meninggal kau juga yang membimbing nya bukan aku, kau begitu sempurna kak pantas saja ibu menjodohkan mu dengan laki-laki yang tepat, pantas saja mereka begitu menyayangi mu, sedangkan aku kemanapun harus selalu di awasi, aku tidak pernah merasa bebas, kau bebas melakukan apapun meski dengan pengawalan ketat, aku iri dengan semua kesempurnaan yang kau miliki kak, kau punya suami yang tampan dan baik begitu menyayangi mu, dan sayang nya aku jatuh cinta pada suamimu, aku juga ingin dia menjadi milik ku, bukankah wajar apa yang kau miliki aku juga berhak memiliki nya?? karena kita kembar kan??" Keisya menatap nanar foto Kinara yang terpajang rapi di dalam kamar yang ia tempati.


Sejak awal bertemu Azka ia memang sudah jatuh hati pada pesona pria bule yang menjadi suami kakak kembarnya, sekuat apapun ia berusaha untuk melupakan rasa itu tapi tetap tidak bisa. Keisya merasa putus asa dan melihat bagaiman sikap ayah dan paman serta kakak nya Revan memperlakukan Kinara membuat hatinya diliputi rasa itu yang besar.


Sejak kecil hidup hanya berdua dengan Anthony yang lebih mementingkan pekerjaan nya daripada menemani dirinya bermain dan mencoba hal baru membuatnya menjadi pribadi yang sangat tertutup dan kekurangan kasih sayang, hanya sang pengasuh tempatnya meluapkan semua hal yang ia rasakan.


Mengingat bagaimana Anthony selalu melarangnya keluar rumah sejak kecil membuat Keisya tumbuh menjadi pribadi yang banyak bertanya tentang kehidupan di luar rumah, bahkan pernah sekali ia mengajak guru private dirumah untuk membawanya keluar sekedar jalan-jalan namun lagi-lagi keinginan itu harus pupus karena ancaman Anthony akan membunuhnya jika nekat untuk keluar rumah.


Sejak saat itu Keisya selalu merasa kesepian tanpa teman hanya sang pengasuh dan guru private nya saja yang bisa ia temani untuk berbagi.